เข้าสู่ระบบZivanya menyandarkan punggungnya di kursi mobil Kaivan. Ia mencoba melepaskan sesak yang menghimpit dada sejak di pesta tadi. Keheningan malam yang menembus kaca jendela perlahan menenangkannya, meski bayangan wajah dingin Ariyan masih enggan pergi dari benaknya.Kaivan melirik sekilas, lalu memecah keheningan dengan suara rendahnya yang menenangkan. "Masih kesal?""Menurutmu?"Kaivan menjawab dengan senyum tipis.“Dia benar-benar ngerusak suasana. Dan cara dia memperlakukan aku tadi seolah-olah aku ini barang miliknya yang bisa ditarik ke sana kemari.”“Sabar ya. Orang yang lagi cemburu memang kayak gitu.”Zivanya sontak mendengkus. “Kayaknya aku udah pernah bilang deh. Dia itu bukan cemburu, Kai. Tapi egois.”"Mungkin batas antara cemburu dan egois bagi Ariyan itu setipis benang, Ziva," sahut Kaivan pelan sambil memutar kemudi, memasuki jalan yang lebih lengang.Zivanya tidak membalas. Ia memalingkan wajah ke luar jendela, menatap deret
Zivanya memasang tampang masam sambil melempar pandang pada suaminya. Lelaki itu benar-benar membuatnya jengkel setengah mati. Ariyan tidak bergerak, namun auranya yang mendominasi membuat suasana di sekitar meja katering terasa membeku. Kaivan yang menyadari arah pandang Zivanya ikut melempar mata pada Ariyan. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Entah sejak kapan Ariyan mengekori mereka, Kaivan tidak menyadarinya. “Kenapa sih tuh orang ngikutin kita terus?” kesal Zivanya. “Mungkin kangen istrinya.” “Ih!” dengkus Zivanya sebal yang membuat Kaivan tersenyum geli. “Mau disamperin ke sana?” tanya lelaki itu. “Ayo.” Zivanya langsung melingkarkan tangan di lengan Kaivan, bergelayut manja padanya. Seiring dengan langkah kakinya yang semakin mendekat, Zivanya sengaja mengeratkan pelukan tangannya di lengan Kaivan. Ia memastikan tubuh mereka menempel cukup dekat untuk dilihat oleh siapa pun yang memandang. Terutama suaminya. Ia ingin Ariyan merasakan apa yang selama ini ia ra
Gedung hotel bintang lima yang mereka datangi berpendar oleh cahaya lampu yang menggantung megah di langit-langit ballroom. Aroma manis yang lembut menyeruak, bercampur dengan wangi parfum mahal dari para tamu undangan yang berlalu-lalang. Zivanya melangkah masuk dengan tangan yang tertaut di lengan Kaivan. Gaun haute couture-nya membuat perempuan itu semakin cantik dan anggun serta memberikan kesan berkelas yang membuat beberapa pasang mata menoleh kagum.Zivanya mencoba mengatur napasnya. Berada di keramaian setelah kejadian di halaman rumah tadi bukan hal mudah, namun kehadiran Kaivan yang tenang di sampingnya memberikan sedikit rasa aman."Kamu baik-baik aja?" Kaivan bertanya lembut.Zivanya menganggukkan kepala.Baru saja mereka melangkah beberapa meter menuju area utama, seorang wanita cantik yang mengenakan ball gown menghampiri mereka. Tapi sepasang matanya tertuju hanya pada Kaivan."Kaivan!" seru wanita itu.Tanpa aba-aba, wanita itu langsung menghambur memeluk Kaivan
Ariyan mengeratkan genggaman kunci mobil di tangannya sembari menatap Zivanya dan Kaivan bergantian. Alih-alih menerjang atau berteriak seperti pria yang kehilangan akal, ia tetap bersikap tenang. Ia melangkah mendekat dengan ritme yang lambat. "Malam, Kai," sapanya pada Kaivan. “Tumben lo mampir? Padahal gue sama istri gue baru mau istirahat." Kaivan yang berdiri tegak di samping mobilnya memberi senyum tipis. Ia bisa merasakan aura pasif agresif yang terpancar dari setiap gerak-gerik Ariyan. "Gue bukan kebetulan mampir. Gue ke sini buat jemput Ziva. Kami ada janji malam ini." Ariyan tertawa kecil guna menyamarkan sorot dingin di matanya. “Janji? Oh, kayaknya ada miskomunikasi di sini. Ziva mungkin lupa kalau kondisi tubuhnya lagi nggak memungkinkan buat keluyuran di jam seperti ini. Apalagi setelah berita bahagia yang baru menyebar di keluarga besar kami tentang kehamilan Ziva.” Ariyan lalu menggeser matanya pada Zivanya.
Zivanya melangkah masuk ke dalam rumah. Ia melewati ruang tamu yang sunyi. Tidak ada Ariyan di rumah. Suaminya itu berkemungkinan besar masih tertahan di kantor karena tumpukan berkas yang harus ditinjau atau bisa jadi sedang memberi perhatian di apartemen kekasihnya. Apa pun itu Zivanya tidak peduli. Ia hanya berharap saat Kaivan tiba nanti Ariyan melihatnya.Zivanya menggunakan waktu untuk beristirahat sebelum malam nanti Kaivan datang menjemput. Pukul enam sore ia bangkit dari tempat tidur lalu mandi. Tidak begitu lama ia keluar dari sana. Ia membuka lemari besar. Jari-jemari lentiknya menari di antara deretan gaun malam. Pilihannya jatuh pada sebuah gaun berwarna mahogani dengan potongan simpel namun elegan. Untuk muka, Zivanya menggunakan riasan minimalis dan membiarkan rambut lurus panjangnya terurai begitu saja.Zivanya baru saja selesai memulas lipstick di depan cermin saat ponselnya yang tergeletak di atas meja rias berdenting tanpa henti. Awalnya ia mengira itu adalah Kaiva
Zivanya bangkit dari kursinya sambil menyambar tas di meja. Sebelum melangkah keluar, ia menyempatkan diri menatap pantulan dirinya di cermin besar yang terpasang di salah satu sisi ruangan. Ia merasa seperti baru saja melepaskan topeng istri yang tersiksa dan menggantinya dengan Zivanya yang berdaulat atas dirinya sendiri. "Mita," panggil Zivanya melalui telepon. "Ya, Bu Ziva?" suara Mita terdengar sigap dari seberang sana. "Saya ada urusan di luar untuk beberapa jam ke depan. Urusan pekerjaan yang mendesak bisa kamu kirim seperti biasa. Jika ada yang menanyakan keberadaan saya, katakan saya sedang ada meeting di luar. Dan untuk Pak Ariyan, jika dia mencari saya, katakan saya sedang bekerja di tempat yang tidak pengap.” “Baik, Bu,” jawab Mita patuh. Beberapa menit kemudian Zivanya dan Kaivan sudah berada di dalam mobil lelaki itu. Zivanya menghidu aroma mobil Kaivan yang berbeda dengan mobil Ariyan. "Kamu punya saran buat kadonya? Temanku ini tipe yang sangat menghargai b







