LOGINWira mematung sejenak. Ucapan Darmawan pada Luki membuatnya seketika marah dan kecewa. Ternyata Darmawan hanya menganggapnya anak angkat saat semua pekerjaannya beres, tapi saat ia melakukan kesalahan, nasibnya sama seperti budak perusuh yang lain. Hati Wira sakit sekali. Berkali-kali ia merasa sakit hati, berkali-kali juga ia mengelak semuanya dan membela Darmawan, tapi perintah barusan membuat hatinya hancur berkeping-keping. "Sial!" geram Wira marah sambil mengepalkan tangannya. Belum sempat Wira melakukan apa pun, Darmawan sudah menoleh, menatapnya dengan tatapan malas. "Apa yang kau lakukan? Mengapa lama sekali? Bawa Elisa masuk!" titah Darmawan. Wira tidak menjawab, hanya mengangguk. Ia tahu ia tidak akan bisa melawan Darmawan saat ini di saat ia hanya satu orang. Wira pun akhirnya menuju mobil belakang tempat Elisa berada dan membuka pintunya untuk membawa Elisa keluar dari sana. Elisa sendiri masih mematung di mobilnya. Tatapannya goyah dan dadanya sesak. "Gudang ini .
Lagi-lagi Wira terpengaruh. Bukan hanya Leo brengsek yang mengatakan hal seperti itu, tapi Elisa juga. Semua orang berusaha mempengaruhinya agar tidak lagi menjadi pengikut Darmawan, tapi mereka tidak tahu kalau loyalitas itu harganya sangat tinggi. Dan Wira adalah orang dengan loyalitas tinggi. Wira sudah mengikuti Darmawan sejak ia muda. Dulu ia sebatang kara dan tidak punya siapa-siapa. Darmawan menemukannya dan bilang akan menjadikannya anak angkat. Itulah mengapa Wira sangat setia pada Darmawan, walaupun kenyataannya, alih-alih anak angkat, Darmawan lebih memperlakukannya seperti budak suruhan. Darmawan mengatakan hanya Wira yang bisa dipercaya. Memang itu benar, Wira melakukan semuanya, tapi juga dengan resiko yang tidak main-main. "Kau bebas mengatakan apa pun, Elisa! Tapi ayo ikut Om!" sahut Wira akhirnya, berusaha menulikan diri dari pengaruh siapa pun. "Akhh, lepaskan aku, Om! Mengapa bicara dengan Om begitu sulit? Om tega sekali padaku!" teriak Elisa tanpa henti saat
"Bukan hanya Elisa yang ditahan bersamanya, kemungkinan besar Hilda, Susan, Pak Rahmat dan istrinya juga!" geram Handi. "Ini sudah kejahatan besar, Bos! Pak Handi, tolong minta personil polisi tambahan untuk membantu, jangan sampai ada korban lagi!" seru Gary. "Jangan gegabah, Gary! Aku tidak mau rencana kalian membuat Darmawan kalap dan menyakiti semua orang," seru Leo geram. "Kita harus benar-benar menyusun rencana karena Darmawan adalah orang yang sangat kejam." Sementara itu, Rahmat tidak berhenti berteriak di ruangan tempat ia disekap. Mereka tidak diberi makan dan minum sampai Nila lemas dan sesak napas. "Lepaskan kami! Kalian brengsek! Lepaskan kami! Istriku sakit! Brengsek!" Mereka memang tidak disiksa atau dipukul, tapi dikurung dengan tangan dan kaki terikat saja sudah cukup membuat mereka menderita. "Kalian yang di luar, lepaskan kami!" teriak Rahmat lagi. "Rahmat ... air ... aku mau air ...," lirih Nila yang napasnya sudah ngos-ngosan. Setiap hari Nila harus minum
"Brengsek, kau mengancamku, Darmawan? Sialan!" "Aku tidak mengancam, aku hanya memperingatkanmu. Jadi sampai bertemu nanti malam!" Blep!Darmawan menutup teleponnya sampai Leo menggenggam ponsel itu penuh amarah. Leo sudah menyalakan speakernya tadi dan Gary bisa mendengar semuanya. "Brengsek! Elisa ada bersama Darmawan!" geram Leo. "Ini pasti jebakan, Bos! Aku tidak tahu apa yang Darmawan inginkan, tapi jangan ke sana, Bos!""Elisa ada di sana, bagaimana aku bisa tidak ke sana, Gary?" "Tapi kita tidak punya bukti kalau Bu Elisa ada di sana kan? Sial! Otakku isinya pikiran buruk terus, Bos! Aku takut mereka akan menyakitimu, Bos! Kita lapor polisi saja!" Gary terus berbicara, sedangkan Leo sudah diam sambil berpikir keras. Debar jantungnya sudah memacu kencang dan ia takut Darmawan menyakiti cucunya sendiri. "Ternyata benar dia di sana. Walau tidak ada tempat lain yang bisa dia datangi, tapi aku masih yakin Elisa tidak mungkin ke sana atas kemauannya sendiri. Entah bagaimana El
Wira melangkah masuk meninggalkan Leo begitu saja, berusaha keras tidak terpengaruh pada ucapan Leo, tapi tidak dapat dipungkiri, dirinya sendiri pernah memikirkan hal yang sama, apalagi akhir-akhir ini, tidak ada pekerjaannya yang beres. Wira pun hanya mengepalkan tangannya geram tanpa mengatakan apa pun lagi dan akhirnya masuk ke ruang keluarga, tempat Darmawan sudah menunggunya. "Bagaimana? Apa yang dia katakan, Wira?" "Dia mencari Elisa, Pak." "Lalu apa yang kau katakan?" "Aku bilang Elisa tidak ada di sini." "Dan bagaimana dia? Dia mengatakan sesuatu lagi?" Wira sempat terdiam sejenak. Tentu saja Leo berusaha membuka matanya tentang Darmawan, tapi Wira tidak akan memberitahunya. "Tidak ada, dia pergi dengan kesal," dusta Wira. "Bagus! Seperti yang kuduga, Elisa sangat penting baginya. Kita tidak salah langkah, Wira. Sekarang tugasmu adalah siapkan semua suratnya! Kita akan memaksa pria brengsek itu untuk mengembalikan semua milikku!" Darmawan menyeringai. Lagi-lagi Wir
"Tidak! Jangan sentuh aku! Tidak!" Elisa memberontak saat akhirnya dua anak buah memegangi lengannya dan langsung menyeretnya keluar. Ia sempat melihat Wira di sana. "Om Wira! Om Wira, tolong aku!" Namun, percuma. Wira hanya melihatnya tanpa bicara. "Tidak! Tolong! Lepaskan aku! Tolong! Jangan kasar padaku!" teriak Elisa lagi yang tidak ada gunanya. Bahkan beberapa pelayan yang melihatnya hanya bisa menatap tanpa membantu dan bicara, sampai akhirnya Elisa dibawa ke gudang kecil di dalam rumah, bukan kamar mewah, tidak ada ranjang, tidak ada kursi, tidak ada penerangan. Ia benar-benar sudah tidak dianggap sebagai keluarga lagi, padahal sejak ia tahu masalah yang menimpa keluarganya, sudah begitu banyak waktu yang ia habiskan untuk memikirkan mereka. Di sisi lain, Leo dan Gary sudah mulai mencari Elisa yang pergi entah ke mana. Bahkan menelepon Elisa juga tidak diangkat. "Bagaimana, Gary? Kau sudah menemukan mobilnya?" Leo memang sudah memeriksa CCTV apartemen, mereka sudah men
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







