تسجيل الدخولkami kembali berkunjung ke pantai Kuta Lombok yang tenang itu. Sinar matahari bersinar terang cerah sekali siang itu. Kulit wajahku perlahan terasa hangat kemerahan terkena sinar teriknya. Rey segera mengeluarkan krim pelindung matahari, lalu mengoleskannya perlahan lembut di hidung dan pipi agar tidak terbakar matahari."Sudah merah merona, cantik sekali seperti kelopak bunga ya sekarang," godanya lembut tersenyum menyenangkan hati."Lihat juga hidungmu sendiri sudah merah merona sama aja!" balasku tertawa kecil melihatnya juga terkena sinar matahari terang itu.Denis tertawa lepas melihat kami saling menggoda bahagia. Lalu ia berlari kecil menuju percikan air laut yang sejuk menyentuh pantai. Rey sedikit kaget khawatir segera berseru lembut, "Denis pelan-pelan ya! Jangan berlari terlalu jauh ke dalam air!"Namun Denis terlalu bersemangat mengejar ombak kecil yang bergulung lembut datang menyapa pantai. Tiba-tiba... tergelincir sedikit basah kuyup seketika dari ujung rambut sampai uj
"KEPITING KECIL?!" mata Denis langsung membelalak bersinar antusias sekali. "Denis siap melindungi diri dari kepiting kecil!" Akhirnya kami berempat duduk bersama di tepi pantai yang tenang itu. Vila kami benar-benar istimewa menghadap langsung pantai yang bersih sepi. Pasir merica terasa dingin lembut di bawah telapak kaki kami. Ombak tidak besar sama sekali, membelai lembut tepian pantai... suara berirama lembut... Denis tampak sangat serius sekali menyinari sela-sela pasir dengan lampu senter kecilnya mencari kepiting kecil. Azka pun sibuk menumpuk pasir membangun istana impiannya yang rapi. Rey duduk tenang di belakangku, meletakkan dagunya lembut di bahuku menikmati keheningan malam yang damai. "Nyaman sekali ya Rin, tidak ada suara kendaraan yang bising sama sekali," bisiknya lembut pelan agar tidak merusak ketenangan malam. Aku mengangguk setuju bahagia. Tiba-tiba Denis berseru kecil kaget namun bersemangat. "Ibu! Kepiting kecilnya berani sekali mencubit sendalku!"
Keesokan harinya, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tangan kugenggam erat sekali tangan Rey saat terdengar pengumuman mempersilakan penumpang naik ke pesawat. Sudah lima tahun lamanya aku tidak menaiki pesawat terbang. Terakhir kali naik pesawat masih bersama mantan suami... lalu kemudian ia pergi meninggalkan kami sendirian. Tinggal aku dan Denis yang masih bayi, menangis rewel di pangkuan berjuang melewati hari-hari sulit. "Tarik napas pelan-pelan ya, Rin," bisik suara lembut Rey tepat di telingaku. Telapak tangannya hangat mengusap lembut punggung tanganku yang terasa dingin karena gugup. "Aku ada di sini bersamamu. Kalau masih takut, genggam tanganku sekuat mungkin. Saat pesawat mulai terangkat tinggi ke udara, perutku terasa sedikit mual berputar. Namun genggaman tangan Rey tidak pernah terlepas sedikitpun. Ia justru menyandarkan kepala lembut di bahuku, berpura-pura tertidur pulas. Padahal aku tahu matanya tetap terbuka waspada, menemani dan menjagaku agar tidak meras
Dadaku panas. Aku menoleh ke jendela, pura-pura lihat burung. Takut Rey lihat mataku basah.Alif yang dari tadi bengong, tiba-tiba muncul bawa papan catur kayu. "Rey, main catur yuk. Mumpung Ayah lagi di dapur."Sebelum Rey jawab, Azka sudah berdiri, tangan di pinggang. "Om Alif jangan ganggu Ayah kami! Ayah lagi lihat tempat liburan buat Mama!"Alif melongo. "Lah, bocil. Main catur bentar doang."Azka duduk di karpet, mindahin pion. "Aku bisa kok Om. Diajarin Kakek waktu tahun baru."Alif meremehkan, duduk di depan Azka. "Emang bisa? Yaudah itung-itung ngasuh bocil SD."Denis ikut duduk di sebelah Azka. Jadi tim penonton + asisten.Aku merapat ke Rey lagi, kali ini tanpa malu. Kami nonton video tempat wisata lain di HP. Tapi telingaku lebih fokus ke suara dari karpet."Skak!" seru Azka, matanya berbinar.Alif garuk-garuk kepala. "Eh, kok bisa..."Lima menit kemudian: "Skak mat, Om!"Alif nggak percaya. "Ulang! Kebetulan itu!"Ronde kedua. Ronde ketiga. Hasilnya sama. Azka menang semu
Aku duduk perlahan di tepi ranjang, membiarkan pandanganku menyapu seluruh ruangan. Kamar ini... kamarku dulu. Cat dinding berwarna hijau muda itu masih sama persis seperti saat aku masih menuntut ilmu di bangku kuliah. Poster film kesukaanku dan foto wisuda yang belum sempat dilepas oleh Ayah masih menempel rapi di dinding. Meja belajar kecil di sudut ruangan pun tak berubah; tumpukan buku-buku tebal berjudul ilmu psikologi masih tersusun berbaris rapi di atasnya. Pembantu rumah tangga Ayah pernah bercerita bahwa kamar ini selalu dibersihkan setiap minggu. “Bersih-bersih rutin saja, Mbak. Siapa tahu suatu hari Mbak Ririn rindu suasana rumah sendiri.” Siapa sangka, kerinduan yang disiapkan dengan penuh kasih sayang itu justru menjadi tempat istirahat malam pertama pernikahanku. Di luar pintu, langkah kaki Azka dan Denis terdengar perlahan menuju kamar tamu. Alif berjalan mendampingi mereka, berbisik pelan agar tak membangunkan siapa pun. “Tidur lelap ya, pasukan kecil besok Om aja
BRAAAKK!!!" Suara itu memecah keheningan. Suara rem kendaraan yang ditarik sekuat tenaga hingga berdecit tajam di atas aspal. Disusul bunyi benturan yang keras dan memilukan. Ponsel yang digenggam Maya terlempar ke udara. Layarnya berputar tak beraturan, menangkap potongan langit malam yang bertabur cahaya lampu kota, lalu permukaan jalan yang gelap basah, hingga akhirnya jatuh menimpa rumput liar di tepi jalan. Gambar di layar berguncang hebat seakan dunia ikut berguncang. Suara riuh orang-orang segera terdengar mendekat. "Nona! Nona, hati-hati!" "Ya Tuhan, tabrakan!" "Segera panggil ambulans!" Di antara keriuhan itu terdengar suara rintih pelan dan tertahan. "Aduh... kakiku... ponselku..." Layar masih menyala selama beberapa detik. Menampilkan bayangan orang-orang yang segera berkerumun di sekelilingnya. Sinar lampu ponsel dari arah lain menyinari tubuh Maya yang tergeletak tak berdaya di tepi jalan. U







