登入Malam minggu ini, alih-alih menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan yang ramai, Kaivan memilih untuk memesan sebuah family suite di salah satu hotel bintang lima di sudut kota yang tenang. Pria itu tahu, Zivanya butuh waktu untuk menghela napas sejenak dari rutinitas yang melelahkan. Karena Zivanya belum punya waktu untuk liburan, Kaivan mengajaknya staycation.
Kaivan tahu betul cara mengambil hati Zivanya bukanlah dengan kata-kata romantis atau menggodanya. Tetapi melalui putra satu-satZivanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin Kaisar menjadi anak yang tidak seperti anak seumurannya? Kaisar terlalu cerdas dan menggemaskan untuk ukuran seorang anak berumur enam tahun."Kai ngomong apa sih, Sayang?" ucap Zivanya setelah berhasil mengendalikan diri. “Kai mau Ibu nikah lagi sama Papa.”“Astagaaa. Kau ngerti nggak nikah itu apa? Jangan asal bilang nikah nikah aja.”“Ngerti,” jawab Kaisar penuh percaya diri. “Nikah itu artinya Papa sama Ibu tinggal di rumah yang sama, makan bareng, tidur sama Papa, terus Papa boleh meluk dan cium Ibu kapan aja tanpa kena marah," jawab Kaisar dengan ringannya.Wajah Zivanya seketika memerah sampai ke ujung telinga. "Benar, kan, Pa?" Kaisar memandang Ariyan di sebelahnya, meminta dukungan penuh dari sang papa.Ariyan menganggukkan kepala dan tersenyum penuh arti yang membuat Zivanya kesal. Lelaki itu benar-benar memanfaatkan kesempatan ini.“Nikah itu nggak sesederhana yang Kai pikir. Kai masih kecil, Sayang. Nanti kalau Kai udah dewasa
Aroma gurih dari makanan yang dimasak Zivanya menguar memenuhi penciumannya, membuatnya ikut lapar. Setelah menatanya di meja makan, ia memanggil Ariyan."Makanannya sudah siap. Makan dulu.”Ariyan menjawab dengan senyum tipis.Saat Zivanya bermaksud memanggil Kaisar, anak itu lebih dulu muncul dari arah dalam kamar dengan ransel tersandang di punggungnya.“Kai mau ke mana?” tanya Zivanya heran.“Kai mau ikut sama Papa, Ibu. Mau nginap di rumah Oma.”Satu embusan napas meluncur dari mulut Zivanya mendengarnya. Kalau Zivanya izinkan, otomatis nanti ia akan kembali bertemu dengan Ariyan saat lelaki itu mengantar Kaisar. Padahal saat ini Zivanya tidak ingin berinteraksi dengan banyak orang kecuali putra satu-satunya."Kai, Papa kan lagi kurang sehat," ujar Zivanya lembut, berusaha memberi pengertian pada putranya tanpa terkesan menolak kasar. "Nanti Papa makin capek kalau harus jaga Kai di rumah Oma."Kaisar langsung memajukan bibirnya, menatap sang ibu dengan binar mata memohon yang sul
Sambil memasak, pikiran Zivanya tanpa sengaja melayang pada Kaivan. Sedang apa lelaki itu sekarang di saat pernikahan mereka harusnya terselenggara? Lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya? Kenapa handphone Zivanya sunyi senyap? Maksudnya, tidakkah kedua orang tua lelaki itu merasa bersalah atau malu atas kelakuan anak mereka? Dan kenapa mereka tidak menghubungi Zivanya untuk sekadar minta maaf atau memberi penjelasan? Zivanya mengusir bayangan Kaivan dan pertanyaan-pertanyaan yang mulai menggerogoti pikirannya. Untuk apa ia memikirkannya? Kaivan saja sedikit pun tidak menunjukkan rasa bersalahnya. Pelukan di belakang tubuhnya menyentak Zivanya keluar dari lamunannya. Ia benar-benar terkejut saat mengetahui Ariyanlah sosok pemeluk yang dagunya kini bertumpu di pundak Zivanya. Sendok di tangan Zivanya nyaris terlepas. Detak jantungnya berpacu liar. Bukan karena romansa, melainkan karena ia betul-betul terkejut. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan tangan Ariyan yang melingkar di
