공유

Part 7

last update 게시일: 2026-04-28 22:17:08

Kaivan berdiri dengan wajah yang tampak letih. Ia mengenakan baju kaus olahraga berwarna navy dan celana pendek berwarna senada. Sebuah tas raket padel tersampir di punggungnya.

​"Malam, Ziva, maaf mengganggu jam segini. Ari ada?” ujar lelaki itu sopan.

Zivanya menggeleng. “Ari belum pulang, Kai.”

“Dia ke mana?”

Sampai pada bagian ini Zivanya tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin sejujur itu mengatakan Ariyan di apartemen kekasihnya, kan?

“Ziva?” panggil Kaivan pada Zivanya yang terma
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (9)
goodnovel comment avatar
eas
atas dasar apa tatapan tajam itu kau berikan ke ziva? nyebelin
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
diih si Ariyan sok posesif.. ngapain marah ke Ziva..
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
setuju sih aku..drpd sm laki" gk tau diri itu
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 429

    Suasana terasa sangat sepi. Jarum jam dinding baru menunjukkan pukul empat, tapi langit di luar jendela mulai meredup dipayungi awan mendung tipis. Zivanya duduk sendirian di tepi tempat tidur. Ia bergerak gelisah memegang ponsel. Sejak pagi tadi, hatinya tidak tenang. Pikirannya terus tertambat pada Kaisar. Zivanya membuka kembali aplikasi pesan dan menatap layarnya yang bisu. [Bila, Kai gimana? Masih sedih dan nggak mau makan?] Pesan singkat itu ia kirimkan ke Syabila sejak jam sembilan pagi, tapi sampai sekarang jangankan dibalas, dihitung read pun tidak. Begitu pula saat ia mencoba mengirim pesan pada Seruni. Tidak ada balasan sama sekali. Zivanya menghela napas panjang. Diletakkannya handphone. Rasa cemas bercampur rindu membuat dadanya semakin sesak. Usia kehamilannya yang semakin tua membuat emosinya jauh lebih sensitif. Kakinya terasa pegal, dan perutnya yang membuncit maksimal sesekali tegang karena kontraksi palsu. Sebuah tendangan pelan dari dalam rahim membuatn

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 428

    Zivanya hampir tidak tidur semalaman karena memikirkan Kaisar dan perasaan rindunya pada anak itu. Sekarang bukan hanya kakinya yang bengkak, matanya juga sembap. Rasa rindu yang membuncah pada putra sulungnya itu berkelindan menjadi beban emosional yang menguras tenaganya. Sepanjang malam, bayangan wajah Kaisar yang menangis di layar ponsel terus membayang, membuat Zivanya tak henti-hentinya berganti posisi tidur dengan cemas di atas ranjang. Pagi itu, saat Ariyan membimbing Zivanya berjalan perlahan di lorong apartemen usai memandikannya dengan air hangat, raut wajah Zivanya tampak begitu lesu. Wajahnya agak pucat, langkah kakinya amat berat karena pembengkakan yang semakin parah, dan kelopak matanya yang sembap menceritakan dengan jelas betapa melelahkannya malam yang baru saja ia lalui. “Masih kepikiran Kai?” tanya Ariyan pada Zivanya yang termenung saat mereka sarapan. Zivanya menjawab dengan anggukan, tidak ingin berbohong. “Aku nggak pernah pisah selama ini sama Kai. Apa

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 427

    Kehamilan sembilan bulan ternyata jauh lebih berat daripada yang pernah Zivanya bayangkan, bahkan jika dibandingkan dengan saat mengandung Kaisar dulu.Pagi itu ia terbangun dengan tubuh yang terasa seperti dilindas truk. Kedua pergelangan kakinya bengkak, punggungnya pegal, pinggangnya seakan mau patah. Belum lagi hidungnya yang tersumbat akibat flu ringan yang sudah tiga hari tidak kunjung pergi. Setiap kali ia menarik napas dalam-dalam, anak di dalam perutnya yang sudah turun rendah menekannya hingga ia meringis."Pelan-pelan ya." Ariyan sudah berada di sisinya bahkan sebelum Zivanya sempat mengeluh. Kedua tangannya yang besar menyangga punggung Zivanya, membantunya bangun dari tempat tidur sedikit demi sedikit. "Kita duduk dulu. Tarik nafas. Jangan langsung berdiri.""Aku kayak paus terdampar," ujar Zivanya dengan suara serak sengau."Paus paling cantik yang pernah aku lihat," balas Ariyan tanpa berpikir, membuat Zivanya tertawa lemah di antara batuknya.Tiga bulan terapi di Munch

