Share

Bab 4. Keputusan Berat

Author: Andrea_Wu
last update publish date: 2025-12-25 21:22:17

Shen Lihua masih meminum ramuan pahit itu. Entah sudah berapa mangkuk cairan kental tersebut meluncur di kerongkongannya.

Ia putus asa. Ia juga ingin mengandung—agar tak lagi disebut sampah oleh suami dan ibu mertuanya.

Bahkan, Jenderal Qu telah menegaskan akan menceraikannya jika ia tak kunjung mengandung putra Qu Liang.

"Nona Shen, hentikan itu!" Luo Qingyu merebut mangkuk keramik berukir phoenix biru dari tangan Shen Lihua.

"Aku harus bisa mengandung, Qingyu. Aku tak mau diceraikan. Aku mencintainya."

Tatapan Luo Qingyu meredup, dipenuhi rasa perih dan ketidakberdayaan.

Ia telah menjadi pelayan setia Shen Lihua sejak wanita itu masih remaja. Ia tahu betul bagaimana perjuangan sang Nona mempelajari ilmu pengobatan, bagaimana mimpi dan cita-cita besarnya perlahan terhapus setelah menikah dengan Qu Liang.

Dan ketika Shen Lihua akhirnya menerima takdirnya—ketika ia benar-benar mencintai pria itu—pengkhianatan justru datang tanpa ampun.

"Nona, jangan menyakiti diri Anda sendiri… kumohon."

Shen Lihua terdiam. Pandangannya jatuh pada kedua tangannya yang bergetar pelan.

"Aku akan ke dapur sebentar. Nona ingin sesuatu?" tanya Luo Qingyu hati-hati.

Shen Lihua hanya menggeleng pelan.

Qingyu mengangguk. Ia membungkuk hormat, lalu keluar dari Paviliun Anggrek.

Selepas kepergian Qingyu, Shen Lihua bangkit berdiri. Ia membuka jendela kamarnya lebar-lebar, membiarkan udara dingin menerpa wajahnya. Pandangannya tertuju pada hamparan putih salju yang menari di udara sebelum jatuh perlahan di atas kelopak-kelopak teratai beku.

Salju turun lebih tebal dari malam sebelumnya, menutup atap-atap paviliun dengan lapisan putih yang dingin dan sunyi.

Di Paviliun Anggrek, pintu kamar Shen Lihua kembali tertutup rapat sejak kepergian Luo Qingyu.

Ketika Luo Qingyu kembali, ia berdiri ragu di depan pintu. Dadanya sesak, firasat buruk menekan perasaannya.

"Nona Shen?" panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Namun, tetap sunyi, seperti tak ada kehidupan di dalam sana.

Dengan tangan gemetar, Luo Qingyu mendorong pintu perlahan.

Udara dingin langsung menyergap. Jendela kamar terbuka setengah, membiarkan angin musim dingin menyelinap masuk tanpa ampun. Tirai tipis berkibar lemah, sementara aroma dupa semalam masih menggantung—bercampur dengan bau logam samar, seperti air mata yang telah lama mengering.

Shen Lihua duduk di depan meja rias.

Rambutnya terurai tanpa sanggul, jatuh berantakan di punggungnya. Wajahnya pucat, matanya kosong menatap bayangannya sendiri di cermin perunggu. Ia masih mengenakan jubah putih semalam—tanpa mantel, tanpa selimut.

"Nona Shen!" Luo Qingyu berlari menghampiri. Ia berlutut di hadapan Shen Lihua dan menggenggam tangan wanita itu.

Dingin.

Terlalu dingin untuk seseorang yang terjaga semalaman.

"Mengapa Anda membuka jendela? Tubuh Anda bisa jatuh sakit, Nona!" Suaranya bergetar, nyaris menangis melihat keadaan sang nona.

Shen Lihua berkedip pelan, seolah baru menyadari keberadaan orang lain di sisinya.

"Qingyu," ucapnya lirih. "Salju turun dengan indah, bukan?"

Luo Qingyu menahan napas. Ia segera menutup jendela, lalu menyelimuti bahu Shen Lihua dengan mantel bulu dari sutra.

"Nona ayo berbaring. Aku akan memanggil tabib."

"Tak perlu," potong Shen Lihua pelan. "Aku tidak sakit, untuk apa kau memanggil tabib."

Tangannya terangkat perlahan, menyentuh dadanya sendiri.

"Ini luka yang tak bisa disembuhkan oleh ramuan apa pun. Badanku baik-baik saja, hanya hatiku yang sakit, Qingyu."

Luo Qingyu terdiam, tak terasa air mata lolos menyentuh pipinya.

Kenapa takdir dewa begitu kejam untuk sang nona muda.

***

Sementara itu, di Paviliun Teratai, pagi disambut dengan tawa lembut. Sangat kontras dengan kediaman Shen Lihua yang sunyi dan menyedihkan.

Jenderal Qu Liang duduk di sisi ranjang, mengawasi Su Minshan meminum ramuan penguat kehamilandari tabib istana.

Wajahnya tampak lebih rileks dari biasanya—bahkan ada perasaan membuncah yang tak bisa ia sembunyikan.

"Nyonya Muda harus berhati-hati," katanya dengan nada datar namun protektif. "Mulai hari ini, kau tak perlu keluar paviliun tanpa pengawalan."

Su Minshan mengangguk patuh, jemarinya mencengkeram selimut. Dia bersandar di dada Qu Liang dengan manja, tak berpikir jika sikapnya ini telah melukai Shen Lihua teramat dalam.

"Bagaimana dengan… Nyonya Shen?" tanyanya,jemarinya sibuk bermain di dada Qu Liang.

Qu Liang terdiam sejenak.

Tatapannya beralih ke luar jendela, ke arah Paviliun Anggrek yang tertutup salju.

