Home / Zaman Kuno / Baginda, Tuan Putri Merayumu / Bab 5: Rahasia Sang Panglima

Share

Bab 5: Rahasia Sang Panglima

Author: QueenShe
last update Last Updated: 2026-02-09 10:27:49

Jantung Yasmin berdebar sangat kencang sampai ia takut orang lain bisa mendengarnya. Napasnya tertahan di pangkal hidung. Pertanyaan Ohmad barusan sangat telak—pria ini adalah tipe orang yang bisa mencium kebohongan dari jarak jauh.

Yasmin melirik ke arah Erion. Panglima itu masih berlutut, tapi tatapannya terkunci padanya, ikut menunggu momen di mana Yasmin akan melakukan kesalahan dalam menjawab pertanyaan Ohmad.

“Apa maksudmu, Putraku? Tentu saja dia Yasmina,” sela Ratu Cassia langsung menggandeng lengan Yasmin dengan protektif.

Ohmad terdiam sejenak, menatap Yasmin lurus-lurus sebelum tiba-tiba tertawa lepas. Wajahnya yang semula dingin berubah jenaka. “Aku hanya bercanda, Ibu. Aku hanya takut ada hantu hutan yang masuk ke dalam tubuh adikku. Tidak biasanya dia jadi pendiam dan terlihat... menyedihkan seperti ini.”

Ohmad menepuk bahu Yasmin—tepat di bahu yang tidak terluka. “Biasanya kau sudah berteriak minta semua orang dihukum karena membiarkanmu lecet sedikit saja. Apa tadi kepalamu terbentur pohon?”

Yasmin hanya bisa memaksakan senyum tipis yang kaku. “Aku hanya lelah. Sangat lelah.”

Raja Hazir berdeham keras, menegur Ohmad yang bercanda di waktu yang tidak tepat.

“Sudah cukup. Sekarang bawa putriku ke tendanya. Hekim, periksa dia sekarang juga! Dan kau, Erion...” Raja melirik panglimanya dengan tajam. “Ikut aku ke tenda utama. Aku mau laporan lengkap soal kejjadian ini tanpa ada satu pun detail yang terlewat.”

“Baik, Baginda,” jawab Erion singkat. Ia berdiri, sempat memberikan pandangan dingin terakhir pada Yasmin sebelum berjalan mengikuti langkah lebar Raja.

Di dalam tenda medis yang mewah, Yasmin akhirnya bisa duduk sendirian setelah pelayan memandikan dan mengganti pakaiannya. Hekim atau tabib juga selesai mengganti balutan lukanya. Yasmin menatap pantulan dirinya di cermin perak di atas meja. Sosok yang menatapnya balik dari dalam cermin bukanlah dirinya.

Wanita itu memiliki kecantikan yang tajam dan angkuh. Kulitnya seputih porselen, bibir merah delima, dan rambut ikal berwarna cokelat madu dengan panjang sepinggang—kontras dengan rambut hitam sebahu miliknya.

“Aku benar-benar masuk ke dalam novel,” gumamnya pelan. Tangannya naik menyentuh pipi, dan sosok di cermin melakukan hal yang sama.

Yasmin mengusap wajahnya kasar, lalu menjambak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa ia masuk ke dalam sebuah novel? Apakah ini hukuman atau lelucon alam semesta?

“Tenang, Yasmin,” bisiknya pada diri sendiri, memaksakan diri untuk berpikir jernih. Panik tidak akan membantunya keluar dari situasi ini. “Kamu harus tenang.”

“Ini mungkin mimpi buruk. Hanya halunasi alam bawah sadar.”

Ia menjatuhkan diri ke ranjang, menatap langit-langit tenda. Rasa bersalah karena telah melukai orang di sungai tadi masih terasa nyata, bercampur dengan rasa frustrasi karena terjebak di tubuh seorang antagonis.

