LOGINGoncangan pinggul padat milik Berliana berlangsung kian cepat dan berirama di atas peraduan itu. Ketahanan fisik luar biasa yang ditempa dari latihan militer membuat napas dan otot-otot paha tegap sang wanita sanggup menjaga tempo genjotan secara stabil tanpa memperlihatkan tanda-tanda kelelahan.Dua gumpalan dadanya yang padat, mengkal, dan kencang berayun bebas di depan wajah Teja, memamerkan dua puncak kemerahan yang mengeras kaku disengat hawa sejuk malam perkebunan. Kulit kuning langsatnya yang berkilat disapu peluh dingin memancarkan keanggunan tubuh yang teramat eksotis di bawah pencahayaan kamar yang temaram.Teja menikmati ayunan mandiri wanitanya dari posisi terlentang. Dua tangan kekar merengkuh lembut pinggul ramping Berliana, membantu menjaga keseimbangan gerakan sang wanita sembari menyalurkan getaran hawa murni energi Qi tingkat empat yang hangat dari telapak tangannya.Setiap kali pinggul Berliana menghujam deras ke bawah, pangkal pahanya menabrak rapat selangkangan
Dalam posisi konvensional, Teja menindih perlahan tubuh tegap dan eksotis milik Berliana. Dua telapak tangan kekarnya bertumpu kokoh di samping kepala sang tentara cantik, membiarkan dada bidang berototnya menempel hangat di atas dua gumpalan dada mengkal Berliana yang membusung kencang.Teja mengarahkan ujung tumpul miliknya yang seperti kepala jamur ke celah sempit berlendir Berliana.Penampang kepala kejantanan raksasa Teja yang tebal, memanas, dan membesar maksimal mulai menggesek muara terluar yang merekah merah. Kehangatan lelehan pelumas alami yang membanjiri selangkangan Berliana berpadu dengan sisa-sisa gel terapi beraroma lavender, menciptakan permukaan yang licin namun teramat kaku untuk ditembus.Kerapatan jaringan otot pinggul milik Berliana yang terbentuk dari latihan militer berat membuat jalan masuk di selangkangannya begitu sempit dan menjepit amat ketat. Setiap kali Teja mencoba mendorong perlahan pinggulnya ke depan, ukuran kejantanannya yang terlalu raksasa just
Karakter tegas dan sigap Berliana berubah melembut.Wanita berambut pendek yang biasa bersikap dingin dan teratur dalam kedisiplinan militer itu perlahan bangkit berdiri di lantai kamarnya. Sinar temaram dari lampu kamar membias indah di atas permukaan kulit kuning langsatnya yang polos dan eksotis. Binar matanya yang biasa menatap tajam kini berisikan aura kelembutan dan kehangatan yang teramat tulus.Berliana melangkah mendekati Teja yang masih berdiri tegap di samping peraduan kayu jati. Jemari lentiknya yang biasa memegang pemicu senjata api kini terulur perlahan, merangkul pinggang dan bahu tegap sang penguasa tubuhnya.Berliana melakukan semua itu dengan cara yang sangat lembut dan anggun, meninggalkan sejenak sikapnya yang kaku dan gahar.Jemari cantiknya menarik pelan ke atas kaos ketat berwarna gelap yang membungkus dada berotot Teja. Gerakannya begitu tenang, mengikis seluruh sekat dan canggung di antara mereka berdua. Teja mengimbangi gerakan wanitanya dengan membiarka
Perlahan Teja memasukkan ujung jarinya ke dalam celah kewanitaan Berliana. Meski begitu, ia tak memasukkan jari sepenuhnya karena paham jika gadis itu masih memiliki lapisan hymen yang masih perawan.Sentuhan di ambang muara itu melancarkan gelombang kejutan yang teramat meledak-ledak. Hawa murni energi Qi tingkat empat yang memancar halus dari ujung jemari Teja merembes cepat, menyapu seluruh saraf peka yang berada di celah terluar kewanitaan Berliana. Gel pelicin beraroma lavender yang melapisi jemari kekar sang master muda membuat gesekan berlangsung begitu halus namun menusuk lurus ke dalam pusat kesadaran sang gadis."Jaaa! Rasanya luar biasa, ohhh-hh!" jerit Berliana melengking halus, meremas kencang sprei di bawah badannya.Pijatan di dinding bagian dalam namun hampir mendekati ujung luar itu membuat wanita yang mudah terangsang itu menggila.Goncangan pinggul Berliana kian tak terkendali di atas peraduan kayu cendana. Dua tungkai kakinya yang mulus dan tegap meregang kaku,
Namun, karena dorongan keinginan Berliana yang belum pernah memiliki pasangan, tangan tentara wanita cantik itu langsung menarik jari kekar Teja ke arah selangkangannya.Cengkeraman jemari Berliana di pergelangan tangan Teja terasa teramat memaksa dan tegas. Tanpa sedikit pun rasa ragu atau kecanggangan, wanita berambut pendek serta berparas eksotis itu menuntun telapak tangan kekar sang master pijat muda melintasi perut mulusnya, membawa jemari besar Teja tepat mendarat di atas hamparan selangkangannya yang hangat dan membara."Berli!" panggil Teja terkejut halus.Sepasang mata keemasan Teja membelalak, menatap tak percaya pada keberanian dan kelugasan tindakan wanita di hadapannya."Pijat bagian situ aja, Ja. Biar nggak terus nyut-nyutan," pinta Berliana dengan nada suara yang sedikit bergetar menahan gejolak gairah yang baru pertama kali dirasakannya.Teja menahan gerakan tangannya sejenak di atas pangkal pinggul wanita itu, menatap lurus ke dalam sepasang mata tajam Berliana yang
Teja mulai menggerakkan jari besarnya menyusuri buah dada montok Berliana.Lelehan gel pelicin beraroma terapi lavender yang hangat membalur telapak tangan kekar sang master muda. Sirkulasi hawa murni energi Qi tingkat empat di dalam perut bawah Teja bergejolak rileks, menyalurkan aura hangat yang mengalir statis melintasi ujung-ujung jemari besarnya. Usapan itu merayap memutar dari lingkar dada atas, menelusuri lingkar keindahan dada bawah wanita yang terlentang pasrah di atas peraduan kayu cendana itu.Meski tidak sebesar milik Nana, Linda, Sari Okta, ataupun Septa, ukuran payudara Berliana tergolong cukup di atas rata-rata, melebihi ukuran milik Panda, Susan, dan Bianca.Proporsi bentuknya tampak begitu padat, berisi, dan mengkal sempurna. Pemandangan dua gumpalan indah berukuran di atas rata-rata itu terhampar polos di bawah pendar remang lampu kamar, memamerkan keanggunan raga wanita berusia dua puluh lima tahunan yang sama sekali belum pernah tersentuh oleh kehangatan jemari
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih







