Share

Bab 2. Surga Kedua

Author: Andrea_Wu
last update Last Updated: 2025-12-24 21:58:54

Shen Lihua tak mengerti.

Apa salahnya?

Apa kekurangannya?

Mengapa Jenderal Qu Liang tega mengkhianatinya?

Masih teringat jelas ucapan sang suami siang tadi, ketika lelaki itu berada di paviliunnya bersama Su Minshan.

Wanita itu terang-terangan menatap tak suka padanya, dan seolah jenderal Qu Liang adalah miliknya.

"Aku ingin, mulai sekarang kau terima Su Minshan."

Shen Lihua mengepalkan tangannya.

Istri mana yang rela dimadu, meskipun dia paham betul jika suatu saat Qu Liang akan mencari selir untuk kediamannya. Namun, pria itu telah berjanji akan menjadikan Shen Lihua satu-satunya Nyonya muda Qu di kediaman Jenderal.

"Kenapa?" Hanya satu kalimat itu yang lolos dari mulut Shen Lihua.

Ia tak mengerti. Di usia muda dia harus menjadi istri Jenderal, dengan keterpaksaan di awal. Bahkan dia harus mengubur mimpinya menjadi seorang tabib wanita pertama di dinasti kekaisaran Lin. Hingga cinta tumbuh di hatinya, namun pada akhirnya pengkhianatan yang Shen Lihua dapatkan.

"Kau masih bertanya kenapa?" ujar Qu Liang dengan nada tajam. Mata sipitnya menyapu tubuh Shen Lihua dari atas sampai bawah.

"Wanita yang tak mampu melahirkan darah bangsawan hanyalah sampah."

Memang, ia belum bisa memberikan keturunan pada sang Jenderal Besar. Namun, apakah itu kesalahannya? Ribuan batang dupa telah ia bakar setiap hari, menangkupkan tangan di hadapan altar, memohon agar para dewa berkenan mengabulkan doanya.

Namun kenyataan jauh lebih kejam dari harapannya.

Semua hanya ilusi.

Ia tenggelam dalam rasa sakit yang selama ini dipendam seorang diri.

"Nona Shen!" seru Luo Qingyu, membuyarkan lamunan menyakitkan di kepalanya.

Shen Lihua tak bergeming. Tubuhnya masih terduduk di depan altar dupa permohonan. Sejengkal pun ia tak bergerak—entah sudah berapa lama ia berada di sana. Bahkan ketika salju turun tipis di luar paviliun, ia tak menyadarinya.

"Ada apa, Qingyu?" Suaranya terdengar lemah, nyaris tak bernyawa.

Luo Qingyu segera menghampirinya dan berlutut di sisi Shen Lihua, wajahnya penuh kecemasan melihat sang Nona seperti patung bernyawa.

"Anda belum makan, Nona Shen. Pelayan sudah mengantar hidangan ke kamar Anda."

Shen Lihua tersenyum miris. Bahkan menelan sebutir nasi pun terasa mustahil—kerongkongannya menolak. Hatinya terlalu sakit, terlebih ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Su Minshan bersandar manja di dada bidang suaminya.

"Aku tidak lapar."

"Nona Shen, kumohon." Suara Luo Qingyu bergetar. "Makanlah walau sedikit. Bagaimana jika Anda jatuh sakit?"

Senyum getir itu kembali terbit di sudut bibir Shen Lihua. Disaksikan Luo Qingyu yang ikut merasakan betapa besar luka sang nona muda.

Ia bangkit perlahan, menatap Luo Qingyu dengan wajah cantiknya yang kini tampak kuyu dan pucat.

"Wanita sepertiku," ucapnya lirih, "Bahkan mati pun tak masalah."

"Nona Shen."

Ia melangkah pergi, melewati Luo Qingyu. Tangan Shen Lihua sempat menepuk bahu pelayan setianya itu dengan lembut.

"Wanita yang tak mampu melahirkan keturunan bangsawan hanyalah sampah, Qingyu."

Luo Qingyu diam tak bergerak.

Sesakit itukah? Ia tak mengerti. Kakinya mengayun pelan mengikuti langkah tertatih sang nona muda menuju kediamannya.

***

Malam turun perlahan di kediaman Jenderal Qu.

Langit kelam tanpa bintang. Angin musim dingin menyusup melalui celah-celah jendela, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Lentera-lentera merah menyala redup di sepanjang koridor, bayangannya bergoyang di dinding seperti arwah-arwah gelisah yang tak menemukan tempat berlabuh.

Shen Lihua duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, kedua tangan terlipat rapi di pangkuan. Jubah tidur putih pucat membungkus tubuhnya yang tampak semakin kurus dalam cahaya lampu minyak.

Ia menunggu.

Seperti malam-malam sebelumnya.

Namun malam ini berbeda. Ia yakin jenderal Qu tak mungkin datang.

Ada sesuatu yang telah retak, meski belum sepenuhnya runtuh.

Dari kejauhan terdengar langkah kaki pelayan berlalu-lalang. Bisik-bisik tertahan menyelinap di udara, lalu menghilang begitu ia menajamkan pendengaran. Seluruh kediaman seolah mengetahui sesuatu—kecuali dirinya yang selama ini memilih menutup mata.

Pintu kamarnya tak kunjung terbuka.

Waktu berlalu, perlahan dan menyiksa.

Shen Lihua akhirnya bangkit. Ia melangkah ke jendela dan menyingkap tirai tipis. Dari Paviliun Anggrek, ia dapat melihat cahaya terang memancar dari Paviliun Teratai—terlalu terang untuk sekadar tempat seorang pelayan beristirahat.

Lampu-lampu itu menyala seperti perayaan kecil.

Dadanya mengencang.

Tanpa memanggil Qingyu, Shen Lihua melangkah keluar. Kakinya ringan, hampir tak bersuara, seolah naluri membimbingnya menuju tempat yang seharusnya tak ia datangi.

Koridor terasa panjang malam itu.

Setiap langkah bagai menghitung detik menuju kehancuran.

Saat ia mendekati Paviliun Teratai, suara itu terdengar.

Desahan.

Pelan, tertahan. Namun terlalu jelas untuk disangkal.

Langkah Shen Lihua terhenti. Kakinya melemas, seperti dilolosi.

Jarinya mencengkeram tiang kayu di samping paviliun. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia mengenali suara itu—suara yang selama tiga tahun terakhir menjadi miliknya.

Suara suaminya.

Disertai suara perempuan lain yang terengah, memanggil nama sang jenderal dengan nada manja.

Kaki Shen Lihua gemetar.

Ia melangkah lebih dekat, berdiri di balik tirai tipis yang belum sepenuhnya tertutup. Dari celah kecil itu, matanya menangkap pemandangan di dalam.

Jenderal Qu Liang duduk di tepi ranjang. Tubuhnya condong ke depan, tangannya mengusap rambut Su Minshan yang terurai di bantal. Gerakannya lembut—kelembutan yang tak lagi Shen Lihua rasakan sejak lama.

"Tenanglah." Suara Qu Liang rendah dan terdengar sangat lembut sekali. "Anak ini adalah darah dagingku. Tak akan ada yang menyakitimu, termasuk Shen Lihua sekalipun. Tak kuijinkan dia menyakitimu."

Shen Lihua menutup mulutnya sendiri agar isaknya tak lolos.

Su Minshan menangis kecil, tubuhnya meringkuk lemah memeluk Qu Liang.

"Tuan Jenderal… aku takut. Nyonya Shen—"

"Dia tidak akan berbuat apa-apa," potong Qu Liang dingin. "Selama kau mengandung anakku, kau aman."

Kata-kata itu menghantam dada Shen Lihua tanpa ampun.

Aman?

Berarti selama ini, apa artinya dia untuk Qu Liang?

Air mata mengalir tanpa suara, membasahi pipinya. Namun Shen Lihua tak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menyaksikan suaminya menyelimuti perempuan lain dengan perhatian yang tak pernah lagi diberikan padanya.

Malam itu, ia tak masuk untuk menginterupsi.

