LOGINElisa membuka matanya pagi itu dan mendapati suaminya yang sedang menatapnya intens. Leo sudah bangun duluan, tapi bukannya melihat bayi mereka, Leo malah menatap istrinya yang masih tertidur pulas itu. "Selamat pagi, Sayang." "Leo! Selamat pagi! Kau sudah bangun dari tadi?" "Cukup lama untuk menatap berbagai ekspresi tidurmu." "Astaga, Leo! Haha! Kita sudah menikah dan punya anak, jadi jangan membuatku terus tersipu seperti anak remaja!" Leo tergelak dan langsung memeluk istrinya itu. Elisa pun bersandar nyaman di pelukan Leo. Saking nyamannya rasanya ia ingin memejamkan mata lagi. "Hmm, jam berapa ini? Aku masih ngantuk, kau membuatku begadang semalam," ucap Elisa dengan suara yang masih serak. Leo memang membuatnya begadang semalam. Setelah mereka menyelesaikan satu ronde, Leo masih belum puas. "Aku sudah puasa sangat lama, Sayang. Jadi buka puasanya harus dengan makan besar." "Seberapa besar, Leo?" Leo tidak pernah menjawabnya dengan kata-kata karena Leo langsung menyera
Unboxing jahitan dokter ....Elisa benar-benar tersipu mendengar ucapan Leo yang begitu vulgar. "Haha, bahasamu makin menggila, Leo!" protes Elisa. "Apanya yang menggila, Sayang? Aku benar kan? Aku penasaran sesempit aja rasanya." "Leo!" Elisa tergelak dan memukul manja dada suaminya itu. Leo pun menangkap tangan Elisa, sebelum ia menggeser tubuhnya makin dekat. Keduanya saling tertawa sambil menatap intens. "Jadi pintu kamarnya sudah dikunci atau belum? Jangan sampai mendadak Bik Imah membawa Alden masuk," bisik Elisa tepat di depan wajah Leo. "Tentu saja sudah, Sayang." "Haha, kapan kau melakukannya, hah?" "Tadi begitu masuk." "Kau sudah merencanakan ini ya?" Leo tidak menjawab dan mulai mencium Elisa di pipinya. "Hmm, Leo ...," desah Elisa, apalagi saat tangan besar Leo mulai menyusuri lengan Elisa, bahunya, turun ke pergelangan tangan, lalu mengaitkan jari-jari mereka.Elisa memejamkan mata dengan jantung yang menderu kencang. "Kau tahu, Leo. Aku tegang sekali." "Apa
Velia benar-benar ingin berteriak saat mendapat pesan tersirat dari Elisa. Ia bukan orang bodoh yang tidak mengerti apa maksud Elisa, tapi sebisa mungkin, ia tetap bersikap tenang dan memaksakan senyumnya. "Tentu saja, Elisa. Kalau aku jadi kau, aku juga akan menjaga baik-baik suamiku dan tidak akan membiarkan wanita lain mendekatinya." Lagi-lagi Elisa tersenyum dan mengangkat gelasnya. "Kalau begitu, mari kita bersulang untuk pikiran kita yang sejalan, Velia. Aku sedih sekali memikirkan para wanita seperti Susan dulu yang harus mencintai pria yang salah, pria yang sudah terikat dengan wanita lain." Elisa mengembuskan napas panjangnya. "Masih banyak pria single yang bisa dikejar, yang jelas, jangan suami orang!" tegas Elisa yang lagi-lagi membuat senyuman Velia memudar. Tangannya mengepal lagi di bawah meja dan hatinya panas. Untung saja, sebelum ia sempat menyahut, Leo sudah datang duluan. "Apa yang kalian bicarakan, hmm?" Lagi-lagi Leo membelai singkat punggung Elisa. Elisa la
Makan siang yang awalnya sudah dibayangkan Velia sebagai kesempatan emas untuk mendekati Leo kini berubah menjadi mimpi buruk kecil yang tidak pernah ia bayangkan.Mereka bertiga tiba di sebuah restoran yang cukup eksklusif tidak jauh dari gedung Hartono Group.Begitu sampai di meja, Velia langsung memilih kursi yang berhadapan dengan Leo.Namun, baru saja ia menarik kursinya, Elisa sudah duduk di sebelah Leo dan mereka saling bertatapan mesra. Velia sudah menahan dirinya dan mencoba bersikap biasa. "Ah, restoran ini ramai sekali. Tapi mari kita pesan dulu!" seru Velia untuk memisahkan Leo dan Elisa. "Aku dan Leo suka sekali makan di restoran ini, Velia. Dan Leo lebih tahu apa yang aku suka dibanding aku sendiri. Benar kan, Sayang?" Elisa sengaja menunjukkan kemesraannya dengan Leo. Elisa sendiri sudah tahu Velia akan datang ke kantor dari Leo dan Elisa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan wanita itu. Leo pun langsung memesan makanan pada pelayan, sampai Velia lagi-
"Susan, aku datang lagi!" Velia mengunjungi Susan lagi hari itu. Jadwal kunjungan di penjara tidak setiap hari, tapi satu atau dua minggu sekali, Velia pasti mengunjungi Susan. "Velia?" Susan mengernyit bingung. "Baru dua hari yang lalu kau datang, mengapa hari ini sudah datang lagi?" "Apa kau tidak suka dengan kedatanganku?" "Bukan begitu, ini tidak biasanya." "Karena memang ada hal yang tidak biasa, Susan. Hal yang membuatku ingin meloncat kegirangan." Velia menangkup tangan Susan dengan penuh semangat. Susan pun makin mengernyit. "Ada apa? Apa yang membuatmu begitu senang, hah?" "Tebak siapa yang aku temui kemarin!" "Bagaimana aku bisa menebaknya. Apa ada clue-nya?" "Haha, kemarin aku menemui rekan kerja baruku, orang dari perusahaan yang akan bekerja sama denganku membangun proyek resort di Bali." "Oke, lalu?" "Clue-nya adalah pria tampan, dingin, pria yang aku sukai, Susan. Aku tidak menyangka dia akan menjadi rekan kerjaku, tapi sekarang aku bersemangat sekali!" Susa
"Aku tidak menyangka dunia ini begitu sempit. Ternyata Velia bukan asisten biasa, tapi anak dari keluarga kaya. Dia begitu setia pada Susan sampai rela menjadi asistennya." Gary melirik Leo dari kaca spionnya sambil menyetir mobil pergi dari restoran. Leo balas melirik Gary dan mengangguk. "Ya, itu menjelaskan mengapa waktu itu dia bisa pergi keliling dunia bersama orang tuanya karena dia orang kaya. Ini mengejutkan, Gary. Tapi tidak masalah, kita tetap mengerjakan semuanya dengan profesional." "Err, kitanya selalu profesional, tapi dianya entahlah! Kau ingat bagaimana dia dulu yang selalu sinis pada Bu Elisa dan mendukung Susan kan, Bos? Apalagi sejak tadi aku mengamati bagaimana dia menatapmu, seperti mau memakanmu saja!" Leo tidak menjawab, hanya terdiam sejenak mengingat interaksinya dulu dengan Velia. Wanita itu genit dan sudah beberapa kali secara terang-terangan mengajaknya berkencan, tipe wanita yang suka memainkan pria dan membayarnya dengan uang. Namun, Leo tidak berkom
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







