LOGINMalam di perkemahan tempat perburuan kerajaan Pervane terasa begitu mencekam bagi Yasmin. Suara deru angin yang menghantam kain tenda terdengar seperti bisikan ancaman yang tidak henti-hentinya.
Yasmin sudah memaksakan diri untuk memejamkan mata sejak dua jam yang lalu, namun tidur tidak kunjung datang. Memorinya tentang isi novel Throne of Thorns terus berputar di kepala seperti proyektor rusak yang memutar film horor yang sama berulang-ulang. Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan masa depan tragis yang tertulis di novel terus menghantui pikirannya. Ia akhirnya menyerah, duduk di tepi ranjang, dan menghabiskan sisa malam dengan memilah ingatan tentang alur novel—mencoba mengingat setiap detail, setiap peristiwa penting, setiap titik balik yang bisa ia ubah. Menurut naskah aslinya, dalam dua tahun ke depan Erion berhasil mengumpulkan kekuatan dari sisa-sisa kerajaan Odisian yang hancur. “Perang berdarah itu akan dimulai dua tahun dari sekarang,” guman Yasmin ngeri. Raja Hazir akan dibunuh secara keji di atas singgasananya sendiri. Ratu Cassia akan menyusul, diracun perlahan hingga mati dalam penderitaan. Ohmad akan ditangkap di medan perang, disiksa di depan publik, setelahnya dipenggal. Dan terakhir... Yasmina akan berakhir di panggung eksekusi di alun-alun kota, dipenggal di depan rakyat yang bersorak gembira menyaksikan kematian putri tiran. Tidak ada yang akan menangisi kematiannya, apalagi meratapi kepergiannya. Bahkan Erion tersenyum dingin saat pedang turun ke lehernya. “Aku harus segera mencari cara kembali ke duniaku,” bisik Yasmin sambil menatap langit-langit tenda yang bergoyang tertiup angin malam. Suaranya serak, penuh keputusasaan. “Tapi selama aku terjebak di sini, aku harus bisa mengubah alur ceritanya. Jika aku mengikuti alur aslinya, kepalaku benar-benar akan dipenggal di alun-alun kota.” Tangannya bergetar saat ia mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. “Tuhan...” bisiknya dengan suara parau ke dalam kegelapan. Air matanya menggenang di pelupuk mata, lalu tumpah membasahi pipinya. “Dari semua tokoh yang ada di novel ini, kenapa harus Yasmina?” Ia memejamkan matanya frustasi, merasakan kepahitan yang memenuhi dadanya. “Kenapa tidak masuk ke tubuh Elara saja?” jeritnya tertahan, takut ada pelayan yang mendengar. “Meski wanita yang dicintai Erion sejak kecil itu hidupnya sulit karena ulah Yasmina, tapi setidaknya ia dicintai banyak orang dan tidak berakhir di panggung eksekusi! Setidaknya ia punya Erion yang akan menyelamatkannya dan berakhir bahagia.” “Aku harus mencari segera cara pulang,” tekadnya dalam hati. “Hutan. Aku harus kembali ke hutan tadi. Mungkin di sana ada... sesuatu. Portal, pintu gerbang, apa pun yang bisa membawaku pulang.” Tapi saat memikirkan rencana itu, rasa takut mencengkeram dadanya, bayangkan pemberontak yang mati di depan matanya kembali memenuhi kepalanya. Hutan itu berbahaya, bukan hanya pemberontak, mungkin binatang buas juga ada. Dan yang utamanya, ia tidak tahu jalan kembali ke titik persisnya. Hutan Pervane sangat luas, bisa memakan waktu berhari-hari untuk mencari satu titik spesifik. “Apa yang harus aku lakukan?!” tanyanya frustasi. Tidak terasa, fajar mulai menyingsing. Yasmin di kejutkan oleh seorang pelayan yang masuk membawa nampan berisi sarapan, air pencuci muka, juga gaun baru yang terlipat rapi. “Tuan Putri, Baginda Raja memerintah rombongan untuk kembali ke Istana pagi ini,” lapor pelayan itu dengan kepala tertunduk, tampak takut. Yasmin menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Istana?” gumamnya dengan suara yang terdengar lelah dan asing di telinganya sendiri. “Iya, Tuan Putri,” jawab pelayan itu ragu, masih tidak berani mengangkat kepala. “Ijinkan hamba membantu Anda bersiap.” Yasmin mengangguk pasrah. Ia tidak punya pilihan selain mengikuti alur—setidaknya untuk saat ini. Melawan terlalu tiba-tiba akan membuat semua orang curiga. Pelayan itu membantu Yasmin berganti pakaian dengan gaun berwarna biru laut dengan bordir emas halus yang membentuk pola bunga di bagian dada dan lengan. Gerakan pelayan itu cekatan, tapi tetap hati-hati. Rambutnya yang panjang dan sedikit kusut dirapikan dengan sisir gading yang indah, lalu sebagian diikat ke belakang dengan pita sutra, sisanya dibiarkan terurai di punggung dalam gelombang lembut. Di luar, suara riuh rendah pasukan yang sedang berkemas untuk kembali ke ibu kota sudah terdengar jelas. Setelah rapi, Yasmin keluar dari tendanya dengan langkah hati-hati. Di depannya, Erion sudah berdiri tegak di samping kuda hitam gagahnya. Seekor kuda perang besar bernama Noktar yang terkenal di seluruh kerajaan karena keganasannya di medan tempur. Erion memberikan instruksi pada para prajurit dengan suara yang tegas dan terkendali—memeriksa formasi barisan, memastikan perbekalan cukup, mengatur jadwal istirahat. Ia terlihat sangat mendalami perannya sebagai Panglima—pemimpin yang disegani, dihormati, ditakuti. Begitu melihat Yasmin keluar dari tenda, Erion menghentikan pembicaraannya di tengah kalimat. Ia berjalan menghampiri. Langkahnya tegap penuh rasa percaya diri, jubah hitamnya berkibar tertiup angin pagi. Ia berhenti tepat di hadapan Yasmin—cukup dekat untuk berbicara, dan cukup jauh untuk menjaga batas kesopanan yang pantas antara tunangan yang belum menikah. “Tandumu sudah siap, Tuan Putri,” ucap Erion. Suaranya datar seperti biasa—tanpa kehangatan, tanpa emosi. Matanya yang tajam, tetap melakukan observasi yang membuat Yasmin merasa ditelanjangi. Setiap detail wajahnya diamati—Lingkaran hitam dibawah matanya yang sembab karena menangis semalam, bibir yang sedikit pucat, postur tubuh yang lebih lemah dari biasanya. Yasmin menelan ludah, berusaha mengabaikan tatapan tajam Erion yang bisa menembus pikirannya. Ia tahu pria ini adalah tipe pengamat yang sangat teliti. Setiap gerak-gerik kecilnya sedang dinilai dan diamati “Terima kasih,” jawab Yasmin pendek “Baginda Raja, Ratu, juga Putra mahkota sudah berangkat terlebih dulu sebelum fajar, ada sesuatu yang mendesak di Istana. Jadi hanya rombongan kita yang kembali ke istana sekarang. Jadi bisa kita berangkat sekarang?” Yasmin menyapu pandangan ke sekeliling area perkemahan yang kini tampak lengang. Hanya tersisa kepulan asap tipis dari bekas api unggun yang mulai padam dan beberapa prajurit yang sedang membongkar tenda terakhir. “Iya.” Yasmin mengangguk pelan. Mulai melangkah menuju menuju tandu yang megah dengan kaki yang masih terasa sedikit lemas, efek dari kurang tidur dan kecemasan yang menumpuk. Tanpa diminta, Erion melangkah maju mendahuluinya. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh sebagai tumpuan bagi Yasmin untuk menaiki anak tangga tandu yang cukup tinggi. Yasmin sempat ragu sejenak sebelum meletakkan tangannya di atas tangan Erion. Saat kulit mereka bersentuhan, ia merasakan kehangatan yang kontras dengan kepribadian dingin pria itu. Kulit Erion terasa keras—penuh kapalan dari bertahun-tahun memegang pedang, mengendarai kuda, bertempur di medan perang. “Pantas saja Yasmina begitu terobsesi pada Erion. Tindakannya lebih cepat dari bicaranya.” guman Yasmin dalam hati. “Pantas saja ia jatuh cinta.”Malam di perkemahan tempat perburuan kerajaan Pervane terasa begitu mencekam bagi Yasmin. Suara deru angin yang menghantam kain tenda terdengar seperti bisikan ancaman yang tidak henti-hentinya. Yasmin sudah memaksakan diri untuk memejamkan mata sejak dua jam yang lalu, namun tidur tidak kunjung datang. Memorinya tentang isi novel Throne of Thorns terus berputar di kepala seperti proyektor rusak yang memutar film horor yang sama berulang-ulang. Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan masa depan tragis yang tertulis di novel terus menghantui pikirannya. Ia akhirnya menyerah, duduk di tepi ranjang, dan menghabiskan sisa malam dengan memilah ingatan tentang alur novel—mencoba mengingat setiap detail, setiap peristiwa penting, setiap titik balik yang bisa ia ubah. Menurut naskah aslinya, dalam dua tahun ke depan Erion berhasil mengumpulkan kekuatan dari sisa-sisa kerajaan Odisian yang hancur. “Perang berdarah itu akan dimulai dua tahun dari sekarang,” guman Yasmin ngeri. Raja Haz
Jantung Yasmin berdebar sangat kencang sampai ia takut orang lain bisa mendengarnya. Napasnya tertahan di pangkal hidung. Pertanyaan Ohmad barusan sangat telak—pria ini adalah tipe orang yang bisa mencium kebohongan dari jarak jauh. Yasmin melirik ke arah Erion. Panglima itu masih berlutut, tapi tatapannya terkunci padanya, ikut menunggu momen di mana Yasmin akan melakukan kesalahan dalam menjawab pertanyaan Ohmad. “Apa maksudmu, Putraku? Tentu saja dia Yasmina,” sela Ratu Cassia langsung menggandeng lengan Yasmin dengan protektif. Ohmad terdiam sejenak, menatap Yasmin lurus-lurus sebelum tiba-tiba tertawa lepas. Wajahnya yang semula dingin berubah jenaka. “Aku hanya bercanda, Ibu. Aku hanya takut ada hantu hutan yang masuk ke dalam tubuh adikku. Tidak biasanya dia jadi pendiam dan terlihat... menyedihkan seperti ini.” Ohmad menepuk bahu Yasmin—tepat di bahu yang tidak terluka. “Biasanya kau sudah berteriak minta semua orang dihukum karena membiarkanmu lecet sedikit saja. Apa
Yasmin merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Derap langkah kuda dan gesekan roda tandu di atas tanah hutan terdengar seperti dentuman palu yang menghantam kepalanya. Ia duduk tegap, matanya tak lepas dari noda darah di tangannya. Setiap kali memejamkan mata, bayangan pria bertopeng yang ia tebas kembali muncul. Sensasi mengerikan saat bilah pedang menembus daging, suara rintihan kesakitan. Semuanya membuat perutnya bergejolak. Rasa bersalah menghimpit dadanya begitu sesak hingga ia sulit bernapas. Sebagai Yasmin yang hidup di dunia modern, melukai seseorang adalah mimpi buruk yang tak terbayangkan—meskipun di dunia Throne of Thorns, hal itu biasa saja. “Bagaimana kalau aku tidak bisa pulang ke duniaku? Bagaimana jika aku selamanya terjebak dalam novel ini dan melihat lebih banyak hal seperti ini?” tanyanya pada diri sendiri. Tanpa disadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang kotor. Yasmin tidak terisak, juga tidak meraung. Ia hanya menangis dalam diam, membiarkan b