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 426

    Hari-hari di Munchen berlalu dengan cepat tanpa terasa. Musim berganti, cuaca pun berubah. Salju tipis mulai turun melapisi pepohonan dan atap-atap bangunan bergaya Bavaria di sepanjang jalan Klinikum der Universitat Munchen.Di usia kehamilannya yang kini berada di bulan kedelapan, perubahan fisik Zivanya semakin nyata. Perutnya kini membuncit anggun. Bergerak sedikit saja menuntut energi ekstra. Pinggangnya kerap kali pegal luar biasa, kram di betis sering menyerang di tengah malam, dan kapasitas paru-parunya terasa menyempit membuat napasnya sering kali pendek-pendek. Namun, seluruh keletihan fisik itu menguap setiap kali ia duduk di sofa ruang tengah apartemen mereka, menyaksikan Ariyan yang sedang melatih memorinya. Pada awalnya mereka memang stay di hotel. Tetapi karena Zivanya ingin suasana yang lebih privat, mereka memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen selama berada di sana.Malam itu, Ariyan duduk menghadap meja dengan puluhan kartu bergambar dan deret angka kompleks yang

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 425

    Penerbangan dari Santorini menuju Munchen memakan waktu lebih lama dari yang mereka bayangkan, dengan transit singkat di Athena sebelum akhirnya mendarat di Bandara Munchen beberapa jam kemudian. Sepanjang perjalanan, Zivanya memperhatikan Ariyan yang tampak agak gelisah. Matanya sesekali menerawang keluar "Dari tadi aku lihat kamu nggak tenang. Kamu nggak apa-apa?" tanya Zivanya, menggenggam tangan Ariyan. Ariyan menoleh dan memberi senyum tipis. “Harusnya aku yang tanya gitu. Kamu nggak apa-apa? Capek nggak? Mau aku pijitin punggung atau pinggangnya?” “Boleh deh.” Zivanya mengatur posisi agar Ariyan bisa memijitnya. Lelaki itu melakukannya dengan telaten seolah-seolah sudah sangat berpengalaman. Setelah lima jam penerbangan, pendarat yang mereka naiki akhirnya mendarat dengan selamat. Setelah beristirahat di hotel keduanya langsung ke rumah sakit karena sudah membuat janji temu sebelumnya, "Kamu lahir di rumah sakit ini?” tanya Zivanya yang teringat cerita Ariyan s

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 424

    Angin malam berembus lembut. Sinar bulan terpantul di atas permukaan air laut yang tenang, membiaskan cahaya yang menimpa dinding-dinding bangunan putih khas Yunani. Di tepi balkon, Ariyan berdiri membisu. Ia menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas, menatap lurus ke hamparan samudera yang gelap. Ariyan melamun sangat dalam. Pikiran dan jiwanya seolah terlempar jauh dari keindahan Santorini yang ada di depannya.Zivanya muncul dari dalam. Sejak tadi ia perhatikan Ariyan terus melamun. Ia menatap punggung suaminya dengan perasaan bersalah yang teramat sangat. Hatinya berdenyut nyeri setiap kali melihat heningnya Ariyan. Ia tahu persis apa yang sedang mengganggu pikiran pria itu. Ucapan yang tidak sengaja tadi pasti membuat Ariyan sedih dan insecure. Padahal Ariyan selalu berusaha menjadi suami dan ayah terbaik dengan segala keterbatasannya.Zivanya menelan ludah, mengatur napasnya yang agak berat karena beban perutnya yang membuncit. Dengan langkah perlahan, ia berjalan mendekat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 6

    Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 5

    Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status