เข้าสู่ระบบ"Kita operasi saja, ya?" bujuknya dengan suara yang hampir memohon. Tangannya yang gemetar menyeka keringat di dahi Felisha."Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini."Felisha menggeleng pelan. Meski wajahnya dipenuhi rasa sakit, genggamannya pada pagar ranjang tetap kuat."Tidak..." lirihnya di sela napas yang memburu. "Aku... ingin melahirkannya... secara normal..."Ace mengernyit. Nada suaranya mulai terdengar putus asa."Tapi kau kesakitan begini, Felisha." Ia menggenggam tangan istrinya erat. "Aku tidak bisa membiarkanmu terus menahan rasa sakit yang semakin hebat."Felisha menggeleng lagi.Air mata terus menggenang di sudut matanya."Tidak apa-apa, Ace... Memang... seperti ini prosesnya."Suaranya hampir tenggelam oleh erangan kesakitan. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan tenaga."Aku mohon..." Matanya menatap Ace dengan penuh harap. "Aku tidak ingin dioperasi."Berkali-kali Ace membujuk Felisha agar menjalani operasi caesar. Berkali-kali pula Felisha memohon agar d
Hukuman bagi Rashed akhirnya ditetapkan.Pria itu dipulangkan ke tanah kelahirannya untuk menjalani hukuman penjara seumur hidup atas seluruh tindakan kriminal yang telah dilakukannya. Bukan hanya penculikan dan kekerasan seksual terhadap para korbannya, tetapi juga serangkaian pembunuhan yang telah merenggut banyak nyawa, termasuk Yuki, Rosie, dan Daniel.Berita penangkapan Rashed yang dikenal sebagai pengusaha muda ternama asal Arab Saudi pun segera menyita perhatian publik di berbagai negara Asia. Banyak orang terkejut mengetahui sisi gelap pria yang selama ini dikenal berwajah tampan, berkarisma, dan berasal dari keluarga terpandang itu.Namun, Felisha memilih untuk tidak lagi mengikuti kabar apa pun tentang Rashed.Baginya, semua itu telah berakhir.Sesampainya kembali di Singapura, ia menyibukkan diri di studio kecilnya. Karena tidak sempat membeli oleh-oleh saat berbulan madu di Bali akibat insiden yang menimpanya, Felisha memutuskan membuat hadiah dengan tangannya sendiri untu
Matthew tampak sibuk menghubungi pihak kepolisian di Bali melalui kenalan dekatnya di sana untuk mengurus proses hukum Rashed, yang kini telah diamankan di dalam sel tahanan sementara.Kepolisian Singapura juga turut bekerja sama dalam menangani kasus tersebut sejak jasad Rosie dan Daniel ditemukan."Kami akan memproses tersangka setelah menerima seluruh berkas dan laporan dari kepolisian Singapura," ujar seorang petugas melalui sambungan telepon. "Karena tindak penculikan terjadi di wilayah hukum Indonesia, ada beberapa prosedur yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum tersangka dipindahkan ke Singapura."Matthew mendengarkan dengan saksama. Namun penjelasan itu tidak cukup menenangkan pikirannya. Sejak mengetahui seluruh tindakan kriminal yang dilakukan Rashed—mulai dari kasus pembunuhan hingga penculikan Felisha—ia tidak bisa benar-benar tenang.Rasa bersalah diam-diam menghantuinya. Bagaimanapun juga, Ace dan Felisha berangkat ke Bali untuk berbulan madu sebagai hadiah dar
Polisi segera bergerak menangkap Rashed beserta anak buahnya di yacht tersebut.Sebelumnya, saat mengetahui Felisha diculik, Ace sempat menghubungi Matthew di Singapura dalam keadaan terdesak dan meminta bantuannya. Berkat koordinasi yang cepat, pihak kepolisian berhasil menemukan lokasi yacht dan mengambil alih penanganan kasus itu.Kini, Ace berada di sebuah rumah sakit.Ia duduk di samping ranjang tempat Felisha berbaring setelah menjalani pemeriksaan medis.Wanita itu sempat pingsan akibat syok, kelelahan, dan tekanan yang dialaminya selama penculikan. Beberapa jam kemudian, ia membuka mata.Pandangan pertamanya langsung bertemu dengan wajah Ace yang terlihat lelah, cemas, sekaligus lega."Syukurlah..." desah pria itu pelan. "Akhirnya kau sadar juga."Felisha tidak langsung menjawab.Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencoba memahami situasi.Plafon putih. Aroma antiseptik. Tiang infus yang berdiri di samping ranjang.Rumah sakit. Tempat yang membosankan.Sebelum
