Share

Tidak Punya Perasaan

Author: Mommykai22
last update publish date: 2026-07-28 23:15:36
"Kandungannya sangat sehat dan bayi laki-laki kalian sangat aktif."

Bayi Leo dan Elisa adalah bayi laki-laki. Mereka sudah melakukan pemeriksaan NIPT secara menyeluruh untuk mengetahui kelainan kromosom dan semuanya sempurna. Dari hasil pemeriksaan itu pun mereka tahu kalau bayi mereka adalah bayi laki-laki.

Dan saat ini, bayi mereka sedang bergerak aktif di perut Elisa. Perasaan Elisa pun sumringah melihatnya.

"Pantas saja aku merasakan kedutan-kedutan kecil, Dokter. Ternyata bayiku sedang b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Karina dewi puspit
apa kabar susan sama ibu nya kok nga di updet juga ya
goodnovel comment avatar
Karina dewi puspit
ehm siap siap aja Elisa biar ngk syok lihat kelakuan keluarga kamu....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Menerima Kenyataan

    Elisa melangkah cepat di koridor rumah sakit bersama Leo dan Gary di tengah malam itu. Begitu mengetahui bahwa Arman sadar, rasa gelisah di hati Elisa hilang dan berubah menjadi antusias ingin bertemu. "Suster, bagaimana kondisi Ayahku?" tanya Elisa begitu tiba di sana. "Kondisinya sudah stabil, Bu, hanya emosinya yang belum stabil. Awalnya Pak Arman masih sangat lemas dan mengeluh pusing, dia belum terlalu kuat bicara, tapi mendadak Pak Arman teringat ayahnya dan terus bertanya. Kami tidak berani menjawab apa pun." Elisa menelan saliva mendengarnya. Bahkan begitu Arman sadar dari koma, yang dicari pertama kali adalah Darmawan. "Boleh aku melihatnya?" "Silakan, Bu." Tangan Elisa sedikit bergetar dan Leo melihatnya. "Kau mau aku temani, Sayang?" Elisa menoleh menatap Leo dan menggeleng. "Tidak, dia akan makin mengamuk melihatmu." Leo mengangguk. "Ya, itu benar. Tapi hati-hati, jangan terlalu dekat, aku takut ...." "Aku tahu, Leo," sela Elisa. Ia sangat tahu walaupun Arman adal

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Akhirnya Bangun

    "Ayah, aku datang lagi." Elisa menjenguk Arman lagi malam itu setelah melakukan serangkaian acara penghormatan untuk Darmawan. Elisa masih tidak mau memberitahu apa pun pada ayahnya itu dan menunggu ayahnya sadar. "Apa Ayah baik-baik saja di sini?" Elisa menahan tangisnya. "Bangunlah, Ayah. Bangunlah segera ...." Elisa menatap wajah, jari-jari, dan tubuh Arman, berharap ada detail kecil yang akan menunjukkan bahwa pria itu akan segera sadar, tapi nyatanya, walaupun sudah menatap cukup lama, Arman tidak menunjukkan tanda apa pun. Elisa mengembuskan napas panjangnya dengan kecewa. "Tidak apa. Kalau Ayah belum bangun sekarang tidak apa. Tapi aku mau Ayah tahu kalau aku sudah memaafkan Ayah. Aku dan semuanya memaafkan Ayah dan menunggu Ayah bangun. Ayah dengar kan? Karena itu, bangunlah, Ayah." Elisa memandangi Arman sedikit lebih lama, sebelum akhirnya Elisa pun bangkit dari kursi dan perlahan melangkah pergi dari sana. Tanpa Elisa sadari, jari-jari Arman mulai bergerak, menunjuk

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Penghormatan Terakhir

    Pagi itu menjadi pagi yang sangat sendu bagi Elisa. Setelah sedikit merasakan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga barunya, Elisa harus merasakan sedih lagi saat mengadakan upacara penghormatan terakhir untuk kakeknya, Darmawan Wijaya. Setelah kebakaran itu, semua jasad yang meninggal di dalam gudang dibawa untuk dilakukan proses identifikasi sesuai prosedur. Jenazah Darmawan pun akhirnya diserahkan kepada keluarga beberapa hari setelahnya. Tubuh Darmawan mengalami luka bakar yang sangat parah. Kondisinya sangat buruk sehingga diputuskan jasad itu langsung dikremasi secara tertutup.Awalnya, sebagai anggota keluarga yang tersisa, Elisa diminta untuk melihat korban secara langsung, tapi Elisa menolak. Dokter dan Leo sendiri juga tidak mengijinkan karena Elisa masih dalam perawatan dan Elisa punya trauma berat pada api dan kebakaran. Hingga akhirnya proses itu diwakilkan oleh Gary dan Albert. Gary merekam semua prosesnya dan sudah menyerahkan pada Elisa, tapi sampai hari ini, Elis

