LOGINPesta berlanjut dengan jamuan makan siang bersama sekaligus Leo menyapa semua undangannya. Para tamu pun bergantian mendatangi meja Leo karena mereka ingin berkenalan dengan istri Leo, sedangkan Leo sendiri sudah tidak mengijinkan istrinya berdiri karena ia tidak mau Elisa terlalu lelah."Sekali lagi selamat, Pak Leo. Senang berkenalan dengan Anda, Bu Elisa!" Para tamu menyapa dalam bahasa Inggris dan Mandarin karena sebagian besar berasal dari Singapore dan Malaysia, negara tempat Leo berbisnis. "Terima kasih, senang berkenalan dengan Anda juga." Elisa membalas dengan bahasa Inggris dan Mandarin yang fasih. Sebagai pebisnis, Elisa juga menguasai beberapa bahasa asing. Leo pun begitu bangga mengenalkan istrinya pada semua orang. Acara perkenalan itu pun cukup lama karena banyaknya orang yang ingin berkenalan dengan Elisa. Hingga akhirnya acaranya selesai dan mereka lanjut makan siang. "Baru segini temanmu, tapi sudah berasa banyak sekali, Leo.""Ini belum seberapa, Sayang. Masih
Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kessalahan. Tapi pemenang sejati adalah mereka yang mau mengaku bersalah, bertobat, dan menjadi lebih baik. Elisa tidak pernah menyangka hari itu akan tiba. Bukan hanya hari pernikahannya, tapi hari di mana Arman menunjukkan ketulusan yang paling dalam untuk mendoakan kebahagiaannya. Bahkan Arman rela menukar umurnya demi kebahagiaan Elisa. Sungguh, Elisa tidak bisa mengungkapkan rasa bangga dan bahagianya. Dalam pernikahannya kali ini, semua memberikan restu yang full, tanpa kecuali. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih. Aku akan bahagia kali ini, aku janji," ucap Elisa. "Aku juga bersumpah akan mencintainya dengan hidupku, tidak perlu takut sedikit pun," timpal Leo yang masih enggan memanggil Arman dengan sebutan Ayah. Tapi jawaban itu sudah cukup membuat Arman puas. Ia terus mengusap air matanya, sebelum ia mengangguk, menyerahkan Elisa pada Leo, lalu kembali ke bangku penonton. Sementara Elisa dan Le
"Kau gagah sekali, Bos!" Gary tidak bisa menyembunyikan tatapan kagum dan harunya saat melihat Leo dalam balutan jas formalnya pagi itu. Tentu saja ini bukan pertama kalinya Gary melihat Leo serapi ini. Sebagai seorang bos besar, Leo sudah terbiasa tampil rapi, tapi kali ini, momennya berbeda. Leo akan menikah dan itu membuat Gary terharu. "Aku masih tidak menyangka kau menikah juga, Bos. Selama bersamamu, yang aku tahu hanya ada dendam di hatimu, sampai kau tidak pernah memikirkan masa depan bersama wanita. Aku terharu sekali, Bos. Akhirnya ada Bu Elisa yang akan mengurusmu seumur hidupmu." Leo memicingkan mata mendengarnya. "Ada Elisa? Lalu kau sendiri? Kau sudah lelah mengurusku sampai mau menyerahkan aku pada Elisa, hmm?" Gary tertawa sambil mengusap matanya. "Siapa yang bilang aku lelah? Aku hanya bersyukur ada yang bisa kuajak berbagi karena kau sangat merepotkan! Menjadi asistenmu harus siap 24 jam, siap kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala, harus siap mendaki gunung
"Anda cantik sekali, Bu Elisa!" pekik Ririn bahagia. Hari itu, akhirnya hari yang dinantikan tiba yaitu hari pernikahan Leo dan Elisa. Sejak pagi, Elisa sudah bangun dan dibawa ke ruang VIP hotel untuk dimake up. Ada Bik Imah, Nila, Daisy, dan Ririn yang menemaninya di sana. "Terima kasih, Ririn. Tapi gaun ini mendadak sesak sekali, aku menjadi cebol dengan perut besarku." "Haha, tidak ada yang aneh, Elisa," seru Bik Imah. "Kau sangat cantik." "Itu benar, Bu Elisa. Justru saat hamil besar, aura Anda sangat memancar," timpal Nila. "Aku saja tidak berhenti mengagumi Anda yang masih begitu cantik dengan kehamilan sebesar itu, Bu Elisa," sahut Daisy juga. "Semoga saat aku hamil nanti, aku juga bisa secantik Anda." "Haha, itu pasti, Daisy. Tapi aku tegang sekali. Apa para tamu undangannya sudah datang?" "Sebagian besar sudah. Mereka menginap di hotel ini dan mereka sudah duduk di venue acara sejak tadi," lapor Ririn. "Oh, jantungku makin tidak karuan." "Sekali lagi selamat, Bu El
"Terima kasih, Leo! Terima kasih!" Elisa tidak berhenti menangkup tangan Leo saat mereka sudah berdua lagi di mobil. Elisa tidak menyangka Leo akan mengijinkan Arman menjadi pendampingnya pada pernikahan nanti. "Terima kasih untuk apa, Sayang?" "Untuk semuanya, Leo. Untuk setuju menjadikan ayahku pendampingku di pernikahan." "Seperti katamu, tidak ada yang lebih pantas mengantarmu ke altar selain dia, Sayang." "Leo ...." Elisa menatap Leo penuh syukur. "Tapi apa nanti polisi akan mengijinkannya keluar?" "Aku akan mengurusnya. Mungkin tidak bisa lama, tapi aku pastikan dia akan tetap mengantarmu ke altar pada pernikahan kita besok." "Oh, Leo! Kau tahu kalau semakin hari aku semakin mencintaimu?" Elisa membuka tangannya dan langsung memeluk calon suaminya itu dengan penuh cinta. Tawa dan air mata haru tidak berhenti menghiasi wajah Elisa hari itu, dan Leo sendiri juga selalu bahagia melihat calon istrinya bahagia. Hari itu, mereka lanjut memeriksakan kandungan Elisa. Elisa suda
Elisa tidak bisa menahan air matanya saat ia sudah duduk menunggu kedatangan sang ayah. Jantungnya memacu kencang dan tangannya dingin. Leo sendiri menangkup tangan Elisa. Ini akan menjadi kunjungan pertama mereka dan pertama kali juga mereka akan bertemu Arman sejak Arman divonis waktu itu. Walaupun Elisa belum pernah berkunjung secara langsung, tapi dari pengacara, Elisa tahu bahwa katanya Arman sudah menerima semuanya dan sudah lebih tenang di dalam penjara. Tapi detailnya, Elisa tidak tahu. Elisa pun masih menunggu dengan tegang pertemuan itu, sampai pintu terbuka dan kursi roda itu didorong keluar. Arman masih duduk manis di kursi rodanya dengan jantung yang juga berdebar kencang. Ia sangat penasaran siapa yang datang. Kalau pengacara, biasanya petugas akan langsung mengatakannya. Namun, kali ini, petugas diam. Arman pun makin berdebar penuh harap. Sampai saat kursi rodanya didorong untuk menemui tamunya, dan Arman pun mematung melihat siapa yang menunggunya di sana. Itu El
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







