ログイン"Leo! Astaga, ini bukan dari Eddy, tapi dari Leo?" Buru-buru Elisa menelepon Leo sampai Leo tersenyum sendiri melihat nama Elisa yang akhirnya meneleponnya. "Halo, selamat pagi, Bu Elisa." "Leo, kau yang meletakkan bunga dan coklat di meja kerjaku?" "Semoga Anda menyukainya. Selamat ulang tahun, Bu Elisa." Elisa kembali terdiam, sejenak tidak tahu harus marah atau berterima kasih, tapi ia tidak punya alasan untuk marah hanya karena asisten suaminya memberinya ucapan selamat ulang tahun duluan dibanding suaminya. "Jadi itu benar kan? Hadiahnya darimu?" "Ya, aku meletakkannya pagi-pagi sekali sebelum Ririn datang. Coklatnya bisa membuat hari Anda menjadi lebih baik, Bu Elisa.""Ah, baiklah, terima kasih." "Sama-sama. Tapi kebetulan sekali aku baru mau menelepon Anda, Bu." Elisa mengernyit. "Ada apa?" "Aku punya hadiah lain.""Hadiah apa?""Maukah bertemu seseorang denganku pada jam makan siang nanti?" Elisa mengernyit makin dalam. "Bertemu siapa, Leo?" "Seorang klien. Yang p
Lagi-lagi pertanyaan Leo mengejutkan. Sejenak bayangan mereka bersama di ranjang membuat Elisa merinding sampai ia buru-buru mendorong dada Leo lagi. "M-membuat anak? Tidak ada lagi! Tidak ada lagi jadwalnya! Aku ... aku akan menunggu saja, semoga aku tidak haid dan langsung hamil saja!" Leo terdiam, mendadak membayangkan sesuatu yang lebih absurd dibanding proses membuat anak, yaitu saat Elisa akhirnya hamil anaknya. Leo tidak pernah berencana membiarkan Elisa hamil anaknya, tapi kalau Elisa hamil sungguhan bagaimana?Pikirannya sendiri membuat Leo terdiam sampai pelukannya akhirnya longgar dan Elisa berhasil lepas. "Hmm, ini sudah malam, ayo pulang dulu, aku tidak mau nanti Eddy pulang dan tidak menemukan aku di rumah," seru Elisa yang cepat-cepat berlari ke arah pintu keluar pantai. Leo kecewa karena mereka pulang begitu cepat, tapi akhirnya ia tetap mengantar Elisa pulang, hanya untuk mendapati Eddy belum pulang juga. Elisa sendirian di rumah malam itu, menikmati tidurnya da
Tatapan Elisa goyah lagi mendengar ucapan Leo, lembut, hangat, dan sangat peduli. Ucapan yang seharusnya dikatakan oleh seorang suami pada istrinya, tapi malah Leo yang mengatakan padanya. "Kau itu bicara apa, Leo? Kau tahu kalau tidak ada orang yang mau mencampuri urusan orang lain, tapi kau malah menawarkan diri. Dasar aneh!" Buru-buru Elisa memalingkan wajahnya lagi karena mendadak air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Mungkin ia sedang PMS, mungkin ia sedang sensitif, hormonnya bergejolak, apalagi setelah mendengar ucapan mertuanya tadi. Padahal Elisa bukan wanita cengeng, tapi air matanya tidak mau berhenti mengalir."Bu Elisa!" panggil Leo lagi saat Elisa akan melangkah pergi. Leo memaksa Elisa menatap ke arahnya dan Leo akhirnya melihat air mata itu. "Anda menangis." "Tidak, hanya kemasukan pasir," elak Elisa. Leo tertawa pelan. "Mengapa wanita selalu seperti itu?" "Seperti apa maksudmu?" "Kalau menangis selalu buru-buru dihapus, padahal air mata bukan sesuatu yang ha
"Bu Elisa?" "Aku baik-baik saja, Leo!" Elisa dan Leo sudah berdua di dalam mobil. Setelah mendengar percakapan Eddy dan ibunya, Elisa tidak menunggu lama untuk pergi dari sana, tapi ia tidak tahu harus ke mana. Ia hanya meminta Leo mengajaknya pergi tanpa tahu tujuan. Leo pun menyetir mobilnya sambil terus melirik Elisa makin iba. Bahkan mertuanya tidak menyukai Elisa. Bagaimana selama ini Elisa menghadapi semuanya?"Aku tahu Anda tidak baik," sahut Leo akhirnya. Elisa tertawa kesal. "Jangan sok mengenalku, Leo! Aku sudah bilang aku baik-baik saja!" "Nyatanya aku tahu Anda tidak baik-baik saja, Bu. Jangan selalu memendam semuanya sendirian, Anda harus mengeluarkannya agar Anda lega."Elisa kembali tertawa nanar. "Siapa yang bilang aku memendam? Aku tidak memendam apa pun. Aku hanya malu karena kau harus mendengar semuanya. Pasti kau menganggap aku menyedihkan kan?" Suara Elisa mulai bergetar. Leo tidak menjawabnya dan hanya lanjut menyetir. "Aku tidak tahu mana yang lebih menyed
Langkah Leo terhenti. Untuk sepersekian detik, tatapannya menegang mendengar nama Hartono dipanggil. Begitu juga dengan Elisa yang berhenti melangkah. Keduanya menoleh tepat saat Wira juga menoleh. Suasana pun hening sejenak saat lagi-lagi tatapan Wira dan Leo bertemu. Untungnya, pria yang memanggil Hartono tadi langsung menghampiri pria lain yang merupakan cleaning service di sana. "Pak Hartono kan? Yang tadi membersihkan kamar ibuku kan? Apa Bapak ada melihat handuk coklat di kamar? Kami sudah mencarinya ke mana-mana tapi tidak ketemu," seru pria tadi. Seketika Leo mengembuskan napas leganya, walaupun ia tetap menjaga ekspresinya datarnya. Wira yang tidak mendapatkan apa yang ia mau pun memicingkan matanya, sebelum melangkah pergi dari sana. Begitu juga dengan Elisa yang langsung naik ke mobil. "Kupikir dia memanggil siapa. Lagi-lagi Hartono.""Begitu banyak nama yang sama di dunia ini, Bu," sahut Leo yang langsung melajukan mobilnya pergi dari sana. Elisa hanya mengangguk. I
"Bagaimana kondisi ayahku, Dokter?" Arman langsung siaga begitu dokter selesai memeriksa Darmawan. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di rumah sakit. "Pak Darmawan mengalami syok ringan dan tekanan darahnya sempat naik tadi, tapi saat ini, kondisinya sudah stabil. Ada otot yang tertarik di bagian kakinya, mungkin akan terasa tidak nyaman, tapi sejauh ini tidak ada kondisi yang berbahaya."Semua orang langsung bernapas lega mendengarnya. "Syukurlah kalau begitu, Dokter. Apa ayahku bisa langsung pulang?" "Kami sarankan opname dulu setidaknya dua hari untuk memantau kondisinya, Pak. Kakinya belum boleh banyak bergerak." "Ah, baiklah, tidak masalah." "Tapi perlu diketahui, umur Pak Darmawan sudah tidak muda dan ada riwayat jantung, kondisi seperti panik berlebihan atau tekanan emosional berat bisa memicu hal yang lebih serius ke depannya. Jadi tolong dijaga agar jangan sampai terulang lagi." "Kami mengerti, Dokter. Terima kasih!" Sang dokter mengangguk, sebelum pergi dari sana.