Segera ia memejamkan mata rapat-rapat, menunggu beberapa detik. Berharap setelahnya ia akan melihat ruang IGD bergorden hijau, juga keramaian paramedis dan pasien. Tapi saat kedua matanya kembali dibuka, tidak ada yang berubah. Ia tetap berada di dalam tenda kamp. Menjadi seorang Yasmina.

Saat ini ia benar-benar ingin menangis. Ia tidak tahu bagaimana caranya kembali ke dunianya. Pikirannya berputar cepat, mengingat setiap detail novel yang pernah ia baca berkali-kali.

Dalam novel, Yasmina adalah putri bungsu yang dimanjakan dan kejam. Jatuh cinta pada Erion, seorang panglima muda tampan yang sebenarnya tidak mencintainya sama sekali—Panglima Pervane yang gemilang itu sebenarnya memiliki rahasia gelap yang tersimpan dalam alur novel.

Sang penulis menulis Erion bukanlah pria biasa. Ia adalah putra mahkota dari Kerajaan Odisian di utara. Kerajaan itu dijajah dan dihancurkan oleh Raja Hazir, ayah Yasmina. Ia pun kehilangan keluarganya yang di bantai oleh Raja Hazir bersama pasukannya.

Erion sendiri lolos dari pembantaian karena di selamatkan oleh penjaga setia ayahnya. Ia berlatih bela diri dan menggunakan pedang sejak dini, hingga ia menyusup menjadi prajurit ke dalam kerajaan Pervane. Ia pintar dan ahli dalam strategi perang, membuat posisinya lebih cepat mejadi panglima besar.

Pertunangan dengan Yasmina hanyalah kedok, agar Erion bisa memudahkannya menggulingkan kerajaan Pervane dari dalam. Itulah alasan mengapa ia selalu bersikap sebagai tunangan yang sempurna. Ia menganggap apa yang dilakukannya sebagai tunangan Yasmina sebagai tugas yang membosankan demi mencapai hasil yang diinginkan.

Tiba-tiba, tirai tenda tersingkap tanpa ada suara peringatan dari penjaga di luar. Yasmin mengira itu pelayan yang membawakannya air, tapi ketika ia menoleh, sosok tinggi Erion sudah berdiri di sana. Pria itu masuk tanpa izin, dengan seragam militer baru. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di samping ranjang Yasmin.

Yasmin segera bangkit duduk kaku di pinggir ranjang, membalas tatapan Erion dengan perasaan campur aduk. Aura di sekitarnya terasa gelap. Erion hanya berdiri di sana, membiarkan keheningan tenda membuat mental Yasmin sedikit tertekan. Mata Erion terus meneliti, seakan mencari celah dari perilaku anehnya.

“Bagaimana lukanya?” tanya Erion pelan.

“Sudah lebih baik,” jawab Yasmin ragu.

“Syukurlah. Kau harus minum obatmu teratur. Itu penting untuk lukamu,” ucap Erion datar.

Kata-katanya terdengar seperti sebuah perhatian tunangan yang baik. Tapi bagi Yasmin sebagai sang pembaca, yang sudah tahu akhir dari novel ini, ucapan Erion lebih menyeramkan daripada makian.

Karena sekarang Erion sedang memainkan perannya dengan sangat rapi. Kenyataannya, kelak pria di depannya ini adalah orang yang akan menariknya ke panggung eksekusi.

Yasmin gugup dan sedikit takut. Ia masih berusaha memproses kenyataan hidupnya yang tiba-tiba berada di dunia ini. Ia menunduk, meremas pinggiran selimut untuk menenangkan diri. Ia harus menyesuaikan diri secepat mungkin sebelum Erion menyadari ada yang salah.

“Aku... aku akan meminumnya nanti, Erion,” jawab Yasmin pelan. Ia mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar terlalu asing, namun ia belum sanggup bertingkah menjadi Yasmina asli. “Sekarang aku hanya butuh tidur.”

Erion terdiam sejenak. Ia melangkah mendekat, membelai bahu Yasmin dengan gerakan yang sangat sopan. “Beristirahatlah. Jangan sampai kesehatanmu memburuk dan membuat Raja khawatir.”

