LOGINRhea Kirstie Campbell has a great rage to her ex-boyfriend named Giovanni Taylor Miller after the latter left her and chose a brighter future without her. When she thought she's already moved on from him, Giovanni suddenly showed himself, making her life upside-down.
View More"Makanya jadi perempuan jangan sombong, Zea. Pas dilamar juragan teh ditolak, malah milih sama pria miskin dan jelek. Susah sendiri kan sekarang?”
"Bayangkan coba kalau punya anak. Pasti di mukanya ada tompel juga, kayak bapaknya.” “Lah, iya. Aduh.” Tawa berkumandang. “Mendingan juragan teh waktu itu. Meski tua, tapi kan dia kaya.” “Bener. Yang ini juga, meski miskin, harusnya ganteng gitu. Paling nggak enak dilihat. Bukannya cupu dan lusuh begini.” “Kayaknya benar kata tetangga. Si Zea diguna-guna, makanya mau sama suaminya.” “Heh, guna-guna juga butuh duit. Suaminya kan miskin!” Zea hanya diam saja sembari menyiapkan nasi untuk Gio, suaminya. Ia mencoba tidak memedulikan ocehan ibu tiri dan kedua saudara sambungnya, sekalipun ia tahu dengan pasti bahwa mereka tengah mengejek sang suami yang baru saja menikahinya dua minggu yang lalu. Pernikahan Zea memang termasuk dadakan dan tiba-tiba. Ia pun sebenarnya belum terlalu lama mengenal Gio. Hanya saja, pria itu pernah menyelamatkannya saat Zea dikejar anak buah juragan teh dan dipaksa menikah, hingga akhirnya Zea memilih untuk menerima lamaran Gio dan menikahi pria tersebut. Toh, Zea berpikir bahwa lebih baik ia begini daripada menjadi istri keempat dari juragan teh tersebut. "Ze, Mas langsung berangkat saja ya. Sudah siang,” ucap Gio tiba-tiba, menyadarkan Zea bahwa ia sempat melamun. “Nanti Mas ditegur Bos.” “Oh, iya, Bang. Nggak makan di rumah ya?” Zea buru-buru menyelesaikan kotak bekal untuk suaminya. “Ini, Bang.” Gio mengangguk. Pria itu kemudian bangkit dan mengulurkan tangan pada ayah Zea, berniat mencium punggung tangan sang ayah mertua sembari pamit. Namun, pria paruh baya itu menolak. Tidak hanya itu, ibu tiri Zea pun melakukan hal yang sama. “Nggak usah cium-cium!” sentak sang ayah. "Iya, Gio. Jangan pamit cium tangan. Jalan aja sana," ujar Bu Layla, ibu tiri Zea. “Saya nggak mau kulit saya kena tompel kamu.” “Ayah, Ibu. Kalian kenapa sih?” kata Zea. Ia merasa bersalah. Menurut dia, penghinaan pada suaminya tersebut berlebihan. “Kalian sudah menjadi orang tua Gio juga. Suamiku hanya ingin cium tangan buat pamit.” "Kalau mau pamit, ya pamit aja. Pakai mulut aja kan bisa." Kini Pak Mansyur, ayah Zea ikut bicara. Sejak menikah dengan istri keduanya, ayah Zea selalu saja sepemikiran dengan ibu sambung Zea tersebut. Menurut, dan ikut apa yang dikatakan Bu Layla. Awalnya, Zea pernah berpikir bahwa pernikahan kedua sang ayah akan membawa kebahagian untuknya. Apalagi, ibu kandung Zea sudah lama meninggal. Namun, ternyata dugaan Zea salah. Tidak hanya Zea makin tersisih, sang ayah juga selalu lebih memprioritaskan kedua putri sambungnya daripada Zea selaku anak kandungnya sendiri. “Tapi, Yah–” "Ze, sudah. Biarkan saja." Gio menarik tangan istrinya keluar rumah. “Mas tidak apa-apa.” "Mas, maaf,” ucap Zea. Wanita itu menunduk. “Kalau bukan karena Zea yang membawa Mas masuk dalam keluarga Zea, mungkin Mas enggak akan sering dihina begini." Gio menepuk pundak sang istri, lalu tersenyum. "Tidak masalah. Mas benar-benar tidak apa-apa,” ucap pria itu dengan suara tenangnya. “Atau … apa Zea mau pindah saja? Kita pergi ke kontrakan? Kalau Zea mau, Mas carikan kontrakan kecil." Zea bungkam. Seketika dia berpikir, jika mereka pindah keluar rumah keluarganya, pasti kebutuhan akan tambah banyak. Apalagi saat ini Zea masih ada tanggungan dan harus bekerja untuk melunasi utang sang ayah karena dirinya tak jadi menikah dengan juragan teh yang dikoar-koarkan oleh ibu tirinya. "Zea enggak masalah di sini. Uang Mas simpan saja.” Akhirnya Zea menolak. “Oh ya, Mas. Bukannya Mas harus segera berangkat? Nanti