Share

Bab 4: Bukan Yasmina

Author: QueenShe
last update Last Updated: 2026-02-09 10:27:44

Yasmin merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Derap langkah kuda dan gesekan roda tandu di atas tanah hutan terdengar seperti dentuman palu yang menghantam kepalanya. Ia duduk tegap, matanya tak lepas dari noda darah di tangannya.

Setiap kali memejamkan mata, bayangan pria bertopeng yang ia tebas kembali muncul. Sensasi mengerikan saat bilah pedang menembus daging, suara rintihan kesakitan. Semuanya membuat perutnya bergejolak. Rasa bersalah menghimpit dadanya begitu sesak hingga ia sulit bernapas. Sebagai Yasmin yang hidup di dunia modern, melukai seseorang adalah mimpi buruk yang tak terbayangkan—meskipun di dunia Throne of Thorns, hal itu biasa saja.

“Bagaimana kalau aku tidak bisa pulang ke duniaku? Bagaimana jika aku selamanya terjebak dalam novel ini dan melihat lebih banyak hal seperti ini?” tanyanya pada diri sendiri.

Tanpa disadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang kotor. Yasmin tidak terisak, juga tidak meraung. Ia hanya menangis dalam diam, membiarkan butiran bening itu mengalir melewati noda darah di wajahnya.

Ekspresinya menunjukkan keputusasaan, jiwanya meneriakan rasa frustasi yang mendalam.

Erion, yang berkuda tepat di sisi tandu terbuka yang membawa sang putri, tidak pernah melepaskan pandangannya dari Yasmin. Netra hazel-nya terus menyapu setiap gerak-gerik wanita itu dengan ketajaman seorang pengintai.

Alisnya bertaut rapat. Ia memperhatikan bagaimana air mata itu jatuh satu demi satu ke atas gaun sutra hijau yang sudah tidak seindah sebelumnya. Air mata itu mengusik benaknya.

“Dia menangis?” batin Erion, kebingungan mulai mengambil alih akal sehatnya. “Kenapa? Seorang Yasmina tidak pernah menangis, terkecuali jika keinginannya tidak dituruti atau dia ingin memanipulasi orang lain. Tapi tangisan diam ini, kenapa terlihat begitu tulus dan menyedihkan? Apa dia tengah merengek mencari perhatian?”

Sepanjang yang Erion tahu, Yasmina adalah wanita yang sangat terobsesi padanya. Rasa suka Yasmina sudah dimulai sejak Yasmina masih kecil.

Sebuah perasaan posesif yang tumbuh menjadi cinta buta seiring Erion meraih prestasi sebagai Panglima. Yasmina pulalah yang membujuk Raja Hazir untuk menjodohkan mereka.

Seharusnya sekarang Yasmina akan membusungkan dada dan terus-menerus membicarakan jasanya. Ia akan berkata, “Erion, lihatlah! Aku menyelamatkan nyawamu! Kau berhutang nyawa padaku, jadi kau harus mencintaiku lebih dari apapun!” Yasmina akan menuntut pujian dan perhatian tanpa henti sebagai imbalan atas darah yang tumpah.

Tapi wanita di tandu itu hanya diam membisu sambil berderai air mata, menatap tangannya dengan ngeri. Reaksinya benar-benar mengusik pikiran Erion.

“Sandiwara apa lagi yang ia mainkan?” batin Erion bertanya-tanya.

Sesampainya di kamp utama, Yasmin, yang masih didera rasa mual akibat aroma darah di tangannya, segera mengusap air mata di pipinya. Ia menatap pria paruh baya dengan jubah kebesaran berwarna merah dan mahkota di atas kepalanya yang berdiri paling depan.

Ia terlihat khawatir. Di samping Raja, seorang wanita anggun dengan gaun beludru biru tua yang wajahnya pucat pasi karena cemas—Ratu Cassia. Dan di belakangnya, berdiri seorang pria muda dengan jubah kebesaran berwarna biru yang memancarkan aura keangkuhan yang sama dengan Yasmina—Ohmad, sang Putra Mahkota sekaligus kakak laki-laki Yasmina.

Begitu Yasmin turun dari tandu dengan kaki yang masih lemas, Ratu Cassia langsung berlari mendekat dengan wajah kalut. Ia memeluk erat Yasmin.

“Yasmina! Putriku! Kau baik-baik saja?!”

Reaksi Yasmin begitu kaku, penuh kecanggungan. Semuanya asing baginya—Yasmin tidak mengenal mereka. Setelah pelukan Ratu terlepas, Raja Hazir memegang bahu Yasmin, memeriksa luka yang dibebat kain putih.

“Siapa yang berani menyentuh putriku?! Erion, kenapa kau membiarkannya terluka?!” tanya Raja penuh otoritas.

Erion turun dari kuda dan berlutut satu kaki, memberikan hormat militer yang kaku. “Hamba memohon ampun, Baginda. Musuh menyergap di titik yang tak terduga.”

“Ini... ini bukan salahnya, aku yang ceroboh,” sela Yasmin pelan. “Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil.” Yasmin menatap Raja dengan mata yang masih berbayang ketakutan.

