แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Anonima
Melihat aku terdiam, Nessa semakin menjadi-jadi. Dia berlari ke luar dan mengambil sebuah kue kecil, lalu melemparkannya ke arahku. "Hmph! Bu Vira bahkan membelikan kue ini buatku supaya aku membujukmu. Lihat dirimu sendiri, memangnya kamu pantas?!"

Aku tak sempat menghindar. Kue itu menghantam tepat wajahku, krimnya menempel di pipiku. Rasanya manis dan lengket.

Nessa malah menatap hasil perbuatannya dengan wajah puas. Dia berdiri di ambang pintu sambil bertolak pinggang. "Wanita tua! Masih mau dibandingkan sama Bu Vira? Coba lihat wajahmu sendiri! Aku memang sengaja mau kasih kue itu ke Bu Vira!"

Aku mendongak dan bertatapan dengan Vira yang berdiri di luar pintu. Dia mengenakan mantel model terbaru, rambutnya dikeriting rapi, riasannya cerah dan memesona. Sementara aku, hanya kemeja dan celana jeans.

Dibandingkan dengannya, sebutan "wanita tua" memang terasa sangat cocok untukku.

Biasanya setelah menyelesaikan pekerjaan di laboratorium, aku masih harus menyisihkan waktu untuk menemani Nessa. Wajar jika aku tak terlalu memedulikan penampilan. Hanya saja, aku tidak menyangka, di mata ayah dan anak itu, aku hanyalah seorang wanita tua.

"Nessa! Kamu nggak boleh bicara seperti itu sama Mama. Dia pasti akan sedih." Vira membungkuk dan memeluk Nessa, tatapannya penuh ketidaksetujuan.

Nessa menjulurkan lidahnya dan berkata bahwa dia mengerti. Ya, dia memang benar-benar mendengarkan Vira.

Aku menghela napas pelan, lalu berbalik masuk ke kamar mandi untuk membersihkan kue di tubuhku.

Mungkin, pergi dari sini memang adalah pilihan terbaik.

Setelah semuanya beres, ketiga orang di rumah itu sudah pindah ke ruang tamu. Seperti biasa, mereka kembali bermain permainan keluarga bersama. Aku tidak memaksakan diri untuk bergabung. Aku langsung berbaring di tempat tidur dan beristirahat sendiri.

Mencintai diri sendiri, barulah orang lain akan mencintaimu, bukan begitu?

Keesokan paginya, aku bangun ketika matahari sudah tinggi.

Selama itu, aku mengabaikan suara Zakie yang membanting-banting barang. Pintu kamar terkunci dan meski dia ingin memaksaku bangun untuk menyiapkan sarapan, semua itu sia-sia.

Setelah selesai mencuci muka dan bersiap-siap, saat aku keluar kamar barulah kusadari mereka ternyata masih ada di rumah.

Vira melihatku lalu berbicara dengan lembut, "Bu Herni, kenapa hari ini bangunnya siang sekali? Apa kamu nggak enak badan? Nessa dan papanya jadi repot sekali tanpa kamu."

Aku meliriknya sekilas. Belum sempat aku bicara, Nessa sudah berlari keluar dan memarahiku dengan suara keras.

"Kamu sengaja, 'kan?! Nggak masak sarapan sama sekali, cuma mau bikin Tante Vira yang kerja! Aku nggak akan menuruti maumu. Nanti kita semua keluar makan saja!"

Aku mengabaikan ekspresi puas Nessa dan hanya berkata dengan tenang, "Vira adalah guru les keluarga. Tugasnya mengurus pelajaran dan keseharianmu. Membuatkan sarapan memang bagian dari pekerjaannya."

"Atau sebenarnya, Vira nggak ingin jadi guru les keluarga, melainkan punya tujuan lain?"

Setelah berkata demikian, aku langsung mengambil ponsel dan memesan makanan daring, membiarkan wajah Vira berubah menjadi sangat muram.

Melihat Vira disindir seperti itu, Zakie tidak tahan. Dia menatapku dengan dingin. "Herni! Omongan apa itu?! Mana mungkin Vira sejorok yang kamu pikirkan!"

"Kulihat kamu ini cuma terlalu curigaan!"

Nessa yang mendengar itu juga buru-buru menyahut, "Iya! Bu Vira dan Papa itu teman baik. Kalau kamu bikin Bu Vira pergi, kamu yang mau ngurus aku? Aku nggak mau! Punya Mama seperti kamu, aku bakal ditertawakan teman-teman TK!"

Suara Nessa yang masih kekanak-kanakan tetapi tegas itu, seperti pisau yang menusuk jantungku dan membuatku berdarah-darah.

Zakie pun ikut memanfaatkan situasi. Dia menatapku dengan penuh kekecewaan. "Sudahlah. Kamu di rumah saja dan renungkan diri baik-baik. Aku bawa mereka berdua keluar sarapan."

Setelah berkata demikian, Zakie menarik Nessa dan menutup pintu dengan keras. Bahkan jendela pun ikut bergetar. Sedangkan aku, menatap punggung mereka bertiga tanpa peduli sedikit pun.

Setelah membereskan rumah secara sederhana, aku menyiram tanaman di ambang jendela.

Namun saat itu juga, Zakie tiba-tiba kembali berlari masuk. Begitu melihatku, dia langsung memarahiku, "Herni, kamu ini gimana ngurus anak?! Nggak tahu dia masuk angin? Kenapa nggak ingatin waktu keluar rumah? Kamu baru puas kalau dia benar-benar celaka? Cepat ikut aku ke rumah sakit!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 10

    Dalam proses eksperimen, selalu ada konsekuensi yang tidak mungkin sepenuhnya dihindari. Selama bertahun-tahun ini, meskipun kami sudah sewaspada mungkin, tetap saja ada banyak orang yang terkorbankan. Dari mereka yang selamat, sebagian besar hidup dalam kondisi tidak utuh.Inilah juga alasan mengapa aku tidak punya hak untuk mengeluh.Dibandingkan kegagalan atau kematian, aku jauh lebih beruntung daripada banyak orang. Aku masih hidup. Hidup untuk melihat dunia ini, hidup untuk menyaksikan hasil akhirnya."Aku nggak akan mengecewakan amanah yang diberikan."Hari penyerahan penghargaan pun tiba. Beberapa hari ini, aku mengulang naskah pidato berkali-kali, belajar menerima dunia baru yang sama sekali berbeda.Dua belas tahun terputus dari kehidupan sosial membuat banyak hal terasa asing bagiku. Banyak yang tidak bisa kuikuti, banyak pula yang tidak kupahami. Yang membuatku lega adalah kenyataan bahwa kemajuan teknologi berarti kekuatan negara.Dengan begitu, semua yang telah kuberikan t

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 9

    Menyadari kegagalannya, Zakie meneteskan air mata. Ada seseorang yang mengenali namaku, lalu berbisik pelan kepada orang di sampingnya.Lima menit kemudian, penanggung jawab lembaga penelitian keluar dan menatap Zakie dengan saksama. Dia sangat memahami kondisi keluarga setiap peneliti, tentu saja dia juga mengenali Zakie. Namun, dia merasa heran. Aku sudah keluar selama satu minggu. Secara logika, sebagai suami, Zakie tidak mungkin tidak mengetahuinya."Halo, saya penanggung jawab di sini. Apa yang ingin kamu sampaikan bisa kamu katakan kepada saya."Berdasarkan sedikit rasa tanggung jawab di hatinya, dia mengajak Zakie ke kantor dan mengetahui seluruh kejadiannya.Masalah keluarga yang sangat biasa. Terutama saat Zakie mengatakan ingin bercerai, penanggung jawab itu sudah membayangkan jawabannya di dalam kepala."Pak Zakie, ini adalah urusan rumah tangga kalian. Keberadaan Herni tidak bisa saya ungkapkan. Karena dia sudah memutuskan untuk bercerai, lembaga penelitian kami juga mengho

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 8

    "Herni."Pada hari ketujuh setelah aku pergi, Zakie tidak pergi mencari putrinya. Dia malah datang ke tempat aku dulu bekerja.Ini adalah area dengan perlindungan ketat. Bukan hanya para peneliti, hasil penelitian di dalamnya juga harus dilindungi. Karena itu, Zakie dihentikan di gerbang depan. Dia sudah berubah banyak. Janggutnya tumbuh tak terurus, wajahnya tampak lesu, bahkan terlihat seperti pengemis.Satpam di pintu masuk berkali-kali mengusirnya, bahkan memperlakukannya seperti pengemis."Ini bukan tempat yang boleh kamu datangi. Kalau mau minta uang, pergi ke tempat lain."Kata-kata yang melukai itu menghantamnya begitu saja, membuat wajah Zakie berubah karena sakit.Beberapa hari ini, dia terus teringat pada sikapnya dulu terhadapku. Apakah saat itu aku juga merasakan sakit yang sama seperti yang dia rasakan sekarang?"Heh, dengar nggak kalau diajak bicara? Cepat pergi."Melihat dia melamun, satpam itu marah dan mengeluarkan alat setrum. Zakie tersadar, lalu menyebut namaku den