dimarahi bos Abang.” Gio tiba-tiba mengulurkan tangannya, membuat Zea bingung kenapa pria itu masih berdiri dan justru memberikan tangannya. "Walau pernikahan kita di atas dadakan, apa Zea nggak mau mencium tangan Mas?" Seketika, Zea tersipu malu. "Eh, iya,” gumam wanita itu. Dengan segera, Zea langsung mencium takzim tangan Gio. Sang suami pergi dengan mengendari motor butut, meninggalkan Zea yang masih berdiri di halaman sampai Gio menghilang dari pandangan. Baru setelah itu, Zea kembali ke dalam rumah. Rupanya, di dalam, para anggota keluarganya sudah selesai makan. "Rapikan dulu meja makan!" titah ibu tirinya saat melihat Zea. "Bu, kan ada Sella. Aku mau berangkat kerja, sudah siang ini," tolak Zea halus, mengusulkan agar saudara sambungnya saja yang beres-beres untuk kali ini. Toh, setiap harinya, Zea lah yang melakukan hal tersebut. "Ih, aku juga mau berangkat kerja.” Sella langsung menukas. “Aku tuh kerja di kantoran. Gaji besar, penampilan harus selalu rapi dan wangi. Kalau kamu kan nggak masalah.” “Benar, Ze. Sella kan sayang kalau dipecat,” imbuh sang ibu tiri. “Kalau kamu, cuma pegawai toko aja. Bisalah cari kerja lagi kalau kena tegur atau pecat.” Mendapat dukungan, adik sambungnya langsung menyambar tas lalu pamit pada ayah dan ibunya. lalu berbalik badan dan mengejek Zea. Sama halnya dengan sang kakak, dia pun gegas pergi dengan suaminya. Ditinggalkan begitu, Zea hanya menarik napas lalu membersihkan meja makan dan mencuci piring. Dukanya sebagai anak kandung sang ayah malah seperti anak pungut atau justru pembantu. "Zea, listrik bulan ini kamu yang bayar, ya kan kamu sudah menikah.” Tiba-tiba Bu Layla berucap. “Jadi, kalau mau tinggal di sini enggak gratis.” "Loh, kan Zea sudah bayar utang ayah. Masa harus bayar listrik juga, Bu?” balas Zea, terkejut. “Kak Dara juga harus bayar.” Sesungguhnya, Zea kesal karena semua menjadi dia yang menanggung. Harusnya Kakak dan adiknya juga ikut andil. Saat sang ayah masih kaya raya saja yang menikmatinya mereka bertiga. Setelah jatuh miskin, dirinya yang harus banting tulang bayar utang. Namun, Zea masih berusaha menahan kekesalan agar tetap di hatinya saja. "Dara kan sedang hamil, dia butuh uang banyak untuk persiapan lahiran." "Farhat banyak uang Bu, dia anak orang kaya. Kerja di perusahaan bagus, masa enggak mampu bayar listrik yang hanya lima ratus ribu." Zea berusaha untuk membela diri. "Sudah jangan banyak protes. Pokoknya bulan ini kamu yang bayar, atau–" "Atau apa Bu?" "Kupaksa Gio Menceraikan kamu dan kamu harus menikah dengan juragan teh!"Third Person's Point of ViewNag-aalala man sa mga posibleng mangyayari sa susunod na mga araw ay hindi na nagpatinag sina Kirstie at Taylor. Nagpatuloy sila sa relasyon nila at hindi nila hinahayaan ang relasyon nila na siyang maapektuhan sa kung anumang nasa paligid nila. Masakit para kay Taylor na hindi boto ang ina niya sa babaeng pinakamamahal niya, pero hindi naman niya ito mapipilit kaya hinayaan na niya ang ina. Umaasa nalang siya na sana ay darating ang araw na boto na ito kay Kirstie at hindi na sila kokontrahin pa, lalo na ang relasyon nila.Doon nga, sa hinaba-haba ng prosisyon ay dumating na nga ang inaantay ng lahat. Ang maikasal sina Kirstie at Taylor.Pamahiin ng kasal na hindi pupuwedeng magkita ang groom at ang bride, pero iba ang ginawa ni Taylor. Siya mismo ang nagdrive sa bridal car na sana ay nasa simbahan na siya at naghihintay nalang sa pagdating ni Kirstie sa harapan ng simbahan."Hoy, okay lang ba talagang ikaw ang nagda-drive sa akin? Alam mo naman na bawal
