로그인“Papa?” Anna cukup terkejut mendapati sang ayah yang sedang duduk di ruang keluarga sambil memainkan handphonenya. “Mama di mana, Pa?” Anna berjalan ke arah sofa dan menghempaskan dirinya.“Mama udah tidur dari tadi, kayaknya kecapekan habis gosip seharian sama teman-temannya.”“Ih papa malah omongin istri sendiri.”“Iya dong daripada omongin istri orang.”Anna memutar malas bola matanya malas, ayahnya selalu saja bisa menjawab ucapannya. “Terus, papa sendiri kenapa belum tidur?”Bukannya menjawab pertanyaan sang putri, Adrian justru tersenyum dan menatap balik sang putri. “Habis dari mana Na jam segini baru balik?”Anna menghela nafas panjang, “Anna tadi ke rumah teman Anna, Steffany, papanya ulang tahun. Anna diundang.”“Steffany? Papa baru dengar kamu punya teman namanya Steffany. Nggak pernah main ke rumah ya?”“Dia sepupu Calvin, Pa.”“Ah... Calvin. Berarti tadi ketemu camer dong ya?” Ucap Adrian dengan senyum jail.“Hah?”“Kan katanya ke rumah saudara Calvin, pasti ada orangtuan
“Anna...”“Kak Victor?” Anna cukup terkejut melihat Victor yang sedang menunggunya di teras depan rumahnya. Anna heran melihat ketika hubungannya dengan Victor telah berakhir, pria itu justru semakin sering berkunjung ke rumahnya.“Ada apa, Kak?” tanya Anna penasaran dan kemudian duduk di kursi sebelah Victor.“Nggak apa-apa, pengin main aja ke sini.” Jawab Victor tersenyum.“Oh, nggak jalan sama Sherly?” tanya Anna pelan.“Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Sherly, Na.” Ucap Victor pelan namun terlihat penuh penekanan.Anna mengangguk, “Ya kan nggak harus punya hubungan khusus Kak buat jalan bareng. Sama aja kan Kak Victor ke sini buat main aja, tidak berarti ngapel pacar.”Victor terdiam, sejak kapan Anna menjadi berubah? Dulu gadis ini sangat penurut dan kalem, tidak pernah ada bantahan sedikit pun. “Aku lebih suka ke sini.” Ucap Victor akhirnya.Anna kembali mengangguk dengan wajah polosnya, “Kak Victor baru pulang praktek?” Anna berusaha mengalihkan pembicaraan dan jujur ada r
Lama terdiam, ayah Ivan berkata, “Papa tidak salah dengar?”Ivan menggeleng, “Ivan serius, Pa. Ivan mencintai Olivia.”“Olivia sudah pernah menikah, Ivan. Dan.. sudah ada Dariel.”“Ivan tau, Pa.”“Kamu sudah tau, tapi kenapa kamu masih berani bilang mau menjadikan Olivia pacar?? Jika kamu mau cari pacar, jangan sama Olivia, cari saja perempuan lain. Papa tidak akan merestui.”“Pa…” Ivan berdiri, emosinya terpancing. Namun Olivia langsung menghentikan Ivan, menarik tangan pria itu agar tetap duduk dan tenang.“Om, maaf. Ivan.. Ivan hanya bercanda.” Ucap Olivia terpatah-patah, berusaha mati-matian menahan air matanya.Mama Ivan mengelus lengan suaminya, mencoba menenangkannya.“Olivia, aku tidak bercanda!” Ivan menatap Olivia tajam. “Pa, suka atau tidak suka, Ivan tetap memilih Olivia!” Ucap Ivan sungguh-sungguh.“Ivan…” ucap Olivia lirih.“Kenapa?” sahut ayah Ivan kembali.“Ivan mencintai Olivia, apapun statusnya. Hanya Olivia yang bisa membuat Ivan bahagia.”Papa Ivan terdiam, menatap
Setelah menelpon sang mama, Anna kemudian menaiki mobil Calvin.“Emang aku harus ikut ya ke acara besok? Aku kan nggak kenal.”“Ya makanya kenalan dong.” Ucap Calvin sambil menstater mobilnya.“Kenapa begitu? Kita kan cuma pura-pura.” Pancing Anna.“Ya soalnya semua disuruh bawa pasangan. Stef sama Andrew, Ivan sama Olivia. Om James taunya aku sama kamu.”“Jadi, Ivan dan Olivia uda pacaran?”Calvin menggidikkan bahu, “Nggak tau juga, kayaknya sih Olivia mulai membuka hati. Karena itu kita harus hadir, biar semakin meyakinkan mereka.”“Jadi.. kalau mereka sudah berhasil jadian...”“Kita tidak perlu berpura-pura lagi.”Deg! Hati Anna mencelos. Oke tadi dia sempat merasa besar kepala dan triknya berhasil sehingga Calvin datang ke rumahnya dan mengajaknya keluar. Sayangnya semua semata karena untuk meyakinkan Ivan dan Olivia soal hubungan pura-pura mereka.Anna terdiam, entah mengapa rasanya dia patah hati, padahal hingga kini hubungannya dengan Calvin bahkan hanya status pacar pura-pura.