Jawaban Yasmin, membuat Erion mendongak, matanya menyipit tajam. Keningnya berkerut dalam.

Dalam alur asli, sekarang Yasmina akan mulai berakting manja, mengadu betapa takutnya ia bertemu para pemberontak, dan melaporkan kelalaian penjaganya. Juga ia pun akan menceritakan kalau ia ikut bertarung demi menyelamatkan tunangannya. Dan memaksa Erion untuk merasa berhutang budi di depan Raja.

“Untungnya kau selamat, Yasmina,” suara Ohmad terdengar berat dan datar, meski matanya meneliti luka di bahu adiknya dengan tatapan tajam. “Jika tidak, Ayah pasti menghukum seluruh pasukan Erion karena kelalaian ini. Dan Erion akan menjadi orang pertama yang menerima hukuman.”

Yasmin langsung menatap tiga orang di depannya secara bergantian. Ia terkejut sekaligus khawatir kalau akan banyak orang yang jadi korban. Di dalam novel, keluarga Yasmina yang paling bertanggung jawab atas sifat tiran Yasmina. Mereka memanjakan si putri bungsu hingga melampaui batas.

Sekarang Yasmin harus berhati-hati. Kalau tidak, keluarga Yasmina ini akan menjadi berbahaya untuk orang sekitarnya termasuk Erion. Yasmin harus bisa mencegah jatuhnya banyak korban karena ulah Yasmina.

Ratu Cassia membelai wajah Yasmin. Tangannya terhenti saat melihat noda darah kering yang memercik hingga ke leher putrinya. “Darah siapa ini, Sayang? Siapa yang melakukannya?”

Erion yang masih berlutut, memasang mata tajamnya tertuju pada Yasmin. Menanti Yasmina mengajukan tuntutan eksekusi bagi para penjaga yang dianggap lalai, juga mengoceh tentang luka yang diterimanya.

Namun, yang terlihat justru Yasmin tengah berusaha menyembunyikan tangannya yang gemetar hebat di balik lipatan gaunnya yang robek.

“Ini bukan darahku. Aku baik-baik saja,” bisik Yasmin kaku. “Maaf, bolehkah aku beristirahat sebentar? Aku merasa sedikit lelah.”

Suasana mendadak hening. Raja Hazir, Ratu Cassia, bahkan Ohmad tertegun mendengar nada suara yang begitu rapuh dan asing itu. Tidak ada amarah, tapi malah terdengar nada sedih yang mendalam.

“Oh… tentu saja, putriku,” ucap Raja begitu memanjakannya.

Baru saja Raja hendak memerintahkan pelayan untuk mengantar Yasmin ke tendanya, namun Ohmad sudah melangkah maju, menghalangi pandangan ayahnya. Ia menatap Yasmin dalam.

“Tunggu dulu.” Matanya menyelidik. “Apa yang terjadi di hutan? Kau bertingkah aneh.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada mencurigakan, “Benarkah kau ini, adikku?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 6: Misi kembali ke Dunia Nyata

    Malam di perkemahan tempat perburuan kerajaan Pervane terasa begitu mencekam bagi Yasmin. Suara deru angin yang menghantam kain tenda terdengar seperti bisikan ancaman yang tidak henti-hentinya. Yasmin sudah memaksakan diri untuk memejamkan mata sejak dua jam yang lalu, namun tidur tidak kunjung datang. Memorinya tentang isi novel Throne of Thorns terus berputar di kepala seperti proyektor rusak yang memutar film horor yang sama berulang-ulang. Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan masa depan tragis yang tertulis di novel terus menghantui pikirannya. Ia akhirnya menyerah, duduk di tepi ranjang, dan menghabiskan sisa malam dengan memilah ingatan tentang alur novel—mencoba mengingat setiap detail, setiap peristiwa penting, setiap titik balik yang bisa ia ubah. Menurut naskah aslinya, dalam dua tahun ke depan Erion berhasil mengumpulkan kekuatan dari sisa-sisa kerajaan Odisian yang hancur. “Perang berdarah itu akan dimulai dua tahun dari sekarang,” guman Yasmin ngeri. Raja Haz

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 5: Rahasia Sang Panglima

    Jantung Yasmin berdebar sangat kencang sampai ia takut orang lain bisa mendengarnya. Napasnya tertahan di pangkal hidung. Pertanyaan Ohmad barusan sangat telak—pria ini adalah tipe orang yang bisa mencium kebohongan dari jarak jauh. Yasmin melirik ke arah Erion. Panglima itu masih berlutut, tapi tatapannya terkunci padanya, ikut menunggu momen di mana Yasmin akan melakukan kesalahan dalam menjawab pertanyaan Ohmad. “Apa maksudmu, Putraku? Tentu saja dia Yasmina,” sela Ratu Cassia langsung menggandeng lengan Yasmin dengan protektif. Ohmad terdiam sejenak, menatap Yasmin lurus-lurus sebelum tiba-tiba tertawa lepas. Wajahnya yang semula dingin berubah jenaka. “Aku hanya bercanda, Ibu. Aku hanya takut ada hantu hutan yang masuk ke dalam tubuh adikku. Tidak biasanya dia jadi pendiam dan terlihat... menyedihkan seperti ini.” Ohmad menepuk bahu Yasmin—tepat di bahu yang tidak terluka. “Biasanya kau sudah berteriak minta semua orang dihukum karena membiarkanmu lecet sedikit saja. Apa