Third Person's Point of View"Anong meron? Ba't nagkakasiyahan yata kayong lahat dito?"Kung kanina ay halos mapuno ng kantyawan at tawanan ang cottage na inukupa nila, ngayon ay halos napipi naman silang lahat dahil ni isang tunog ay wala silang ginawa.Nagpalipat-lipat ang tingin ni Mrs. Miller sa lahat at doon ay peke nang napapatawa, bagay na siyang ikinangiwi na ng iba."Taylor, anak. Nagbakasyon ka pala kasama ang mga barkada mo at mukhang may nagaganap na handaan, bakit hindi mo manlang inimbita ang sarili mong ina?" pangongompronta na ni Mrs. Miller na siyang ikinatayo na ni Taylor."Ma, tama na. Tara na sa labas. Do'n tayo mag-usap---"Hindi paman tapos sa sasabihin si Taylor ay sumingit na si Mrs. Miller, tila pilit na sinisingit ang sarili sa ginagawa ng mga ito sa naturang cottage."Hindi, e. Bakit hindi mo manlang ako nagawang naimbitahan na magbakasyon, Taylor? Kahit si Melanie na siyang fiancee mo nalang ang isinama mo pero kahit siya ay hindi mo naimbitahan," pangongom
Third Person's Point of ViewMatapos mapaglinaw ang lahat ay tila nawala ang mabigat na bagay na nakadagan sa dibdib nina Kirstie at Taylor. Naging mas magaan ang pakiramdam nila at tila ay mas naging malinaw ang nararamdaman nila para sa isa't isa, hindi kagaya noon na kahit na ano pang pilit nilang pagkumbinsi sa sarili nilang mahal nila ang isa't isa ay alam nilang may parte sa mga puso nila ang may pagdududa. Tila may kulang. Tila may pangamba na kahit pilitin man nilang baliwalain ay pilit namang sumasagi sa isipan nila. At ngayong wala na ang nakadagang bagay na iyon ay hindi nalang maiwasan ng dalawa ang maging masaya para sa isa't isa."Good morning, love," nakangiting wika ni Taylor nang magsimulang gumalaw si Kirstie sa tabi niya. Kanina pa siya nakatitig sa fiancee niya at ngayon ngang nagigising na ito ay sinalubong na niya ito ng magandang pagbati sa umaga."Mmm, morning," pag-ungol ni Kirstie habang nakapikit parin ang dalawang mga mata.Napangisi si Taylor at pinatakan
Third Person's Point of View"Bakit nandito ka pa sa may balcony? Malamig na dahil masyado nang malalim ang gabi. Baka sipunin ka pa, alam mo namang huling araw na natin bukas dito sa Siargao, dapat sulitin na natin bukas," wika pa ni Taylor na nakayakap na ngayon sa likuran ni Kirstie.Napapasandal naman sa dibdib ang babae at saka ay humilig na doon. Malalim pa siyang napapabuntong-hininga bagay na siyang ikinatingin na ni Taylor sa kanya."Bakit ang lalim ng buntong-hininga mo? May problema ka ba?" kapagkuwan ay pagtatanong ni Taylor sa fiancee na siyang magiging asawa na niya sa susunod na buwan."Wala. Naiisip ko lang. Kung hindi tayo nagkahiwalay, siguro ay matagal na tayong buo. Siguro ay marami na tayong anak," nakatawang wika ni Kirstie na siyang ikinangisi naman ni Taylor sa likuran niya."Kung 'yan ang iniisip mo, pupuwede pa naman tayong humabol. 'Wag kang mag-alala, kahit ipagsunod-sunod ko pa iyan," mapaglarong wika ni Taylor na siyang ikinailing-iling nalang ni Kirstie.
Third Person's Point of View"Taylor, anong ginagawa mo? May kausap pa ako," ani Kirstie na siyang mabilis na ikinatigil na ni Taylor sa paglalakad."What? Mas gusto mong kausap ang lalaking 'yon kaysa ang makasama ako?" tila nagtatampong wika ni Taylor na siyang ikinatawa nalang ni Kirstie."Ano bang
Third Person's Point of ViewNang matapos ang kapagod-pagod na gabing iyon ay halos hindi na bumangon si Kirstie sa higaan niya yakap-yakap si Taylor na ngayon ay nakangiti nang nakatitig sa maganda niyang mukha. Tulog na tulog pa siya kanina pero naalimpungatan siya nang maramdamang kanina pa may na
Third Person's Point of ViewMabilis na napahalakhak si Taylor nang makita ang naging reaksyon ni Kirstie sa mukha nito. "What? Don't tell me you're blushing at that? Bakit? Hindi ka narin ba makapag-antay na masolo ako?" mapaglaro at mapanuksong wika ni Taylor na siyang mabilis nang ikinasagitsit ni
Third Person's Point of View"Kirstie!"Mabilis na napalingon si Kirstie sa gawi ng tumawag sa kanya at ganoon nalang ang pagtalon ng puso niya nang makita sina Rachel at Allyson na siyang todo ngiti naman ngayon sa gawi niya."Rach! Ally! Kailan lang kayo dumating?" halos tumitiling wika ni Kirstie. M


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore