مشاركة

42. Satu Nama

مؤلف: malapalas
last update تاريخ النشر: 2026-04-24 15:55:58

Malam merayap pelan, menelan sisa-sisa kegelisahan yang sejak tadi memenuhi rumah ini. Aku tidak tahu sejak kapan tubuhku menyerah pada penat. Yang kuingat hanya duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Aaron tanpa henti, seolah jika aku melepaskannya sedikit saja, dia akan benar-benar pergi.

Kepalaku sempat terkulai, tertarik oleh rasa lelah yang membelenggu begitu kuat. Namun, di tengah keheningan yang terlampau sunyi ini, aku merasakannya, sebuah getaran kecil, dan ... hangat.

Genggaman
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Anak Rahasia Sang Alpha   70. Bekas yang Tidak Bisa Hilang

    Ruangan operasi itu dingin dan nyaris tanpa suara. Cahaya putih dari lampu bedah jatuh tepat ke wajah Jessi yang terbaring kaku di atas meja. Peralatan medis tersusun rapi di sekelilingnya, mengilap dan siap digunakan. Di balik kaca, beberapa tenaga medis bergerak cepat namun teratur, seolah setiap detik sudah diperhitungkan dengan saksama.Stanley berdiri di koridor luar, mematung di balik kaca transparan. Wajahnya datar sekeras pahatan batu. Namun, hanya orang yang benar-benar mengenalnya yang tahu bahwa diamnya kali ini bukanlah tanda ketenangan. Melainkan tekanan yang ditahan dengan paksa.​Beberapa jam yang lalu, ia telah mengeluarkan perintah. Tidak boleh ada dokter biasa yang bisa menyentuh putrinya, tidak peduli seberapa tinggi gelarnya di rumah sakit ini. Pria yang kini berada di dalam ruang operasi itu adalah seorang spesialis yang namanya jarang terdengar, namun selalu muncul di lingkaran kalangan elite. Seseorang yang terbiasa memperbaiki wajah yang telah hancur, mengembal

  • Anak Rahasia Sang Alpha   69. Jejak Merah yang Tertinggal

    Langkah pria bermantel hitam itu tetap tenang saat menyusuri lorong sempit di lantai atas markas. Mantelnya bergerak pelan mengikuti langkahnya yang ringan, nyaris tanpa suara. Dari luar, ia terlihat sepenuhnya mengendalikan keadaan, seolah tempat ini adalah rumahnya sendiri.​Namun, ada satu kesalahan kecil yang tidak ia sadari. Ia terlalu fokus mengamati perubahan pola patroli para penjaga. Dan ketidaksadaran itu sudah cukup bagi Aldrick untuk membaca setiap geraknya.Di lorong bawah yang gelap, sosok Aldrick berhenti tepat di bawah jalur tersembunyi yang tadi dilewati pria itu. Tatapannya terangkat perlahan ke atas, sementara matanya menyipit tipis, memindai kegelapan dengan insting tajam sang beta.​"Jadi akhirnya kamu memilih bergerak juga," gumamnya lirih.​Ia memejamkan mata sesaat. Perubahan tekanan udara, getaran langkah yang sangat halus, dan aroma samar yang sebelumnya hampir mustahil dilacak. Kini semuanya mulai membentuk pola di kepalanya. Senyum tipis muncul di sudut bib

  • Anak Rahasia Sang Alpha   68. Umpan yang Berbalik

    ​Suasana di lorong batu itu terasa sunyi. Terlalu sunyi.​Aldrick menghentikan langkahnya di tengah lorong. Otot di rahangnya mengeras samar saat instingnya mulai menangkap ada sesuatu yang tidak beres.Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada pergeseran udara yang mencurigakan sama sekali. Namun, justru karena keheningan itulah instingnya menegang. Markas utama tidak pernah benar-benar kosong. Selalu ada pergerakan, selalu ada embusan napas yang bisa ia tangkap, sekecil apa pun itu. Tapi sekarang, segalanya terasa hampa.Tatapannya bergerak perlahan ke langit-langit lorong. "Kalau semua terasa kosong, berarti seseorang sedang berusaha membuatnya terlihat kosong."Matanya menyipit tipis. Bukan karena tidak ada apa-apa di sana, melainkan karena ada sesuatu yang baru saja menghilang.Aldrick tidak langsung bergerak maju. Ia justru mengubah arah dan kembali ke titik tempatnya berdiri beberapa saat lalu. Langkahnya pelan, terukur, dan nyaris tanpa suara. Tatapannya menyapu setiap sudut rua

