LOGIN"Bang!"
"Tunggu aku, Bang!" panggil Reina lagi, saat mereka berjalan ke luar menuju tempat parkir. Laras dan Leo melihat ke arah Reina. Leo tampak bingung harus bicara apa, sedangkan Laras menatap tajam ke arahnya. "Kamu mau ngajak perempuan itu juga ke rumah sakit?" tanya Laras dengan nada sedikit tinggi. "I-iya jika Ibu mengizinkan. Lagipula, Reina kan asisten pribadi saya, jadi jika dia ikut kemungkinan besar akan banyak membantu kita, Bu," ucap Leo hati-hati. "Ibu nggak izinkan! Ayo cepat, bawa Dina ke rumah sakit sekarang." "Baik Bu. Kalo gitu, kamu langsung balik ke kantor aja ya Beb. Eh, Rei." tutur Leo. Sadar akan kesalahannya dalam berucap, membuat Leo melihat kembali ke arah Laras. Ia khawatir Laras menyadari kesalahannya dalam bicara. Karena bagaimanapun, setau Leo, Laras punya andil saat ia masuk dan mulai bekerja di MARS Company. Hanya saja ia tidak tau apa itu. Karena Dina tidak pernah memberi taunya dan dia pun tidak pernah mencari tau. Meski mendengar Leo bicara seperti itu, Laras tidak terlalu memperdulikannya. Ia hanya ingin Dina segera dibawa ke rumah sakit dan ditangani di sana. "Brengsek! Dia lebih milih Dina daripada aku karena perempuan tua itu!" gumam Reina. Sayup-sayup Laras mendengar ucapan Reina. "Apa kata kamu? Coba ngomong lebih keras, biar saya dan atasan kamu tau apa yang tadi kamu bicarakan!" "Aku bilang... " Leo bergegas memotong pembicaraan. Ia tau kalau Reina tidak akan bisa mengontrol diri dan bicara dengan baik. "Cukup Reina! Kembali ke kantor sekarang! Jangan buat masalah baru!" tegas Leo. Ia mempercepat langkahnya menuju tempat parkir. Karena walaupun Dina sekarang bertubuh kurus, jika terlalu lama menggendong tetap saja membuat Leo kelelahan. Mendengar bentakkan dan nada tinggi yang dikeluarkan oleh Leo membuat Reina terperangah. Tiba-tiba saja mulutnya terkunci dan wajahnya berubah menjadi sendu. Laras tersenyum tipis. "Makanya lain kali jaga mulutmu!" Laras berjalan mengekor Leo dari belakang. Ia sengaja melakukan itu agar Reina tidak menyepelekannya. Sesampainya di tempat parkir, Leo langsung menaruh Dina di bangku penumpang bagian belakang sedangkan Laras menemani Dina di sana. "Loh, Ibu duduk di belakang bareng Dina?" tanya Leo, dengan kening berkerut. "Iya Leo, biar saya bisa pastikan kondisi Dina." ucap Laras, tanpa berpikir kalau sebenarnya Leo keberatan. Leo menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Bu." 'Sial! Kalo gini aku udah kayak supir aja!' batin Leo. Setelah menutup pintu mobil, Leo langsung beralih ke bangku pengemudi, menyalakan mesin, dan mulai melajukannya. Perjalanan menuju rumah sakit cukup lancar. Dan sesampainya di sana, Leo memarkirkan mobilnya di parkiran terdekat dan menggendong Dina masuk ke dalam IGD. Sedangkan Laras mengekor di belakangnya. "Sus, tolong bantu istri saya, Sus! Dia demam dan tidak sadarkan diri sejak tadi," tutur Leo, dengan wajah cemas yang dipaksakan. "Baik Pak, akan kami usahakan maksimal. Namun sebelum itu, tolong urus administrasinya terlebih dahulu ya, Pak," ucap seorang perawat yang datang menghampiri. "Baik Sus." jawab Leo sambil menaruh Dina di atas brankar. Leo menoleh ke arah Laras yang sejak tadi berdiri di samping Dina. "Aku urus administrasi dulu ya, Bu!" Laras mengangguk perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari Dina. Ia memegang lembut tangan anak semata wayangnya itu. "Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, Nak... Kenapa semuanya jadi begini?