LOGINSetelah Velia dipulangkan, suasana di Bali menjadi lebih lega untuk Elisa. Ia lebih tenang membiarkan suaminya bekerja dengan Liandro. Liandro sendiri adalah pria tua yang sangat sopan, bijak, dan ramah. Elisa menyukai pria itu, apalagi pria itu mengingatkan Elisa pada Darmawan, tentunya dalam versi yang lebih baik. "Anda mengingatkan aku pada Grandpa-ku, Pak. Anda pasti sudah mendengar tentangnya, dia bukan pengusaha yang baik, tapi dia pernah menjadi Grandpa yang baik untukku. Setidaknya ingatan masa kecilku banyak dipenuhi olehnya," ucap Elisa malam itu saat mereka lagi-lagi ada dalam makan malam bersama. Liandro yang mendengarnya langsung melirik Leo, ia sudah mendengar semua ceritanya dan ia masih takjub dengan bersatunya Leo dan Elisa. "Yang namanya keluarga tetap keluarga, walaupun pada akhirnya tercerai berai dengan alasan apa pun. Walaupun menjadi keluarga saja belum cukup untuk bertahan selamanya, tapi memori itu pasti tetap ada. Aku ikut berduka untuk kehilangan itu, Bu
Dua hari berlalu dan Velia akhirnya diijinkan keluar dari rumah sakit. Liandro memintanya pulang duluan karena sudah ada dirinya, tapi Velia menolak pulang. "Sudah ada Grandpa di sini dan kau sedang sakit, jadi pulang saja duluan untuk mengurus kantor." "Tidak, Grandpa, aku tidak bisa pulang duluan. Bagaimanapun ini proyekku, walau Grandpa masih tetap terlibat di dalamnya, aku tetap harus tahu semua detailnya." Liandro mengangguk. "Wah, wah, bagus, ini baru cucu Grandpa. Ternyata kau punya tanggung jawab lebih daripada yang Grandpa pikir." Liandro memujinya, tapi Velia sama sekali tidak tertarik dengan pujian itu. Karena tujuannya tetap tinggal bukan untuk mengamati proyek, melainkan untuk mencari kesempatan mendekati Leo lagi. Dengan kondisinya yang seperti ini, Velia yakin kesempatan itu akan tetap datang. Namun, kesempatan itu malah makin tertutup karena sejak Liandro muncul, Leo malah bersama Liandro terus. Tidak mungkin Velia menggoda Leo di dekat Liandro. "Mari bersulang
Saat Leo mengatakan untuk percaya, itu berarti percaya sepenuhnya. Kesungguhan Leo tidak hanya diucapkan, tapi dilakukan dengan sepenuh hati. Bahkan keesokan harinya, Leo langsung menelepon Liandro. Entah apa yang mereka bicarakan di telepon, tapi Liandro mendadak akan berangkat ke Bali hari itu juga. "Apa yang kau katakan pada Pak Liandro, Leo? Bagaimana Pak Liandro bisa berangkat ke Bali hari ini?" Elisa panik. "Memang kami berencana bertemu di sini untuk melihat jalannya pembangunan, Sayang. Untuk proyek sebesar ini, tidak mungkin Pak Liandro tidak turun tangan sendiri kan?" "Tapi kemarin aku tidak dengar dia akan datang." "Dia akan datang, Sayang. Hanya memang dia tidak memberitahukan pada siapa pun." "Benarkah itu, Leo? Bukan karena aku kan?" Leo tergelak. "Tidak, Sayang. Aku dan Pak Liandro sangat dekat dan kami sudah terbiasa bersama. Dan tentang Velia, dengan datangnya Pak Liandro, aku bisa lebih banyak berinteraksi dengan Pak Liandro dibanding Velia. Itu bagus untukku
"Jangan halu, Velia!" Velia sudah melepaskan topengnya dan mengatakan yang sejujurnya pada Elisa. Karena itu, Elisa juga tidak harus menjaga kesopanannya lagi. Sejak dulu, hubungannya dengan Velia tidak pernah bagus karena Velia selalu mengikuti Susan. Velia menyindirnya, itu sudah biasa, Velia ketus padanya juga sudah biasa. Justru Velia yang berpura-pura manis selalu terasa aneh bagi Elisa. Dan Velia yang sekarang baru terasa benar. "Yang bersama Leo itu aku, bukan keluargaku, jadi tidak perlu melihat keluargaku. Dan aku sudah bilang aku tidak peduli apa pun yang kau katakan kan? Yang tahu bagaimana rumah tanggaku dengan Leo adalah aku, jadi aku tidak akan mendengarkanmu sedikit pun. Kalau tidak ada hal lain, aku permisi!" Elisa baru saja akan berbalik, tapi suara Velia sudah terdengar lagi. "Kau mau kabur? Kau kabur karena takut mendengar ucapanku lagi? Atau karena kau mulai berpikir kalau ucapanku benar? Kau takut Leo tidak mencintaimu kan? Ini hanya tanggung jawab semata da
"Maafkan aku karena memeluknya, Sayang. Aku benar-benar refleks karena dia jatuh tepat di sampingku." Leo segera menatap istrinya dan menjelaskan kejadian barusan. Ia tidak ingin istrinya itu salah paham. Namun, Elisa hanya mematung tanpa mengatakan apa-apa. Sungguh, ia melihat semuanya, bagaimana Velia sengaja menjatuhkan dirinya ke arah Leo. Elisa bukan orang bodoh sampai tidak menyadari yang mana sengaja, yang mana tidak. Elisa pun sempat kesal karena Leo memeluk wanita itu, tapi mendapati kaki Velia yang benar-benar terkilir, ia memilih tidak berkomentar. "Sayang? Sayang, kau baik-baik saja?" Suara Leo menyentak Elisa dari lamunannya. "Ah, ya? Aku baik-baik saja, Leo." "Kau melamun, Sayang." "Tidak! Tapi kau bilang apa tadi?" "Aku minta maaf karena memeluk Velia, Sayang. Aku refleks." "Ah, tentang itu ... ya, dia seperti pura-pura jatuh, tapi kakinya benar-benar terkilir." "Aku juga terkejut, kakinya merah sekali. Itu karena dia memakai sepatu hak tinggi, untung saja kau
"Ada apa lagi, Sayang? Apa yang kalian bicarakan? Semua baik-baik saja kan?"Leo membawa Elisa menjauh dan mulai bertanya. "Ya, Leo. Dia hanya sedikit menyindirku." Leo mengernyit. "Menyindir? Menyindir seperti apa? Kau tahu aku tidak suka ada yang mengganggumu kan, Sayang. Aku akan bicara padanya." Baru saja Leo akan berbalik, tapi Elisa langsung menahannya. "Tunggu! Tidak usah, Leo! Biarkan saja!" "Aku tidak bisa diam saat aku sudah tahu jelas ada yang menyakitimu, Sayang." "Tenang saja, istrimu bukan wanita lemah kan? Kalau kau menegurnya sekarang, kau akan membuatku merasa lemah, Leo." Leo terdiam mendengarnya. Ia tahu Elisa bisa mengatasi masalahnya sendiri. "Sayang, maafkan aku, aku tahu kau bukan wanita lemah. Aku tahu kau bisa menyelesaikan masalahmu sendiri, aku hanya ingin melindungimu dan aku merasa tidak berguna saat ada orang yang menyakitimu tapi aku diam saja." "Aku tahu itu, Leo, tapi tidak masalah, dia tidak menyakitiku. Dia hanya ... dia hanya iri pada kebah
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







