共有

Anak CEO Yang Terlantar
Anak CEO Yang Terlantar
作者: Brown _Sugar

Fitnah

作者: Brown _Sugar
last update 公開日: 2026-10-15 10:59:53

PLAK!

Suara tamparan keras menggema di dalam kamar tidur yang luas itu. Kepala Nirmala terhuyung ke samping. Belum sempat ia mengangkat wajah, sebuah tamparan kembali mendarat di pipinya.

"Bisa-bisanya kamu membohongiku selama ini! Dasar perempuan murahan! Pelacur!"

Darma melayangkan tangannya tanpa ampun. Berkali-kali ia menampar wajah perempuan yang telah lima tahun menjadi istrinya itu, seolah-olah Nirmala adalah musuh terbesar yang pernah ia miliki. Sudut bibir wanita berambut panjang itu pecah, mengeluarkan darah yang perlahan mengalir melewati dagunya.

Nirmala terhuyung hingga tubuhnya jatuh terduduk di tepi ranjang. Satu tangannya mencengkeram seprai, sementara tangan yang lain gemetar menyentuh pipinya yang terasa panas dan nyeri. Namun, rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan dengan luka yang menganga di dalam hatinya.

Lelaki yang selama lima tahun dipanggilnya suami, lelaki yang selama ini ia cintai dengan segenap jiwa, kini berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan yang menyala nyala.

Di belakang Darma, seorang wanita paruh baya berdiri dengan dagu terangkat. Tidak ada sedikit pun rasa iba di wajahnya. Justru senyum tipis penuh kemenangan tersungging di bibirnya.

"Ibu sudah curiga sejak lama kalau istrimu itu berselingkuh, dia itu main gila dengan lelaki lain!" seru wanita yang tak lain adalah Fatma, ibu kandung Darma.

Nirmala perlahan menoleh ke arahnya. Air matanya mengalir semakin deras. Ia menatap wanita yang selama ini dihormatinya seperti ibu kandung sendiri, wanita yang selalu berusaha ia bahagiakan meskipun kerap memperlakukannya dengan dingin.

"Bu ..." Suara Nirmala bergetar. "Ibu juga percaya kalau aku melakukan itu?"

Fatma mendengkus sinis. "Masih berani bertanya? Kalau tidak bersalah, kenapa kamu harus bersembunyi di balik air mata? Jangan berpura-pura menjadi korban di hadapan kami, dasar jalang!"

Nirmala menggeleng berkali-kali. Ia berusaha bangkit dari ranjang, tetapi tubuhnya terasa lemas. Kehamilannya yang telah memasuki trimester ketiga membuat setiap gerakan menjadi sulit. Dengan satu tangan memegangi pinggang dan tangan lainnya menopang tubuh, ia akhirnya berhasil berdiri meski harus menahan rasa nyeri.

"Mas, demi Tuhan, aku tidak pernah berselingkuh!" rintihnya sambil menatap Darma. "Aku tidak pernah melakukan apa yang kalian tuduhkan. Mas, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Jangan hukum aku tanpa memberiku kesempatan untuk bicara."

Darma mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya tetap dingin.

"Cukup, Nirmala! Aku sudah muak mendengar semua kebohonganmu. Selama ini kamu sering keluar rumah tanpa izin. Sekarang aku tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar sana!"

"Mas, aku selalu meminta izin setiap kali keluar rumah. Aku pergi untuk senam kehamilan atau membeli keperluan rumah. Bahkan, beberapa kali aku meminta Mas mengantarku, tetapi Mas selalu bilang sibuk!"

"Munafik!" bentak Fatma dari ambang pintu. "Aku sendiri pernah melihatmu masuk ke dalam mobil bersama laki-laki lain. Jangan kira aku tidak tahu kelakuanmu!"

Nirmala terdiam sesaat. Ia menatap ibu mertuanya dengan mata berkaca-kaca, berusaha mencari sedikit saja kebenaran dalam tuduhan itu.

"Laki-laki yang mana, Bu? Kapan Ibu melihatku? Kenapa Ibu tidak pernah bertanya langsung kepadaku, kenapa malah memfitnahku sekejam ini?"

"Sekarang kamu malah berani menyalahkanku?" Haidar melangkah mendekat. "Sudah diberi tempat tinggal, diberi makan, malah berani mengkhianati anakku. Benar-benar tidak tahu diri, dasar perempuan kampung!"