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. "Kata kamu kalian hidup bahagia di kota, dan saat ini sedang menyiapkan kehamilan lagi karena sebelumnya sempat mengalami keguguran," lanjut Laras, tanpa terasa air mata mengalir cukup deras dari pelupuk matanya. Perawat yang sedang menangani Dina menepuk pundak Laras. "Sabar ya Bu, Dokter akan segera mengecek keadaan anak Ibu. Dan mudah-mudahan anak Ibu bisa kembali sehat seperti sebelumnya." "Terima kasih ya, Sus. Tapi saya mau minta tolong cek juga bagian dalam tubuh putri saya." ucap Laras. "Karena saat tadi pakaiannya tersingkap, ada beberapa luka di tubuhnya." "Baik Bu! Kalau saya boleh tau, apakah ini kasus KDRT?" Laras menggedikkan bahunya. "Saya juga kurang tau Sus. Saya baru datang dari desa." jawab Laras. "Saat saya sampai, kondisinya udah seperti ini." Laras menghapus air mata yang kini semakin lama mengalir semakin deras. Beberapa saat kemudian, seorang Dokter datang menghampiri. Dokter tersebut segera mengecek kondisi Dina. "Kondisi anak Ibu cukup memprihatinkan. Ia mengalami malnutrisi akut." ucap Dokter. "Dan demam yang timbul kemungkinan besar karena kelelahan dan dehidrasi. Sehingga tubuhnya sangat lemah." lanjutnya. "Lalu untuk luka-luka yang timbul di tubuh anak saya bagaimana, Dokter Raya?" tanya Laras. Mata Laras menoleh ke arah Dina lalu kembali menatap Dokter Raya. Nama tersebut ia ketahui dari name tag yang tertera di sebelah kanan dada Dokter Raya. "Untuk itu, kami harus melakukan pengecekan lebih lanjut Bu. Untuk saat ini, baiknya Ibu tenang dulu sambil menunggu kesadaran Ibu Dina kembali." jawab Dokter Raya."Akhirnya, kita harus pulang sekarang, ya?" tanya Laras, yang merasa tidak rela harus meninggalkan desa sekarang. "Iya, mau gimana lagi. Kerjaan di kantor pasti udah padet banget sekarang."Satu minggu pertama setelah pernikahan Laras dan Arya berlalu jauh lebih tenang dibanding beberapa bulan sebelumnya.Bulan madu mereka di desa kecil itu ternyata menjadi pengalaman yang jauh lebih menyenangkan dari yang dibayangkan Arya. Tidak ada jadwal rapat, telpon pekerjaan yang datang setiap satu jam sekali, dan agenda yang datang mendadak.Hanya pagi yang tenang, udara segar, dan warga desa yang sesekali datang berkunjung untuk mengobrol.***Sementara itu, di kota, kehidupan Dina juga berjalan dengan ritme yang berbeda. Awalnya ia mengira setelah pernikahan Laras selesai, semuanya akan kembali normal. Namun ternyata tidak.Karena tanpa ia sadari, hubungannya dengan Fadlan semakin dekat dari hari ke hari. Bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada momen dramatis. Hanya percakapan
"Semoga hari ini, berjalan lancar," gumam Dina pelan, penuh harap. Sore itu, hotel tempat pernikahan Laras dan Arya dilaksanakan sudah ramai sejak sebelum matahari turun sepenuhnya.Para staf hotel berjalan cepat dari satu ruangan ke ruangan lain. Tim dokumentasi mulai mempersiapkan peralatan mereka. Beberapa keluarga yang datang dari luar kota juga sudah terlihat berada di area lobi sejak pagi.Hari yang selama ini hanya ada di dalam rencana akhirnya benar-benar tiba. Di salah satu ruang persiapan, Laras duduk di depan cermin. Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi pantulan dirinya sendiri. Gaun yang dikenakannya sudah hampir sempurna. Riasan wajahnya terlihat lembut dan elegan. Rambutnya ditata sederhana namun anggun.Anehnya, ia tidak merasa terlalu gugup. Mungkin karena semua proses panjang itu sudah mereka lalui sedikit demi sedikit. Atau mungkin juga karena ia sudah sangat yakin dengan keputusan yang diambilnya.Pintu ruangan terbuka perlahan. Dina masuk sambil membawa secang
"Baiklah, Ibu nggak akan goda kamu lagi..," ucap Laras, dengan suara yang masih ada tawa tersisa Dina hanya menggeleng pelan sambil kembali melanjutkan sarapannya. Laras pun tidak lagi melanjutkan godaannya sesuai dengan janjinya tadi.Meski begitu, sesekali senyum tipis masih terlihat di wajah wanita itu setiap kali matanya bertemu dengan Dina. Dan hal tersebut membuat Dina memilih untuk fokus pada makanannya daripada memberi kesempatan Ibunya untuk bisa menggoda lebih jauh.***Hari pernikahan Doni dan Lila akhirnya tiba beberapa minggu kemudian. Sejak pagi, Dina sudah bersiap di kamarnya.Gaun yang dikenakannya sederhana namun tetap elegan. Tidak terlalu mencolok untuk sebuah acara pernikahan, tetapi cukup membuat penampilannya terlihat rapi dan anggun.Ia sedang memeriksa tas kecil yang akan dibawanya ketika ponselnya bergetar. Fadlan. Dina langsung tersenyum kecil dan mengangkat."Udah berangkat?" tanyanya setelah panggilan telpon tersambung."Udah. Ini, aku lagi di depan rumah
"Hah..," ucap Dina, pelan. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut."Halo.""Halo."Suara Fadlan terdengar santai dari seberang sana."Gimana? Akhirnya selesai juga acaranya?"Dina tersenyum kecil sambil menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur."Iya. Udah selesai kok," jawab Dina. "Gimana, lancar 'kan?" tanya Fadlan. "Lancar, kok.""Baguslah, kalo begitu."Ada jeda singkat. Setelah itu, Dina bisa mendengar suara pintu mobil ditutup dari seberang sambungan telpon. "Kamu baru pulang?" tanyanya."Iya.""Sekarang masih di luar?" tanya Dina lagi. "Ini baru masuk rumah."Dina mengangguk pelan meski Fadlan tidak bisa melihatnya. "Kerjaan kamu padet banget ya hari ini?""Lumayan. Dari pagi sampe sore banyak rapat di luar.""Oh, gitu.""Makanya aku baru bisa telpon kamu malam."Kalimat itu membuat Dina tersenyum tipis. "Perhatian banget, sih.""Iya 'kan aku harus menunjukkan sikap baik aku ke orang yang sp
"Siap?" tanya sang fotografer. "Sebentar, satu orang lagi ketinggalan!" seru seseorang dari belakang kamera."Masih ada lagi?" tanya Arya sambil tertawa."Masih. Ini keluarga besar belum lengkap kayaknya," ucap Laras. "Astaga.""Jangan protes! Kita harus tahan berdiri hari ini."Gelak tawa langsung terdengar di berbagai sudut ruangan.Dina yang tadi sudah berniat turun dari posisi berdirinya langsung menghela nafas panjang."Aku mulai ngerti kenapa fotografer dibayar mahal.""Kenapa?" tanya salah satu sepupunya. "Karena harus sabar menghadapi keluarga besar."Beberapa orang kembali tertawa.Laras yang berdiri di samping Arya hanya menggeleng pelan. "Kamu dari tadi ada aja komentarnya.""Kan biar nggak tegang, Bu," cetus Dina. "Memangnya ada yang tegang?" tanya Laras. Dina melirik ke calon Ayah barunya, Arya. "Ada kayaknya."Arya langsung mengangkat sebelah alis sambil menunjuk dirinya sendiri."Saya?""Iya.""Kayaknya salah orang," ucap Arya. "Hmm..," gumam Laras. Sebelum Arya
"Hati-hati, Bu," ucap Dina, pelan. Laras dan Dina menuruni tangga secara berdampingan. Percakapan yang sejak tadi memenuhi ruang tamu perlahan mereda. Beberapa pasang mata langsung beralih ke arah mereka. Keluarga yang duduk di sisi kanan dan kiri ruangan tersenyum hangat melihat keduanya.Namun di antara semua orang yang hadir, ada satu tatapan yang paling sulit disembunyikan. Arya. Pria itu berdiri di antara keluarganya dengan setelan jas berwarna gelap yang rapi. Sebelumnya ia sedang berbicara dengan salah satu pamannya. Namun begitu melihat Laras muncul di ujung tangga, kalimat yang hendak ia ucapkan seolah menghilang begitu saja."Sempurna," gumamnya, pelan. Tatapannya berhenti pada wanita itu.Laras memang selalu terlihat menarik di matanya. Arya sudah mengetahuinya sejak lama. Tetapi hari ini berbeda. Mungkin karena suasana dan pakaian yang dikenakan Laras saat ini. Atau mungkin karena kesadaran bahwa hari ini mereka benar-benar sedang melangkah menuju kehidupan baru bersam
"Maksud kamu, Arya?" tanya salah satu rekan bisnisnya.Nina tersenyum tipis. "Kamu tau kan kalo biasanya dia paling males ngurus urusan beginian."Televisi kembali memutar bagian saat Arya menjawab pertanyaan wartawan dengan tenang kalo ia merasa wajar jika dua orang yang sering bekerja bersama men
"Ya udah," ucap Ferry, akhirnya. "Yang penting kamu bahagia, Ras," lanjut Ferry sambil tersenyum kecil pahit di seberang sana. Laras menunduk pelan. "Makasih ya, Fer. Saya harap, kamupun bahagia nantinya bersama siapapun." "Kamu tau kan Ras, saya maunya sama siapa. Dan jujur, saya nggak mau m
"Aku?" tanya Dina, sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia baru saja minum air hangat, saat Doni melontarkan pertanyaan tersebut. "Iya," jawab Doni. "Uhm.. Aku kerja di Mars Company, Don."Doni terlihat berpikir sebentar. "Perusahaan food and beverages itu, kan ya?"Dina tersenyum kecil. "Iya. Aku p
"Hmm.. Iya," jawab Laras. Ia hanya menatap Arya beberapa detik. Ekspresinya tetap tenang seperti sebelumnya. Tidak ada perubahan berarti, hanya sedikit jeda yang terasa.Lalu, Laras tersenyum tipis. "Saya juga senang bisa ketemu sama kamu lagi," ucap Laras.Nada suaranya datar. Cukup sopan, tapi j







