LOGINterinjak. Suara itu tidak jauh, mungkin hanya beberapa puluh meter dari balik rapatnya pepohonan di sisi kiri mereka.
Erion—atau Panglima Arberi—sontak menegang. Ia tidak lagi memperdulikan tatapan kosong Yasmin. Dengan gerakan protektif yang terasa dipaksakan, ia menyambar lengannya dan menariknya bangkit dengan sentakan yang cukup kuat hingga Yasmin meringis. “Berhenti melamun jika kau masih ingin kepalamu menempel dengan tubuhmu,” desis Erion tajam. Yasmin dipaksa melangkah, melewati dua sosok tidak bernyawa yang tadi dibantai Erion. Matanya tidak sengaja melirik genangan darah yang mulai meresap ke tanah dan mata mayat yang masih terbuka lebar. Rasa mual seketika melonjak ke tenggorokan. Ia bergidik ngeri. Kekejaman yang dulu hanya ia baca di atas kertas, kini tersaji nyata dan berdarah di depan matanya. Langkah kaki Erion sangat lebar dan cepat, membuat Yasmin harus setengah berlari agar tidak terseret. Sepatu botnya menginjak tanah hutan yang tidak rata, sesekali tersangkut akar pohon yang mencuat. “Tunggu... pelan-pelan,” pinta Yasmin terengah-engah, suaranya mencicit karena ketakutan. Namun, Erion sama sekali tidak melambatkan temponya. Ia justru menarik Yasmin masuk lebih dalam ke bagian hutan yang lebih gelap, tempat sinar matahari nyaris tidak sanggup menembus sela-sela daun. “Mereka tidak sendirian, Yasmina. Ada setidaknya sepuluh orang lagi yang sedang menyisir area ini,” ujar Erion tanpa menoleh sedikit pun. “Jika kau ingin bertanya 'kenapa bisa begini', simpan itu untuk nanti. Sekarang, fokuslah pada kakimu agar tidak tersandung dan merepotkan kita berdua.” Yasmin menggigit bibir bawahnya, menelan semua pertanyaan yang bergejolak di kepalanya. Ia menatap punggung tegap Erion yang terbalut jubah hitam. Mereka terus berlari, menerobos ranting-ranting yang menyabet wajah dan gaun sutra Yasmin hingga robek di beberapa bagian. Yasmin merasa dunianya seolah terbalik. Paru-parunya mulai terasa terbakar, namun cengkeraman tangan Erion tidak membiarkannya berhenti sedetik pun. Hingga akhirnya, pria itu menarik Yasmin ke balik sebuah ceruk batu besar yang tersembunyi di balik rimbunnya tanaman rambat. Suasana mendadak senyap, hanya menyisakan suara napas mereka yang menderu hebat. Yasmin menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang lembap. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan deru nafasnya yang belum teratur. Kedua netranya meneliti setiap detail wajah Erion dari samping. Rahangnya tegas, rambutnya cokelat tua dengan beberapa helai menempel di pelipis karena keringat. Mata hazel pria itu seakan mampu menembus kegelapan. Jujur Yasmin akui, pria ini sangat tampan. Sempurna. Dan pria inilah yang nantinya akan menarik Yasmina ke panggung eksekusi. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari balik dinding batu tempat mereka bersembunyi. “Cepat! Cari si putri manja itu! Dia tidak mungkin lari jauh dengan gaun merepotkan seperti itu!” seru sebuah suara parau, diikuti bunyi pedang yang beradu dengan semak. Erion menoleh ke arah Yasmin. Wajahnya terlihat geram, sepasang matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. Seakan menyalahkan Yasmin atas posisi sulit yang mereka hadapi sekarang. Yasmin menelan ludah, mencoba memberanikan diri. “Siapa... siapa sebenarnya yang mengejar kita?” tanyanya dengan suara bergetar pelan. Erion mendengus sinis, ia mendekatkan wajahnya ke arah Yasmin hingga gadis itu bisa merasakan hawa panas dari napas sang Panglima. “Pemberontak dari utara,” desisnya rendah. “Sepertinya mereka sudah merencanakan penyusupan ini sejak lama, tepat saat perburuan keluarga kerajaan berlangsung.