Anna baru saja membuka matanya ketika didengarnya ketukan pintu di ruang tamu. Gadis itu mengerjapkan matanya, mengumpulkan kembali separuh nyawanya yang belum sepenuhnya kembali. Di tengah keputusasaannya, Anna akhirnya memilih membaca novelnya yang sudah lama terbengkalai, namun malah membuatnya tertidur.Gadis itu kemudian beranjak turun dari kasurnya dengan gontai, dengan sangat terpaksa menyeret kakinya menuju pintu depan.“Ck.. mama ini pasti lupa bawa kunci rumah lagi.” Gerutunya. Sang mama setelah makan siang langsung keluar bersama temannya untuk arisan bulanan dan biasanya para ibu-ibu itu seakan tidak mengenal waktu sampai salah satu di antara mereka menerima telpon dari rumah mereka untuk memintanya pulang.“Ma... kok cepet banget baliknya?” ucap Anna ketika membuka pintu rumah sambil mengucek matanya. “Cal.. Calvin?”Calvin mengangkat sebelah alisnya melihat rambut Anna yang masih berantakan dengan wajah bantalnya dan juga kaos oblong dan celana pendek. Namun kali ini Ann
“Gimana, Ma? Calvin bilang apa?” tanya Anna begitu sambungan telpon itu terputus.Cecilia tersenyum jail, “Penasaran amat sih?” Ucapnya sambil mencubit hidung mancung sang putri.Tampang Anna menggerutu tapi tetap bertanya, “Nada suaranya gimana, Ma?”“Biasa aja sih.” Ucap Cecilia setelah memikir sesaat.“Tuh kan, Ma.” Anna menghempaskan tubuhnya di atas sofa. “Dia itu nggak ada perasaan sama Anna.”“Tau dari mana?”“Ya buktinya pesan aku dari kemarin malam nggak dibalas, terus ini dia biasa aja pas mama bilang aku jalan sama Victor.”“Ini kita mau ngetes Calvin, kenapa jadi sekarang kamu yang galau gitu ya?”“Ya kalau gagal gimana dong, Ma?”Cecilia tertawa, “Wah.. wah... wah... fix kamu uda jatuh cinta sama dia.”“Mama!”“Kita tunggu aja ya. Uda sekarang kamu bantuin mama dulu di dapur.”***“Kenapa, Vin? Kok cemberut gitu mukanya?” Steffany menepuk pundak sepupunya yang nampak diam termenung di pojokan. Beberapa tamu sudah mulai pulang sehingga dia bisa sedikit bersantai setelah le
Knock..knock..“Permisi, Saya mau mengantarkan obat untuk pasien.” Ucap Anna ketika membuka pintu kamar pasien dan ternyata terdapat pengunjung lain di dalamnya.Anna melangkah masuk setelah mendapat anggukan dari pengunjung tersebut. Diletakkannya nampan berisi kantong bius dan juga beberapa butir
“Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.“Kamu yang milih novel ini?”“Ya iya dong, t
Hari ini adalah jadwal libur Anna, dan gadis imut itu memilih untuk berjalan-jalan ke mall seorang diri dan berencana ke toko buku untuk membeli buku sketsa. Sebenarnya Anna ingin menjadi seorang design grafis, dan keluarganya sudah mendukung karena bakat menggambarnya memang sudah terlihat sedari
Bunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalam







