تسجيل الدخولElisa melangkah pergi, menyeret kopernya keluar dari apartemen tanpa menoleh lagi. Ia masih sempat mendengar suara Bik Imah memanggilnya. "Elisa, jangan pergi, Nak! Elisa ...." Namun, Bik Imah tidak pernah mengejarnya. Mungkin Leo melarangnya atau apa pun itu, Elisa tidak tahu dan tidak mau tahu. Elisa hanya terus menyeret kopernya sampai masuk ke lift. Bahkan ia tetap diam di dalam lift. Sampai saat ia sudah keluar dari lift, ia melangkah ke toilet yang masih sepi dan ia baru meledak di sana. Elisa melemparkan kopernya begitu saja dan ia jatuh berjongkok di lantai saking sedihnya. Air matanya mengucur deras sampai dadanya sesak. "Akhh! Maafkan aku, Leo! Maafkan aku! Ya Tuhan! Maafkan aku! Apa yang sudah aku katakan? Apa yang sudah aku katakan?" pekik Elisa histeris. Semua rasa yang ditahannya sejak tadi akhirnya tumpah juga. Ia tidak bisa menjelaskan perasaan ini, tapi semuanya kacau. Perutnya bergejolak, ia mau muntah, kepalanya ikut berputar, dan matanya perih. Seluruh anggo
Leo membeku mendengar ucapan Elisa. Putus? Bahkan dalam mimpi saja, Leo tidak pernah ingin putus dari Elisa. Rahang Leo mengeras dan tangannya mengepal. "Apa? Putus? Kau mau putus dariku? Apa kau sadar apa yang kau katakan, hah?" Nada Leo meninggi. "Aku sadar, Leo! Justru aku sangat sadar, karena itu, mari kita putus saja!" "Tidak bisa, Elisa! Tidak bisa!" "Mengapa tidak bisa? Tinggal putus dan kita tidak ada hubungan lagi, apa sulitnya?" Leo menatap Elisa tidak percaya. Bahkan wanita itu menyahutinya dengan begitu mudah. "Elisa, bahkan semalam kita masih berciuman dan tidur bersama, lalu sekarang kau minta putus? Apa kau masih demam, hah? Kalau kau masih sakit, kita ke dokter sekarang! Atau kau tidur lagi saja! Aku ada rapat penting, jadi aku akan kembali ke kantor saja! Bik Imah, bawa Elisa ke kamarnya!" titah Leo tanpa jeda sama sekali. Bik Imah tidak berani bergerak dan Elisa sendiri kembali menyahutinya. "Aku tidak sakit, Leo! Aku sangat sehat! Aku akui kemarin aku sakit!
"Astaga, Elisa, apa yang terjadi? Mengapa kau membawa koper?" Bik Imah akhirnya pulang setelah pertemuan di sekolah Rara selesai. Rara lanjut sekolah, sedangkan Bik Imah pulang sendiri dan langsung kaget melihat koper kecil Elisa. Elisa memang tidak berniat kabur, Elisa ingin pergi dan berpamitan dengan baik pada semua orang. Tentu saja Elisa tahu akan jauh lebih mudah kalau ia menghilang dibanding berpamitan. Tapi Elisa ingin berpamitan. "Aku ... sudah memutuskan untuk pergi, Bik." Bik Imah sampai mematung sejenak mendengarnya. "Apa? Apa maksudmu, Elisa? Jangan aneh-aneh! Coba Bibik lihat apa kau masih demam? Kau mau pergi ke mana membawa koper, hah? Berikan kopernya pada Bibik! Berikan, Elisa!" Bik Imah berusaha merebut koper Elisa, tapi Elisa menahannya. "Bik Imah ...."Tangisan Bik Imah langsung meledak sendiri. Sebagai seorang wanita, Bik Imah paham perasaan Elisa. Dan melihat sikap Elisa yang makin aneh dari hari ke hari, Bik Imah sudah punya feeling hal seperti ini akan t
Leo memeluk Elisa tidur malam itu. Elisa sangat lemas sampai tidak nafsu makan. Setelah mereka berciuman begitu mesra, Elisa tertidur begitu saja. Leo hanya meninggalkannya untuk mandi lalu kembali ke kamar hanya untuk menatap wajah cantik yang sedang tertidur pulas itu. "Aku mencintaimu, Elisa. Entah bagaimana cara mengatakannya agar kau percaya padaku. Aku mencintaimu dan aku tidak akan menukarnya dengan apa pun juga, sekalipun itu dendamku pada keluargamu." Leo mengusap kening Elisa yang berkerut. "Jangan mengingat yang lalu! Jangan merasa bersalah karena semuanya bukan salahmu. Kau tidak ada hubungannya dengan ini, Sayang. Kau tidak ada hubungannya." "Tapi maafkan aku kalau aku tidak bisa berhenti membalaskan dendam ini pada keluargamu sampai mereka mendapatkan balasan yang setimpal." Leo menatap wajah itu lekat-lekat, sebelum ia mencium kening Elisa, dan kembali menatapnya sepanjang malam. Keesokan harinya, Elisa bangun lebih dulu dengan tubuh yang terasa pegal semua. Ia sa
Anton mengerang. Kalau mengikuti amarahnya, ia pasti sudah meninggalkan Elisa dan menggendong Lily bersamanya, tapi Anton memilih mengikuti hatinya. Lily benar. Tubuh dewasa mungkin masih lebih kuat menahannya, tapi tubuh kecil Elisa tidak bisa, apalagi Anton melihat bagaimana Elisa terkena luka bakar. Celana anak itu meleleh karena api yang sudah menjilat kulitnya dengan menyakitkan. "Lily ...." "Selamatkan dia, Anton! Dia belum tahu apa pun. Selamatkan dia ...." "Tunggu aku, Lily! Aku akan kembali dan membawamu keluar dari sini," sahut Anton akhirnya dengan hati yang begitu berat. Sementara Elisa kecil terus menangis. Rasa sakit itu terlalu sakit sampai tidak bisa diungkapkan dengan hal lain selain tangisan dan jeritan, disertai background teriakan yang lain juga. Rasa panas dan rasa sakit membuat Elisa akhirnya perlahan kehilangan kesadarannya. Namun, sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya, ia masih bisa merasakan tubuhnya terangkat, aman di dalam pelukan kokoh, hingga sa
Elisa menahan napas sejenak mendengarnya. Tatapannya goyah dan jantungnya seolah jatuh ke lantai. "Grandpa, itu ...." "Grandpa tebak dia belum tahu kan? Lalu kapan kau akan memberitahunya? Grandpa ingin tahu apa dia masih bisa membelamu kalau dia tahu kejadian yang sesungguhnya!" "Berhenti, Grandpa! Tolong jangan membahasnya lagi ...." "Itu kenyataan yang tidak diketahui banyak orang. Grandpa sudah berusaha menyembunyikannya agar kau tidak disalahkan banyak orang, tapi sekarang kau tidak membalas budi Grandpa? Kau malah tetap diam seolah kau tidak bersalah?" "Berhenti kubilang, Grandpa! Berhenti!" teriak Elisa. "Kalau Leo mau balas dendam, seharusnya itu padamu, bukan pada Grandpa, apalagi keluarga Wijaya! Semua karenamu, Elisa! Karenamu!" "Cukup! Aku tidak mau dengar lagi! Aku tidak mau, Grandpa!" Blep!Elisa menutup teleponnya tanpa peduli apa pun lagi. Bahkan ia tidak berpamitan pada Darmawan. Ia menutup teleponnya dan membuang ponselnya asal ke ranjang. "Tidak! Tidak!" pe
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar







