Share

Bab 47

Penulis: Delf
last update Tanggal publikasi: 2026-05-20 20:48:40

Anna melangkah dengan riang menuju ruangan Victor, sudah lima tahun lebih dia menjalin hubungan dengan pria tersebut dan kini mereka sudah bertunangan. Hari ini adalah hari ulang tahun Victor, dan Anna ingin memberikan kejutan pada sang tunangan. Sebuah kue tart dengan desain dokter telah dihiasi cantik dengan lilin berangka 30.

Jam sudah menunjukkan jam lima sore dan jadwal tugas Anna sudah selesai, dan seharusnya begitu juga dengan jadwal praktek Victor. Anna pun sudah mengecek bahwa hari ini
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Antidote   Bab 55

    Calvin terdiam mendengar ucapan Steffany. Sepupunya yang satu ini memang Calvin akui sangat cerdik. Dia sepertinya sangat menguasai ilmu psikologi, hingga tau bagaimana teknik memancing dengan membuat hati seseorang melambung tinggi seolah mendapatkan harapan baru, namun kemudian memberitahu bahwa harapan itu tidak mudah digapai karena ada halangan berat lainnya. Calvin ingin mengumpat dalam hati namun tidak dia lakukan. Pantas saja Steffany dengan sangat mudahnya menggonta-ganti pasangan.“Hallo, Vin.. Are you still there?” suara Steffany kembali terdengar setelah sekian detik Calvin tidak bersuara.“Ah ya, sori tadi ada karyawan yang masuk minta tandatangan.” Ucapnya berbohong. “Ivan mau balik? Bagus dong sebelum dia berniat mengganti kewarganegaraannya.” Lanjut Calvin terkekeh menutupi rasa canggungnya.Steffany terkekeh, “Itu yang aku takutkan.”“Dia kesambet apa tiba-tiba mau pulang?”“Mungkin mau cari jodoh.”“Loh, kita nggak jadi punya ipar bule dong?” pancing Calvin.Steffany

  • Antidote   Bab 54

    “Liv, Dariel di mana?”Olivia meletakkan laptopnya kembali ke meja ketika melihat Calvin kembali muncul di rumahnya. “Baru aja tidur, kayaknya kelelahan, tapi dia senang banget main sama kamu. Aku pikir kamu nggak jadi balik ke sini.”“Aku uda janji balik, so aku akan balik. Tadi aku ngobrol bentar dengan Anna. Jadi agak lama.” Calvin tersenyum kemudian duduk di sofa samping Olivia.Olivia tersenyum, “Anna gadis yang baik.”Calvin tersenyum simpul, “Ya dia baik, perhatian, dan..”“Cantik.” Lanjut Olivia dengan senyum menggoda Calvin, membuat pria tersebut salah tingkah.“Ya, harus aku akui, dia cantik.”Olivia tertawa renyah, “So.. aku rasa ini akhir penantianmu.”Calvin terdiam menatap dalam Olivia, “Bagaimana menurutmu?”“Aku rasa Anna mencintaimu dengan tulus. Semangatnya melebihi dokter untuk melihatmu sembuh. Bahkan dia yang bekerja keras mencarikanmu donor sumsum.” Ucap Olivia sambil menepuk-nepuk pundak Calvin.Calvin menghela nafas panjang, “I know. Tapi rasanya aneh ketika ha

  • Antidote   Bab 53

    Calvin belum sempat mengeluarkan pendapatnya namun tiba-tiba handphonenya bordering.“Halo Liv?” ucap Calvin begitu sambungan telpon tersebut terhubung.“Halo Vin, aku menganggu nggak?”Calvin terkekeh, “Kamu ini kayak sama orang lain aja. Ada apa, Liv?” Calvin sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat penting sehingga Olivia menelponnya.“Hmm.. kamu ada acara malam ini?” Tanya Olivia ragu-ragu.Calvin kemudian memandang gadis cantik di hadapannya yang terlihat salah tingkah namun tetap bertahan untuk menunggu jawabannya, padahal jelas-jelas Calvin sudah menolaknya. Sebenarnya dia masih bersama Anna tapi Calvin berpikir bahwa pertemuan ini akan segera berakhir sebentar lagi.“Enggak ada. Kamu mau ngajakin aku kencan?” goda Calvin.Olivia berdecak namun tertawa, “Kamu ini nggak berubah. Aku ada meeting sangat penting malam ini dengan klien besar. Hanya saja Dariel tidak ada yang jaga. Randy…” suara Olivia terdengar berat.“Aku akan menjaga Dariel.” Calvin memotong ucapan Olivia. Dia t

  • Antidote   Bab 52

    Calvin terbahak mendengar ucapan Anna, “Kamu lagi sakit atau ngeprank aku?”Anna terdiam sambil memainkan jemarinya, “Saya serius, Pak Calvin.”Calvin menggelengkan kepala, menatap Anna dengan lekat, lalu mengangkat cangkir kopinya dan meneguk cappucino hangatnya. Pria itu kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja lalu menatap Anna yang masih menatapnya dengan serius dengan wajah polos penuh harap.Kali ini Calvin menarik nafasnya dalam, dia tau ternyata gadis di depannya ini tidak main-main dengan ucapannya yang sangat konyol.“Aku pikir kamu menghubungiku karena tertarik dengan tawaranku menjadi seorang desain grafis. Malahan kamu yang sekarang nawarin aku pekerjaan.” Kekeh Calvin.Anna menghela nafas panjang, “Cuma Pak Calvin satu-satunya harapan saya.”“Maaf, aku rasa kamu salah orang.”Saat ini Anna bersama Calvin sedang duduk di sebuah café seusai pulang kerja. Sebenarnya Anna ada jadwal untuk jaga malam, namun dia memilih untuk menukar shift dengan perawat lainnya karena dia h

  • Antidote   Bab 51

    Anna berjalan menyusuri koridor rumah sakit, hingga pagi ini Victor tidak ada menghubunginya sama sekali, tidak seperti biasanya. Anna akhirnya memutuskan untuk menuju ruangan sang kekasih, menganggap semuanya baik-baik saja.Anna tersenyum sambil memegang sebuah kotak kecil terbungkus kado berisi jam tangan yang belum sempat diberikannya kepada Victor kemarin.Ketika dia akan mengetuk pintu ruangannya, tiba-tiba Anna mendengar suara Vino yang sedang berada di dalam.“Kemarin ada acara keluarga?” tanya Vino tenang. “Tumben nggak ajak Anna.”“Hmm.. ya sekali-kali mau khusus keluarga inti aja.” Victor menggidikkan bahunya.“Tapi kemarin aku sempat bertemu adik kamu, dia nggak ikutan?” suara halus penuh sindiran keluar dari mulut Vino.“Eng.. enggak, dia ada urusan sendiri.” Victor sedikit gelagapan dan Vino hanya mengangguk seakan mengerti.“Oh.. Kamu tau Anna sudah mereservasi tempat jauh-jauh hari untuk merayakan ulangtahunmu?”“Dia nggak ada bilang.”Vino tersenyum, “Di depan tadi ak

  • Antidote   Bab 50

    “Terima kasih Pak Calvin.” Anna melambaikan tangan ketika dia telah tiba di rumah dan Calvin yang membuntutinya di belakang mobilnya membuka kaca untuk berpamitan."Sama-sama. Kamu masuk aja dulu." ucap Calvin tersenyum. Anna pun mengangguk dan kemudian melangkah masuk.Wajah Anna kini tersenyum berseri, raut sedihnya seketika lenyap. Calvin memang seperti penawar rasa sedihnya. Hingga kini pria itu selalu bisa memperbaiki moodnya walau sering kali ucapannya nyelekit tapi masuk akal dan anehnya Anna tidak pernah tersinggung.Anna membuka pintu rumah, jam telah menunjukkan hampir pukul sebelas malam, lampu ruang tengah telah dipadamkan. Sebelumnya Anna telah menyampaikan pada orangtuanya bahwa dia akan pulang malam. Mumpung besok dia tidak bertugas jaga, jadi gadis itu memutuskan untuk menikmati harinya daripada mengurung diri di kamar merenungi nasib.Usai membersihkan diri, gadis itu merebahkan diri di atas kasur. Diambilnya telpon genggam dari dalam tasnya untuk mengecek pesan dan t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status