แชร์

90. waktu

ผู้เขียน: PengkhayalMalam
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-10 21:01:11

Namun waktu, seperti biasa, tidak puas dengan akhir yang rapi.

Beberapa dekade kemudian, peta dunia berubah. Bukan karena perang besar, melainkan karena **pergeseran pelan**—jalur dagang pindah, pelabuhan baru muncul, teknologi sederhana mempercepat perjalanan. Kerajaan yang dulu berada di simpul kini perlahan menjadi pinggiran.

Tidak ada kepanikan. Justru itu masalahnya.

Pendapatan menurun sedikit demi sedikit. Anak muda pergi ke kota lain. Balai kota tetap rapi, papan pengumuman tetap ada, tetapi isinya semakin tipis. Kebiasaan masih dijalankan, namun tanpa arah baru, ia berubah menjadi ritual kosong.

Dan di sinilah kisah Rael menemukan gema terakhirnya.

Seorang pemuda bernama **Saren**, anak nelayan, kembali setelah bertahun-tahun merantau. Ia tidak membawa ide besar—hanya pertanyaan yang salah tempat.

“Mengapa semua ini dibuat?” tanyanya di rapat desa, menunjuk jadwal, papan, dan laporan.

Orang-orang terdiam. Mereka bisa menjelaskan *bagaimana*, tapi tidak *mengapa*.

Saren tidak m
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   91. ketenangan

    Namun ketenangan bukanlah garis akhir ia hanya jeda panjang sebelum pertanyaan berikutnya lahir.Puluhan tahun setelah pelabuhan lama menjadi taman, negeri itu tak lagi disebut kerajaan oleh dunia luar. Ia dikenal sebagai **wilayah perlintasan** tidak kaya, tidak miskin, tapi selalu relevan. Orang datang bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk belajar bagaimana sebuah tempat bisa bertahan tanpa menonjol.Di pusat logistik baru, sistem berjalan rapi. Terlalu rapi, kata sebagian orang. Segalanya tercatat, dievaluasi, ditinjau. Hampir tak ada ruang untuk kesalahan dan di situlah masalah baru tumbuh.Ketika kesalahan menjadi langka, **keberanian ikut menghilang**.Tak ada yang mau mencoba hal baru jika risiko harus dijelaskan terlalu sempurna. Tak ada yang mau gagal jika kegagalan harus dipertanggungjawabkan di papan publik. Kebiasaan yang dulu melindungi kini tanpa sadar menekan.Seorang perempuan muda bernama **Mira**, pengelola gudang distribusi, menyadari itu saat satu usulannya ditund

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   90. waktu

    Namun waktu, seperti biasa, tidak puas dengan akhir yang rapi.Beberapa dekade kemudian, peta dunia berubah. Bukan karena perang besar, melainkan karena **pergeseran pelan**—jalur dagang pindah, pelabuhan baru muncul, teknologi sederhana mempercepat perjalanan. Kerajaan yang dulu berada di simpul kini perlahan menjadi pinggiran.Tidak ada kepanikan. Justru itu masalahnya.Pendapatan menurun sedikit demi sedikit. Anak muda pergi ke kota lain. Balai kota tetap rapi, papan pengumuman tetap ada, tetapi isinya semakin tipis. Kebiasaan masih dijalankan, namun tanpa arah baru, ia berubah menjadi ritual kosong.Dan di sinilah kisah Rael menemukan gema terakhirnya.Seorang pemuda bernama **Saren**, anak nelayan, kembali setelah bertahun-tahun merantau. Ia tidak membawa ide besar—hanya pertanyaan yang salah tempat.“Mengapa semua ini dibuat?” tanyanya di rapat desa, menunjuk jadwal, papan, dan laporan.Orang-orang terdiam. Mereka bisa menjelaskan *bagaimana*, tapi tidak *mengapa*.Saren tidak m

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   89. Waktu tidak berhenti

    Waktu tidak berhenti setelah Elin.Justru di sanalah ia mulai bekerja paling keras.Beberapa musim setelah banjir timur, kerajaan menghadapi sesuatu yang lebih sulit dari bencana alam: **kesepakatan besar**. Negara tetangga mengajukan perjanjian dagang jangka panjang—menguntungkan di atas kertas, menenangkan di pidato, tapi mengikat pelan-pelan. Banyak yang tergoda. Stabilitas membuat orang mencintai kepastian, bahkan ketika kepastian itu adalah belenggu halus.Elin kini duduk di kursi rapat, bukan lagi di sudut. Ia mendengar kata-kata yang rapi, angka-angka yang tersenyum. Ia merasakan kejenuhan yang dulu hanya dibaca Rael sebagai gejala awal.Ia tidak menolak perjanjian itu.Ia hanya meminta satu hal.“Masukkan klausul tinjauan lima tahunan,” katanya. “Dan hak keluar tanpa sanksi jika diputuskan lewat sidang terbuka.”Seorang diplomat tertawa kecil. “Kau tidak percaya mitra kita?”Elin menjawab dengan kalimat yang ia temukan di catatan lama, meski tak tahu siapa penulisnya. “Keperca

