Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 39. Ikatan Darah yang Tersembunyi

Share

39. Ikatan Darah yang Tersembunyi

Author: malapalas
last update publish date: 2026-04-22 18:56:17

Aku menutup mulutku dengan tangan, menahan isak tangis yang nyaris pecah. Tanganku yang tadinya gemetar kini terasa dingin saat melihat luka mengerikan di tubuh Aaron mulai bereaksi dengan cairan pemberian nenek. Aku tidak tahu rahasia apa lagi yang disimpan keluargaku, tapi saat ini, aku hanya ingin Aaron tetap bernapas.

"Kumohon, Nek, lakukan sesuatu! Dia nggak boleh pergi seperti ini!" bisikku parau.

Dengan gerakan tangkas, nenek segera menaburkan serbuk daun kering tadi di atas luka yang ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   160. Bidak Terakhir Marcus

    Malam mulai turun perlahan di wilayah klan.Jauh dari markas utama yang masih dipenuhi euforia keberhasilan Proyek Utara, kabut tebal kembali menyelimuti bangunan batu tua yang berdiri kokoh di tengah hutan terisolasi. Tempat yang tidak pernah tercatat di peta mana pun itu tampak sunyi di luar, namun di dalamnya, atmosfer terasa sedingin es.Tidak ada penjaga.Tidak ada lambang kekuasaan.Namun siapa pun yang mengetahui tempat itu akan mengerti bahwa sebagian keputusan paling berbahaya dalam sejarah klan lahir dari balik dinding-dinding batu tersebut.Di dalam ruangan rahasia yang remang-remang, Tetua Utama Marcus duduk di singgasana sederhananya.Tangannya bertumpu di sandaran. Tatapannya mengarah ke kobaran api kecil di perapian. Wajahnya tampak sama seperti biasanya. Tenang, dan sulit ditebak. Seolah tidak ada apa pun yang mampu mengguncang pikirannya.​Tiba-tiba pintu kayu besar berderit pelan. Pria bermantel hitam melangkah masuk dari kegelapan lorong. Langkahnya ringan tanpa sua

  • Anak Rahasia Sang Alpha   159. Jamuan Sang Pemenang

    Markas utama klan tampak jauh lebih ramai dibanding biasanya. Bukan karena adanya ancaman atau rapat darurat, melainkan karena keberhasilan yang baru saja mengguncang seluruh struktur kekuasaan klan.Undangan resmi telah dikirim sejak pagi.Bukan ke aula utama, bukan pula ke ruang rapat dewan, melainkan ke ruang makan kehormatan yang hanya digunakan pada peristiwa-peristiwa besar.Dan hari ini, pusat acara itu adalah Aaron.​Pintu megah yang terbuat dari kayu jati tebal berukir kuno itu terbuka lebar, menyambut kedatangan sang Alpha dominan.​Ruangan itu memancarkan kemewahan yang menekan. Sebuah meja panjang dari batu marmer hitam berkilau membentang di tengah ruangan, dipenuhi oleh deretan hidangan luar biasa mewah, mulai dari daging kualitas terbaik hingga botol-botol anggur berusia puluhan tahun yang hanya dikeluarkan pada momen-momen tertentu klan. Di atas meja, lampu gantung kristal memantulkan cahaya kekuningan yang megah, menyinari wajah-wajah yang kini duduk melingkar menanti

  • Anak Rahasia Sang Alpha   158. Mundur untuk Menikam

    Keheningan di dalam ruang kerja itu terasa begitu mencekik. Pertanyaan Jessi menggantung di udara, menjadi cerminan dari jurang kehancuran yang kini terbentang tepat di depan kaki mereka.Jessi masih duduk membeku di sofa. Pikirannya kacau. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.Semua yang selama ini ia yakini sedang runtuh di depan matanya.Aaron tidak jatuh.Tidak hancur.Tidak kehilangan apa pun.Sebaliknya, pria itu justru menjadi jauh lebih kuat."Aku membencinya." Suara Jessi terdengar lirih.Namun beberapa detik kemudian, emosinya kembali mengambil alih dengan kemarahan yang liar dan tak terkendali."Aku membencinya!" ulangnya lebih keras. Ia bangkit berdiri dengan napas memburu. "Kenapa selalu seperti ini?!"Stanley mengawasinya dalam diam.​"Ini tidak adil! Kenapa Aaron selalu mendapatkan apa yang dia inginkan?!" teriak Jessi, memukul permukaan meja kerja Stanley dengan kedua tangannya hingga berkas-berkas di atasnya bergetar.​"Jessi, jaga suaramu—"​"Aku tidak bisa dia

