Home / Young Adult / Antara Hati dan Janji / 36. Janji Pada Sebuah Lukisan

Share

36. Janji Pada Sebuah Lukisan

Author: Alexa Rd
last update publish date: 2026-05-26 12:11:54

Saka POV

Aku baru saja keluar dari ruang dosen ketika waktu sudah lewat jam makan siang. Beberapa temanku masih setia menunggu berjajar di luar tanpa memedulikan perut mereka yang mungkin sudah keroncongan.

Pak Ali bisa dikatakan sebagai dosen yang super sibuk; hari ini, beliau baru bisa memberikan jadwal bimbingan setelah hampir seminggu kami memohon. Sayangnya, belum sampai sepuluh langkah aku keluar, Pak Ali sudah mendahuluiku, disambut paras te

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Antara Hati dan Janji   42. Langkah Terakhir Untuk Masa Lalu

    Author POVLangit biru cerah dengan angin yang semilir di ibu kota Kotabaru sore ini membuat banyak orang memilih berjalan-jalan di sekitar taman kota. Sebuah taman yang cukup besar dengan sungai buatan di tepinya menyuguhkan suasana alami di tengah hiruk pikuk ibu kota yang selalu ramai.Jalur setapak yang lebar memungkinkan pengunjungnya bermain sepeda, sepatu roda, atau berjalan kaki di bawah pepohonan yang rindang.Di antara para pengunjung yang ingin menikmati taman sore itu, terlihat sepasang pria dan wanita berjalan beriringan sambil mengamit lengan satu sama lain. Mereka terlihat mesra dengan sepasang cincin yang melingkar di jari manis."Tali sepatumu lepas," kata sang pria pada istrinya. Tak menunggu lama, dia lalu membungkukkan badannya untuk membetulkan ikatan tali sepatu tanpa hak milik istrinya. Kepalanya mendongak. "Sudah nyaman?" tanyanya."Iya, terima kasih," kata sang istri.

  • Antara Hati dan Janji   41C. Di Ujung Harapan Saskia

    Saka POVSaskia diam saja, namun air matanya terus turun. Setelah ayahnya menjauh sambil merangkul istrinya, aku mendekati tempat tidur Saskia.“Kia,” sapaku sambil menggenggam tangannya.“Saka,” jawabnya dengan suara parau. “Maaf aku merepotkanmu lagi sampai kau harus datang ke sini. Padahal aku sudah berkata tidak akan mengganggumu.” Tatapan matanya lurus padaku , lemah dan pilu.Aku mengangguk. “Sudah, jangan berpikir terlalu berat. Istirahat saja, ya,” pintaku.Saskia menggeleng. “Aku malu bertemu, Saka. Kenapa aku masih di sini?” Saskia menangis lagi.Ibu Saskia yang mendengar ucapannya ikut menangis dalam pelukan suaminya.“Kia, jangan berpikir begitu. Ada Ayah dan Ibu yang begitu menyayangimu. Kami ingin kau sehat, bahagia,” Hatiku seperti teriris. sudah betul-betul hilangkah semangatnya untuk hidup?“Tapi aku han

  • Antara Hati dan Janji   41B. Di Ujung Harapan Saskia

    Saka POV“Bagaimana Saskia, Bu?” sudah tak ada basa-basi lagi. Semua di sini berkumpul untuk Saskia.“Masuk, Nak,” jawab Ibu Saskia sambil memberi ruang untuk aku masuk ke dalam.Di dalam, ada kakak perempuan Saskia yang segera berdiri setelah melihatku. Dia tersenyum sayu. Aku membalas senyumnya sambil mengangguk. Di tengah ruangan, Saskia tampak lelap tertidur. Di lengannya terpasang selang infus dan selang transfusi darah.Aku ingat ayah Saskia berkata Kia memotong nadinya. Pandanganku berpindah ke lengan kirinya yang diperban.“Dia sudah sadar, tapi saat ini tertidur karena pengaruh obat,” kata kakak Saskia , aku tidak ingat namanya. Aku hanya mengangguk.Aku duduk di satu kursi yang paling dekat dengan tempat tidur Saskia, tak mau mengganggunya. Kami terdiam dalam keheningan hingga pintu kamar dibuka dari luar. Ayah

  • Antara Hati dan Janji   41. Di Ujung Harapan Saskia

    Saka POVSetelah mendapatkan kabar mengenai Saskia, aku memutuskan untuk kembali ke kos. Meski Agnia pulang pun, sepertinya aku tak bisa menemuinya tanpa memperlihatkan emosi yang aku sendiri tak mengerti saat ini.Aku tak ingin Agnia tahu mengenai apa yang terjadi dengan Saskia. Mungkin dia akan merasa bersalah, meski tak ada kesalahan pada diri Agnia sedikit pun. Ini sepenuhnya salahku.Sesampainya di kos, aku langsung mandi. Aku butuh air segar untuk membilas tubuh dan emosiku. Selain itu, aku berharap waktu bisa lebih cepat berlalu. Aku berharap Agnia sudah mau menghubungiku, meski hanya untuk memberi tahu di mana dia saat ini dan apakah dia baik-baik saja.Setelah selesai mandi, akhirnya kudapatkan kabar itu dari pesan yang dia kirim.Aku sudah di rumah. Aku ke Narama tadi. Aku butuh waktu, Saka.Aku mengambil napas panjang. Dia ke Narama sendirian. Agnia, pacarku, ke air terjun Narama seorang diri. Mengendarai motornya, naik turun jurang sendirian.Seharusnya aku bersamanya, men

  • Antara Hati dan Janji   40B. Dua Hati yang Patah

    Gambaran Agnia menungguku tak bisa aku usir dari kepala. Tapi permintaan Saskia ini, aku tak bisa mengabaikannya. Mengapa dia terus bicara soal yang terakhir.Apa dia selama ini masih ingin aku menemaninya? Lalu kali ini, dia benar-benar ingin melepaskan diri dari keinginan itu? "Aku harus mengabari Agnia dulu kalau aku akan terlambat," kataku akhirnya."Baiklah. Kabari dia, tapi jangan menutup teleponnya. Aku takut kau tak akan kembali," kata Saskia perlahan."Baiklah."Aku mengetik pesan untuk Agnia, mengatakan aku akan terlambat. Aku tahu bagaimana nanti reaksinya, dia akan khawatir lalu meneleponku.Tapi aku tidak bisa menerima teleponnya tanpa menutup telepon Saskia. Sebaiknya aku tuliskan saja alasannya, aku pun tak ingin berbohong padanya.Aku akan terlambat. Saskia menelepon. Dia ingin aku menemaninya untuk yang terakhir kali. Aku tidak tahu maksudnya, tapi aku khawatir.

  • Antara Hati dan Janji   40. Dua Hati yang Patah

    Saka POVSemakin dekat ke sidang akhir, semakin sibuk kami. Saskia tak pernah menelepon lagi, aku pun semakin jarang memikirkannya seiring dengan persiapan sidang akhirku.Agnia sama sibuknya, apalagi ayahnya akan pulang setelah Agnia sidang akhir. Ayahnya yakin Agnia bisa lulus dan dia ingin hadir di acara wisuda anaknya.Meski hingga kini dia tidak pernah menceritakan soal diriku pada ayahnya, namun Agnia sudah berencana untuk mengenalkan kami secara langsung nanti. Aku tidak keberatan.Agnia mendapatkan jadwal sidang akhir terlebih dahulu. Aku menungguinya hingga selesai. Begitu juga saat aku sidang akhir dua hari kemudian.Agnia datang ke kampus untuk menemani dan memberi semangat. Kami berdua dinyatakan lulus tahun ini. Sebuah kabar yang menggembirakan untuk kami dan keluarga. Saat-saat di kampus tinggal menghitung minggu. Saat-saat kami menjadi mahasiswa sudah hampir berakhir.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status