بيت / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 9. Naluri yang Terluka

مشاركة

9. Naluri yang Terluka

مؤلف: malapalas
last update تاريخ النشر: 2026-04-02 15:23:03

​Langkah kaki Aaron membelah lobi gedung dengan irama yang mematikan. Suara pantulan sepatunya terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Wajahnya kaku, rahangnya terkatup begitu rapat. Aura yang dipancarkannya begitu gelap dan mencekam, seolah-olah oksigen di seluruh ruangan itu tersedot habis oleh kehadirannya.

Para karyawan yang semula sibuk dengan tumpukan dokumen kini membeku di meja masing-masing. Tidak ada yang berani sekadar mengangkat kepala, apalagi menatap matanya. Bahkan suara hel
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Anak Rahasia Sang Alpha   232. Serangan yang Tak Terduga

    Lucien melesat menembus kabut pinus, menepis ranting dan semak yang menghalangi jalannya. Namun, begitu tiba di tempat semula, langkahnya mendadak terhenti.Tubuh nenek Fay telah tergeletak di atas tanah.Keranjang bambu yang sebelumnya berada di punggungnya terlepas dan jatuh beberapa langkah dari tubuhnya. Ranting-ranting yang baru saja dikumpulkannya berserakan di antara dedaunan kering.Lucien langsung berlari menghampiri."Nenek!"Tanpa membuang waktu, Lucien melepas paksa tali selempang keranjang yang masih tersangkut di punggung sang nenek dan menepisnya ke samping. Ia menahan punggung tua itu, mengangkat kepala nenek Fay ke pangkuannya sembari menekan luka tusukan menganga di perut sang nenek untuk menahan pendarahan."Nek, dengar saya. Anda bisa mendengar saya?"Napas sang nenek tersengal parah. Darah segar ikut merembes dari sudut bibirnya yang gemetar.​"Nek, bertahanlah!" panggil Lucien, rahangnya mengetat erat. "Siapa yang melakukan ini?!"Sang nenek mengangkat pandangann

  • Anak Rahasia Sang Alpha   231. Bahaya di Balik Kabut Pinus

    Pagi itu, Elena membantu ibunya menyiapkan sarapan di dapur kecil rumah mereka. Udara masih terasa dingin. Aroma kayu bakar yang terbakar perlahan memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma makanan yang sedang dimasak.Elena baru saja hendak mengambil sesuatu ketika pandangannya tertuju pada tumpukan kayu di sudut dapur.Ia terdiam.Kayu bakar yang tersisa sudah hampir habis, hanya menyisakan beberapa potong ranting kering."Ibu," panggilnya. "Kayu bakarnya hampir habis."Ibunya menoleh dan ikut melihat ke sudut ruangan."Benar juga," gumamnya.Wanita tua itu kemudian berdiri dan melangkah mendekati tungku yang apinya mulai meredup, menyisakan bara merah yang perlahan tertutup abu. Setelah itu, ia menatap keluar melalui jendela kayu yang terbuka sedikit."Ibu mau ke mana?" tanya Elena. Matanya langsung melebar ketika melihat ibunya bersiap meninggalkan rumah."Mencari kayu bakar," jawab sang ibu tenang, jemarinya yang keriput sibuk mengikat tali selempang keranjang bambu di punggungnya.

  • Anak Rahasia Sang Alpha   230. Impian yang Sama

    Aku masih menatap Aaron ketika senyum di wajahku perlahan memudar.Beberapa saat lalu, kata-katanya terasa begitu indah."Dia anakku. Dan kamu Luna-ku.""Aku punya kalian berdua."Kalimat-kalimat itu seharusnya membuatku bahagia. Dan memang, hatiku menghangat melihat betapa tulusnya Aaron membicarakan putra kami, tentang keinginannya untuk segera bertemu, membayangkan wajahnya, bahkan menjadi ayah yang selalu ada untuknya.Ia berbicara tentang masa depan kami dengan begitu mudah.Tentang anak kami.Tentang keluarga kami.Namun, ada satu hal yang tidak pernah ia sebutkan.Pernikahan.Tidak sekali pun.Aku menundukkan pandangan pada tangan kami yang masih bertaut di atas seprai. Perlahan, kebahagiaan yang tadi memenuhi dadaku bercampur dengan kegelisahan yang selama ini berusaha kuabaikan.Jika kami benar-benar akan menjadi sebuah keluarga, lalu siapa aku di dalamnya?Aku ingin menjadi lebih dari sekadar perempuan yang melahirkan anak Aaron. Aku ingin menjadi istrinya, seseorang yang di