“Terima kasih,” bisik Yasmin.

Erion mengangguk, tanpa menghilangkan wajah datarnya. “Sekarang tidur. Besok perjalanan pulang akan panjang.”

Akhirnya Erion kembali berbalik dan menghilang di balik tirai tenda. Begitu pria itu pergi, Yasmin langsung ambruk kembali berbaring di ranjang, sambil mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Tangannya gemetar menyentuh dada yang berdebar kencang.

“Menakutkan sekali tatapannya,” gumamnya lirih.

Yasmin sadar bahwa di dunia ini ia harus berusaha lolos dari buruan Erion, sampai ia bisa kembali ke dunianya sendiri. Ia tidak boleh berakhir mengenaskan di dunia novel ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 6: Misi kembali ke Dunia Nyata

    Malam di perkemahan tempat perburuan kerajaan Pervane terasa begitu mencekam bagi Yasmin. Suara deru angin yang menghantam kain tenda terdengar seperti bisikan ancaman yang tidak henti-hentinya. Yasmin sudah memaksakan diri untuk memejamkan mata sejak dua jam yang lalu, namun tidur tidak kunjung datang. Memorinya tentang isi novel Throne of Thorns terus berputar di kepala seperti proyektor rusak yang memutar film horor yang sama berulang-ulang. Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan masa depan tragis yang tertulis di novel terus menghantui pikirannya. Ia akhirnya menyerah, duduk di tepi ranjang, dan menghabiskan sisa malam dengan memilah ingatan tentang alur novel—mencoba mengingat setiap detail, setiap peristiwa penting, setiap titik balik yang bisa ia ubah. Menurut naskah aslinya, dalam dua tahun ke depan Erion berhasil mengumpulkan kekuatan dari sisa-sisa kerajaan Odisian yang hancur. “Perang berdarah itu akan dimulai dua tahun dari sekarang,” guman Yasmin ngeri. Raja Haz

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 5: Rahasia Sang Panglima

    Jantung Yasmin berdebar sangat kencang sampai ia takut orang lain bisa mendengarnya. Napasnya tertahan di pangkal hidung. Pertanyaan Ohmad barusan sangat telak—pria ini adalah tipe orang yang bisa mencium kebohongan dari jarak jauh. Yasmin melirik ke arah Erion. Panglima itu masih berlutut, tapi tatapannya terkunci padanya, ikut menunggu momen di mana Yasmin akan melakukan kesalahan dalam menjawab pertanyaan Ohmad. “Apa maksudmu, Putraku? Tentu saja dia Yasmina,” sela Ratu Cassia langsung menggandeng lengan Yasmin dengan protektif. Ohmad terdiam sejenak, menatap Yasmin lurus-lurus sebelum tiba-tiba tertawa lepas. Wajahnya yang semula dingin berubah jenaka. “Aku hanya bercanda, Ibu. Aku hanya takut ada hantu hutan yang masuk ke dalam tubuh adikku. Tidak biasanya dia jadi pendiam dan terlihat... menyedihkan seperti ini.” Ohmad menepuk bahu Yasmin—tepat di bahu yang tidak terluka. “Biasanya kau sudah berteriak minta semua orang dihukum karena membiarkanmu lecet sedikit saja. Apa

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 4: Bukan Yasmina

    Yasmin merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Derap langkah kuda dan gesekan roda tandu di atas tanah hutan terdengar seperti dentuman palu yang menghantam kepalanya. Ia duduk tegap, matanya tak lepas dari noda darah di tangannya. Setiap kali memejamkan mata, bayangan pria bertopeng yang ia tebas kembali muncul. Sensasi mengerikan saat bilah pedang menembus daging, suara rintihan kesakitan. Semuanya membuat perutnya bergejolak. Rasa bersalah menghimpit dadanya begitu sesak hingga ia sulit bernapas. Sebagai Yasmin yang hidup di dunia modern, melukai seseorang adalah mimpi buruk yang tak terbayangkan—meskipun di dunia Throne of Thorns, hal itu biasa saja. “Bagaimana kalau aku tidak bisa pulang ke duniaku? Bagaimana jika aku selamanya terjebak dalam novel ini dan melihat lebih banyak hal seperti ini?” tanyanya pada diri sendiri. Tanpa disadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang kotor. Yasmin tidak terisak, juga tidak meraung. Ia hanya menangis dalam diam, membiarkan b

