로그인Zivanya terpaksa turun setelah mendengar kabar dari resepsionis. Kaisar ikut mengekor dengannya Di sudut area lounge lobi yang luas, tampak beberapa petugas keamanan dan resepsionis berkerumun mengelilingi salah satu sofa kulit berukuran besar."Papa!" pekik Kaisar ketika matanya menangkap sosok pria yang terbaring di sofa tersebut. Anak itu melepaskan genggaman tangan ibunya dan berlari kecil menghampiri sang ayah dengan ekspresi panik.Zivanya tergesa mengikuti di belakangnya. Jantungnya berdegup kencang karena tidak percaya, cemas, dan jengkel yang membuncah. ‘Beneran pingsan atau ini cuma akal-akalan Ariyan biar aku luluh?’ pikirnya getir.Saat Zivanya berdiri tepat di samping sofa dan melihat paras Ariyan dari dekat, seluruh prasangka buruk itu seketika sirna.Wajah mantan suaminya itu tampak pucat-pasi. Bulir-bulir keringat membasahi pelipis serta garis rahangnya. "Bu Zivanya,” sapa resepsionis lega dan juga cemas. "Tadi Pak Ariyan tetap menunggu di dekat meja resepsionis. Se
Kai di rumah baru, Pa. Di lantai paling atas. Jendelanya besar, bisa lihat gedung-gedung kayak mainan,” jawab Kaisar bersemangat dan terdengar menggebu-gebu.Dahi Ariyan sedikit berkerut memikirkannya. "Rumah baru? Maksud Kai, Ibu nggak di rumah Omi lagi?" tanyanya memastikan."Nggak, Pa. Kai udah pindah.”Berbagai pertanyaan berseliweran di kepala Ariyan. Pernikahan batal? Zivanya pindah dari rumah orang tuanya? Apa yang terjadi sebenarnya?"Kai, kasih ponselnya ke Ibu sebentar ya, Sayang.”"Ibuuu! Papa mau bicara!" seru Kaisar lantang seraya berlari kecil menghampiri ibunya.Zivanya tentu saja terkejut mendengarnya. Ia terlalu sibuk menata pakaian sehingga luput mengawasi Kaisar.“Kai yang nelepon Papa?” bisiknya pelan sembari menerima handphone dan menutup bagian speaker agar tidak terdengar oleh Ariyan. Kaisar dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Bukan. Papa yang nelepon duluan.”“Kai ngomong apa aja sama Papa?” “Kai bilang Ibu nggak jadi nikah,” jawab Kaisar lugu.Astaga… ana
Seharusnya, jam tujuh pagi ini Zivanya sudah berada di bridal suite hotel bintang lima dikelilingi makeup artist, dirias hingga semakin cantik serta tersenyum tipis sewaktu gaun pengantin bernuansa putih karya perancang busana ternama melekat di tubuhnya.Ia seharusnya sedang bersiap melangkah ke pelaminan mewah bergaya modern, memajang senyum di hadapan para tamu. Namun, kenyataan hari ini sungguh berbeda.Zivanya berdiri santai di balkon penthouse-nya yang luas, mengenakan loungewear yang longgar dan nyaman. Angin pagi berembus lembut menerpa wajahnya yang bersih tanpa riasan. Di tangannya, secangkir teh hangat menguapkan aroma menenangkan. Dari lantai atas ini, pemandangan kota di bawah sana tampak bagai kotak-kotak."Ibu! Lihat, Kai bikin benteng dari balok!" seru Kaisar keras dari arah dalam.Zivanya menoleh, menyunggingkan senyum yang benar-benar terbit dari dasar hatinya.Ia kemudian melangkah untuk mengambil handphonenya yang berbunyi. Ada panggilan suara dari Syabila.“Kak Zi
Zivanya memandang sekelilingnya dengan embusan napas lega.Jendela kaca setinggi langit-langit di hadapannya menyajikan panorama megah kelap-kelip lampu metropolitan. Angin malam berembus tenang di balkon unit apartemen seluas lebih dari dua ratus meter persegi itu. Modern, elegan, berpencahayaan hangat, dan didominasi warna-warna netral yang menenangkan.Meskipun ia harus mengembalikan seluruh fasilitas mewah pemberian Ariyan dan menolak bergantung pada orang tuanya, Zivanya bukanlah wanita yang tidak punya apa-apa. Selama bertahun-tahun, dari hasil kerja keras, investasi pribadi, serta tabungan mandiri yang ia kelola sendiri tanpa campur tangan siapa pun, ia memiliki finansial yang lebih dari sekadar mapan. Ia tidak butuh harta mantan suami atau kekayaan orang tuanya untuk bisa hidup sangat layak. Dan penthouse ini adalah salah satu investasinya yang ia beli sejak lama."Ibu,” celetuk Kaisar yang baru saja selesai room tour. Sepasang matanya berbinar-binar memandangi ruang keluarga
“Ibu mau ke mana? Kenapa baju-baju Ibu dimasukkan semua ke dalam tas?”Pertanyaan yang diajukan Kaisar membuat Zivanya menoleh pada anak itu."Kai," bisik Zivanya lembut sambil mengusap pipi putranya dengan penuh kasih sayang. "Kita pindah rumah ya, Sayang?”“Kok pindah? Kita pindah ke mana? Kai juga ikut sama Ibu.”"Kai memang ikut Ibu. Tapi… tempat tinggal kita yang baru nanti nggak sebesar dan semewah rumah ini," jelas Zivanya memberi pengertian. “Nggak ada halaman luas buat Kai main bola, nggak ada kolam renang pribadi, dan kamarnya juga lebih kecil dari kamar Kai yang sekarang."Kaisar mengerjapkan matanya polos, lalu menyunggingkan senyum lebar tanpa beban. "Nggak apa-apa, Bu. Nggak apa-apa kalau rumahnya kecil. Yang penting ada Ibu, kan? Kai mau ikut Ibu ke mana aja. Kai nggak mau ditinggal," jawab Kaisar penuh semangat.Zivanya mengangguk. Diusapnya kepala anak berambut legam itu sebelum melanjutkan aktivitasnya mengemasi barang.*Semua barang-barang sudah Zivanya kemasi. Ia
"Mesra sekali ya ayah dan anak ini.” Suara Seruni terdengar dari arah belakang mereka. Zivanya buru-buru menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu mengurai pelukan. Ia menoleh dan mendapati Maminya melangkah mendekat dengan tangan bersedekap. “Mami nguping aku dan Papi?” “Memangnya kenapa? Pembicaraan kalian terlalu penting sampai Mami nggak boleh tahu?” balas Seruni sewot. “Bukannya gitu, Mi. Malah bagus kalau Mami dengar. Jadi aku nggak perlu lagi jelasin sama Mami.” “Mami memang udah dengar semuanya tapi kamu tetap harus menikah sama Ariyan. Masalahnya, Ariyan dan Tante Zelena sudah setuju.” Zivanya sama sekali tidak tahu bahwasanya Maminya baru saja menelepon Zelena di luar dan mendapat penolakan halus. Yang ada di pikiran Zivanya saat ini hanyalah rasa lega yang teramat besar karena Papinya telah memberinya izin untuk berdiri di atas keputusannya sendiri. “Tapi aku yang nggak mau, Mi,” jawab Zivanya. “Aku nggak akan menikah dengan Ariyan atau siapa pun y
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







