Share

90. waktu

Penulis: PengkhayalMalam
last update Tanggal publikasi: 2026-01-10 21:01:11

Namun waktu, seperti biasa, tidak puas dengan akhir yang rapi.

Beberapa dekade kemudian, peta dunia berubah. Bukan karena perang besar, melainkan karena **pergeseran pelan**—jalur dagang pindah, pelabuhan baru muncul, teknologi sederhana mempercepat perjalanan. Kerajaan yang dulu berada di simpul kini perlahan menjadi pinggiran.

Tidak ada kepanikan. Justru itu masalahnya.

Pendapatan menurun sedikit demi sedikit. Anak muda pergi ke kota lain. Balai kota tetap rapi, papan pengumuman tetap ada, te
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   123. Kemenangan Desa

    Malam turun tanpa upacara. Wilin tidak punya waktu untuk merayakan selamat; mereka bekerja. Obor dipasang di setiap sudut, penjaga ditempatkan di titik-titik tinggi, dan warga yang masih sanggup mengangkat alat langsung memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Tidak ada sihir, tidak ada mantra—hanya kayu, batu, tali, dan tangan yang bergerak cepat.Rael terbaring di dalam rumah batu milik tetua desa. Bukan karena ia ingin istirahat, tapi karena tubuhnya memaksa. Napasnya masih berat, dan lengan kanannya dibalut kain tebal yang mulai menghitam oleh darah yang merembes. Tidak ada cahaya lagi di sana—hanya retakan kulit yang kini terlihat seperti luka bakar dalam.Serath berdiri di dekat pintu, mengamati tanpa menyentuh. Lina duduk di sisi tempat tidur, memegang mangkuk air dan kain, meski caranya jelas lebih cocok untuk bertarung daripada merawat orang.“Kalau kau mati, aku akan marah,” kata Lina datar.Rael membuka satu mata. “Ancaman yang menakutkan.”Serath tidak ikut bercanda. “Kita ti

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   123 Pasukan musuh

    Retakan kecil di permukaan cakram itu semakin jelas setiap kali hujan pedang cahaya menghantam kubah batu. Setiap benturan membuat pilar-pilar bumi bergetar hebat, serpihan batu rontok, dan tanah di bawah kaki Rael berderak seperti akan pecah kapan saja. Namun aliran energi yang ia salurkan tetap stabil—tipis, terarah, dan kejam dalam efisiensinya. Ia tidak lagi melawan secara langsung; ia menahan, membelokkan, lalu mengembalikan tekanan itu ke sumbernya.Elyra menyadari perubahan itu.Matanya menyipit, tangan yang terangkat mulai bergetar halus. Ia mempercepat putaran cakram, memaksa lebih banyak hujan pedang turun sekaligus, mencoba menghancurkan kubah sebelum efek baliknya membesar. Langit di atas Wilin kini seperti lautan cahaya yang runtuh tanpa henti.Di bawahnya, Rael berdiri seperti poros.Darah menetes dari ujung dagunya, namun matanya tetap fokus ke atas.“Sedikit lagi…” gumamnya pelan.Serath yang berdiri di sisi dalam kubah menatap dengan napas tertahan. Ia bisa melihat ap

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   122 Terdesak

    Angin malam pertama mulai turun di atas Wilin ketika kata-kata Serath menggantung di udara. Tidak ada yang berbicara sesaat setelah itu. Bahkan Elyra yang berdiri di kejauhan tampak menilai ulang, seolah ia tahu persis arti “segel inti”.Lina menoleh cepat ke Serath. “Kenapa kau baru bilang sekarang?”“Karena aku berharap dia punya sisa akal.”“Aku punya,” jawab Rael santai.Lina menunjuknya marah. “Tidak kelihatan!”Rael mengabaikan mereka. Ia berdiri diam dengan mata terpejam, napas perlahan masuk dan keluar. Tubuhnya yang sejak tadi dipenuhi tekanan kini justru tampak tenang—terlalu tenang. Darah di sela kuku berhenti menetes. Getaran aura di sekelilingnya meredup hingga nyaris tak terasa.Elyra mengangkat tangan memberi isyarat pada avatar bersayapnya untuk menahan serangan.“Menarik,” katanya dingin. “Aku ingin melihat apakah rumor terakhir juga benar.”Rael membuka satu mata. “Rumor tentang aku tampan ternyata populer sekali.”Tidak ada yang tertawa kali ini.Serath melangkah ma

