เข้าสู่ระบบSeminggu kemudian kondisi Daffi semakin membaik. Wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya, langkahnya juga jauh lebih stabil meskipun dokter masih melarangnya melakukan aktivitas berat. Kehangatan perlahan kembali memenuhi mansion keluarga Galen. Suara tawa yang sempat menghilang kini terdengar lagi hampir setiap hari. Pagi itu ruang makan dipenuhi aroma sarapan yang baru selesai disiapkan. Mama Sera tampak sibuk mengatur piring, sementara papa Galen membaca koran di ujung meja. Aira sesekali melontarkan candaan yang membuat suasana semakin hidup. Daffi turun dari tangga dengan langkah pelan. Begitu melihatnya, mama Sera langsung tersenyum lebar. "Nah, pangeran tidur sudah bangun." Daffi menggeleng sambil tertawa kecil. "Mama masih menganggap aku anak kecil?" "Di mata Mama, kamu akan selalu jadi anak kecil." "Aduh." "Jangan protes." Semua orang tertawa. Tak lama kemudian Giska muncul dari dapur membawa segelas jus buah. "Ini harus diminum." Daffi menatap gelas itu lalu meng
Malam pertama di rumah terasa aneh sekaligus menenangkan buat Daffi, suara jangkrik dari taman belakang, aroma masakan mama Sera yang masih samar di dapur, dan langkah kaki orang-orang yang ia sayangi terdengar begitu nyata sampai dadanya terasa penuh, seperti ada ruang kosong yang perlahan terisi lagi tanpa ia sadar. Ia berbaring menatap langit-langit kamar, lampu tidur temaram, kepalanya masih sesekali nyut-nyutan, tapi yang lebih mengganggu justru potongan-potongan bayangan aneh yang muncul tiba-tiba—suara rem mendecit, kaca pecah, teriakan seseorang. “Ah…” ia meringis pelan sambil memegang pelipis. Tok tok. Pintu diketuk pelan. “Mas, aku masuk ya?” suara Giska lembut dari luar. “Iya… masuk,” jawab Daffi. Giska masuk bawa segelas susu hangat, duduk di tepi ranjang, “Dokter bilang minum ini biar tidurnya nyenyak.” Daffi menerimanya, lalu menatap Giska lama banget. “Ada apa?” tanya Giska kikuk. Daffi menghela napas pelan. “Aku ngerasa bersalah.” “Loh, kenapa?” “Aku nggak
Pagi berikutnya datang dengan suasana yang jauh lebih ringan, sinar matahari masuk lembut ke kamar rawat, Daffi terbangun perlahan dan mendapati Giska tertidur di kursi dengan kepala bersandar di sisi ranjangnya, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah tapi tenang, membuat Daffi menatap lama tanpa sadar bibirnya terangkat tipis.“Giska…” panggilnya pelan.Giska tersentak bangun, langsung berdiri panik, “Mas? Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya cepat-cepat.Daffi menggeleng pelan, “Nggak, aku cuma… kamu semalaman di sini ya?”“Iya,” jawab Giska sambil tersenyum kecil, “aku bilang juga apa, aku nggak ke mana-mana.”Daffi terdiam sejenak, lalu berkata jujur, “Aku nggak inget banyak hal, tapi tiap bangun dan lihat kamu, rasanya kayak pulang.”Kalimat itu membuat mata Giska berkaca-kaca, “Mas jangan ngomong gitu pagi-pagi,” katanya sambil tertawa kecil yang bergetar, “aku bisa nangis lagi.”Tak lama kemudian mama Sera dan papa Galen masuk membawa sarapan, mama Sera langsung mendeka