Tak berteriak, tak pula menuntut penjelasan.

Ia hanya berbalik perlahan, melangkah pergi sebelum kakinya benar-benar menyerah.

Kembali ke Paviliun Anggrek, Shen Lihua menutup pintu kamarnya sendiri. Ia bersandar di balik pintu, lalu tubuhnya melorot jatuh ke lantai.

Tangannya menekan dada, seolah berusaha menahan rasa sakit yang menggerogoti dari dalam.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Shen Lihua tak menunggu suaminya datang.

Ia memeluk dirinya sendiri.

Ia menangis seorang diri. Menahan lara, dari pengkhianatan sang suami.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 9. Aib Keluarga Shen

    Gerbang Kediaman Shen berdiri megah di hadapan mereka, lampu-lampu lentera menggantung rapi di sisi kanan dan kiri, memancarkan cahaya kekuningan yang dingin. Shen Lihua menatapnya dengan mata berkabut. Tempat ini adalah rumah kelahirannya. Tempat ia dibesarkan sejak kecil. Tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan terakhir ketika seluruh dunia menolaknya. Namun entah mengapa, langkahnya terasa semakin berat. Ia tidak tahu kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya kali ini. "Qingyu," ucapnya pelan, "Bantu aku berdiri tegak. Jangan biarkan mereka melihatku seperti ini." Luo Qingyu mengangguk cepat. Ia merapikan jubah nonanya sebisanya, meski noda darah masih tampak jelas di punggungnya. Ketika pintu samping diketuk, seorang pelayan Kediaman Shen keluar. Begitu melihat Shen Lihua, wajah pelayan itu langsung berubah. "N-Nona muda?" "Yu Lanyi, apa kabar?" ujarnya pada seorang pelayan muda di kediaman Shen. Yu Lanyi diam terpaku menatap sosok Shen Lihua. "Nona, saya ba

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 8. Awal Dari Takdir

    Shen Lihua melangkah tertatih, diikuti oleh Luo Qingyu yang setia memapahnya meninggalkan Kediaman Jenderal Qu. Sebuah peti kayu kecil ia dekap erat ke dada, seolah itu satu-satunya benda yang masih tersisa sebagai miliknya. Semuanya telah berakhir. Pernikahan tiga tahun yang ia jaga dengan sepenuh hati, kini runtuh tanpa sisa. Ia telah diusir dari kediaman Jenderal Qu, dicampakkan seperti sampah tak berguna. Difitnah hingga begitu keji. Bukan tubuhnya yang sakit, melainkan hatunya yang remuk redam tak bersisa. Ketika kakinya berhenti di depan gerbang utama keluarga Qu, Shen Lihua menghela napas panjang. Kepalanya menoleh perlahan ke belakang. Papan nama keluarga Qu masih tergantung kokoh di atas sana, berkilau diterpa cahaya lentera malam, namun justru membuat nyeri di dadanya kian perih. Bayangan Su Minshan yang memeluk lengan Qu Liang kembali terpatri jelas di benaknya—sebuah momok menyakitkan yang tak bisa ia singkirkan. Selama tiga tahun ini, apa yang tidak ia lakuk

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 7. Hukuman

    Pelataran Kediaman Qu diterangi obor-obor tinggi. Angin malam berembus dingin, menyapu daun-daun kering di lantai batu. Langit gelap, tanpa bintang—seolah turut menutup mata pada apa yang akan terjadi. Shen Lihua dibawa keluar oleh dua pengawal. Ia berjalan tanpa perlawanan. Wajahnya tampak tenang, seperti orang yang tak menanggung beban apa pun. Punggungnya tegak, langkahnya tenang, meski wajahnya tampak pucat di bawah cahaya api. Kalung giok putih masih tergantung di lehernya, satu-satunya benda yang ia bawa karena benda itu adalah hadiah dari neneknya di kediaman Shen. Para pelayan berkerumun di kejauhan. Tak satu pun berani bersuara untuk membela Shen Lihua. Termasuk Luo Qingyu, gadis itu berdiri di lorong menuju pelataran. Tangisnya belum padan, melihat sebentar lagi Shen Lihua akan menerima hukuman. Qu Liang berdiri di tangga batu, menatapnya dari atas dengan sorot mata dingin. "Kau menampar Su Minshan?" tanyanya langsung. "Benar," jawab Shen Lihua tanpa menun

