تسجيل الدخولLeo menelan salivanya, sejenak mematung mendengar lokasi di mana Elisa disekap. "Gudang lama dulu?" Leo memejamkan matanya sejenak, ia pernah ke sana, tapi ia bersembunyi di dalam mobil. Waktu itu, Leo kecil tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan kedua orang tuanya. Tapi kali ini, Leo bersumpah akan menyelamatkan kekasihnya bagaimanapun caranya. Debar jantung Leo makin tidak karuan. Ini miris sekali saat Elisa butuh orang lain untuk menyelamatkannya dari keluarganya sendiri. "Sial! Seluruh anggota keluarga itu benar-benar bajingan! Mereka tidak punya hati!" Leo mengembuskan napas panjangnya dengan penuh amarah. "Lalu apa semua sudah siap? Aku akan berangkat sekarang juga!" seru Leo dengan penuh tekad. Sementara Darmawan kembali meninggalkan Elisa setelah ia mendapatkan fotonya. Bahkan Darmawan mengabaikan teriakan Elisa dan tidak berbalik lagi. Darmawan pun memilih untuk mengunjungi tawanannya yang lain yaitu Rahmat dan Nila. Rahmat dan Nila sendiri masih terus beru
Wira mematung sejenak. Ucapan Darmawan pada Luki membuatnya seketika marah dan kecewa. Ternyata Darmawan hanya menganggapnya anak angkat saat semua pekerjaannya beres, tapi saat ia melakukan kesalahan, nasibnya sama seperti budak perusuh yang lain. Hati Wira sakit sekali. Berkali-kali ia merasa sakit hati, berkali-kali juga ia mengelak semuanya dan membela Darmawan, tapi perintah barusan membuat hatinya hancur berkeping-keping. "Sial!" geram Wira marah sambil mengepalkan tangannya. Belum sempat Wira melakukan apa pun, Darmawan sudah menoleh, menatapnya dengan tatapan malas. "Apa yang kau lakukan? Mengapa lama sekali? Bawa Elisa masuk!" titah Darmawan. Wira tidak menjawab, hanya mengangguk. Ia tahu ia tidak akan bisa melawan Darmawan saat ini di saat ia hanya satu orang. Wira pun akhirnya menuju mobil belakang tempat Elisa berada dan membuka pintunya untuk membawa Elisa keluar dari sana. Elisa sendiri masih mematung di mobilnya. Tatapannya goyah dan dadanya sesak. "Gudang ini .
Lagi-lagi Wira terpengaruh. Bukan hanya Leo brengsek yang mengatakan hal seperti itu, tapi Elisa juga. Semua orang berusaha mempengaruhinya agar tidak lagi menjadi pengikut Darmawan, tapi mereka tidak tahu kalau loyalitas itu harganya sangat tinggi. Dan Wira adalah orang dengan loyalitas tinggi. Wira sudah mengikuti Darmawan sejak ia muda. Dulu ia sebatang kara dan tidak punya siapa-siapa. Darmawan menemukannya dan bilang akan menjadikannya anak angkat. Itulah mengapa Wira sangat setia pada Darmawan, walaupun kenyataannya, alih-alih anak angkat, Darmawan lebih memperlakukannya seperti budak suruhan. Darmawan mengatakan hanya Wira yang bisa dipercaya. Memang itu benar, Wira melakukan semuanya, tapi juga dengan resiko yang tidak main-main. "Kau bebas mengatakan apa pun, Elisa! Tapi ayo ikut Om!" sahut Wira akhirnya, berusaha menulikan diri dari pengaruh siapa pun. "Akhh, lepaskan aku, Om! Mengapa bicara dengan Om begitu sulit? Om tega sekali padaku!" teriak Elisa tanpa henti saat
"Bukan hanya Elisa yang ditahan bersamanya, kemungkinan besar Hilda, Susan, Pak Rahmat dan istrinya juga!" geram Handi. "Ini sudah kejahatan besar, Bos! Pak Handi, tolong minta personil polisi tambahan untuk membantu, jangan sampai ada korban lagi!" seru Gary. "Jangan gegabah, Gary! Aku tidak mau rencana kalian membuat Darmawan kalap dan menyakiti semua orang," seru Leo geram. "Kita harus benar-benar menyusun rencana karena Darmawan adalah orang yang sangat kejam." Sementara itu, Rahmat tidak berhenti berteriak di ruangan tempat ia disekap. Mereka tidak diberi makan dan minum sampai Nila lemas dan sesak napas. "Lepaskan kami! Kalian brengsek! Lepaskan kami! Istriku sakit! Brengsek!" Mereka memang tidak disiksa atau dipukul, tapi dikurung dengan tangan dan kaki terikat saja sudah cukup membuat mereka menderita. "Kalian yang di luar, lepaskan kami!" teriak Rahmat lagi. "Rahmat ... air ... aku mau air ...," lirih Nila yang napasnya sudah ngos-ngosan. Setiap hari Nila harus minum
"Brengsek, kau mengancamku, Darmawan? Sialan!" "Aku tidak mengancam, aku hanya memperingatkanmu. Jadi sampai bertemu nanti malam!" Blep!Darmawan menutup teleponnya sampai Leo menggenggam ponsel itu penuh amarah. Leo sudah menyalakan speakernya tadi dan Gary bisa mendengar semuanya. "Brengsek! Elisa ada bersama Darmawan!" geram Leo. "Ini pasti jebakan, Bos! Aku tidak tahu apa yang Darmawan inginkan, tapi jangan ke sana, Bos!""Elisa ada di sana, bagaimana aku bisa tidak ke sana, Gary?" "Tapi kita tidak punya bukti kalau Bu Elisa ada di sana kan? Sial! Otakku isinya pikiran buruk terus, Bos! Aku takut mereka akan menyakitimu, Bos! Kita lapor polisi saja!" Gary terus berbicara, sedangkan Leo sudah diam sambil berpikir keras. Debar jantungnya sudah memacu kencang dan ia takut Darmawan menyakiti cucunya sendiri. "Ternyata benar dia di sana. Walau tidak ada tempat lain yang bisa dia datangi, tapi aku masih yakin Elisa tidak mungkin ke sana atas kemauannya sendiri. Entah bagaimana El
Wira melangkah masuk meninggalkan Leo begitu saja, berusaha keras tidak terpengaruh pada ucapan Leo, tapi tidak dapat dipungkiri, dirinya sendiri pernah memikirkan hal yang sama, apalagi akhir-akhir ini, tidak ada pekerjaannya yang beres. Wira pun hanya mengepalkan tangannya geram tanpa mengatakan apa pun lagi dan akhirnya masuk ke ruang keluarga, tempat Darmawan sudah menunggunya. "Bagaimana? Apa yang dia katakan, Wira?" "Dia mencari Elisa, Pak." "Lalu apa yang kau katakan?" "Aku bilang Elisa tidak ada di sini." "Dan bagaimana dia? Dia mengatakan sesuatu lagi?" Wira sempat terdiam sejenak. Tentu saja Leo berusaha membuka matanya tentang Darmawan, tapi Wira tidak akan memberitahunya. "Tidak ada, dia pergi dengan kesal," dusta Wira. "Bagus! Seperti yang kuduga, Elisa sangat penting baginya. Kita tidak salah langkah, Wira. Sekarang tugasmu adalah siapkan semua suratnya! Kita akan memaksa pria brengsek itu untuk mengembalikan semua milikku!" Darmawan menyeringai. Lagi-lagi Wir
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr