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 7

    Beberapa tetes air mata itu bercampur dengan sedikit ketulusan. Zakie jadi serba salah. "Vira, urusan ini nggak ada hubungannya denganmu. Herni hanya sedang ngambek. Dia itu orang yang tumbuh di panti asuhan, memang terbiasa hidup bebas dan nggak terikat. Nggak perlu ditanggapi. Beberapa hari lagi dia pasti pulang sendiri."Saat pertama kali mengenalku, Zakie sampai menangis karena merasa kasihan setelah tahu aku dibesarkan di panti asuhan. Setelah rasa cintanya memudar, dia berkata orang yang tumbuh di panti asuhan itu bebas dan tidak teratur."Kalau begitu ... kita makan saja."Vira tersenyum cerah sambil mengedipkan mata. Bagi dirinya, selama Zakie masih mau menghiburnya, itu berarti dia masih berarti. Asal dia sedikit lagi berusaha dalam beberapa hari ke depan, menjadi nyonya di rumah ini bukanlah hal yang mustahil.Orang lain yang ikut senang tentu saja Nessa. Dia mengeluarkan minuman yang selama ini disimpannya di kamar karena sayang untuk diminum. Sambil meniru gaya orang dewasa

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 6

    Bagus juga kalau begini. Ke depannya, kita akan berjalan di jalan masing-masing."Profesor, kamu baik-baik saja?"Orang yang menjemputku tampak terkejut. Aku menguatkan diri dan tersenyum padanya. "Aku baik-baik saja. Ayo berangkat."Saat duduk di pesawat yang meninggalkan kota, Zakie mengirimkan banyak pesan. Tak satu pun foto di dalamnya yang tidak menampilkan kebahagiaan dia dan Nessa.Aku menyentuh layar untuk membelai wajah kecil di foto itu. Dengan jari gemetar aku membalas.[ Semoga kalian selalu bahagia dan sehat. ]Itu satu-satunya doa yang bisa kuucapkan. Semoga anakku selamat dan damai, semoga orang yang pernah kucintai hidup bahagia. Dan semoga tanpa kehadiranku, mereka benar-benar bisa merasa bahagia.Suara lepas landas terdengar. Aku memblokir seluruh kontak Zakie dan mematikan ponsel. Dia benar-benar marah. Awalnya dia mengirim foto-foto itu untuk membuatku cemburu dan pulang. Siapa sangka aku malah membalas dengan tenang dan mendoakan.Itu hal yang tidak bisa dia terima

  • Anak Dan Suami yang Terpikat Guru Les   Bab 5

    Dokter menggelengkan kepala dan tidak berkata apa-apa lagi. Aku diam menunggu lukaku ditangani.Menjelang dini hari, saat aku kembali ke ruang rawat Nessa, dia sudah tidak ada.Perawat kecil menepuk bahuku dengan ramah. "Bu, Bapak itu menitipkan pesan. Anak terlalu rewel, jadi mereka pulang lebih dulu.""Baik."Aku tersenyum getir. Tak kusangka, hanya karena menangani luka sebentar, mereka semua sudah pergi.Angin malam menderu. Aku berjalan pulang tanpa sanggup mengungkapkan perasaanku saat ini. Dulu, Zakie sangat menyayangiku. Dia takut aku menderita dan kesusahan. Ke mana pun aku pergi, dia pasti menjemputku.Kini, orang baru menggantikan yang lama. Bahkan anak yang kulahirkan dengan taruhan nyawa pun tak lagi memedulikanku. Hidup sampai titik ini terasa begitu sepi dan tandus."Ada panggilan masuk, ada panggilan masuk."Di tengah perjalanan, Zakie menelepon. Suasana di seberang terdengar ramai. Aku mendekatkan ponsel dan mengerutkan dahi."Herni, aku bawa anak makan camilan malam.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status