Darma mengembuskan napas kasar, lalu menatap istrinya seolah-olah perempuan itu adalah orang asing yang baru dikenalnya.

"Untung saja selama ini aku mempercayakan urusan keuangan rumah tangga kepada Ibu. Ternyata benar kamu tidak tahu diri dan tidak bisa menjaga kehormatan keluarga. Busuknya lagi, di belakangku, kamu sibuk bermain dengan laki-laki lain!"

Setiap kata yang keluar dari mulut Darma terasa seperti pisau yang mengiris hati Nirmala perlahan-lahan. Ia ingin berteriak, ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa selama ini ia telah berusaha menjadi istri yang baik. Namun, semua kalimat itu seolah tersangkut di tenggorokannya.

"Mas, apa Mas tahu kalau ibuku sedang sakit?" tanyanya lirih.

Darma mengernyit. "Apa hubungannya dengan masalah ini?"

"Hubungannya, aku berkali-kali meminta Mas mengantarku menjenguk Ibu. Aku bilang Ibu sedang sakit dan membutuhkan aku, tetapi Mas selalu menolak dengan alasan pekerjaan. Aku bahkan tidak bisa pergi sesuka hati karena harus meminta izin terlebih dahulu." Nirmala menyeka air matanya. "Aku ini istrimu, Mas. Bukan tahanan yang harus meminta izin untuk sekadar menjenguk ibunya sendiri."

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" bentak Darma.

"Aku tidak mengalihkan pembicaraan! Aku hanya ingin Mas tahu bahwa selama ini aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk menduakan Mas!"

Darma tertawa hambar. Kemudian, ia mengambil sebuah amplop cokelat dari atas meja dan melemparkannya ke hadapan Nirmala.

"Kalau begitu, jelaskan ini!"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 11. Kamu ...

    "Dan orang itu ..." Jeda yang terasa panjang. "... sudah kami amankan. Dia sudah bicara. Dan mulai malam ini, jangan coba-coba lagi mengganggu Nirmala!"Sambungan terputus.Ponsel itu terlepas dari tangan Fatma dan jatuh ke lantai mobil. Tak lama kemudian, mobil hitam yang menghalangi jalan bergerak mundur dengan tenang, diikuti dua motor tanpa plat nomor yang menghilang ke dalam gelap, seakan tak pernah ada."Jalan, cepat jalan!" teriak Fatma pada sopirnya, suaranya serak.Sepanjang perjalanan pulang, tubuhnya tidak berhenti menggigil. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Kebaya mahalnya basah oleh keringat dingin.Sesampainya di rumah, langkah Fatma terseret-seret. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.Darma yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. "Ada apa, Bu? Ibu kenapa?""T-tidak apa-apa," jawab Fatma terbata. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap mata putranya. "Ibu hanya capek. Ibu mau istirahat."Ia bergegas masuk ke kamar

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 10. Mulai berani

    Pintu kamar didorong tanpa ketukan. Di ambangnya berdiri Fatma, ibu Darma, dengan kebaya mahal, kacamata hitam, dan tatapan dingin yang menyapu seluruh kamar kecil itu seakan sedang melihat kandang."Jadi di sini kamu bersembunyi," ucapnya sambil melepas kacamata. "Tidak butuh waktu lama untuk menemukan tikus yang kabur.""Ibu ..." Nirmala berdiri tertatih, satu tangannya melindungi perut. "Dari mana Ibu tahu saya di sini?"Fatma tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menatap dipan tua dan dinding yang catnya mengelupas, lalu tersenyum sinis."Pantas. Perempuan seperti kamu memang cocoknya di tempat begini.""Bu, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Foto-foto itu fitnah.""Cukup!" bentak Fatma. Dari dalam tasnya, ia melemparkan sebuah map ke atas dipan. "Pengacara kami sedang mengurus surat cerai. Dalam waktu dekat kamu akan menerima panggilan dari pengadilan. Tanda tangani saja dan jangan mempersulit."Nirmala menatap map itu dengan tangan gemetar. Sesuatu di dalam dadanya,

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 9. Siapa?