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 4: Bukan Yasmina

    Yasmin merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Derap langkah kuda dan gesekan roda tandu di atas tanah hutan terdengar seperti dentuman palu yang menghantam kepalanya. Ia duduk tegap, matanya tak lepas dari noda darah di tangannya. Setiap kali memejamkan mata, bayangan pria bertopeng yang ia tebas kembali muncul. Sensasi mengerikan saat bilah pedang menembus daging, suara rintihan kesakitan. Semuanya membuat perutnya bergejolak. Rasa bersalah menghimpit dadanya begitu sesak hingga ia sulit bernapas. Sebagai Yasmin yang hidup di dunia modern, melukai seseorang adalah mimpi buruk yang tak terbayangkan—meskipun di dunia Throne of Thorns, hal itu biasa saja. “Bagaimana kalau aku tidak bisa pulang ke duniaku? Bagaimana jika aku selamanya terjebak dalam novel ini dan melihat lebih banyak hal seperti ini?” tanyanya pada diri sendiri. Tanpa disadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang kotor. Yasmin tidak terisak, juga tidak meraung. Ia hanya menangis dalam diam, membiarkan b

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 3: Kerajaan Pervane

    Kedua kaki Yasmin dan Erion melangkah melewati air sungai yang dingin setinggi lutut. Meski gaunnya yang berat menghambat langkahnya, Yasmin terus berjalan secepat yang ia bisa. Tapi baru saja kakinya memijak bebatuan licin di tengah aliran, empat bayangan gelap melompat dari balik rimbunnya pohon yang menjorok ke sungai. “Tetap di belakangku!” bentak Erion. Yasmin segera beralih berdiri ke belakang Erion, matanya ikut awas melihat kemunculan empat orang pria bertopeng. Empat orang pemberontak itu tidak membuang waktu. Dua diantaranya menerjang bersamaan. Erion bergerak begitu lihai. Gerakannya tenang sekaligus mengerikan. Ia menangkis setiap tebasan pedang. Bunyi dentingan logam terdengar nyaring. Erion memutar tubuhnya, menendang dada musuh kedua hingga terjungkal ke dalam air. Pedangnya menari di udara, menciptakan garis perak yang mematikan. Satu tebasan horizontal merobek zirah ringan musuh di depannya, disusul dengan tusukan cepat yang melumpuhkan lawan lainnya. Air su

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 2: Throne of Thorn

    terinjak. Suara itu tidak jauh, mungkin hanya beberapa puluh meter dari balik rapatnya pepohonan di sisi kiri mereka. Erion—atau Panglima Arberi—sontak menegang. Ia tidak lagi memperdulikan tatapan kosong Yasmin. Dengan gerakan protektif yang terasa dipaksakan, ia menyambar lengannya dan menariknya bangkit dengan sentakan yang cukup kuat hingga Yasmin meringis. “Berhenti melamun jika kau masih ingin kepalamu menempel dengan tubuhmu,” desis Erion tajam. Yasmin dipaksa melangkah, melewati dua sosok tidak bernyawa yang tadi dibantai Erion. Matanya tidak sengaja melirik genangan darah yang mulai meresap ke tanah dan mata mayat yang masih terbuka lebar. Rasa mual seketika melonjak ke tenggorokan. Ia bergidik ngeri. Kekejaman yang dulu hanya ia baca di atas kertas, kini tersaji nyata dan berdarah di depan matanya. Langkah kaki Erion sangat lebar dan cepat, membuat Yasmin harus setengah berlari agar tidak terseret. Sepatu botnya menginjak tanah hutan yang tidak rata, sesekali tersa

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 1: Perburuan

    “Mulai detik ini, kau bukan istriku lagi. Pergi dari sini sekarang juga!” Di bawah amukan hujan badai, Yasmin berjalan menembus derasnya air. Ia terusir dari rumah megah yang telah ditempatinya selama tujuh tahun. Pandangannya kosong, sementara telinganya terus memutar ulang suara dingin Karel beberapa saat lalu. Tangan kanannya mencengkeram erat koper kecil berisi pakaian seadanya. Tangan lainnya mendekap sebuah buku novel usang berjudul Throne of Thorns. Satu-satunya benda yang ingin ia simpan sebagai sisa dari kenangan manis awal pernikahan, sebelum pengkhianatan menghancurkan segalanya. Saat melangkah di persimpangan jalan yang licin, sebuah mobil melaju kencang tanpa sempat menginjak rem. Cahaya lampu yang menyilaukan mata menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum tubuhnya terpelanting, melayang sejenak, dan menghantam aspal dengan bunyi berdebam yang mengerikan. Dunia perlahan menggelap. Sebelum kesadaran itu hilang sepenuhnya. ☆☆☆☆ Suara badai dan teriakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status