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tajam. “Dan kau malah keluar dari rombongan utama hanya demi mengejar seekor rusa jantan! Kau memberikan lehermu secara cuma-cuma pada mereka!” Yasmin sedikit terlonjak saat Erion membentaknya dengan nada rendah namun penuh penekanan. Yasmina yang asli mungkin akan membalas bentakan itu dengan keangkuhan, namun Yasmin yang sekarang hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca karena terkejut. “Aku... aku tidak bermaksud begitu,” cicitnya pelan, menunduk menghindari tatapan mengintimidasi pria itu. Melihat reaksi Yasmin yang tidak mengeluarkan makian, rengekan manja, atau alasan tidak masuk akal, Erion sedikit heran. Binar angkuh yang biasanya selalu terpancar dari mata putri tiran itu pun tidak tampak. Namun, Erion segera menepis rasa herannya. Baginya, ini hanyalah taktik baru Yasmina untuk lolos dari kemarahannya. Erion berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke arah bahu Yasmin yang terluka sebelum kembali menghunjam matanya. Dengan gerakan kasar, Erion meraih ujung gaun dalam putih yang menyembul dari balik gaun sutra hijau Yasmin, lalu merobeknya dengan satu sentakan kuat. Ia melipat kain itu menjadi bebat panjang, lalu mulai melilitkannya pada luka gores di bahu Yasmin. Yasmin tertegun. Ia menatap wajah Erion yang kini berada sangat dekat dengannya. Pria ini sedang mengobatinya dengan saksama, seolah-olah keselamatan Yasmin adalah prioritas utamanya di dunia ini. Untuk sesaat, Yasmin merasa ada kehangatan yang menjalar di dadanya—sebuah perhatian yang sudah lama tidak ia rasakan dari Karel di kehidupannya yang dulu. Namun, rasa hangat itu segera mendingin saat Yasmin teringat isi novelnya. Ia tahu persis bahwa semua perhatian ini hanyalah kepalsuan. Di Kerajaan Pervane, Erion dikenal sebagai tunangan yang paling setia dan mencintai Yasmina, namun dibalik itu, ia sedang menanam benih-benih kehancuran untuk kerajaan Pervane. “Sakit?” tanya Erion dingin, tanpa mendongak sedikit pun. Ia menarik ikatan kain itu sedikit lebih kencang dari yang diperlukan. “Akh... sedikit,” ringis Yasmin pelan. Erion akhirnya mendongak. Matanya yang hazel bertemu langsung dengan mata Yasmin. “Tahan sebentar.” Setelah selesai membebat luka, Erion kembali ke posisinya semula, mengawasi celah bebatuan dengan pedang yang tetap terhunus. Yasmin hanya bisa menyentuh kain putih yang kini melingkari bahunya. Ia sadar, di dunia ini ia sendirian. Dan harus bertahan hidup di antara musuh yang ingin membunuhnya, juga seorang pelindung yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkannya. “Aku tidak boleh mati disini, setelah lolos dari sini aku harus mencari cara untuk kembali ke duniaku,” batinnya. “Mereka sudah menjauh,” bisik Erion tiba-tiba, suaranya kembali datar dan profesional. “Cepat, kita harus bergerak ke arah sungai sebelum malam tiba. Berdiri.” Yasmin berusaha berdiri, meski kakinya terasa lemas. Ia kembali menatap punggung Erion yang tegap dan gelap, mengikuti langkah pria itu menembus hutan Pervane yang semakin mencekam.Malam di perkemahan tempat perburuan kerajaan Pervane terasa begitu mencekam bagi Yasmin. Suara deru angin yang menghantam kain tenda terdengar seperti bisikan ancaman yang tidak henti-hentinya. Yasmin sudah memaksakan diri untuk memejamkan mata sejak dua jam yang lalu, namun tidur tidak kunjung datang. Memorinya tentang isi novel Throne of Thorns terus berputar di kepala seperti proyektor rusak yang memutar film horor yang sama berulang-ulang. Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan masa depan tragis yang tertulis di novel terus menghantui pikirannya. Ia akhirnya menyerah, duduk di tepi ranjang, dan menghabiskan sisa malam dengan memilah ingatan tentang alur novel—mencoba mengingat setiap detail, setiap peristiwa penting, setiap titik balik yang bisa ia ubah. Menurut naskah aslinya, dalam dua tahun ke depan Erion berhasil mengumpulkan kekuatan dari sisa-sisa kerajaan Odisian yang hancur. “Perang berdarah itu akan dimulai dua tahun dari sekarang,” guman Yasmin ngeri. Raja Haz
Jantung Yasmin berdebar sangat kencang sampai ia takut orang lain bisa mendengarnya. Napasnya tertahan di pangkal hidung. Pertanyaan Ohmad barusan sangat telak—pria ini adalah tipe orang yang bisa mencium kebohongan dari jarak jauh. Yasmin melirik ke arah Erion. Panglima itu masih berlutut, tapi tatapannya terkunci padanya, ikut menunggu momen di mana Yasmin akan melakukan kesalahan dalam menjawab pertanyaan Ohmad. “Apa maksudmu, Putraku? Tentu saja dia Yasmina,” sela Ratu Cassia langsung menggandeng lengan Yasmin dengan protektif. Ohmad terdiam sejenak, menatap Yasmin lurus-lurus sebelum tiba-tiba tertawa lepas. Wajahnya yang semula dingin berubah jenaka. “Aku hanya bercanda, Ibu. Aku hanya takut ada hantu hutan yang masuk ke dalam tubuh adikku. Tidak biasanya dia jadi pendiam dan terlihat... menyedihkan seperti ini.” Ohmad menepuk bahu Yasmin—tepat di bahu yang tidak terluka. “Biasanya kau sudah berteriak minta semua orang dihukum karena membiarkanmu lecet sedikit saja. Apa
Yasmin merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Derap langkah kuda dan gesekan roda tandu di atas tanah hutan terdengar seperti dentuman palu yang menghantam kepalanya. Ia duduk tegap, matanya tak lepas dari noda darah di tangannya. Setiap kali memejamkan mata, bayangan pria bertopeng yang ia tebas kembali muncul. Sensasi mengerikan saat bilah pedang menembus daging, suara rintihan kesakitan. Semuanya membuat perutnya bergejolak. Rasa bersalah menghimpit dadanya begitu sesak hingga ia sulit bernapas. Sebagai Yasmin yang hidup di dunia modern, melukai seseorang adalah mimpi buruk yang tak terbayangkan—meskipun di dunia Throne of Thorns, hal itu biasa saja. “Bagaimana kalau aku tidak bisa pulang ke duniaku? Bagaimana jika aku selamanya terjebak dalam novel ini dan melihat lebih banyak hal seperti ini?” tanyanya pada diri sendiri. Tanpa disadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang kotor. Yasmin tidak terisak, juga tidak meraung. Ia hanya menangis dalam diam, membiarkan b
Kedua kaki Yasmin dan Erion melangkah melewati air sungai yang dingin setinggi lutut. Meski gaunnya yang berat menghambat langkahnya, Yasmin terus berjalan secepat yang ia bisa. Tapi baru saja kakinya memijak bebatuan licin di tengah aliran, empat bayangan gelap melompat dari balik rimbunnya pohon yang menjorok ke sungai. “Tetap di belakangku!” bentak Erion. Yasmin segera beralih berdiri ke belakang Erion, matanya ikut awas melihat kemunculan empat orang pria bertopeng. Empat orang pemberontak itu tidak membuang waktu. Dua diantaranya menerjang bersamaan. Erion bergerak begitu lihai. Gerakannya tenang sekaligus mengerikan. Ia menangkis setiap tebasan pedang. Bunyi dentingan logam terdengar nyaring. Erion memutar tubuhnya, menendang dada musuh kedua hingga terjungkal ke dalam air. Pedangnya menari di udara, menciptakan garis perak yang mematikan. Satu tebasan horizontal merobek zirah ringan musuh di depannya, disusul dengan tusukan cepat yang melumpuhkan lawan lainnya. Air su
terinjak. Suara itu tidak jauh, mungkin hanya beberapa puluh meter dari balik rapatnya pepohonan di sisi kiri mereka. Erion—atau Panglima Arberi—sontak menegang. Ia tidak lagi memperdulikan tatapan kosong Yasmin. Dengan gerakan protektif yang terasa dipaksakan, ia menyambar lengannya dan menariknya bangkit dengan sentakan yang cukup kuat hingga Yasmin meringis. “Berhenti melamun jika kau masih ingin kepalamu menempel dengan tubuhmu,” desis Erion tajam. Yasmin dipaksa melangkah, melewati dua sosok tidak bernyawa yang tadi dibantai Erion. Matanya tidak sengaja melirik genangan darah yang mulai meresap ke tanah dan mata mayat yang masih terbuka lebar. Rasa mual seketika melonjak ke tenggorokan. Ia bergidik ngeri. Kekejaman yang dulu hanya ia baca di atas kertas, kini tersaji nyata dan berdarah di depan matanya. Langkah kaki Erion sangat lebar dan cepat, membuat Yasmin harus setengah berlari agar tidak terseret. Sepatu botnya menginjak tanah hutan yang tidak rata, sesekali tersa
“Mulai detik ini, kau bukan istriku lagi. Pergi dari sini sekarang juga!” Di bawah amukan hujan badai, Yasmin berjalan menembus derasnya air. Ia terusir dari rumah megah yang telah ditempatinya selama tujuh tahun. Pandangannya kosong, sementara telinganya terus memutar ulang suara dingin Karel beberapa saat lalu. Tangan kanannya mencengkeram erat koper kecil berisi pakaian seadanya. Tangan lainnya mendekap sebuah buku novel usang berjudul Throne of Thorns. Satu-satunya benda yang ingin ia simpan sebagai sisa dari kenangan manis awal pernikahan, sebelum pengkhianatan menghancurkan segalanya. Saat melangkah di persimpangan jalan yang licin, sebuah mobil melaju kencang tanpa sempat menginjak rem. Cahaya lampu yang menyilaukan mata menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum tubuhnya terpelanting, melayang sejenak, dan menghantam aspal dengan bunyi berdebam yang mengerikan. Dunia perlahan menggelap. Sebelum kesadaran itu hilang sepenuhnya. ☆☆☆☆ Suara badai dan teriakan