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   21 Hilang satu Kota

    Rantai-rantai cahaya turun dari langit seperti hujan ular putih. Mereka tidak sekadar jatuh, tetapi membelok, mengejar, dan mengunci ruang gerak. Setiap mata rantai mengeluarkan suara berdenging yang menusuk kepala, membuat beberapa warga yang bersembunyi menutup telinga sambil meringkuk di lantai rumah.Rael berdiri di tengah hujan serangan itu dengan napas panjang yang belum selesai keluar. Bahunya turun, lutut sedikit ditekuk, kedua tangan terbuka tanpa aura mencolok.Lina menatap bingung. “Cara lama itu apa?”Serath menjawab lirih, seolah tidak yakin ingin melihatnya. “Sesuatu yang biasanya membuat tukang bangunan menangis.”Rantai pertama menyambar pergelangan kaki Rael.Ia melangkah setengah jengkal ke kiri.Rantai itu hanya menangkap bayangan gerakannya dan menghantam tanah.Rantai kedua mengincar leher.Rael menunduk.Rantai ketiga datang dari belakang pinggang.Ia memutar pinggul tipis, membiarkannya lewat sejari dari pakaian.Lalu serangan datang puluhan sekaligus.Yang terj

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   120. Pertempuran

    Penghalang kedua pecah seperti kaca raksasa yang dihantam palu dari segala sisi. Pecahan cahaya beterbangan di udara sebelum lenyap, dan puluhan prajurit berjubah abu-abu langsung menerobos ke jalur utama desa. Teriakan perang mereka tetap tidak terdengar; pasukan itu menyerang dalam diam yang mengerikan.Rael masih berdiri di depan gerbang dengan satu tangan terangkat.Aura yang terkumpul di telapak tangannya kini berubah warna samar—bukan cahaya terang, melainkan pijar redup seperti bara yang tertutup abu. Udara di sekelilingnya memanas perlahan, lalu semakin cepat.Lina mundur setengah langkah. “Kenapa aku tiba-tiba berkeringat?”Serath menatap tangan Rael dengan wajah tegang. “Karena orang gila ini mau menyalakan sesuatu yang seharusnya tetap tidur.”Rael mendecak. “Kau pandai merusak suasana.”Barisan depan pasukan sudah berjarak kurang dari lima puluh langkah. Tombak kabut terangkat, rantai abu-abu berputar, dan para pemanah energi menarik busur bercahaya.Elyra di kejauhan akhi

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   119. Kekuatan musuh

    Debu tebal di jalan utara terus naik ke langit seperti kabut kering yang dipaksa berlari. Dari bukit tempat Serath berdiri, garis panjang itu tampak jelas bergerak mendekat, bukan angin biasa, bukan kawanan hewan liar. Itu irama langkah banyak orang yang bergerak serempak. Ia menutup gulungan kecil di tangannya lalu turun dari bukit tanpa membuang waktu.Di bawah, Rael masih memanggul batu besar di bahu sambil berjalan santai menuju pinggir kawah ladang. Anak-anak bersorak setiap kali ia melempar batu ke dalam lubang dan tanah bergetar kecil. Lina sedang memeriksa pagar baru ketika Serath datang dengan wajah lebih keras dari biasanya.“Kumpulkan semua orang sekarang,” katanya singkat.Lina langsung berhenti bercanda. “Berapa buruk?”“Cukup buruk sampai aku tidak mau menjelaskannya dua kali.”Nada itu membuat Lina berlari ke tengah desa dan memukul lonceng kayu sekuat tenaga. Suara nyaring menggema ke seluruh Wilin. Warga yang sedang memasak, memperbaiki atap, atau membawa air segera k

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   71. pengejaran senyap

    Perintah Raja dijalankan tanpa teriakan, tanpa derap berlebihan. Inilah cara istana bekerja ketika situasi genting—sunyi, cepat, dan mematikan bagi siapa pun yang lengah.Gerbang utama ditutup perlahan, seolah hanya pergantian jaga biasa. Di pelabuhan, kapal-kapal dagang ditahan dengan alasan inspe

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   42. Tekanan Piskologi

    Yubi menggigit bibirnya, ketakutan semakin menusuk ke dalam dada. Ia menatap ibunya dengan mata merah.“Bu… kita tidak bisa menyentuh Rael,” katanya dengan suara pecah.“Sekarang dia didukung oleh Raja. Bahkan para penasehat pun takut padanya.”Sang Nyonya mendengus pelan, namun ada keraguan di mat

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   62. Badai Utara

    Rael menegakkan tubuhnya, meski rasa kantuk sejak tadi terus menarik kelopak matanya turun. Ia merapikan kerah bajunya yang berdebu, lalu berjalan menyusuri lorong menuju pintu balai utama istana. Suasana di dalam terasa berat—senyap, namun penuh tekanan yang sulit didefinisikan.Paman Halim berdir

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   72. konsekuensi jangka panjang

    Malam itu, setelah istana kembali sunyi dan para bangsawan pulang dengan pikiran masing-masing, Rael belum tidur.Ia duduk sendirian di ruang arsip kecil yang jarang dipakai—ruangan tanpa lambang keluarga, tanpa penjaga tetap. Tempat yang aman justru karena dianggap tidak penting.Di hadapannya han

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status