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   88. tahun yang berganti

    Tahun berganti tanpa perayaan besar. Itu disengaja.Kerajaan memilih menandai waktu dengan laporan singkat—apa yang berhasil, apa yang gagal, dan siapa yang bertanggung jawab. Di balai kota, papan-papan lama diganti. Tulisan diperbarui. Tidak indah, tapi jujur.Rael membaca semuanya sekali, lalu berhenti. Ia belajar kapan harus melepaskan.Namun sebuah catatan kecil menarik perhatiannya: **komisi pelabuhan sementara diperpanjang untuk ketiga kalinya**. Tidak salah. Tapi kebiasaan darurat yang terlalu lama selalu berubah watak.Ia mendatangi rapat komisi. Duduk di belakang. Mendengar alasan-alasan yang masuk akal—cuaca, keamanan, transisi. Lalu ia bertanya satu kalimat, pelan namun tepat sasaran.“Kapan tepatnya sementara ini berakhir?”Ruang hening. Ketua komisi menyebut tanggal. Rael mengangguk. “Tuliskan. Umumkan. Pasang jamnya.”Besoknya, jam pasir besar dipasang di pelabuhan—simbol yang disepakati. Bukan ancaman, melainkan pengingat. Orang-orang menertawakannya. Lalu menunggu.---

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   87. hari ketika raja jatuh sakit

    Hari ketika Raja jatuh sakit, lonceng istana tidak dibunyikan.Bukan karena ingin menyembunyikan, melainkan karena kebiasaan baru: tidak ada keadaan darurat yang diumumkan sebelum kerangkanya siap. Rael sedang di pelabuhan ketika kabar itu sampai—lewat kurir yang kehabisan napas, bukan dekret.Ia tidak berlari. Ia berjalan.Di ibu kota, Dewan Hukum sudah berkumpul. Wajah-wajah yang dulu mudah terbakar kini lebih terkendali, meski ketegangan tetap terasa. Rael berdiri di belakang lagi, tempat yang paling ia sukai. Seorang hakim tua membuka sidang, membaca kerangka darurat yang telah disahkan berbulan lalu. Tidak ada perebutan kata. Hanya jeda-jeda yang diisi napas panjang.“Pelaksanaan dibatasi tujuh hari,” kata hakim itu. “Ditinjau publik. Diperpanjang hanya dengan alasan tertulis.”Rael mengangguk pelan. Kebiasaan bekerja.---Di luar, kota bergumam. Tidak panik, tetapi waspada. Papan pengumuman dipenuhi penjelasan singkat—apa yang dilakukan, siapa bertanggung jawab, kapan berakhir.

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   86. musim dingin

    Musim dingin turun perlahan, bukan dengan salju tebal, melainkan angin tajam yang memotong percakapan. Di pelabuhan, layar-layar kapal digulung lebih awal. Orang-orang belajar pulang sebelum gelap. Di saat seperti itu, keputusan kecil terasa lebih berat dari biasanya.Rael menerima kabar singkat dari selatan: gagal panen kedua menyusul. Bukan bencana—belum—tetapi cukup untuk menekan cadangan. Yang lebih mengkhawatirkan, muncul suara-suara yang mulai merindukan “tangan kuat”. Kalimatnya sama, nadanya sama. Sejarah jarang kreatif.Rael tidak menulis surat. Ia berangkat.Bukan ke istana. Ia menuju desa-desa di selatan, menempuh jalan berlumpur, menginap di rumah-rumah kayu. Ia mendengarkan—lebih banyak daripada berbicara. Petani menyebutkan benih yang tak cocok. Kepala desa menyebutkan gudang yang terlalu jauh. Pedagang kecil menyebutkan ongkos yang melonjak karena perantara.Di satu desa, seorang perempuan tua bertanya, “Apakah Raja tahu?”Rael menjawab jujur. “Ia tahu sebagian. Kita ak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status