Share

Bab 3: Kerajaan Pervane

Penulis: QueenShe
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-09 10:27:41

Kedua kaki Yasmin dan Erion melangkah melewati air sungai yang dingin setinggi lutut. Meski gaunnya yang berat menghambat langkahnya, Yasmin terus berjalan secepat yang ia bisa. Tapi baru saja kakinya memijak bebatuan licin di tengah aliran, empat bayangan gelap melompat dari balik rimbunnya pohon yang menjorok ke sungai.

“Tetap di belakangku!” bentak Erion.

Yasmin segera beralih berdiri ke belakang Erion, matanya ikut awas melihat kemunculan empat orang pria bertopeng.

Empat orang pemberontak itu tidak membuang waktu. Dua diantaranya menerjang bersamaan. Erion bergerak begitu lihai. Gerakannya tenang sekaligus mengerikan. Ia menangkis setiap tebasan pedang. Bunyi dentingan logam terdengar nyaring. Erion memutar tubuhnya, menendang dada musuh kedua hingga terjungkal ke dalam air.

Pedangnya menari di udara, menciptakan garis perak yang mematikan. Satu tebasan horizontal merobek zirah ringan musuh di depannya, disusul dengan tusukan cepat yang melumpuhkan lawan lainnya.

Air sungai yang tadinya jernih mulai berubah warna menjadi kemerahan, tersapu arus yang deras. Erion tampak seperti dewa kematian di tengah sungai. Setiap gerakannya efisien, dingin, dan tanpa ampun.

Di tengah kemelut itu, ada maut mengintai dari sudut yang tak terduga. Salah satu musuh yang sebelumnya tumbang oleh tendangan Erion ternyata masih bernapas.

Wajahnya penuh dendam, nafasnya tersengal. Pria itu bangkit perlahan dari genangan air, meraih pedangnya yang terjatuh, matanya tertuju pada punggung Erion yang sedang sibuk menghadapi lawan terakhir di depannya.

Erion sendiri tidak menyadari posisi musuh itu karena riuh suara air terjun kecil dekat mereka. Pria itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap menghujamkan bilah tajam itu ke pinggang Erion dari samping.

Melihat Erion dalam bahaya, sebuah insting yang tak pernah dirasakan Yasmin sebelumnya meledak di dadanya. Tanpa pikir panjang, ia membungkuk, meraih sebuah pedang berat milik musuh yang sudah tewas di dekat kakinya. Pedang itu terasa dingin dan sangat berat di tangannya yang gemetar.

“Erion! Awas!” teriak Yasmin, sambil mengayunkan pedang itu dengan seluruh tenaga yang ia miliki ke arah pria yang hendak menyerang Erion.

SLASH!

Bilah pedang itu menebas cukup dalam, hingga merobek bahu si musuh. Pedang pria itu terlepas dari genggaman sebelum sempat menyentuh Erion. Ia terlihat mengerang kesakitan. Matanya memerah tajam, tertuju pada Yasmin.

Erion yang mendengar teriakan Yasmin segera berbalik, matanya melebar saat melihat seorang musuh yang nyaris menusuknya kini tengah berjalan mendekati Yasmin dengan Gerakan menakutkan. Bahunya berdarah.

Tidak ingin membiarkan pria itu melangkah lebih jauh, dengan satu gerakan kilat, ia menerjang maju dan menghujamkan pedangnya tepat ke jantung musuh yang terluka itu. Pria bertopeng itu ambruk seketika di hadapan Yasmin, darahnya menyatu dengan aliran sungai yang kini tampak lebih mengerikan.

Erion menghembuskan napas panjang, mencoba menetralkan adrenalinnya. Ia melangkah mendekat, segera memeriksa Yasmin. Matanya yang tajam memindai wajah Yasmin yang pucat pasi seperti mayat.

Mata kosongnya menatap nanar ke arah pedang yang tadi digunakannya. Tangannya segera melepaskan pedang dalam genggamannya. Pedang itu jatuh menghantam bebatuan sungai, menghasilkan bunyi dentang yang nyaring.