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 6. Fitnah Keji

    Pintu Paviliun Teratai kembali terbuka dengan tergesa. Su Minshan berlari keluar dengan wajah pucat, satu tangan menutup pipinya yang masih terasa panas. Jejak merah masih jelas membekas di kulitnya yang pucat. Air mata menggenang di pelupuk mata. Ia tahu Jenderal Qu baru saja kembali dari Paviliun Anggrek. Tanpa ragu, Su Minshan langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Qu Liang yang berdiri tak jauh dari paviliun. "Jenderal." Suaranya bergetar, sengaja ia buat lembut agar terdengar rapuh. "Hamba… hamba tidak tahu kesalahan apa yang telah hamba perbuat. Nyonya Shen… dia menampar wajah hamba tanpa alasan." Qu Liang tertegun sejenak. Tangannya mengepal perlahan. Baru saja ia bertemu Shen Lihua di kamarnya—wanita itu dengan tenang menyerahkan surat perceraian, memilih pergi dari Kediaman Qu tanpa satu pun tuntutan. Lalu sekarang… Kenapa Shen Lihua berani melukai wanita yang mengandung calon darah keturunannya? "Katakan sekali lagi," ucapnya pelan. Nada suar

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 5. Melepaskan Diri

    "Kau, berani kau melawanku!" amarah Nyonya Tua Qu memuncak. Wajahnya memerah, seolah ada asap imajiner mengepul dari kepalanya. "Aku sudah lelah. Apa aku tidak boleh melawan?" "Menantu tidak berguna!" teriak Nyonya Tua Qu, jelas melukai harga diri Shen Lihua. Selama ini, keluarganya telah mendoktrin Shen Lihua untuk menjadi wanita yang patuh—selalu menurut, selalu menunduk. Bagi keluarga Shen, seorang wanita harus tunduk sepenuhnya. Tidak boleh berani mengangkat kepala di hadapan mertua, dan harus hormat serta patuh kepada suami. Bahkan ia dilarang memiliki pendidikan tinggi, sebagaimana para pria yang boleh mengikuti ujian negara dan menjadi pejabat istana. Ia dipaksa mengubur seluruh angan dan cita-citanya—termasuk mimpi menjadi seorang tabib wanita pertama di Dinasti Ruo. "Tiga tahun lebih aku mengabdi pada keluarga Jenderal. Apa hanya karena aku tak mampu melahirkan keturunan, lalu kalian menganggapku tak berguna!" Matanya berkaca-kaca. Tak terhitung berapa banyak

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 4. Keputusan Berat

    Shen Lihua masih meminum ramuan pahit itu. Entah sudah berapa mangkuk cairan kental tersebut meluncur di kerongkongannya. Ia putus asa. Ia juga ingin mengandung—agar tak lagi disebut sampah oleh suami dan ibu mertuanya. Bahkan, Jenderal Qu telah menegaskan akan menceraikannya jika ia tak kunjung mengandung putra Qu Liang. "Nona Shen, hentikan itu!" Luo Qingyu merebut mangkuk keramik berukir phoenix biru dari tangan Shen Lihua. "Aku harus bisa mengandung, Qingyu. Aku tak mau diceraikan. Aku mencintainya." Tatapan Luo Qingyu meredup, dipenuhi rasa perih dan ketidakberdayaan. Ia telah menjadi pelayan setia Shen Lihua sejak wanita itu masih remaja. Ia tahu betul bagaimana perjuangan sang Nona mempelajari ilmu pengobatan, bagaimana mimpi dan cita-cita besarnya perlahan terhapus setelah menikah dengan Qu Liang. Dan ketika Shen Lihua akhirnya menerima takdirnya—ketika ia benar-benar mencintai pria itu—pengkhianatan justru datang tanpa ampun. "Nona, jangan menyakiti diri Anda sendiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status