Share

Bab 3. Disingkirkan

Author: Andrea_Wu
last update Last Updated: 2025-12-25 14:12:39

Pagi datang tanpa kehangatan seperti biasanya.

Kabut tipis masih menggantung di atas kolam teratai ketika Shen Lihua membuka mata. Malam tadi ia hampir tak tertidur, hanya kelelahan yang menekan kelopak matanya hingga akhirnya terpejam sendiri.

Namun rasa sakit di dada itu masih ada. Masih melekat, dan sulit sekali bayangan itu lenyap dari kepala.

Suara desahan manja Su Minshan, lalu sikap manis suaminya pada pelayan itu. Membuat dada Shen Lihua serasa terbakar.

Belum sempat ia membasuh wajah, langkah pelayan senior terdengar di luar Paviliun Anggrek.

Itu pertanda buruk, bahkan Shen Lihua mampu menebak apa yang akan dirinya hadapi nanti.

"Nyonya Shen." Suara itu terdengar dari balik tirai. "Nyonya Tua Qu memanggil Anda ke Aula Utama. Sekarang." Perintah itu mutlak.

Shen Lihua tak punya kuasa untuk menolak, lalu dia berkata. "Ya, aku segera ke sana."

"Baik, Nyonya. Sebaiknya Anda segera datang."

Langkah kaki pelayan dari paviliun sakura lenyap dalam beberapa saat. Menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar yang selama lima bulan ini, dingin bagai butiran salju.

Shen Lihua menutup matanya sejenak, lalu berdiri. Ia merapikan sanggulnya sendiri, mengenakan jubah warna biru pucat—warna yang selalu ia kenakan saat menghadap ibu mertua.

Ia menatap wajahnya sekali lagi di depan cermin besar. Terlihat tenang, dan anggun. Sempurna sebagai menantu yang tak bercela.

Kakinya melangkah keluar selepas menyibak tirai ungu di dalam kediamannya. menatap lorong panjang yang sunyi. Hanya beberapa pelayan yang menunduk hormat ketika berpapasan dengannya.

Jantungnya berdebar cepat, setiap langkah kakinya yang terayun.

Aula Utama sudah ramai saat ia tiba.

Nyonya Tua Qu duduk di kursi utama, punggungnya tegak meski usia telah menggerogoti rambutnya dengan uban. Tongkat kayu cendana bertumpu di samping kursi, bukan sebagai penyangga—melainkan simbol kekuasaan.

Di sisi kanan aula, berdiri Qu Liang, dan di belakangnya....Su Minshan berdiri dengan angkuh, layaknya nyonya muda.

Perut wanita itu belum tampak jelas, namun wajahnya pucat, seolah rapuh dan perlu dilindungi. Kedua tangannya bertaut di depan perutnya dengan sikap posesif yang menusuk mata.

Shen Lihua berlutut di depan nyonya tua Qu.

"Menantu Shen memberi salam pada Ibu."

Nyonya Tua Qu menatapnya lama. Tatapan itu tajam, menelanjangi, seolah ingin menimbang nilai Shen Lihua sebagai seorang istri—dan sebagai perempuan.

"Aku dengar," ucapnya akhirnya, suaranya terdengar datar, "Kau sudah tahu, bukan?"

Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.

Shen Lihua menunduk lebih dalam. "Jika yang Ibu maksud adalah kehamilan pelayan Su, maka itu benar."

"Hm." Nyonya Tua Qu mengetukkan tongkatnya ke lantai. Bunyinya terdengar nyaring, namun bagi Shen Lihua, itu seperti irama neraka.

"Kau istri sah Qu Liang selama tiga tahun. Namumn tak bisa memberi keturunan. Sekarang, rumah ini akhirnya akan memiliki darah penerus."

Setiap kata seperti palu yang menghantam kepala Shen Lihua.

"Ibu." Shen Lihua membuka suara perlahan, "Menantu tak pernah lalai menjalankan kewajiban. Ramuan tabib—"

"Cukup." Nyonya Tua Qu mengangkat tangan ke udara. "Aku tidak memanggilmu ke sini untuk mendengar pembelaan."

Seketika bibir Shen Lihua terkatup rapat. Suasana menjadi hening.

Qu Liang tetap diam. Wajahnya keras, seperti batu. Ia tak peduli dengan remuk di dada Shen Lihua karena perbuatannya.

Nyonya Tua Qu melanjutkan, "Anak itu harus lahir dengan selamat. Dan selama itu, Su Minshan akan tinggal di Paviliun Teratai, dengan perlindungan penuh."

Mendengar itu, Shen Lihua mengepalkan jemarinya di balik lengan jubah.

"Sebagai istri utama," lanjut wanita tua itu, "Kau seharusnya bermurah hati. Jangan membuat keributan. Jangan mempermalukan keluarga Qu."

Bermurah hati.

Kata itu membuat dada Shen Lihua nyeri. Tubuhnya seolsh ditelanjangi oleh kenyataan.

Istri utama? Lalu, bagaimana dengan dirinya?

Apsksh dia akan disingkirkan pada akhirnya.