"Dia tahu batasnya," jawabnya singkat. "Selama kau mengandung anakku, tak ada yang boleh mengusikmu. Termasuk Shen Lihua sekalipun.

Jawaban itu seharusnya menenangkan.

Namun Su Minshan justru merasakan dingin merambat di sepanjang tulang punggungnya.

Ia tidak tahu, kenapa dia begitu khawatir. Bukankah ini jalan yang dia ambil. Dengan melahirkan putra Jenderal Qu, ia akan menempati tahta sebagai Nyonya muda di kediaman Jenderal. Membiarkan Shen Lihua tersingkir, dan ia menjadi satu-satunya.

***

Menjelang siang, Nyonya Tua Qu datang ke Paviliun Anggrek.

Tongkat kayunya mengetuk lantai dengan bunyi tegas. Langkahnya mantap meski usia telah renta. Wajahnya keras, sorot matanya tajam—tak ada sedikit pun kelembutan tersisa.

Pintu dibuka oleh pelayan setianya.

Ketika itu, ia mendapati Shen Lihua duduk diam di kursi dekat jendela. Wajahnya pucat, matanya cekung, namun sikapnya tetap anggun seperti biasanya.

"Shen Lan!" panggil Nyonya Tua Qu dengan nama lahirnya tanpa basa-basi. "Kau tahu kabar pagi ini?"

Shen Lihua mengangkat pandangan perlahan. Dia tahu betul, desas desus itu sudah terdengar di seluruh kediaman Jenderal.

Kabar tentang pengangkatan tuan muda pada anak Su Minshan jika lahir nanti.

"Aku mendengarnya sejak tadi malam."

Nyonya Tua Qu mendengus.

"Bagus. Berarti kau tak perlu berpura-pura tak tahu apa-apa."

Wanita tua itu melangkah mendekat.

"Anak dalam perut Minshan adalah penerus keluarga Qu. Kau seharusnya bersyukur."

Senyum tipis terukir di bibir Shen Lihua—rapuh, nyaris tak terlihat.

"Bersyukur… karena suamiku mengkhianatiku?"

Detik berikutnya, tamparan keras mendarat di pipinya.

Suara itu menggema di seluruh paviliun.

Luo Qingyu menjerit tertahan, namun tak berani bergerak.

"Kau terlalu lancang!" bentak Nyonya Tua Qu. "Seorang istri yang tak mampu melahirkan keturunan tak punya hak bersuara!"

Shen Lihua terhuyung, namun ia tak jatuh.

Perlahan, ia menegakkan tubuhnya kembali. Pipi kirinya memerah, sudut bibirnya berdarah tipis.

Namun ia mencoba untuk tak menangis.

Ada sesuatu yang berubah. Dia tak ingin menjadi wanita lemah dengan doktrin keluarganya.

Tanganya mengepal di balik jubah.

Keputusan ini sudah dia pikirkan berulang kali, dan meskipun berat ia akan mengambil jalan yang terbaik untuknya.

"Jika begitu," ucapnya pelan namun jelas, "Izinkan aku melepaskan posisiku."

Nyonya Tua Qu menyipitkan mata.

"Apa maksudmu?"

Shen Lihua menunduk hormat—untuk pertama kalinya, bukan sebagai menantu yang selalu patuh, melainkan sebagai seorang wanita yang telah kehilangan segalanya.

"Aku tak pantas menjadi Nyonya muda Qu."

Kata-kata itu jatuh seperti salju—dingin, sunyi, dan mematikan.

"Kau lancang! Apa hakmu untuk memutuskan. Kau tak punya hak, hanya Qu Liang yang boleh memutuskan."

"Tapi aku lelah!" Dia berteriak.

Nyonya Tua Qu mengangkat tangannya ke udara, hampir mendarat di pipi Shen Lihua. Namun, wanita itu lebih dulu menangkapnya, hingga tertahan di udara.

"Aku ingin bercerai dari Jenderal Qu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 185. Ending

    Keheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 184. Dilamar

    Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 183. Menyembuhkan

    Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 182. Membuat Kebangkitan Di Yaxia

    Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 181. Kena Mental

    Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 180. Pertarungan

    Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 135. Bayangan

    Kematian Su Minshan membawa banyak pertanyaan, tidak terkecuali di kediaman keluarga Shen, terutama bagi Shen Mo. Begitu kabar itu sampai ke telinganya, pria itu tidak bisa duduk diam. Ia segera datang ke kediaman keluarga Qu dengan wajah muram dan pikiran penuh kecurigaan. Bagaimanapun juga, k

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 131. Mengungkap Masa Lalu

    Masalah di istana datang silih berganti seperti gelombang pasang yang tak pernah benar-benar surut. Di dalam Aula Naga yang luas dan megah itu, Kaisar Lin Shue duduk di atas singgasana emasnya dengan tubuh tegak, namun kedua matanya terpejam erat seolah sedang menahan beban pikiran yang terlalu

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 74. Penjelasan

    Aula kembali hening. Semua pertanyaan berkecamuk di kepala masing-masing orang yang ada di aula Medis ini. Tabib Agung Gu Wenhai berdiri di hadapan tandu, lalu menoleh ke arah Shen Lihua. Meski dia yakin itu adalah teknik kuno yang telah lenyap. Teknik ciptaan tabib legendaris yang telah menghila

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 58. Ujian Tabib Yang Memukau.

    Genta berdentang dua kali, menandakan ujian tahap kedua dimulai. Tak peduli ttapan sinis dari anggota keluarga Shen, Shen Lihua tetap fokus pada ujiannya, meskipun dia satu-satunya peserta wanita di tempat itu. "Ujian tabib tahap kedua dimulai, semua peserta bersiap di tempat masing-masing!" Serua

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status