เข้าสู่ระบบTeja mengangguk pelan sembari menyunggingkan senyuman tipis. "Iya, Pak. Tenang aja, Bapak udah aman sekarang."Orang-orang di sekelilingnya yang sedari tadi terus mencibirnya seketika bungkam dan kaget. Suasana di depan area pertokoan itu mendadak hening seperti kuburan. Seluruh warga di sana kehabisan kata-kata begitu menyaksikan keajaiban yang baru saja terjadi di depan mata kepala mereka sendiri."Dia dokter?" lirih perawat wanita dengan wajah malu. Rasa percaya dirinya runtuh seketika, memikirkan betapa konyolnya ia tadi menyombongkan diri di hadapan pemuda yang memiliki kemampuan pengobatan sedahsyat itu."Dia kok bisa nyembuhin? Ini... Mustahil!" ucap wanita paruh baya dengan mulut ternganga lebar."Bujubuneng! Itu tadi pakai kesaktian?!" bapak muda menutup mulutnya dengan mata membelalak tak percaya."Kita udah salah sangka sama dia," timpal bapak berkacamata dengan raut penyesalan yang teramat sangat.Teja tak memiliki waktu untuk meladeni mereka. Ia tidak peduli dengan pen
"Kamu lihat aja habis ini. Setelah lima menit menghirup oksigen dan aku lepas, dia pasti bisa bangun," ucap perawat itu dengan dagu terangkat penuh rasa percaya diri."Dia kritis, Mbak. Kamu menunda waktu dan main-main sama nyawa orang," tegur Teja dengan nada tegas dan raut wajah yang kian serius."Heh, kamu! Udah deh mendingan diem. Anak kecil tahu apa?!" bentak bapak berkacamata, menunjuk Teja dengan telunjuknya yang bergetar emosi."Iya tuh. Mana ada praktisi kesehatan seumuran kamu?! Jangan cuma bisa ngibul doang kamu itu!" imbuh bapak muda di sebelahnya, ikut melayangkan pandangan tajam penuh cemoohan.Teja menghela napas berat, menyadari bahwa ketegaran hatinya tak akan berguna jika terus bertengkar dengan orang-orang yang dibutakan oleh prasangka. "Ya udah deh. Kita lihat setelah oksigen kamu lepas nanti," ucap Teja sambil menatap jam tangannya, menghitung detik demi detik yang terus berjalan dengan sangat mendebarkan.Perawat itu mengabaikan peringatan Teja dan tetap memegan
Teja berjalan mendekat. Langkah kakinya bergerak tenang menyusuri tepi jalanan yang ramai, memotong kerumunan warga yang makin riuh memadati area pertokoan tersebut."Kasihan, udah tua kok dibiarin pergi sendiri," ucap salah satu warga menatap ke tengah kerumunan dengan raut wajah prihatin."Udah kritis itu mah. Megap-megap gitu!" ujar warga lainnya menimpali, menunjukkan kepanikan yang kian merayapi situasi di sekitar lokasi.Teja menyusup di tengah kerumunan dan melihat seorang pria tua berpakaian sederhana yang sedang terbaring lemah di atas paving dengan mata menutup. Tubuh renta itu tampak gemetar halus, sementara wajahnya pucat pasi kehilangan rona kehidupan.Napasnya tersengal-sengal seperti sesak napas, tangannya memegang area dadanya dengan penuh kesakitan. Setiap tarikan napasnya terdengar begitu berat, seolah pasokan udara di sekitarnya mendadak menghilang secara konstan."Tunggu ambulan dateng aja. Kalau kita salah nolong malah bisa kenapa-kenapa tuh pak tuanya," teriak
"Wangi sekali," ucap Teja yang baru turun dari tangga sembari menghirup dalam-dalam aroma sedap yang memenuhi lantai bawah."Panda yang lagi masak, Ja," ucap Toni memberitahu putranya, terkekeh melihat wajah segar Teja yang langsung tergiur aroma hidangan di dapur.Panda muncul membawa mangkok besar berisi masakan hangat yang masih beruap. "Eh, Ja, Pak. Ayo makan. Udah mateng nih," tutur Panda dengan wajah berbinar penuh kebanggaan atas hasil karyanya.Teja segera bergerak membantu Panda mengambil sisa makanan di dapur. Pemuda itu dengan sigap membawa piring-piring saji berisi lauk pauk lainnya, lalu menatanya dengan rapi di atas meja kayu.Tak lama kemudian mereka sudah duduk bersama di meja makan. Kehadiran Panda memberikan suasana hangat yang berbeda di rumah megah itu, membuat atmosfer pagi terasa jauh lebih hidup dari biasanya."Wah, banyak banget masaknya, Nda," ucap Teja terkejut melihat deretan sajian yang memenuhi meja makan."Ini menu Chinese food andalanku, Ja. Ada fuyun
Panda langsung menatap Toni. "Nah, seperti ini contohnya... Bapak kan barusan membatin kalau aku hebat. Betul nggak, Pak?" ujar Panda dengan ukiran senyuman tipis di wajah cantiknya.Toni cepat-cepat mengangguk, menunjukkan raut wajah takjub yang sangat jelas. "Betul... betul banget. Aku baru saja memikirkan kalimat itu!" seru Toni terperanjat, sama sekali tidak menyangka bahwa lintasan pikirannya yang baru saja muncul bisa tertebak dengan sangat jitu tanpa ada satu kata pun yang meleset.Panda menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu untuk memberikan penjelasan lebih detail. "Ya kayak gitu contohnya, Pak. Istilahnya real time saat berkomunikasi, kalimat di pikiran lawan bicaraku bakal terbaca, bukan ingatan dia di luar itu," terang Panda meluruskan mekanika dari kemampuan intuisi yang dimilikinya sejak kecil.Teja dan Toni mengangguk hampir bersamaan. Kedua pria pewaris lilitan kain leluhur itu saling berpandangan sejenak, mengagumi keajaiban bakat alamiah yang bersemayam d
"Mbak Panda dimana rumahnya? Jauh nggak dari sini?" tanya Toni mengalihkan pembicaraan."Deket kok, Pak. Sekitar tiga kilometer saja, di dekat pasar tradisional," sahut Panda ramah sembari membetulkan letak tas kecil di bahunya.Toni mengangguk-angguk kecil mendengar penuturan tersebut. Pria paruh baya itu kemudian melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. "Apa nggak sebaiknya nginep sini aja? Mbak Panda dicariin nggak sama orang tuanya kalau nggak pulang?" tanya Toni lagi dengan raut wajah penuh perhatian."Oh, aman, Pak. Saya tinggal sendiri di toko herbal itu. Ayah dan ibu tinggal di rumah, sekitar lima kilometer dari toko," terang Panda."Tapi... saya juga sungkan kalau nginep dan merepotkan di sini," sambung Panda cepat. Perasaan tidak enak hati menyelinap di benaknya jika harus menumpang tidur di rumah orang yang baru saja ditemuinya hari ini, terlebih setelah apa yang baru saja digelarnya bersama Teja di kamar atas."Kan saya yang nyuruh n
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.