  • Anak Rahasia Sang Alpha   157. Riak Badai dari Utara

    "Diam!" Kata itu keluar dari mulut Stanley bukan sebagai teguran, melainkan sebagai perintah yang memotong kalimat Jessi dengan sangat kejam. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk bantahan. Jessi terpaku, mulutnya yang setengah terbuka mendadak kaku. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat sorot mata penuh kasih atau kelembutan seorang ayah yang biasa memanjakannya. Wajah Stanley mengeras seperti batu karang, dengan urat-urat di pelipis yang berdenyut tegang. Tatapan Stanley menyapu koridor rumah, melihat para pelayan yang bergerak gelisah di sekitar mereka. "Ikut aku ke ruang kerja. Sekarang!" perintahnya tanpa basa-basi. Tidak ada nada lembut. Tidak ada kesabaran. Tidak ada perlakuan istimewa yang biasa diberikan Stanley kepadanya. Hanya perintah. Dingin dan keras. Jessi seketika menelan ludah. "Baik, Ayah." Beberapa menit kemudian pintu ruang kerja yang terbuat dari kayu jati tebal itu dibanting menutup, mengisolas

  • Anak Rahasia Sang Alpha   156. Retaknya Perhitungan

    ​Layar televisi besar di dinding ruang tengah masih menyala, menampilkan ulang cuplikan konferensi pers yang sudah ia tonton berkali-kali. Namun setiap kali melihatnya, dadanya kian bergemuruh hebat hingga membuatnya sulit bernapas.Kenyataan yang terpampang di layar benar-benar menghantam Jessi bagai petir di siang bolong.“Dengan ini kami mengumumkan bahwa pihak investor Singapura secara resmi telah menandatangani kontrak kerja sama eksklusif.”Di layar televisi itu, Marcus berdiri dengan senyum kepuasan yang sulit disembunyikan. Puluhan wartawan mengelilinginya, sementara kilatan lampu kamera terus menyambar tanpa henti.“Proyek Wilayah Utara akan resmi dijalankan mulai hari ini sebagai kawasan hunian termewah yang tidak ada duanya, didukung penuh oleh investasi finansial dalam jumlah luar biasa.”Kata-kata yang keluar dari bibir Marcus terdengar seperti lonceng kematian bagi rencana-rencana Jessi.Lalu....Klik.Jessi langsung mematikan televisi.Namun itu tidak membantu.Suara Ma

  • Anak Rahasia Sang Alpha   155. Akhirnya Pulang

    Aku kembali menunduk menatap jas mahal berwarna gelap yang kini menutupi tubuhku dengan sempurna. Lalu tanpa sadar aku tersenyum kecil."Aku suka kamu cemburu. Itu berarti ... kamu benar-benar mencintaiku."Entah kenapa suaraku terdengar lebih pelan dari biasanya.Mungkin karena malu, mungkin juga karena aku terlalu bahagia.Saat aku mengangkat kepala kembali, Aaron sedang menatapku. Tatapan itu membuat jantungku berdegup lebih cepat.Matanya terlihat begitu hangat. Begitu lembut dan penuh perasaan. Seolah di dunia ini hanya ada aku dan dirinya.Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa gugup ketika menerima tatapan seperti itu. Karena kini aku tahu apa arti sorot mata tersebut.Cinta.Murni dan tanpa keraguan.Sudut bibir Aaron perlahan terangkat. Melihat reaksiku rupanya cukup untuk membuat suasana hatinya membaik.Aku langsung memalingkan wajah karena merasa semakin malu.Di belakang kami, Lucien berdeham pelan. "Tuan."Aaron tidak menoleh. "Apa?""Kami masih ada di sini."A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status