Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 692. Air Mata Haru

Share

692. Air Mata Haru

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-11-04 10:40:18

Seperti saat menyembuhkan Mama Panda, Teja mengaktifkan mata batinnya sembari menyalurkan tenaga Qi melalui telapak tangan dan jarinya.

Pemuda berambut dreadlock itu memejamkan matanya sejenak, memusatkan seluruh kesadaran spiritual dan energi spiritual tingkat tujuh setengah Murni Qi ke ujung-ujung jemarinya.

Begitu mata batinnya terbuka di dimensi energi, pandangannya menembus lapisan kulit, otot, dan organ internal tubuh Sekar dengan kejelasan yang luar biasa.

Dalam pandangan batinnya, Teja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   693. Tidak Adil!

    Beberapa saat suasana kamar berubah hening. Teja membiarkan Sekar meresapi kesegaran tubuhnya dan memulihkan napas usai pengobatan itu.Suasana di dalam kamar tamu berukuran sedang itu terasa begitu tenang dan damai. Aroma parfum mawar ruangan berpadu dengan wangi tubuh Sekar yang baru saja dibersihkan dari sisa-sisa keringat terapi menciptakan atmosfer yang menenangkan. Teja duduk bersimpuh di sisi ranjang, membiarkan wanita mungil itu berbaring menikmati keajaiban perubahan besar yang baru saja terjadi di dalam organ reproduksinya. Beban bertahun-tahun yang menghimpit kini benar-benar telah sirna, digantikan oleh aliran darah segar dan vitalitas baru yang mendesir di setiap jengkal pembuluh darahnya.Sekitar beberapa menit kemudian, Sekar menatap wajah tampan Teja lagi. "Ja, badanku udah fit lagi," ucap Sekar lirih, suaranya terdengar jauh lebih jernih, segar, dan bertenaga dibandingkan saat pertama kali pemuda itu menginjakkan kaki di rumahnya malam tadi.Teja tersenyum hangat,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   692. Air Mata Haru

    Seperti saat menyembuhkan Mama Panda, Teja mengaktifkan mata batinnya sembari menyalurkan tenaga Qi melalui telapak tangan dan jarinya.Pemuda berambut dreadlock itu memejamkan matanya sejenak, memusatkan seluruh kesadaran spiritual dan energi spiritual tingkat tujuh setengah Murni Qi ke ujung-ujung jemarinya. Begitu mata batinnya terbuka di dimensi energi, pandangannya menembus lapisan kulit, otot, dan organ internal tubuh Sekar dengan kejelasan yang luar biasa.Dalam pandangan batinnya, Teja bisa mengindrai bagaimana munculnya sebuah kantung seolah berisi buah anggur. Itulah kista yang dimaksudkan Sekar. Ukurannya sekitar sekepalan tangan balita.Massa jaringan abnormal berbentuk gelembung-gelembung kecil bergerombol itu tampak menekan dinding rahim Sekar, menghambat aliran darah sekaligus menutup rapat peluang kesuburan sang wanita. Pantas saja Sekar sering merasa tak nyaman dan kesulitan untuk hamil lagi, karena ada benda asing parasitik yang bersarang dan mencengkeram organ rep

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   691. Tanpa Filter

    "Kenapa lihatnya sampai segitunya sih, Ja?" tanya Sekar dengan nada suara yang terdengar salah tingkah, merasa risih sekaligus malu karena tatapan mata Teja tidak kunjung lepas dari bagian dada miliknya yang terekspos tanpa sehelai benang pun."Itu... gede banget, Sekar," gumam Teja tanpa sadar, terpesona oleh bentuk fisik sang ibu satu anak yang indah dan begitu memikat pandangan."Kayak nggak seimbang sama postur cebol aku ya?" tandas Sekar merendahkan diri, tertawa kecil serta getir untuk menutupi rasa gugup dan malunya yang sudah mencapai ubun-ubun."Bukan cebol juga sih, Sekar. Badan kamu normal kok, cuma agak mungil aja. Tapi ya... itu kamu emang beneran gede banget," puji Teja jujur, membuat rona merah di wajah Sekar semakin membara hingga menjalar ke seluruh permukaan lehernya."Udah turunan kali, Ja. Dari nenek, mamaku, dan aku... semuanya punya ukuran dada Subali, terlepas bagaimanapun ukuran tubuh kami," jelas Sekar sambil menggigit bibir bawahnya, mencoba membela diri atas

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   690. Gadis Remaja

    "Kok tengkurap sih? Memangnya kista kamu ada di punggung? Atau di tengkuk? Atau... jangan-jangan di betis ya?!" tanya Teja sengaja melontarkan candaan ringan sambil menatap wanita mungil itu dengan tatapan penuh rasa geli."Teja ishh. Serius!" protes Sekar sambil mengerucutkan bibirnya, merasa sedikit kesal karena di saat ia sedang gugup menghadapi proses pengobatan, pemuda di depannya malah asyik melempar guyonan.Wajah Teja langsung berubah ikut serius. "Buka baju, lalu telentang, sama pahanya agak dilebarin!" perintah Teja dengan nada tegas selayaknya seorang ahli profesional yang sedang memberikan instruksi medis kepada pasiennya.Mendengar itu mata Sekar langsung membulat. "Eh, buka baju? Telanjang gitu maksud kamu?!" seru Sekar kaget, aliran darahnya mendadak berdesir deras memompa rasa gugup yang luar biasa ke seluruh permukaan kulitnya.Teja mengangguk tanpa ragu. "Pertama, gel pelicin pijat bisa bikin baju kamu lengket dan kotor. Kedua, area kista kan di daerah panggul, dekat

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   689. Pak Dokter

    "Siap, Pak Dokter. Aku akan mengikuti saranmu," balas Sekar dengan nada suara yang semakin berubah akrab, diiringi seulas senyuman manis yang membuat kecantikan wajahnya kian terpancar sempurna."Haha, aku bukan dokter, Sekar. Cuma praktisi kesehatan tradisional saja," tawa Teja renyah, meluruskan sebutan yang dilontarkan oleh wanita di hadapannya agar tidak berlebihan.“Sama aja bagiku, Ja. Pokoknya pinter ngobatin ya dokter namanya,” eyel Sekar dan hanya ditanggapi Teja dengan mengedikkan kedua bahunya."Baiklah, Sekar. Kita bisa mulai sekarang pijatnya. Sudah semakin larut ini soalnya," ucap Teja sembari kembali mengamati wajah cantik janda berusia dua puluh enam tahun tersebut dengan tatapan yang menyiratkan kekaguman tersendiri.Jika membicarakan kualitas paras, Sekar tak kalah dari para wanita Teja lainnya. Garis wajahnya yang lembut berpadu sempurna dengan keanggunan alami yang terpancar dari setiap gerak-geriknya, menciptakan pesona yang sanggup meluluhkan hati pria.Kulitnya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   688. Konglomerat Menyamar

    "Kamu kenapa kok kayaknya kaget banget pas aku nyebut permodalan investasi berskala nasional itu?" tanya Sekar dengan nada heran, melihat perubahan ekspresi di wajah Teja yang mendadak tertegun sesaat setelah mendengar nama Grup Yulio disebut.Teja tak menjawab. Ia mengeluarkan dompetnya dan menarik sebuah kartu nama berwarna keemasan, kemudian mengulurkannya pada Sekar.Pemuda berambut dreadlock itu menyodorkan kartu identitas eksklusif yang memuat lambang Geng Surya serta afiliasi bisnis resminya dengan gestur yang sangat tenang namun berwibawa. Sekar menerima kartu nama tersebut dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar, lalu membaca perlahan tulisan yang tertera di atas permukaan logam tipis bersepuh emas tersebut."Teja Surya... Direktur Utama Surya Pengamanan Nusantara sekaligus pemegang saham..." gumam Sekar membaca perlahan nama lengkap Teja Surya dan seterusnya. Ia langsung terbelalak.Kedua mata indah Sekar terbuka lebar, menatap bergantian antara kartu nama di tangannya dan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status