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Gejolak Jiwa Muda

    "Kami pulang dulu, Pak Leo, Elisa!" Pagi itu, Handi dan Daisy akhirnya berpamitan pindah dari apartemen. "Sekali lagi terima kasih atas bantuannya selama ini. Jangan khawatir karena aku akan tetap membantu mengawal kasus ini sampai selesai.""Terima kasih untuk semuanya juga, Pak Handi. Kalau ada hal apa pun yang kau butuhkan, jangan ragu menghubungi kami." "Tentu saja, Pak Leo.""Terima kasih banyak, Pak Handi," seru Elisa juga. "Aku masih tidak enak karena pernah sinis pada Anda. Maafkan aku sempat tidak percaya dan tidak menyukai Anda. Aku sangat bodoh waktu itu." "Tidak ada yang bodoh, Elisa. Semua orang di posisimu akan melakukan yang sama. Itu wajar. Justru aku yang sempat tidak enak hati karena harus membuat hatimu sakit karena kenyataan ini." "Anda sudah melakukan hal yang benar, Pak Handi. Dan aku senang mengenal Anda. Kuharap setelah ini, kita masih bisa tetap berteman. Aku juga suka sekali pada Daisy." "Tentu kita akan tetap sering bertemu, Sayang. Aku sudah menyiapka

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Nama Malaikatnya

    "Selamat makan semuanya!" Leo dan Elisa berkumpul di meja makan besar siang itu bersama semua orang. Mereka merayakan kemenangan, merayakan hari pertama Elisa dan Leo keluar dari rumah sakit, serta hari terakhir Handi dan Daisy tinggal di apartemen. "Selamat makan!" seru Gary yang langsung makan dengan lahap. Elisa tersenyum menatap semua orang, keluarga barunya yang ia dapatkan secara dadakan, padahal Elisa baru mengenal mereka beberapa bulan terakhir. Ini aneh sekali bagaimana keluarga sendiri yang sudah bersama kita sejak kecil malah terasa asing, tapi orang asing yang baru masuk ke dalam hidup kita malah terasa seperti keluarga. Tuhan baik, sungguh Tuhan baik karena setelah mengalami berbagai hal sulit dalam keluarganya, Elisa diberi keluarga baru yang luar biasa. "Kau tidak makan, Sayang? Ayolah, bayi kita sudah lapar," seru Leo sambil mengusap lembut perut besar Elisa. Elisa tersenyum dan mengangguk. Perutnya memang sudah berbunyi sejak tadi karena ia hanya sarapan sediki

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Dambaan Emak-Emak

    "Selamat datang di rumah!" Elisa dan Leo akhirnya tiba kembali ke apartemen mereka, apartemen yang sudah mereka tinggalkan sejak kejadian itu. Sebenarnya Elisa punya banyak agenda setelah keluar dari rumah sakit. Semua menyangkut keluarga Wijaya, termasuk mengurus jasad Darmawan yang akhirnya dikremasi tanpa kehadiran Elisa. Kondisi Elisa tidak memungkinkan waktu itu. Karena itu, Elisa menunjuk Handi dan Albert untuk mengatur semuanya. "Ya ampun, mendadak meriah sekali di rumah," seru Elisa. Terlihat Handi, Daisy, Rara, dan Albert sudah ada di dalam apartemen. Banyak balon, confeti, dan aneka makanan sudah tersaji di atas meja, makanan yang membuat perut Elisa berbunyi. "Sungguh, aku tidak sedang ulang tahun," imbuh Elisa lagi. "Anda memang tidak sedang berulang tahun, Bu Elisa. Tapi semua orang bahagia sekali melihat Anda dan Pak Leo akhirnya pulang dari rumah sakit," seru Daisy antusias. "Terima kasih, Daisy. Terima kasih, Pak Handi. Terima kasih, Pak Albert." "Syukur Anda

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Harus Segera Hamil

    "Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Memuaskan Diri Sendiri

    Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status