"Apakah Ibu… berniat mengangkat pelayan Su sebagai selir?" tanyanya lirih, meski ia sudah tahu jawabannya.

Nyonya Tua Qu tersenyum tipis. "Jika anak itu laki-laki, tentu saja."

Senyum itu dingin. Keputusan sudah bulat, dan Shen Lihua tak mampu menolak semua keputusan ibu mertuanya.

Su Minshan tiba-tiba berlutut. "Nyonya Shen, hamba mohon… hamba tak berniat merebut apa pun. Hamba hanya ingin anak ini selamat."

Tangisnya pecah, namun Shen Lihua tahu betul itu hanyalah tangisan palsu. Untuk membuat dirinya semakin terpojok.

Nyonya Tua Qu langsung melunak. "Bangunlah. Kau sedang mengandung."

Qu Liang maju selangkah, menopang tubuh Su Minshan dengan tangannya.

Sentuhan itu… sekali lagi.

Shen Lihua menunduk, menahan gemetar yang merambat dari ujung kaki ke tulang punggung.

Sakit, rasanya benar-benar sakit.

"Mulai hari ini," kata Nyonya Tua Qu tegas, "Kau harus lebih tahu diri sebagai istri utama. Jangan iri. Jangan cemburu. Jangan menyakiti ibu dari cucuku."

Kalimat terakhir itu bukan peringatan.

Itu ancaman mutlak.

Dia masih membisu, hanya mampu menatap suaminya denga raut pedih.

Tangannya mengepal, namun tak bisa berbuat apapun.

Kenapa? Kenapa dia harus menjadi istri penurut, dan lemah.

Kenapa ia tak bisa melawa takdir menyakitkan ini.

Dia mendongak, memberanikan diri menatap mata Nyonya Tua Qu.

"Ibu, boleh kah aku mengajukan keberatan. Jenderal Qu adalah suamiku, meskipun aku belum bisa melahirkan penerus di kediaman Jenderal aku berhak menolak pelayan Su untuk jadi—"

"Jika kau menolak, maka Qu Liang akan menceraikanmu."

Deg.

Gemuruh di dadanya memburu.

Cerai?

Itu artinya dia akan dibuang begitu saja.

"Cerai?"

"Kau tidak dengar apa yang Ibu katakan!" Akhirnya Qu Liang berbicara.

"Tapi aku—"

"Kediaman Jenderal, tidak ingin menampung wanita mandul, dan tidak berguna."

Nyonya Tua Qu berdiri, dia berjalan angkuh, melewati Shen Lihua begitu saja.

Wanita itu mematung di tempat. Hatinya telah terkoyak begitu dalam.

Ia menatap suaminya yang memapah Su Minshan.

"Apa kau akan menceriakanku, Jenderal?"

Qu Liang menatapnya angkuh. "Ya, jika kau tidak mau menerima pelayan Su, maka kau akan kuceraikan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 11. Paralel Penyesalan

    Malam itu, hujan turun di Kediaman Jenderal Qu. Beberapa pelayan kediaman Qu bergerak cepat membawa lentera-lentera terang, sementara yang lainnya sigap menutup jendela. Kehangatan memenuhi aula utama, namun di tengah segala kehangatan itu, Jenderal Qu Liang justru merasakan kekosongan yang tak bisa ia jelaskan. Ia duduk sendiri di ruang kerjanya, melamun dengan tatapan mata kosong. Di atas meja terbentang laporan militer, peta wilayah perbatasan, dan surat-surat resmi. Namun matanya justru tak membaca satu pun tumpukan perkamen di atas mejanya.Pandangannya berulang kali tertuju pada sudut ruangan—tempat yang dulu selalu disediakan kursi kecil bagi Shen Lihua ketika ia menunggunya dengan diam. Kini sudut itu kosong. Tidak ada lagi sosok istrinya yang selalu menemaninya setiap kali ia sibuk mengerjakan laporan militer. Sudah berhari-hari. Entah, ia sudah tak bisa menghitungnya lagi. Qu Liang mengerutkan kening, meneguk teh yang telah dingin. Entah sejak kapan, ia mulai sering l

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 10. Takdir Yang Menentukan

    Salju turun semakin rapat, menelan jejak langkah Shen Lihua dan Luo Qingyu hingga nyaris tak tersisa. Angin gunung berdesir tajam, memotong kulit seperti bilah tipis yang tak terlihat. Tubuh Shen Lihua ambruk sepenuhnya di batas kota. Nafasnya nyaris tak terdengar, wajahnya pucat keabu-abuan, sementara darah dari punggungnya membeku bercampur salju. "Nona—!" Luo Qingyu berteriak parau, memeluk tubuh nonanya yang dingin. Tangannya gemetar hebat, matanya merah oleh air mata karena ketakutan. "Bangun, Nona… kumohon, jangan tinggalkan aku…" Namun Shen Lihua tak lagi merespons. Tubuhnya semakin dingin dalam dekapan Luo Qingyu. Ia tak mengerti kenapa nasib nonanya menjadi seperti ini. Shen Lihua adalah seorang wanita keturunan bangsawan. Dia wanita yang baik, menjunjung tinggi nama baik klannya. Akan tetapi, kenapa takdir begitu kejam padanya. "Nona Shen, kumohon bangunlah. "Luo Qingyu kembali meraung, dadanya sesak akibat terlalu lama menangis. Tempat ini begitu terpencil,