Kedua kaki Yasmin dan Erion melangkah melewati air sungai yang dingin setinggi lutut. Meski gaunnya yang berat menghambat langkahnya, Yasmin terus berjalan secepat yang ia bisa. Tapi baru saja kakinya memijak bebatuan licin di tengah aliran, empat bayangan gelap melompat dari balik rimbunnya pohon yang menjorok ke sungai. “Tetap di belakangku!” bentak Erion. Yasmin segera beralih berdiri ke belakang Erion, matanya ikut awas melihat kemunculan empat orang pria bertopeng. Empat orang pemberontak itu tidak membuang waktu. Dua diantaranya menerjang bersamaan. Erion bergerak begitu lihai. Gerakannya tenang sekaligus mengerikan. Ia menangkis setiap tebasan pedang. Bunyi dentingan logam terdengar nyaring. Erion memutar tubuhnya, menendang dada musuh kedua hingga terjungkal ke dalam air. Pedangnya menari di udara, menciptakan garis perak yang mematikan. Satu tebasan horizontal merobek zirah ringan musuh di depannya, disusul dengan tusukan cepat yang melumpuhkan lawan lainnya. Air su
terinjak. Suara itu tidak jauh, mungkin hanya beberapa puluh meter dari balik rapatnya pepohonan di sisi kiri mereka. Erion—atau Panglima Arberi—sontak menegang. Ia tidak lagi memperdulikan tatapan kosong Yasmin. Dengan gerakan protektif yang terasa dipaksakan, ia menyambar lengannya dan menariknya bangkit dengan sentakan yang cukup kuat hingga Yasmin meringis. “Berhenti melamun jika kau masih ingin kepalamu menempel dengan tubuhmu,” desis Erion tajam. Yasmin dipaksa melangkah, melewati dua sosok tidak bernyawa yang tadi dibantai Erion. Matanya tidak sengaja melirik genangan darah yang mulai meresap ke tanah dan mata mayat yang masih terbuka lebar. Rasa mual seketika melonjak ke tenggorokan. Ia bergidik ngeri. Kekejaman yang dulu hanya ia baca di atas kertas, kini tersaji nyata dan berdarah di depan matanya. Langkah kaki Erion sangat lebar dan cepat, membuat Yasmin harus setengah berlari agar tidak terseret. Sepatu botnya menginjak tanah hutan yang tidak rata, sesekali tersa
“Mulai detik ini, kau bukan istriku lagi. Pergi dari sini sekarang juga!” Di bawah amukan hujan badai, Yasmin berjalan menembus derasnya air. Ia terusir dari rumah megah yang telah ditempatinya selama tujuh tahun. Pandangannya kosong, sementara telinganya terus memutar ulang suara dingin Karel beberapa saat lalu. Tangan kanannya mencengkeram erat koper kecil berisi pakaian seadanya. Tangan lainnya mendekap sebuah buku novel usang berjudul Throne of Thorns. Satu-satunya benda yang ingin ia simpan sebagai sisa dari kenangan manis awal pernikahan, sebelum pengkhianatan menghancurkan segalanya. Saat melangkah di persimpangan jalan yang licin, sebuah mobil melaju kencang tanpa sempat menginjak rem. Cahaya lampu yang menyilaukan mata menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum tubuhnya terpelanting, melayang sejenak, dan menghantam aspal dengan bunyi berdebam yang mengerikan. Dunia perlahan menggelap. Sebelum kesadaran itu hilang sepenuhnya. ☆☆☆☆ Suara badai dan teriakan