Yasmin mengangkat kedua tangannya yang kini tercoreng bercak darah. Matanya melebar, menatap telapak tangannya sendiri dengan pandangan yang sarat kengerian dan rasa jijik.

Tubuhnya bergetar semakin hebat, napasnya tersengal seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang.

Dunia di sekitarnya seolah melambat. Suara gemericik air sungai dan hembusan angin mendadak berubah menjadi dengungan panjang yang menyakitkan di telinganya. Rasa mual merayap naik ke kerongkongannya. Ia baru saja melukai manusia, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan dalam hidup sebagai Yasmin di dunia nyata.

“Aku... aku melukainya,” bisik Yasmin lirih. Meski suaranya pelan, tapi Erion masih bisa mendengarnya. Pria itu bisa melihat bibir merah itu berubah semakin pucat dan gemetar. “Aku hampir membunuh seseorang.”

Erion mengerutkan kening. Matanya menyipit, mengamati reaksi Yasmin dengan rasa heran yang mendalam. “Ada apa dengannya?” batin Erion sinis.

Yasmina Sofia Vasnel bukanlah gadis bangsawan yang lemah lembut. Sejak kecil, ia telah dilatih memegang pedang dan pisau oleh instruktur terbaik kerajaan atas permintaan pribadinya—agar ia bisa merasa lebih berkuasa.

Erion pernah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Yasmina menancapkan pisau pada punggung tangan seorang pelayan hanya karena salah menyisir rambutnya, atau bagaimana ia menyabetkan pedang ke wajah seorang prajurit yang terlambat membukakan pintu untuknya.

Bagi Yasmina, melihat darah tumpah adalah hiburan. Melukai orang adalah caranya menunjukkan kekuasaannya. Anehnya, sekarang wanita di depannya ini tampak seolah dunianya baru saja runtuh hanya karena ia menggores bahu seorang pemberontak.

Sebelum ia sempat membuka mulutnya, suara langkah kaki masif terdengar dari arah hutan di depan mereka. Kali ini bukan satu atau dua orang, melainkan puluhan. Erion langsung memasang posisi siaga, tubuhnya yang basah kuyup menghalangi Yasmin.

“Panglima! Tuan Putri!” teriakan terdengar mendekat.

Mendengar itu bahu Erion turun. Ketegangannya sedikit mengendur saat melihat panji-panji yang dibawa rombongan itu. Itu adalah pasukan elit Arberi bersama prajurit kerajaan.

Mereka bergerak cepat mengepung area sungai, sebagian langsung membentuk pagar betis untuk melindungi Erion dan Yasmin, sementara yang lain menyisir semak-semak untuk memastikan tidak ada musuh yang tersisa.

“Amankan area! Jangan biarkan seekor tikus pun lolos!” perintah salah satu kapten prajurit.

Di tengah kegaduhan itu, Yasmin masih terjebak dalam dunianya sendiri. Dengingan di telinganya semakin keras, membuat kepalanya terasa ingin pecah.

Tubuhnya mulai goyah, kakinya tidak lagi sanggup menopang berat badannya di atas bebatuan sungai yang licin. Tepat sebelum Yasmin terjatuh, sebuah tangan besar dan hangat menangkap pinggangnya.

“Yasmina! Lihat aku!” suara rendah Erion mencoba menembus dengingan di kepala Yasmin. Segera Erion menyambar pergelangan tangan Yasmin, mencengkeramnya begitu kuat untuk menyentak gadis itu kembali ke kenyataan. “Sadarlah!” perintah Erion rendah.

Yasmin tersentak, fokus matanya perlahan kembali. Ia mendongak dan mendapati wajah Erion yang sangat dekat dengannya. Pria itu tidak menatapnya dengan kebencian seperti biasanya, melainkan dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara rasa ingin tahu dan kewaspadaan yang dalam.

“Tarik napasmu. Kau aman sekarang,” ucap Erion, suaranya lebih pelan namun penuh penekanan, berusaha menyadarkan Yasmin dari syok luar biasa yang menyerangnya. Yasmin mengikuti arahan Erion tanpa menyela.

