เข้าสู่ระบบUpacara peresmian ketua asosiasi bela diri yang baru pun langsung diadakan dengan khidmat di dalam gedung tersebut.Rombongan Sanjaya dan Herman nampak berbaur akrab dengan Marlan, Lukito, serta seluruh murid mereka sembari menatap penuh rasa kagum ke arah Teja yang kini resmi duduk di kursi ketua asosiasi kota itu.Seusai prosesi pelantikan ketua asosiasi selesai, Lukito dan Marlan segera melangkah maju mendekati Teja untuk memberikan kejutan lain."Master Teja, setelah melihat kehebatanmu tadi, Perguruan Matahari bener-bener merasa sangat terhormat kalau kamu juga sudi buat menerima lencana khusus dari kami," ucap Lukito sembari menyodorkan sebuah kotak beludru merah berisi lencana emas. "Dengan ini, aku secara resmi memintamu sebagai penasihat kehormatan Perguruan Matahari!"Marlan tidak mau kalah dan langsung ikut menyodorkan lencana peraknya ke depan Teja. "Jangan lupakan kami juga, Master! Perguruan Cakar Serigala dengan segala kerendahan hati memohon agar kamu mau menerima gela
Teja menatap bergantian ke arah wajah Marlan dan Lukito dengan pandangan yang tenang. "Kalian berdua juga ikutan kalah kan dalam pertarungan melawan Denny lima tahun yang lalu? Sama persis kayak kejadian yang menimpa Pak Sanjaya dan Pak Herman?""Kami waktu itu cuma menderita sakit ringan dikit aja kok, lagipula kondisi kami udah langsung sembuh setelah seminggu kemudian," Lukito membela diri dengan nada ketus.Teja menggelengkan kepalanya perlahan. "Kenyataannya Pak Marlan sampai sekarang masih terhenti di tingkat menengah tahap fondasi saja dan susah buat naik tingkatan lagi.""Sedangkan Pak Lukito bahkan kemampuannya cuma setara sama Pak Wiryo, yaitu berada di tingkat sedang tahap puncak dan tak bisa menerobos lebih naik lagi dari itu," lanjut Teja dengan lugas."Ka-kamu... kenapa bisa tahu soal detail tingkatan kemampuan kami itu?" Marlan seketika tergagap karena tebakan pemuda itu sangat akurat."Semua itu karena kalian sebenarnya sama-sama menderita penyakit dalam yang tak kalia
"Aku nggak marah kok, Lin, asalkan kamu ke depannya nggak bakalan bandel lagi kayak kelakuanmu yang tadi!" sahut Teja dengan nada berbisik yang tegas."I-iya, Teja... soriii banget ya," jawab Linda sembari menundukkan kepalanya karena merasa sedikit takut dengan ketegasan pemuda itu.Baginya, kehilangan sosok pria seperti Teja akan jauh lebih menyakitkan daripada ia harus menerima kenyataan dengan adanya kenalan wanita-wanita cantik lain di sekitar lingkaran hidup Teja.Sifat pengayoman Teja, kemampuan bela dirinya yang hebat, ilmu pijat handalnya, keahlian pengobatannya, ketampanan wajahnya, serta yang paling utama adalah ukuran terbesar se-Indonesia miliknya, bener-bener tak akan pernah mampu membuat seorang Linda berpaling!Di luar bisikan keduanya, Sanjaya dan yang lainnya tampak masih asyik menikmati suguhan tanpa mengetahui percekcokan tersebut.Waktu terus berjalan dengan cepat hingga akhirnya mereka semua mengakhiri percakapan hangat di dalam ruang tamu tersebut untuk pulang.