Gerakan tangan Zivanya yang sedang mengompres dahi Ariyan seketika terhenti. Dengan cepat ia menariknya ketika menyadari pria di hadapannya sudah kembali sadar.“Papa! Papa udah bangun!" seru Kaisar gembira dan langsung memeluk dada Ariyan.“Hei jagoan Papa.” Ariyan mengusap punggung Kaisar."Papa jangan sakit lagi ya. Kai sedih kalau Papa sakit. Tadi Papa pingsan.” Dengan lancar Kaisar memberitahu. “Untung ada Kai dan Ibu. Coba kalau Papa sendirian.” Ariyan menggeser matanya pada Zivanya seolah ingin mengonfirmasi cerita anaknya."Kamu pingsan di lobi. Sekuriti yang gotong kamu sampai ke atas,” ujar Zivanya menjelaskan."Makasih. Aku nggak ada niat bikin kamu susah. Aku cuma mau nunggu kamu di bawah. Tadi itu—““Aku ambilin minum,” potong Zivanya memutus perkataan Ariyan.Selagi Zivanya menjauh, Ariyan mengobrol dengan Kaisar yang menceritakan kejadian tadi dengan lengkap. Mengetahui anak itu sangat menyayanginya, membuat Ariyan semakin terbunuh perasaan bersalah.Ariyan merengkuh
Zivanya terpaksa turun setelah mendengar kabar dari resepsionis. Kaisar ikut mengekor dengannya Di sudut area lounge lobi yang luas, tampak beberapa petugas keamanan dan resepsionis berkerumun mengelilingi salah satu sofa kulit berukuran besar."Papa!" pekik Kaisar ketika matanya menangkap sosok pria yang terbaring di sofa tersebut. Anak itu melepaskan genggaman tangan ibunya dan berlari kecil menghampiri sang ayah dengan ekspresi panik.Zivanya tergesa mengikuti di belakangnya. Jantungnya berdegup kencang karena tidak percaya, cemas, dan jengkel yang membuncah. ‘Beneran pingsan atau ini cuma akal-akalan Ariyan biar aku luluh?’ pikirnya getir.Saat Zivanya berdiri tepat di samping sofa dan melihat paras Ariyan dari dekat, seluruh prasangka buruk itu seketika sirna.Wajah mantan suaminya itu tampak pucat-pasi. Bulir-bulir keringat membasahi pelipis serta garis rahangnya. "Bu Zivanya,” sapa resepsionis lega dan juga cemas. "Tadi Pak Ariyan tetap menunggu di dekat meja resepsionis. Se
Kai di rumah baru, Pa. Di lantai paling atas. Jendelanya besar, bisa lihat gedung-gedung kayak mainan,” jawab Kaisar bersemangat dan terdengar menggebu-gebu.Dahi Ariyan sedikit berkerut memikirkannya. "Rumah baru? Maksud Kai, Ibu nggak di rumah Omi lagi?" tanyanya memastikan."Nggak, Pa. Kai udah pindah.”Berbagai pertanyaan berseliweran di kepala Ariyan. Pernikahan batal? Zivanya pindah dari rumah orang tuanya? Apa yang terjadi sebenarnya?"Kai, kasih ponselnya ke Ibu sebentar ya, Sayang.”"Ibuuu! Papa mau bicara!" seru Kaisar lantang seraya berlari kecil menghampiri ibunya.Zivanya tentu saja terkejut mendengarnya. Ia terlalu sibuk menata pakaian sehingga luput mengawasi Kaisar.“Kai yang nelepon Papa?” bisiknya pelan sembari menerima handphone dan menutup bagian speaker agar tidak terdengar oleh Ariyan. Kaisar dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Bukan. Papa yang nelepon duluan.”“Kai ngomong apa aja sama Papa?” “Kai bilang Ibu nggak jadi nikah,” jawab Kaisar lugu.Astaga… ana
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it







