เข้าสู่ระบบTakjub, adalah hal pertama yang mereka semua rasakan. Ketika bilah pedang itu bergetar di udara, memantulkan cahaya dingin yang membuat aula semakin sunyi. Lie Bing. Pedang legendaris yang hanya akan mengakui satu tuan. "Itu Lie Bing." "Kau benar, tidak sembarang orang bisa menaklukann Lie Bing." Semua orang juga tahu, pedang itu hanya mampu dikendalikan oleh orang yang memiliki ilmu pedang tingkat tinggi. Semua mata membelalak. Beberapa pejabat mundur setengah langkah tanpa sadar. Bahkan Lin Hua Su yang tadi sok berani, kini refleks menurunkan tangannya. Namun—Detik berikutnya, sesuatu yang sama sekali tak terduga terjadi. Lin Ye Su menghela napas panjang, lalu… menguap. Ya, menguap. Ia menggaruk kepalanya dengan malas, kemudian memiringkan kepala sambil menatap pedang itu seolah melihat sapu dapur. "Eh?" katanya polos. "Kenapa pedangnya keluar sendiri? Aku kan belum menyuruh apa-apa." Suara itu. Nada bodoh itu. Seisi aula terdiam… lalu bingung. Lie Bing
Aula kediaman Qu seketika hening karena ucapan sembrono putra mahkota. Waktu seolah berhenti. Semua orang menatapnya tak percaya. Kata-kata itu—menggema di telinga setiap orang yang hadir, menghantam kesadaran mereka tanpa ampun. Mangatakan kekasih dengan begitu mudahnya. Apa Lin Ye Su sudah gila? Benar jika kata bodoh tersemat pada sosok putra mahkota. Selain bodoh, Lin Ye Su juga tidak tahu malu. Shen Lihua membeku, begitupula dengan Luo Qingyu yang mengamati sang nona dari kejauhan. Gadis itu hampir menjatuhkan rahangnya. Sikap sembrono ini, begitu familiar bagi Luo Qingyu. "Kenapa dia mirip dengan si perampok gunung itu? Tapi mana mungkin, sungguh mustahil." Luo Qingyu menggelengkan kepalanya cepat. Tak mau menebak hal yang jelas mustahil terjadi. Lin Ye Su begitu tampan dan dia putra mahkota, meskipun bodoh dan tak tahu malu. Sedangkan Lin Ru—wajahnya mengerikan dengan luka memanjang di wajah, dan dia pria mata keranjang. Sementara itu Shen Lihua diam membeku.
Tubuh Shen Lihua masih terasa ringan di udara ketika dua lengan kuat itu menahannya dengan kokoh. Suasana aula seketika membeku. Musik pernikahan berhenti mendadak. Para tamu menahan napas, tak satu pun berani bergerak. Bahkan Nyonya Tua Qu yang biasanya lantang, kini membisu dengan wajah pucat, ketika melihat rombongan istana. Shen Lihua menatap pria di hadapannya. Menilai setiap sudut wajah rupawan itu dengan seksama. Jubah kuning keemasan itu— lambang naga berkuku lima— tak mungkin salah. Putra Mahkota Yanqing. Lin Ye Su. Jantungnya sempat berdegub sebentar sebelum dia mampu menguasai dirinya sendiri, dan memperbaiki posisinya. Pria itu menunduk sedikit, memastikan Shen Lihua berdiri dengan benar sebelum melepaskan pelukannya. "Apa Nona baik-baik saja?" tanyanya. Shen Lihua sempat mencerna, suara ini seperti familiar. Namun, dia mengabaikan segala pikiran liarnya. "Mana mungkin dia Lin Ru, tidak mungkin. Lin Ru memiliki luka memanjang di wajah, sedangkan
Kediaman Qu telah berubah menjadi lautan merah. Lentera bergantung di sepanjang lorong, kain sutra merah membentang dari gerbang hingga aula utama. Musik pernikahan mengalun riuh, megah, dan penuh gairah. Shen Lihua melangkah masuk bersama Luo Qingyu di sisinya. Mengenakan Hanfu sewarna langit, dengan aksen bunga. Meskipun terlihat sederhana, tetapi Shen Lihua cukup memukau dengan wajah cantiknya. Bisik-bisik langsung menyebar, ketika dirinya tiba di aula depan kediaman Qu. "Bukankah itu Shen Lihua?" "Dia masih berani datang?" "Wanita tidak tahu diri, untuk apa dia datang kembali?" Tatapan merendahkan, mengejek, bahkan jijik menghujani dirinya. Ia mengabaikan semuanya. Membiarkan mulut-mulut itu mengejeknya. Dia tak peduli, untuk apa? Hanya membuang energi positifnya saja. Lagipula, kedatangannya ke sini untuk mencari bukti keterlibatan Su Minshan, sekaligus mendekati putra mahkota untuk bisa mengikuti ujian tabib istana. Namun saat tiba di aula utama, langk
Istana Kekaisaran Yanqing. Gerbang tinggi istana terbuka lebar ketika kereta Putra Mahkota memasuki halaman dalam. Sejak pagi, para pejabat dan pangeran telah berkumpul—berpura-pura sibuk, berpura-pura menantikan kedatangannya. Padahal, siapa pun di istana tahu, Putra Mahkota itu adalah sosok yang paling tidak disukai karena rumor yang beredar di dalam istana kekaisaran. Lin Ru turun dari kereta dengan wajah datar. Ia tak pernah peduli dengan tatapan orang-orang di dalamnya. Sejak kematian ibunya, Lin Ru tak suka berada di dalam istana dengan segala aturan kolotnya. Selir kaisar, lebih memperhatikan putra-putri mereka daripada dirinya. Apalagi para pangeran itu, mereka memiliki niat untuk merebut tahta kekaisaran—terutama Lin Hua Su, putra pamannya. Para selir, dan adik kaisar menyebarkan rumor jika dirinya itu bodoh, dan tak memiliki bakat apa pun. Akan tetapi, Lin Ru memilih diam, dan membiarkan rumor itu berkembang. Jadi, dia bisa melakukan apa pun tanpa orang lain
Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Shen Lihua terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak malam ini. Udara pegunungan masih dingin. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang bambu, membuat dunia terasa sunyi dan pucat. Ia bangkit perlahan dari tikar jerami, merapikan pakaiannya, lalu melangkah keluar gubuk. Namun, gubuk tempat tinggal Lin Ru terlihat gelap. Tak biasanya, obor tak dinyalakan. Meskipun Li. Ru telah terbangun, tak biasanya pemuda itu memadamkan obor kebih awal. Mengingat hari masih begitu gelap. Seruling giok yang biasa tergeletak di meja bambu di halaman juga tak terlihat. Bahkan cangkir teh yang semalam masih digunakan telah dibersihkan rapi, seolah pemiliknya memang telah pergi sejak dini hari. "Apa dia pergi berburu ke hutan. Bukannya dia sudah janji akan menemaniku datang ke jamua di kediaman Qu," gumam Shen Lihua pelan. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit kosong. Ia menoleh ke arah kamar Lan Rui Hong, namun pintu tertutup rapat. Pria tua itu jelas ti