  • Anak Rahasia Sang Alpha   67. Ketika Pemburu Mulai Saling Membaca

    ​​Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.​Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa langkah kaki yang tadi menjauh benar-benar tidak akan kembali. Setelah merasa yakin, ia pun melangkah keluar.Sosok pria bermantel hitam itu bergerak perlahan dari balik kegelapan. Kakinya menyentuh lantai dengan ringan, hampir tanpa bunyi, seolah ia mengendalikan setiap pijakan dengan sempurna. Tidak ada ketergesaan. Gerakannya yang luwes dan sunyi membuatnya tampak seperti bagian dari bayangan itu sendiri.Tatapannya terarah ke ujung lorong tempat Aldrick baru saja menghilang. Sebuah senyum tipis, dingin, namun mematikan terukir di sudut bibirnya."Menarik," bisik pria itu. Suaranya sangat rendah, nyaris tertelan oleh dinding-dinding batu yang dingin.​Ia berjalan mendekati titik tempat Aldr

  • Anak Rahasia Sang Alpha   66. Jejak yang Disembunyikan

    ​Malam telah turun sepenuhnya di markas utama. Lorong-lorong panjang yang biasanya ramai oleh lalu-lalang para penjaga kini terasa sangat sunyi, hanya diterangi oleh cahaya redup dari lampu dinding yang terpasang berjarak. Bayangan memanjang di setiap sudut, menciptakan celah-celah gelap yang cukup untuk menyembunyikan sesuatu … atau seseorang."Sunyi seperti ini …," bisik Aldrick. "Terlalu sempurna untuk tidak menyembunyikan sesuatu."Sejenak ia terdiam, membiarkan instingnya membaca keadaan. Keheningan bukanlah kekosongan, itu adalah tanda bahwa sesuatu sedang menunggu.​Di antara bayangan tersebut, satu sosok bergerak tanpa suara. Aldrick. Langkah kakinya begitu ringan dan terukur, nyaris tidak meninggalkan jejak. Tidak ada keraguan dalam setiap geraknya, hanya arah yang jelas dan tujuan yang pasti. Bagi Aldrick, perintah Aaron tidak pernah dianggap sebagai tugas biasa. Ini adalah perburuan, dan targetnya bukanlah mangsa yang mudah dikendalikan."Perintahmu selalu menarik, Aaron,"

  • Anak Rahasia Sang Alpha   65. Langkah yang Tidak Terlihat

    "Dia tidak meminta maaf," potong Jessi cepat, suaranya mulai meninggi, sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Dia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, Ayah."Cengkeraman tangan Jessi di pangkuan semakin kuat, hingga kain bajunya sedikit kusut."Dia bahkan menatapku bukan sebagai seorang wanita atau sekutu yang harus dihormati, melainkan seperti sesuatu yang tidak layak ada di dekatnya."Stanley terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit, memperhatikan setiap perubahan emosi di wajah putrinya tanpa menyela.Tatapannya perlahan turun ke sisi wajah Jessi. Bekas cakaran itu masih terlihat jelas, garis dalam yang merobek kulitnya, kini hanya tertutup perawatan sementara, namun belum sepenuhnya pulih. Jejak itu bukan sekadar luka, melainkan penghinaan. Tanda dominasi yang ditinggalkan secara sengaja.Rahang Stanley mengeras. Pemandangan itu masih terpatri di ingatan, darah di wajah Jessi, tatapan para tetua, dan keheningan yang dipenuhi tekanan. Itu bukan sekadar serangan.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status