“Segera bawa kuda ke sini! Siapkan tandu untuk Tuan Putri!” teriak Erion kepada prajuritnya, tanpa melepaskan sedikit pun tangannya di pinggang Yasmin.

“Ayo kita kembali ke kamp utama, Baginda raja dan ratu sudah sangat khawatir,” ajak Erion membimbing Yasmin.

Fokus mata Yasmin perlahan kembali saat ia melihat panji-panji kerajaan mendekat. Hatinya kembali mencelos, ia baru menyadari bahwa musuh bertopeng di sungai ini belum ada apa-apanya dibanding keluarga “asing” yang kini menantinya di kamp utama. Tokoh lain dalam novel ini.

Sampai kapan ia berakhir disini?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 6: Misi kembali ke Dunia Nyata

    Malam di perkemahan tempat perburuan kerajaan Pervane terasa begitu mencekam bagi Yasmin. Suara deru angin yang menghantam kain tenda terdengar seperti bisikan ancaman yang tidak henti-hentinya. Yasmin sudah memaksakan diri untuk memejamkan mata sejak dua jam yang lalu, namun tidur tidak kunjung datang. Memorinya tentang isi novel Throne of Thorns terus berputar di kepala seperti proyektor rusak yang memutar film horor yang sama berulang-ulang. Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan masa depan tragis yang tertulis di novel terus menghantui pikirannya. Ia akhirnya menyerah, duduk di tepi ranjang, dan menghabiskan sisa malam dengan memilah ingatan tentang alur novel—mencoba mengingat setiap detail, setiap peristiwa penting, setiap titik balik yang bisa ia ubah. Menurut naskah aslinya, dalam dua tahun ke depan Erion berhasil mengumpulkan kekuatan dari sisa-sisa kerajaan Odisian yang hancur. “Perang berdarah itu akan dimulai dua tahun dari sekarang,” guman Yasmin ngeri. Raja Haz

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 5: Rahasia Sang Panglima

    Jantung Yasmin berdebar sangat kencang sampai ia takut orang lain bisa mendengarnya. Napasnya tertahan di pangkal hidung. Pertanyaan Ohmad barusan sangat telak—pria ini adalah tipe orang yang bisa mencium kebohongan dari jarak jauh. Yasmin melirik ke arah Erion. Panglima itu masih berlutut, tapi tatapannya terkunci padanya, ikut menunggu momen di mana Yasmin akan melakukan kesalahan dalam menjawab pertanyaan Ohmad. “Apa maksudmu, Putraku? Tentu saja dia Yasmina,” sela Ratu Cassia langsung menggandeng lengan Yasmin dengan protektif. Ohmad terdiam sejenak, menatap Yasmin lurus-lurus sebelum tiba-tiba tertawa lepas. Wajahnya yang semula dingin berubah jenaka. “Aku hanya bercanda, Ibu. Aku hanya takut ada hantu hutan yang masuk ke dalam tubuh adikku. Tidak biasanya dia jadi pendiam dan terlihat... menyedihkan seperti ini.” Ohmad menepuk bahu Yasmin—tepat di bahu yang tidak terluka. “Biasanya kau sudah berteriak minta semua orang dihukum karena membiarkanmu lecet sedikit saja. Apa

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 4: Bukan Yasmina

    Yasmin merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Derap langkah kuda dan gesekan roda tandu di atas tanah hutan terdengar seperti dentuman palu yang menghantam kepalanya. Ia duduk tegap, matanya tak lepas dari noda darah di tangannya. Setiap kali memejamkan mata, bayangan pria bertopeng yang ia tebas kembali muncul. Sensasi mengerikan saat bilah pedang menembus daging, suara rintihan kesakitan. Semuanya membuat perutnya bergejolak. Rasa bersalah menghimpit dadanya begitu sesak hingga ia sulit bernapas. Sebagai Yasmin yang hidup di dunia modern, melukai seseorang adalah mimpi buruk yang tak terbayangkan—meskipun di dunia Throne of Thorns, hal itu biasa saja. “Bagaimana kalau aku tidak bisa pulang ke duniaku? Bagaimana jika aku selamanya terjebak dalam novel ini dan melihat lebih banyak hal seperti ini?” tanyanya pada diri sendiri. Tanpa disadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang kotor. Yasmin tidak terisak, juga tidak meraung. Ia hanya menangis dalam diam, membiarkan b