Setelah menerima rentetan pukulan yang tak sempat dihindari, kesadaran Rashed perlahan menghilang.Tubuhnya terkulai tak bergerak. Matanya terpejam. Darah mengalir dari berbagai luka di wajahnya, sementara napasnya terdengar semakin berat.Namun jantungnya masih berdetak. Otaknya masih bekerja.Di tengah kegelapan yang menyelimuti kesadarannya, potongan-potongan masa lalu bermunculan satu per satu.Ia kembali menjadi anak laki-laki yang berdiri di hadapan ayahnya, menerima tatapan kecewa yang tak pernah berubah.Ada satu kalimat yang paling membekas dalam ingatannya."Kau tidak akan pernah bisa melampaui sepupumu. Selamanya kau hanya nomor dua!"Kalimat itu diucapkan berulang kali sepanjang hidupnya. Rashed selalu dianggap kalah dari sepupunya. Mulai dari nilai sekolah, prestasi akademik, hingga kemampuan mengelola bisnis keluarga.Apa pun yang ia lakukan, selalu ada perbandingan.Ayahnya tak pernah benar-benar puas dengan pencapaiannya sendiri. Di mata pria itu, keponakannya selalu l
Beberapa waktu sebelumnya, Ace berpacu melawan waktu mengejar yacht milik Rashed dengan speedboat yang dikendarainya.Angin laut menghantam wajahnya dengan ganas. Ombak yang bergulung tinggi membuat perahu terus berguncang, tetapi Ace sama sekali tidak memperlambat laju kendaraannya.Pikirannya hanya dipenuhi oleh Felisha.Semakin lama ia terlambat, semakin besar kemungkinan sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.Tatapannya terkunci pada yacht di depan sana. Saat jarak keduanya tinggal beberapa meter, Ace langsung memutar kemudi mendekat hingga lambung speedboat hampir bergesekan dengan badan yacht. Tanpa ragu, ia berdiri di ujung perahu lalu melompat.Tangannya berhasil meraih pagar yacht. Namun sebelum sempat memanjat naik, sebuah sepatu menghantam punggung tangannya dengan keras."Akh!"Ace nyaris terjatuh.Seorang pengawal berdiri di atas dek sambil menatapnya dingin."Tuan Rashed tidak ingin diganggu."Ace mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya membuat pria itu seketika mer
Ponsel Felisha yang ikut terempas ke lantai masih berdering tanpa henti. Namun gadis itu tak mampu menjawabnya—bahaya sudah berdiri tepat di hadapannya. Dengan kaki gemetar, ia beringsut mundur, berusaha menjauh dari Guan yang menutup pintu dengan wajah murka, jelas berniat menyiksanya lagi.“Berik
“Operasi…?” Eric mengulang pelan, seakan tak percaya dengan kabar yang baru dibawa Felisha. Ia menatap gadis itu, namun Felisha tidak menjawab sepatah kata pun. Raut wajahnya sudah cukup menjelaskan segalanya—sedih, bingung, dan terpukul. Ia tak ingin mengulang kisah yang masih terasa menyesakkan d
Felisha belum pernah merasakan ketakutan sebesar ini sepanjang hidupnya. Bahkan kematian ibunya pun tidak semengerikan ancaman yang baru saja ia hadapi. Guan telah membuat hidupnya seperti neraka, menjeratnya dengan rasa takut yang mematikan. Bukan ketakutan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk M
“Ahhh—!” desahan Felisha pecah, terdengar begitu indah memecah sunyi malam itu.Tubuhnya melengkung di atas sofa, mengikuti irama hentakan pinggul Ace yang kuat dan penuh energi. Suara kulit yang saling berbenturan memenuhi ruangan seperti musik liar yang menyalakan gairah mereka berdua—irama yang