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 9. Aib Keluarga Shen

    Gerbang Kediaman Shen berdiri megah di hadapan mereka, lampu-lampu lentera menggantung rapi di sisi kanan dan kiri, memancarkan cahaya kekuningan yang dingin. Shen Lihua menatapnya dengan mata berkabut. Tempat ini adalah rumah kelahirannya. Tempat ia dibesarkan sejak kecil. Tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan terakhir ketika seluruh dunia menolaknya. Namun entah mengapa, langkahnya terasa semakin berat. Ia tidak tahu kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya kali ini. "Qingyu," ucapnya pelan, "Bantu aku berdiri tegak. Jangan biarkan mereka melihatku seperti ini." Luo Qingyu mengangguk cepat. Ia merapikan jubah nonanya sebisanya, meski noda darah masih tampak jelas di punggungnya. Ketika pintu samping diketuk, seorang pelayan Kediaman Shen keluar. Begitu melihat Shen Lihua, wajah pelayan itu langsung berubah. "N-Nona muda?" "Yu Lanyi, apa kabar?" ujarnya pada seorang pelayan muda di kediaman Shen. Yu Lanyi diam terpaku menatap sosok Shen Lihua. "Nona, saya ba

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 8. Awal Dari Takdir

    Shen Lihua melangkah tertatih, diikuti oleh Luo Qingyu yang setia memapahnya meninggalkan Kediaman Jenderal Qu. Sebuah peti kayu kecil ia dekap erat ke dada, seolah itu satu-satunya benda yang masih tersisa sebagai miliknya. Semuanya telah berakhir. Pernikahan tiga tahun yang ia jaga dengan sepenuh hati, kini runtuh tanpa sisa. Ia telah diusir dari kediaman Jenderal Qu, dicampakkan seperti sampah tak berguna. Difitnah hingga begitu keji. Bukan tubuhnya yang sakit, melainkan hatunya yang remuk redam tak bersisa. Ketika kakinya berhenti di depan gerbang utama keluarga Qu, Shen Lihua menghela napas panjang. Kepalanya menoleh perlahan ke belakang. Papan nama keluarga Qu masih tergantung kokoh di atas sana, berkilau diterpa cahaya lentera malam, namun justru membuat nyeri di dadanya kian perih. Bayangan Su Minshan yang memeluk lengan Qu Liang kembali terpatri jelas di benaknya—sebuah momok menyakitkan yang tak bisa ia singkirkan. Selama tiga tahun ini, apa yang tidak ia lakuk

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 7. Hukuman

    Pelataran Kediaman Qu diterangi obor-obor tinggi. Angin malam berembus dingin, menyapu daun-daun kering di lantai batu. Langit gelap, tanpa bintang—seolah turut menutup mata pada apa yang akan terjadi. Shen Lihua dibawa keluar oleh dua pengawal. Ia berjalan tanpa perlawanan. Wajahnya tampak tenang, seperti orang yang tak menanggung beban apa pun. Punggungnya tegak, langkahnya tenang, meski wajahnya tampak pucat di bawah cahaya api. Kalung giok putih masih tergantung di lehernya, satu-satunya benda yang ia bawa karena benda itu adalah hadiah dari neneknya di kediaman Shen. Para pelayan berkerumun di kejauhan. Tak satu pun berani bersuara untuk membela Shen Lihua. Termasuk Luo Qingyu, gadis itu berdiri di lorong menuju pelataran. Tangisnya belum padan, melihat sebentar lagi Shen Lihua akan menerima hukuman. Qu Liang berdiri di tangga batu, menatapnya dari atas dengan sorot mata dingin. "Kau menampar Su Minshan?" tanyanya langsung. "Benar," jawab Shen Lihua tanpa menun

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 6. Fitnah Keji

    Pintu Paviliun Teratai kembali terbuka dengan tergesa. Su Minshan berlari keluar dengan wajah pucat, satu tangan menutup pipinya yang masih terasa panas. Jejak merah masih jelas membekas di kulitnya yang pucat. Air mata menggenang di pelupuk mata. Ia tahu Jenderal Qu baru saja kembali dari Paviliun Anggrek. Tanpa ragu, Su Minshan langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Qu Liang yang berdiri tak jauh dari paviliun. "Jenderal." Suaranya bergetar, sengaja ia buat lembut agar terdengar rapuh. "Hamba… hamba tidak tahu kesalahan apa yang telah hamba perbuat. Nyonya Shen… dia menampar wajah hamba tanpa alasan." Qu Liang tertegun sejenak. Tangannya mengepal perlahan. Baru saja ia bertemu Shen Lihua di kamarnya—wanita itu dengan tenang menyerahkan surat perceraian, memilih pergi dari Kediaman Qu tanpa satu pun tuntutan. Lalu sekarang… Kenapa Shen Lihua berani melukai wanita yang mengandung calon darah keturunannya? "Katakan sekali lagi," ucapnya pelan. Nada suar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status