"Baguslah kalau emang begitu hasilnya, Pak Herman, aku juga ikut senang mendengarnya," ujar Teja sembari menganggukkan kepalanya dengan santai.Tak ingin kalah saing dengan tindakan yang pernah dilakukan oleh Sanjaya, Herman segera merogoh kantong sakunya dan mengeluarkan sebuah lencana emas berlogo kepalan tangan yang tampak berkilau."Master Teja, ini adalah lencana khusus tertinggi dari Perguruan Bela Diri Tinju Sakti, dan dengan ini aku, Herman, selaku pemimpin tertinggi secara resmi memberikan gelar penasihat kehormatan kepadamu, sama persis seperti yang diberikan oleh Sanjaya dari Perguruan Silat Teratai Kembar," ucap Herman dengan penuh rasa hormat.Teja tersenyum tipis dan langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Oke, aku terima lencana emas ini. Tap, tujuanku menerima ini bukan buat ajang kesombonganku ya, melainkan buat mengembalikan lagi hubungan baik antara Perguruan Teratai Kembar dan Tinju Sakti."Sanjaya dan Wiryo yang menyaksikan hal itu seketika merasa sangat k
"Master Teja, tolong maafkan atas kelakuan burukku yang tadi," ucap Herman sembari langsung mengambil posisi berlutut di atas lantai yang kemudian segera diikuti oleh seluruh muridnya."Eh, ayo buruan bangun, jangan pada begini dong, kita ini kan sama-sama manusia!" seru Teja sembari bergerak cepat menarik lengan Herman agar kembali berdiri tegak.Melihat pengakuan yang diucapkan Herman tadi, Sanjaya dan semua orang yang berada di kubu perguruannya langsung kompak menghela napas lega.Sekali lagi, Teja terbukti berhasil menyelamatkan perguruan mereka."Master Teja, menurut pandanganmu, sebenarnya apa kendala besar yang aku alami ini kok sampai nggak bisa naik tingkatan lagi?" tanya Herman dengan nada bicara yang malu-malu.Teja mengedarkan pandangan matanya menatap ke arah sekeliling ruangan gedung serbaguna yang masih ramai tersebut. "Kita lanjut ngobrol santai di dalam rumah Pak Sanjaya aja gimana biar lebih enak?"Herman langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat tanda se
BUKK!Tinju besar dan bertenaga milik Herman masuk mendarat tepat mengenai bagian dada bidang Teja.Namun Teja sama sekali tak bergeser sedikit pun dari posisi berdirinya, bahkan ia tetap berdiri kokoh tanpa menunjukkan ekspresi kesakitan sama sekali!Sebaliknya, Herman yang justru refleks mengibaskan tangan kanannya karena merasakan rasa sakit yang teramat sangat seperti baru saja meninju permukaan dinding baja tebal."Tinjumu lembek banget kayak pukulan balita, Om!" ejek Teja sembari tertawa meremehkan.Teja lalu perlahan mengeluarkan sebuah lencana emas dari balik saku kemeja yang dikenakannya.Itu adalah lencana khusus penasihat kehormatan Perguruan Silat Teratai Kembar yang tempo hari secara langsung diberikan oleh Sanjaya kepadanya."Sialan kamu, gara-gara tinjumumu barusan malah bikin lencana berhargaku ini jadi agak penyok sedikit!" ucap Teja santai sembari mengibaskan lencana di tangannya tersebut.Melihat benda logam yang dipegang oleh pemuda itu, kedua belah mata Herman lan
Tak ingin miliknya hanya menjadi bahan tontonan saja, Teja melangkah maju mendekati tubuh Septa yang masih terpaku. "Giliran saya yang bakal telanjangin Bu Septa!" bisik Teja dengan suara berat. Kedua tangan Teja bergerak cepat meraih ujung bawah gaun tidur satin ungu itu, lalu mengangkatnya ke ata
"Aku kan perlu tahu seluk beluk warisan ini, Yah!" dengus Teja meski sedikit malu dan merah pipinya. "Itulah, Ja. Selain berukuran super, milik kamu yang sudah ditingkatkan sama lilitan kain warisan leluhur kita itu juga punya daya tahan yang tinggi. Kamu inget pas ayah tendang bagian itu kapan har
Teja tak sampai hati untuk menolak permintaan Nana. Ia pun segera berjongkok dan menyediakan punggungnya untuk memanggul teman kuliahnya tersebut. “Naik, Na. Pelan-pelan saja!“ perintahnya. Namun Nana lagi-lagi menggeleng. “Gendong depan aja boleh, Jo?“ pintanya dengan suara manja. Teja menghela n
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter







