เข้าสู่ระบบElena melirik jam tangan. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Dia yakin, tidak lama lagi Aldo akan datang.Benar saja. Sekitar lima belas menit kemudian pria itu datang, masih mengenakan hoodie hitam dan celana training dengan warna yang sama.Elena memerhatikan wajah Aldo yang tampan, dengan postur tinggi dan tegap, dan senyuman yang memikat. Bagaimana dia bisa melupakan pria itu? Rasanya sungguh berat, terlebih Elena juga mencintainya.“Apa sudah lama menunggu, Sayang?” tanya Aldo sambil menarik sebuah kursi, lalu duduk di sana.“Tidak. Aku belum lama datang. Oya, kamu mau minum apa, Do? Aku pesan coffee mocktail, apa kamu juga mau?”“Ehm, aku mau lemon-lime mint.”“Oke. Sebentar ya.”Elena memanggil seorang pramusaji dan memesankan minuman untuk Aldo.“Tumben kamu ingin bertemu di sini, Sayang. Ada apa? Kenapa kita tidak bicara di kost atau apartemen?”Elena sengaja memilih bertemu di kafe, karena khawatir tidak sanggup menolak jika Aldo mengajaknya bermesraan. Dia suda
Elena terkejut melihat wanita yang mencoleknya.“Hai, Lena …. Apa kabar?” sapa Siska sambil memeluknya.“Aku baik-baik saja,” jawab Elena sambil membalas pelukan wanita itu. “Mbak Siska sendiri, bagaimana kabarnya?”“Aku sehat dan baik, seperti yang kamu lihat. Oya Len, kamu ke mana saja sih? Sudah lama tidak muncul di hall.”Elena tertegun akibat pertanyaan wanita itu.“Tapi Sabtu kemarin aku lihat Justin datang sendirian,” ucap Siska lagi. “Kenapa kamu tidak mengantarnya, Len?”“Waktu itu memang Justin yang ingin pergi sendiri.”“Begitu ya?” balas Siska, kemudian melihat ke arah Asya. “Itu teman kantor kamu, Len? Enak juga ya, bisa jalan-jalan di mall.”“Iya, Mbak. Istirahat kami cukup panjang dan kantor kami juga dekat, makanya bisa jalan-jalan ke sini.”Siska mendekatinya, kemudian berbisik. “Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu, Len.”Elena terlihat ragu. Dia khawatir dengan apa yang akan dikatakan Siska.“Tidak lama kok. Aku juga tahu kamu harus kembali ke kantor.”Mendapat uc
Aldo membelai pipi Elena. Tatapannya menelusuri setiap detail wajah kekasihnya. Dari alis, mata, hidung, hingga bibir, dan akhirnya kembali pada sepasang mata Elena.“Apa kamu tahu,” ucapnya pelan, “aku sangat ingin bercinta denganmu.”“Do ….”“Jangan berpikir negatif dulu, Sayang. Bercinta bukan sekadar hubungan fisik, tetapi salah satu cara pria untuk mengungkapkan perasaannya, karena pria tidak pandai berkata-kata.”Elena tersenyum kecut. “Kamu belum cerita reaksi Justin mengenai hubungan kita. Aku benar-benar penasaran, Do.”“Apa lagi yang harus aku ceritakan? Aku yakin, kamu sudah bisa menebaknya. Justin mau kembali latihan dan meninggalkan rokok, asalkan kita tidak berhubungan lagi. Itu persyaratan yang dia minta.”“Seperti yang sudah aku duga.”“Itu permintaan wajar, Sayang. Seandainya salah satu orang tuaku berselingkuh, aku juga akan marah.”“Lalu apa yang harus kita lakukan, Do?”Aldo menatap Elena yang masih risau. “Apa kamu lupa dengan apa yang pernah aku bilang sebelumnya
Justin memikirkan ucapan Aldo. Dia memiliki rokok elektrik karena diberikan Dion, dan dia hanya mencobanya. Tidak benar-benar tertarik.Antara rokok dan basket, hatinya tetap memilih basket. Sebenarnya dia tersiksa karena sudah tidak bisa menahan diri untuk bermain basket lagi.“Bagaimana Justin?” Aldo menunjuk rokok elektrik yang berada di meja. “Apa kamu bisa meninggalkannya?”Perlahan Justin mengangguk.“Bagus. Dan kamu juga mau latihan lagi?”“Iya. Aku juga akan berhenti merokok asalkan Kak Aldo tidak berhubungan sama Mama lagi.”Aldo tersenyum lebar. “Bagus. Ini yang Kak Aldo suka. Jadi anak muda harus selalu semangat.”“Tapi benar ‘kan, Kak Aldo dan Mama tidak berhubungan lagi? Kak Aldo harus janji. Aku juga tidak mau Kak Aldo menjemput atau mengantar aku pulang. Aku bisa naik ojek ke hall.”Sesaat Aldo terdiam. Secara tidak langsung Justin mengancamnya untuk memutuskan hubungan perselingkuhan dengan ibunya, jika ingin melihatnya kembali berlatih basket dan berhenti menggunakan
“Ayolah, Justin! Kak Aldo hanya minta waktu kamu sekali ini saja.”Selama beberapa detik, Justin hanya diam. Dia bimbang, tetapi tak lama mengangguk. Entah apa yang menggerakkan hatinya. Mungkin karena perasaan tidak enak mengingat hubungan dekat mereka selama ini.Akhirnya Justin mengikuti Aldo masuk ke mobil, meninggalkan Dion yang tampak kesal.“Kamu mau makan di mana, Justin?” tanya Aldo sambil mengendarai mobilnya.“Terserah Kak Aldo,” jawab Justin singkat tanpa menoleh sama sekali. Dia membuang pandangan keluar jendela di sampingnya.Tidak ada percakapan lagi hingga Aldo menghentikan mobilnya di sebuah mall. Dia sengaja memilih tempat yang ramai untuk mencairkan suasana. Selain itu dia tahu, anak seusia Justin sangat menyukai mall.“Kamu mau pizza atau burger?” tanya Aldo lagi setelah mereka keluar dari mobil.Justin tidak menjawab. Remaja yang masih terbilang kurus itu hanya melangkahkan kakinya perlahan di samping Aldo.“Hei!” Aldo menepuk bahu Justin sambil tertawa. “Tidak us
Sementara di tempat lain, Aldo sedang bersiap-siap untuk menemui Justin. Jika Justin tidak mau bertemu dengannya, berarti kecurigaannya benar.Tiba di sekolah, Aldo menunggu di depan gerbang dekat pos satpam. Matanya tidak henti memerhatikan setiap anak yang keluar, entah sendiri, berdua, atau pun bergerombol. Tidak lama, akhirnya terlihat sosok yang dia cari.Tidak sulit mencari Justin, karena tinggi badannya yang melampaui anak-anak seusianya.“Justin!” panggil Aldo ketika anak itu sudah berada di dekatnya.Yang dipanggil menoleh. Wajahnya tampak terkejut.“Kamu mau pulang ‘kan?” tanya Aldo tanpa menghiraukan keberadaan teman Justin. “Biar Kak Aldo antar. Kebetulan tadi Kak Aldo lewat sini.”Justin bertatapan dengan Dion, kemudian beralih pada Aldo. “Tidak usah, Kak. Aku pulang bareng temanku.”“Sekali ini saja. Ada yang ingin Kak Aldo bicarakan sama kamu.”Alis Justin langsung mengernyit. Dia bisa mengira-ngira apa yang akan dibicarakan mantan pelatihnya.“Tidak, Kak. Aku sudah jan







