Home / Zaman Kuno / Asmaraloka Sang Putri Pusaka / Bab 14 Kemesraan Raras dan Rakai

Share

Bab 14 Kemesraan Raras dan Rakai

Author: Fei Adhista
last update Last Updated: 2025-08-27 21:01:28

Raras baru saja selesai mandi ketika suara langkah pelan terdengar mendekat. Aroma sabun masih menempel di kulitnya, rambutnya yang basah menjuntai lembut di bahu. Saat ia tengah merapikan rambut di depan cermin, tiba-tiba sebuah tangan hangat meraih pinggangnya dari belakang.

“Kang Mas…” bisik Raras terkejut.

Rakai tersenyum tipis, memeluk istrinya erat. “Apakah Nimas masih marah padaku?” suaranya rendah, nyaris bergetar.

Raras menepis pelukan itu, meski hatinya sedikit bergetar. “Aku belum terbiasa, jangan terlalu dekat,” ujarnya datar.

Alih-alih tersinggung, Rakai justru meraih tangannya dengan lembut, menggenggam erat. “Kalau begitu… pukul saja aku. Jangan diam terus, nimas. Aku lebih takut kalau kau menjauh.” Nada tulus itu membuat hati Raras bergetar, meski bibirnya tetap kaku.

Namun momen rapuh itu terpecah ketika alarm istana tiba-tiba membahana.

“Penyusup!” seru seorang pengawal dari luar.

Raras refleks menoleh, tubuhnya tegang. Ia meraih keris kecil yang selalu disembunyikan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lidya Kurniaty
bab 14 ada 2 kali, dan tetap bayar koin
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 145

    Dentang lonceng pelabuhan belum selesai ketika halaman dalam Majakirana mendadak riuh. Derap langkah terdengar teratur, berat, datang dari arah barat benteng. Rakai menghentikan langkahnya. Raras ikut menoleh, jari-jarinya mengencang di lengan Rakai.Pasukan.Bukan pengawal istana biasa. Seragam mereka lebih gelap, lambang Majakirana terpasang penuh di dada, pedang terhunus meski masih setengah. Wajah-wajah yang tidak ramah, patuh pada satu perintah, bukan pada keadaan.Seorang perwira maju selangkah. “Atas perintah Pangeran Haryo, Rakai diminta tetap berada di Mandalajati. Sekarang.”Nada itu bukan permintaan.Raras melangkah ke depan tanpa ragu. “Kami baru saja keluar dari pertemuan resmi. Tidak ada keputusan penahanan.”Perwira itu tidak menatap Raras lama. “Perintah sudah jelas.”Dua baris pasukan bergerak, menutup jalan keluar. Rakai menarik Raras ke sampingnya, tubuhnya sedikit condong, posisi melindungi. Tatapannya menyapu cepat. Terlalu banyak untuk dilawan. Terlalu rapi untuk

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 144

    Kereta kuda berhenti di halaman dalam Mandalajati saat senja hampir runtuh. Batu-batu pelataran memantulkan cahaya obor, membuat bayangan para pengawal memanjang seperti jeruji. Rakai turun lebih dulu, lalu membantu Raras turun dengan hati-hati. Tangannya tidak pernah lepas, seolah dunia bisa runtuh jika ia melepas satu detik saja.Pintu aula utama terbuka.Pangeran Haryo berdiri di sana, jubahnya rapi, mahkota tipis bertengger di kepalanya. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Mata itu menatap Rakai lama, lalu turun ke Raras, singgah sepersekian detik di perutnya yang disembunyikan kain longgar.“Adikku akhirnya pulang,” kata Haryo pelan.Kata itu jatuh seperti batu ke air diam.Raras menegang. Rakai tidak. Rahangnya mengeras, matanya menyala tertahan.“Jangan panggil aku begitu di depan orang-orangmu,” jawab Rakai datar.Haryo tersenyum kecil. “Darah tidak berubah hanya karena kau pergi. Kita saudara tiri. Putra ayah yang sama. Hanya ibu yang berbeda.”Pengawal di sekeliling mereka sali

