เข้าสู่ระบบElisa tidak bisa menahan air matanya saat ia sudah duduk menunggu kedatangan sang ayah. Jantungnya memacu kencang dan tangannya dingin. Leo sendiri menangkup tangan Elisa. Ini akan menjadi kunjungan pertama mereka dan pertama kali juga mereka akan bertemu Arman sejak Arman divonis waktu itu. Walaupun Elisa belum pernah berkunjung secara langsung, tapi dari pengacara, Elisa tahu bahwa katanya Arman sudah menerima semuanya dan sudah lebih tenang di dalam penjara. Tapi detailnya, Elisa tidak tahu. Elisa pun masih menunggu dengan tegang pertemuan itu, sampai pintu terbuka dan kursi roda itu didorong keluar. Arman masih duduk manis di kursi rodanya dengan jantung yang juga berdebar kencang. Ia sangat penasaran siapa yang datang. Kalau pengacara, biasanya petugas akan langsung mengatakannya. Namun, kali ini, petugas diam. Arman pun makin berdebar penuh harap. Sampai saat kursi rodanya didorong untuk menemui tamunya, dan Arman pun mematung melihat siapa yang menunggunya di sana. Itu El
"Ayah, Ibu, anak kalian akhirnya akan menikah." Satu minggu sebelum pernikahan, Leo dan Elisa mengunjungi pantai yang jaraknya satu jam dari kota. Mereka menabur bunga di sana sekalian berbicara dengan orang-orang yang mereka kasihi, orang-orang yang abunya sudah bersatu dengan lautan luas. "Kalian sudah tahu siapa calon menantu kalian kan? Kalian yang memilihkannya untukku," imbuh Leo yang membuat air mata Elisa menetes. Elisa yang berdiri di samping Leo pun membelai sayang punggung Leo dan Leo sendiri langsung memeluk calon istrinya dari samping. "Ayah, Ibu ... aku Elisa, aku tidak tahu bagaimana memperkenalkan diriku lagi. Kalian sudah mengenalku dan berkorban banyak untukku. Aku janji akan menjaga Leo demi kalian," ucap Elisa penuh kesungguhan. Leo yang mendengarnya langsung tertawa. "Salah, Sayang, aku yang akan menjagamu. Orang tuaku menyayangimu. Dan untuk ibumu, aku juga ingin mengatakan agar jangan khawatir, sekarang sudah ada aku yang akan menjagamu seumur hidupku." El
"Leo! Akhirnya kau pulang juga!" Setelah tiga minggu berada di Singapore, akhirnya hari itu Leo pulang juga. Awalnya Elisa ngotot ingin menjemput Leo ke airport, tapi Leo tidak mengijinkannya. Di saat kandungan Elisa sudah semakin besar, Elisa harus mengurangi naik mobil dengan perjalanan jauh karena itu akan membuat kandungannya terus bergetar. Elisa pun harus pasrah menunggu di apartemen sambil membantu Bik Imah menyiapkan semua makanan kesukaan Leo. Dan begitu Leo pulang, Elisa langsung memeluk calon suaminya itu. "Aku senang sekali, Leo!" "Aku juga senang sekali bisa pulang. Aku merindukanmu dan anak kita, Sayang!" Leo mencium bibir Elisa dengan mesra, sebelum Leo membungkuk dan mencium perut besar Elisa. "Bagaimana anak Papa di sini? Kau senang Papa pulang, hmm?" Leo mengetuk perut Elisa dan bayi mereka langsung merespon dengan sebuah tendangan. "Akhh, dia menendang," pekik Elisa tertahan. Leo yang juga merasakan gerakan itu pun tertawa bahagia. "Sepertinya dia sudah me
"Sekali lagi selamat, Leo dan Elisa!" Kepulangan Leo dan Elisa disambut oleh Bik Imah di apartemen. Bukan hanya Bik Imah, tapi keluarga Handi dan keluarga Rahmat juga. "Astaga, semua berkumpul di sini!" pekik Elisa senang. "Selamat, Bu Elisa! Selamat karena sebentar lagi Anda akan menikah dengan Pak Leo," seru Nila sampai menangkup tangan Elisa. Elisa sampai tersipu malu sambil melirik calon suaminya itu. Padahal ini akan menjadi pernikahan keduanya, tapi mengapa rasanya sama mendebarkan. "Selamat, Bu Elisa! Aku sudah melihat video lamarannya. Itu indah sekali," seru Daisy juga. "Terima kasih, Daisy! Nanti kalau kau dilamar, aku yakin lamarannya juga akan sangat indah." Daisy tersipu lagi. Tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan Gary sampai Daisy tersentak sendiri dan buru-buru memalingkan tatapannya. Gary sendiri hanya mengulum senyumnya malu-malu. Selama Leo dan Elisa babymoon, Gary dan Daisy menjadi dekat karena Gary bersikeras ingin mengajari Daisy langsung. Beber
Menikahlah denganku ....Elisa benar-benar mematung mendengar lamaran yang sangat indah itu. Leo benar, pria itu memang sudah pernah mengajaknya menikah dan Elisa pasti setuju menikah dengan pria itu. Namun, Elisa tidak menyangka, Leo akan melamarnya lagi seperti ini. Air mata Elisa tidak mau berhenti, malah mengucur makin jelas. Melihat seorang bos besar, pria yang sangat dicintainya bersimpuh di hadapannya membuatnya sangat terharu. "Oh, ayo terima! Ayo terima!" Suara para pengunjung mulai terdengar. Ada yang menatap Elisa penuh harap, ada yang menatap Leo penuh kekaguman, ada yang menangis haru, ada yang tertawa bahagia. Ada juga yang bertanya-tanya bagaimana seorang pria bisa melamar wanita dengan perut hamil sebesar itu. Leo sendiri masih menatap Elisa dengan intens, tidak peduli suara-suara apa pun di sekeliling mereka. Hanya Elisa yang ditatap Leo dengan jantung yang memacu kencang. Dengan sinyal yang sangat jelas, seharusnya Leo percaya diri Elisa pasti menerimanya. Nam
"Cium aku, Leo! Background cahaya mataharinya indah sekali!" seru Elisa. Leo terus menggelengkan kepala karena kekasihnya minta berfoto dengan begitu banyak pose. Leo sendiri tidak pernah fokus menatap kamera, Leo hanya terus menatap kekasihnya. Namun, hasil foto Leo yang natural itu terlihat tetap indah sampai Elisa begitu senang. "Sudah ya, Sayang. Foto kita sudah banyak sekali." "Satu kali lagi, Leo!" rajuk Elisa. Fotografer yang tadi hanya terus tertawa melihat banyak foto bagus yang ia dapatkan dari pasangan yang fotogenik itu. Elisa pun masih mengobrol dengan fotografernya saat ponsel Leo berbunyi dan ia pun menerimanya. Telepon itu dari Gary yang ternyata sudah tiba di Bali dan di hotel yang sama untuk melakukan sesuatu yang disuruh Leo. "Aku sudah tiba, Bos. Kau di mana?" "Aku di pantai, sedang foto bersama Elisa." "Wow, foto prewedding?" "Bisa dibilang begitu. Tapi apa kau membawa yang aku suruh?" "Tentu saja beres, Bos!" Leo tersenyum puas. "Baguslah!" Tidak lam
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar