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 3: Kerajaan Pervane

    Kedua kaki Yasmin dan Erion melangkah melewati air sungai yang dingin setinggi lutut. Meski gaunnya yang berat menghambat langkahnya, Yasmin terus berjalan secepat yang ia bisa. Tapi baru saja kakinya memijak bebatuan licin di tengah aliran, empat bayangan gelap melompat dari balik rimbunnya pohon yang menjorok ke sungai. “Tetap di belakangku!” bentak Erion. Yasmin segera beralih berdiri ke belakang Erion, matanya ikut awas melihat kemunculan empat orang pria bertopeng. Empat orang pemberontak itu tidak membuang waktu. Dua diantaranya menerjang bersamaan. Erion bergerak begitu lihai. Gerakannya tenang sekaligus mengerikan. Ia menangkis setiap tebasan pedang. Bunyi dentingan logam terdengar nyaring. Erion memutar tubuhnya, menendang dada musuh kedua hingga terjungkal ke dalam air. Pedangnya menari di udara, menciptakan garis perak yang mematikan. Satu tebasan horizontal merobek zirah ringan musuh di depannya, disusul dengan tusukan cepat yang melumpuhkan lawan lainnya. Air su

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 2: Throne of Thorn

    terinjak. Suara itu tidak jauh, mungkin hanya beberapa puluh meter dari balik rapatnya pepohonan di sisi kiri mereka. Erion—atau Panglima Arberi—sontak menegang. Ia tidak lagi memperdulikan tatapan kosong Yasmin. Dengan gerakan protektif yang terasa dipaksakan, ia menyambar lengannya dan menariknya bangkit dengan sentakan yang cukup kuat hingga Yasmin meringis. “Berhenti melamun jika kau masih ingin kepalamu menempel dengan tubuhmu,” desis Erion tajam. Yasmin dipaksa melangkah, melewati dua sosok tidak bernyawa yang tadi dibantai Erion. Matanya tidak sengaja melirik genangan darah yang mulai meresap ke tanah dan mata mayat yang masih terbuka lebar. Rasa mual seketika melonjak ke tenggorokan. Ia bergidik ngeri. Kekejaman yang dulu hanya ia baca di atas kertas, kini tersaji nyata dan berdarah di depan matanya. Langkah kaki Erion sangat lebar dan cepat, membuat Yasmin harus setengah berlari agar tidak terseret. Sepatu botnya menginjak tanah hutan yang tidak rata, sesekali tersa

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 1: Perburuan

    “Mulai detik ini, kau bukan istriku lagi. Pergi dari sini sekarang juga!” Di bawah amukan hujan badai, Yasmin berjalan menembus derasnya air. Ia terusir dari rumah megah yang telah ditempatinya selama tujuh tahun. Pandangannya kosong, sementara telinganya terus memutar ulang suara dingin Karel beberapa saat lalu. Tangan kanannya mencengkeram erat koper kecil berisi pakaian seadanya. Tangan lainnya mendekap sebuah buku novel usang berjudul Throne of Thorns. Satu-satunya benda yang ingin ia simpan sebagai sisa dari kenangan manis awal pernikahan, sebelum pengkhianatan menghancurkan segalanya. Saat melangkah di persimpangan jalan yang licin, sebuah mobil melaju kencang tanpa sempat menginjak rem. Cahaya lampu yang menyilaukan mata menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum tubuhnya terpelanting, melayang sejenak, dan menghantam aspal dengan bunyi berdebam yang mengerikan. Dunia perlahan menggelap. Sebelum kesadaran itu hilang sepenuhnya. ☆☆☆☆ Suara badai dan teriakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status