  • Anak Rahasia Sang Alpha   229. Sebelum Kami Bertemu

    Aaron mengernyit. "Seberapa cepat?""Saya tidak bisa menentukan tanggal pastinya. Namun, melihat perkembangan janin yang sangat aktif dan kekuatan yang saya rasakan selama mendampingi pemeriksaan Luna, ada kemungkinan kelahirannya terjadi lebih awal."Aku menoleh kepada Aaron.Wajahnya langsung terlihat serius. Ia masih duduk di kursi dekat kepalaku, sementara jemarinya menggenggam tanganku di atas seprai."Jadi kami harus bersiap mulai sekarang?" tanyaku."Lebih baik begitu, Luna.""Apa saja yang harus kami persiapkan?""Perlengkapan bayi, tempat untuk sang pewaris, kebutuhan Luna selama masa pemulihan, dan tentu saja orang-orang yang akan membantu setelah kelahiran."Aaron langsung menyela sebelum aku sempat bertanya lebih jauh."Semua sudah disiapkan."Aku menoleh cepat. "Sudah?"Dokter Reynard hanya tersenyum kecil, seolah jawaban Aaron sama sekali tidak mengejutkannya."Saya tidak terkejut, Alpha."Aku mengerutkan kening lalu memandang Aaron. "Kamu sudah menyiapkan semuanya?""Se

  • Anak Rahasia Sang Alpha   228. Sang Pewaris yang Dinanti

    Sejak aku pindah ke mansion Aaron, seluruh pemeriksaan kehamilanku dilakukan di sini. Dokter Reynard bahkan beberapa kali datang langsung ke kamar kami agar aku tidak perlu bepergian hanya untuk menjalani pemeriksaan.Aaron memang tidak suka melihatku terlalu sering keluar rumah, terlebih usia kandunganku sekarang sudah semakin besar. Gerakan bayi di dalam perutku pun semakin aktif dari hari ke hari.Seperti pagi ini.Begitu mengetahui jadwal pemeriksaanku sudah tiba, Aaron langsung membatalkan semua agenda yang seharusnya ia hadiri di kantor.Aku bahkan sempat mengira aku salah dengar ketika ia mengatakan tidak akan pergi ke mana pun hari ini."Semua rapat dibatalkan?" tanyaku sambil menatapnya.Aaron hanya mengangguk santai. Ia menggulung lengan kemejanya hingga batas siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh dan berotot. Gerakannya sederhana, tetapi entah kenapa aku malah terpaku beberapa detik.Aku buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari bahwa diam-diam aku sedang terpeso

  • Anak Rahasia Sang Alpha   227. Firasat dari Hutan Pinus

    Sudah lebih dari seminggu Elena tinggal di rumah ibunya yang berada di pinggir hutan pinus. Selama itu pula, kehidupan yang sempat terasa begitu jauh dari ingatannya perlahan kembali terasa akrab.Tidak ada kemewahan. Tidak ada kesibukan kota. Hanya rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan pinus, udara sejuk, dan suara alam yang menemani setiap pagi hingga malam.Elena dan ibunya melakukan hampir semuanya bersama.Mereka saling membantu memasak, mencuci pakaian, memotong rumput, hingga membersihkan rumah. Hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa, kini justru menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi Elena.Mereka juga banyak bercerita. Tentang kehidupan Elena selama bertahun-tahun. Tentang hal-hal kecil yang terjadi di rumah. Tentang masa lalu yang perlahan mereka buka kembali.Bahkan beberapa kali, mereka tertawa hanya karena mengingat tingkah Elena ketika masih kecil.Tentang bagaimana gadis kecil itu dulu sering berlari tanpa alas kaki di halaman. Tentang bagaimana ia pernah me

  • Anak Rahasia Sang Alpha   4. Jangan Pernah Berpikir untuk Lari

    Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil

  • Anak Rahasia Sang Alpha   3. Ibu Lebih Takut pada Omongan Orang

    Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l

  • Anak Rahasia Sang Alpha   2. Benih sang Alpha

    ​“A-apa maksud—ah!”​Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.​Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra p

  • Anak Rahasia Sang Alpha   1. Malam yang Seharusnya Tidak Terjadi

    “Hanya menemani beliau sebentar saja, Fay. Lalu kamu bisa pulang. Apa susahnya?”Aku menghela napas pelan mendengar rentetan kalimat dari Bu Sarah, sekretaris senior sekaligus atasanku. Beliau terdengar terburu-buru dan penuh desakan saat memintaku pergi ke ruangan pimpinan perusahaan malam-malam b

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status