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 3: Kerajaan Pervane

    Kedua kaki Yasmin dan Erion melangkah melewati air sungai yang dingin setinggi lutut. Meski gaunnya yang berat menghambat langkahnya, Yasmin terus berjalan secepat yang ia bisa. Tapi baru saja kakinya memijak bebatuan licin di tengah aliran, empat bayangan gelap melompat dari balik rimbunnya pohon yang menjorok ke sungai. “Tetap di belakangku!” bentak Erion. Yasmin segera beralih berdiri ke belakang Erion, matanya ikut awas melihat kemunculan empat orang pria bertopeng. Empat orang pemberontak itu tidak membuang waktu. Dua diantaranya menerjang bersamaan. Erion bergerak begitu lihai. Gerakannya tenang sekaligus mengerikan. Ia menangkis setiap tebasan pedang. Bunyi dentingan logam terdengar nyaring. Erion memutar tubuhnya, menendang dada musuh kedua hingga terjungkal ke dalam air. Pedangnya menari di udara, menciptakan garis perak yang mematikan. Satu tebasan horizontal merobek zirah ringan musuh di depannya, disusul dengan tusukan cepat yang melumpuhkan lawan lainnya. Air su

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 2: Throne of Thorn

    terinjak. Suara itu tidak jauh, mungkin hanya beberapa puluh meter dari balik rapatnya pepohonan di sisi kiri mereka. Erion—atau Panglima Arberi—sontak menegang. Ia tidak lagi memperdulikan tatapan kosong Yasmin. Dengan gerakan protektif yang terasa dipaksakan, ia menyambar lengannya dan menariknya bangkit dengan sentakan yang cukup kuat hingga Yasmin meringis. “Berhenti melamun jika kau masih ingin kepalamu menempel dengan tubuhmu,” desis Erion tajam. Yasmin dipaksa melangkah, melewati dua sosok tidak bernyawa yang tadi dibantai Erion. Matanya tidak sengaja melirik genangan darah yang mulai meresap ke tanah dan mata mayat yang masih terbuka lebar. Rasa mual seketika melonjak ke tenggorokan. Ia bergidik ngeri. Kekejaman yang dulu hanya ia baca di atas kertas, kini tersaji nyata dan berdarah di depan matanya. Langkah kaki Erion sangat lebar dan cepat, membuat Yasmin harus setengah berlari agar tidak terseret. Sepatu botnya menginjak tanah hutan yang tidak rata, sesekali tersa

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 1: Perburuan

    “Mulai detik ini, kau bukan istriku lagi. Pergi dari sini sekarang juga!” Di bawah amukan hujan badai, Yasmin berjalan menembus derasnya air. Ia terusir dari rumah megah yang telah ditempatinya selama tujuh tahun. Pandangannya kosong, sementara telinganya terus memutar ulang suara dingin Karel beberapa saat lalu. Tangan kanannya mencengkeram erat koper kecil berisi pakaian seadanya. Tangan lainnya mendekap sebuah buku novel usang berjudul Throne of Thorns. Satu-satunya benda yang ingin ia simpan sebagai sisa dari kenangan manis awal pernikahan, sebelum pengkhianatan menghancurkan segalanya. Saat melangkah di persimpangan jalan yang licin, sebuah mobil melaju kencang tanpa sempat menginjak rem. Cahaya lampu yang menyilaukan mata menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum tubuhnya terpelanting, melayang sejenak, dan menghantam aspal dengan bunyi berdebam yang mengerikan. Dunia perlahan menggelap. Sebelum kesadaran itu hilang sepenuhnya. ☆☆☆☆ Suara badai dan teriakan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status