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 143

    Kabut pagi masih menempel di dermaga Mandalajati. Rakai, Raras, Arya, dan Alin menapaki kayu yang basah, perasaan mereka tegang. Belum sempat menyesuaikan diri, beberapa pengawal berseragam Mandalajati muncul dari sisi gudang, pedang dan tombak terangkat.“Berhenti! Siapa kalian? Apa maksud kalian masuk ke Mandalajati?” teriak seorang pengawal bertubuh besar. Suaranya tegas, tidak memberi ruang untuk berdebat.Arya menatap Rakai. Ia ingin menjawab, tapi Rakai mengangkat tangan, menahannya. “Jangan bicara,” katanya singkat.Pengawal itu melangkah maju, lebih agresif. “Kalian harus ikut ke markas! Perintah Pangeran Haryo!”Alin hendak menanggapi, tapi Rakai menatapnya tajam. “Diam. Ikuti arahanku.”Raras, yang berjalan di samping Rakai, menunduk. Tubuhnya lemas, perutnya menonjol karena kehamilan, tapi matanya tetap waspada.Rakai menatap pengawal itu, suaranya tenang tapi tegas. “Kami pedagang lintas kerajaan yang sedang mengalami musibah. Kami diserang dalam perjalanan, dan satu orang

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 142

    Ruang bawah istana Majakirana tidak lembap.Ia terlalu bersih untuk disebut penjara.Obor-obor perunggu berjajar rapi, cahaya mereka memantul pada lantai batu hitam yang licin. Bau dupa tipis menggantikan bau darah, cara Majakirana menyembunyikan kekejamannya.Arum berlutut di tengah ruangan.Tangannya terikat ke belakang, namun punggungnya tetap tegak. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, tapi matanya masih berani menatap lurus.Langkah sepatu bergema.Pangeran Haryo Wirabumi masuk tanpa pengawal.Jubahnya rapi, Wajahnya tampan, tenang terlalu tenang untuk seseorang yang memegang nyawa orang lain.“Arum,” katanya pelan.“Sebutkan namamu, dan katakan pada siapa kau bekerja.”Arum tersenyum tipis, darah mengering di sudut bibirnya.“Aku hanya pengelola penginapan,” jawabnya lirih. “Salahkah perempuan tua mencari makan?”Haryo berhenti tepat di hadapannya.Ia berjongkok, menyamakan tinggi mata mereka.“Kau terlalu cerdas untuk berbohong buruk seperti itu,” katanya lembut. “Dan terlalu berhar

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 141

    Langkah kaki tergesa terdengar di lorong penginapan.Rakai dan Raras serempak menoleh ketika Arya muncul di ambang pintu. Napasnya masih tersengal, wajahnya tegang, mata yang biasanya ringan kini dipenuhi bayang cemas.“Rakai,” katanya cepat. “Raras.”Raras langsung berdiri. “Alin mana?”“Aman,” potong Arya. “Alin bersama Reyas. Tapi… Arum.”Satu kata itu cukup membuat udara di ruangan berubah berat.“Apa yang terjadi?” tanya Rakai, nada suaranya rendah tapi tajam.Arya mengusap wajahnya sebentar, seolah menyusun ulang pikirannya. “Penginapan itu kosong. Terlalu kosong. Tidak ada tanda perkelahian besar, tapi jelas ditinggalkan terburu-buru. Barang-barang Arum masih ada pisau kecilnya, tas obat, tapi dia tidak ada.”Raras menutup mulutnya, jantungnya berdebar keras. “Mungkin dia pergi sendiri?”Arya menggeleng. “Tidak. Ada jejak. Seseorang menariknya. Dan penjaga sekitar penginapan… seolah tidak pernah mengenalnya. Mereka diam tak mau bersuara."Rakai berdiri. Gerakannya tenang, tapi

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 140

    Tabib itu menutup kelopak mata Reyas perlahan. Tangannya berhenti terlalu lama di dada pria itu, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.“Racunnya sudah menjalar,” katanya akhirnya. Suaranya datar, terlalu tenang untuk kabar seburuk itu. “Bukan cepat. Tapi pasti.”Rakai menegang. “Berapa lama?”Tabib itu menghela napas. “Hari, mungkin minggu. Tergantung tubuhnya. Racun ini tidak membunuh dengan tergesa. Ia mematikan harapan pelan-pelan.”Raras yang berdiri di sisi ranjang Reyas membeku. Tangannya masih menggenggam kain basah di dahi sepupunya itu. Wajahnya yang sejak tadi pucat kini benar-benar kehilangan warna.“Tidak,” bisiknya. “Tidak mungkin…”Kepalanya berdenyut keras. Ruangan terasa berputar. Bau ramuan yang tadinya pahit kini menusuk. Raras terhuyung satu langkah.“Raras,” Rakai cepat menangkapnya.Namun lututnya sudah melemah. Pandangannya mengabur, suara Rakai terdengar jauh, seperti tenggelam di air. Dunia menghitam sesaat tidak sepenuhnya pingsan, tapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status