    "Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya diminta menyerahkan ini kepada Anda."Pria itu mengulurkan map cokelat tua di tangannya. Nirmala menerimanya dengan ragu. Kertasnya lembap, tetapi isinya masih terlindung rapi di dalam plastik bening."Ayah Anda meninggalkan tabungan atas nama Anda," lanjut pria itu. "Selama ini disimpan lewat pihak ketiga, dan baru sekarang bisa diserahkan. Isinya cukup untuk biaya persalinan dan menyelesaikan pendidikan Anda."Nirmala menatapnya tak percaya. "Tabungan? Ayah tidak pernah bercerita apa pun soal itu.""Beliau berpesan agar Anda tidak banyak bertanya." Pria itu menunduk sopan. "Gunakan saja, Nona. Itu hak Anda."Tangan Nirmala bergetar. Di dalam map ada buku tabungan, kartu, dan secarik kertas bertuliskan nama sebuah bank. Ia ingin bertanya lagi, tetapi pria itu sudah berpamitan dan melangkah kembali ke tengah hujan, lalu menghilang di balik mobil hitam yang menunggu di ujung gang.Nirmala berdiri lama di ambang pintu. Ia mendekap map itu di dad

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sebuah wasiat

    Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di lantai karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh lebih lama. Di sudut ruangan, ada beberapa barang milik ibunya yang belum sempat dirapikan. Sebuah gelas berada di atas meja kecil. Selimut tipis terlipat di atas kursi, dan sepasang sandal usang masih terletak di dekat pintu kamar.Benda-benda sederhana itu kini terasa begitu berharga. Aroma samar minyak kayu putih masih menempel di selimut itu, aroma yang dulu selalu menyambutnya pulang. Kini aroma itu justru menusuk dadanya, seakan mengingatkan bahwa pemiliknya tidak akan pernah kembali.Nirmala mengambil gelas milik ibunya, memeluknya sebentar, kemudian meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia takut merusak sesuatu, seolah-olah jika benda-benda itu masih utuh, keberadaan ibunya pun akan terasa sedikit lebih dekat.Pandangan Nirmala kemudian tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja.Foto mendiang ayahnya.Ia meraih foto itu dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sangat sedih

    Napasnya mulai tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, pandangannya berkunang-kunang, dan kedua tangannya semakin dingin."Bu, jangan tinggalkan Nirmala ..."Kalimat itu menjadi suara terakhir yang sempat keluar dari bibirnya sebelum tubuhnya ambruk di samping jenazah sang ibu."Nirmala!"Beberapa tetangga bergegas menolong. Ada yang menopang tubuhnya, ada yang mengambil air, sementara yang lain berusaha memberi ruang agar Nirmala bisa mendapatkan udara.Namun, perempuan itu sudah tidak sadarkan diri.Hari yang seharusnya menjadi tempatnya pulang setelah diusir dari rumah suaminya justru berubah menjadi hari ketika ia kehilangan satu-satunya orang yang masih ia miliki.Dalam satu hari, Nirmala kehilangan rumah tangganya, harga dirinya, dan ibunya.Ia tidak tahu berapa lama lagi kesedihan itu akan membebaninya. Ia hanya tahu bahwa ketika membuka mata nanti, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini menjadi tempatnya bersandar tidak akan pernah lagi menyambut kepulang

  • Anak CEO Yang Terlantar   Kenangan

    Darma tidak menjawab. "Ibu hanya ingin melindungimu. Kamu pemilik perusahaan besar. Banyak perempuan yang jauh lebih pantas menjadi istrimu daripada dia. Kalau sejak awal kamu tidak keras kepala, kamu tidak akan mengalami penghinaan seperti ini." Fatma menepuk pundak anaknya. "Sudahlah, lupakan dia. Sekarang kamu bisa memulai hidup baru." Di dekat ruang tengah, dua asisten rumah tangga saling bertukar pandang. Setelah memastikan Darma dan Haidar tidak memperhatikan, salah satunya berbisik. "Kasihan Non Nirmala. Selama ini beliau yang selalu mengalah. Aku sering melihat Nyonya Besar memarahinya hanya karena hal sepele." "Benar. Siapa sangka perempuan sesederhana itu istri pemilik perusahaan besar? Pakaiannya saja lebih sederhana daripada pakaian kita." "Bagaimana mau nyaman? Semua pengeluaran diatur Nyonya Besar. Aku pernah dengar Non Nirmala ingin membeli siomay karena mengidam, tapi uangnya tidak diberikan. Beliau sampai mengurungkan niatnya." "Ya Allah, tega sekali. Padahal b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status