Pagi merambat masuk lewat celah jendela ICU, cahaya tipis menyentuh wajah Daffi yang kini terlihat sedikit lebih hidup meski tubuhnya masih dipenuhi selang, mama Sera duduk di samping ranjang sejak subuh dengan tangan tak lepas menggenggam jemari putranya, sementara papa Galen berdiri menyandarkan bahu ke dinding, matanya terus mengawasi setiap gerak kecil yang terjadi.Daffi mengerjap pelan, napasnya terdengar lebih teratur, “Ma…” panggilnya lirih lagi, kali ini lebih jelas.Mama Sera langsung condong, suaranya bergetar tapi hangat, “Iya, Nak… Mama di sini, kamu jangan banyak ngomong dulu ya.”Daffi mengangguk tipis, lalu matanya bergeser mencari, berhenti pada sosok Giska yang duduk tak jauh darinya, “Kamu… capek?” tanyanya polos, seolah tak tahu sudah berapa lama gadis itu menangis demi dirinya.Giska tersenyum sambil menyeka air mata, “Nggak, aku malah lega kamu bangun,” jawabnya cepat, takut suaranya pecah lagi.Dokter masuk dengan map di tangan, memeriksa kondisi sambil berkata
Pagi menjelang dengan langkah pelan, bau kopi pahit bercampur aroma antiseptik menyelimuti lorong rumah sakit, mama Sera masih di kursi yang sama, tak tidur semalaman, matanya merah tapi sorotnya tetap bertahan, “Dokter bilang apa lagi?” tanyanya begitu dokter jaga keluar dari ICU.Dokter menghela napas singkat, “Kondisinya stabil, tapi belum ada tanda sadar. Kita tunggu respons otaknya,” ucapnya hati-hati.Giska menunduk, jarinya saling mengait, “Mas Daffi kuat, Dok… dia pasti bangun,” katanya seperti meyakinkan diri sendiri.Tak lama, suara langkah tergesa terdengar, Aira datang dengan wajah pucat, “Mama… Papa…” suaranya pecah saat melihat kondisi sekitar, “Kak Daffi gimana?”Mama Sera langsung berdiri dan memeluk putrinya, “Doain kakakmu ya, Sayang… dia lagi berjuang.”Di sisi lain lorong, dua polisi mendekat ke papa Galen, suara mereka rendah namun tegas, “Pak, kami sudah mengamankan Lily. Beberapa bukti baru menguatkan keterlibatannya.”Papa Galen mengangguk dingin, “Lanjutkan. J
Koridor rumah sakit yang dingin itu kembali riuh ketika mama Sera dan papa Galen datang dengan langkah tergesa, wajah keduanya pucat dan napas tersengal karena panik setelah menerima telepon Giska yang suaranya gemetar, mama Sera langsung menghampiri Giska begitu melihatnya duduk lemas di bangku tunggu dengan tangan berlumur darah kering, “Giska… anakku… Daffi gimana keadaannya?” suaranya bergetar sambil memegang bahu menantunya itu, sementara papa Galen berdiri di samping mereka dengan rahang mengeras, matanya tajam menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Giska menelan ludah, air matanya jatuh lagi tanpa bisa ditahan, “Masih di dalam, Ma… dokter bilang lukanya parah, kepalanya kena benturan keras, tangannya patah… aku takut…” ucapnya terbata, dan seketika mama Sera memeluk Giska erat, menepuk punggungnya pelan seolah mencoba menyalurkan kekuatan, “Sst… kamu harus kuat, Daffi anak kuat, dia darah Galen, dia nggak bakal gampang kalah,” ucapnya meski suaranya sendiri ber
Malam itu, suasana di rumah sakit terasa lebih mencekam dari biasanya. Hanya suara langkah kaki para perawat yang sesekali terdengar di lorong panjang yang kosong. Daffi masih duduk di samping Giska, matanya tak lepas dari wajah wanita yang sangat ia cintai itu. Mesin-mesin di sekitar ranjang terus
Di sisi lain, Lily berdiri di balik jendela apartemennya, memandang ke arah mansion keluarga Daffi. Tatapannya penuh dengan rasa sakit dan kecemburuan yang tak tertahankan. Di kejauhan, ia bisa melihat Daffi dan Giska sedang berjalan bersama di taman, tertawa lepas, seolah-olah dunia hanya milik
Keesokan harinya, Daffi mulai memikirkan cara terbaik untuk melamar Giska. Dia ingin momen itu menjadi sesuatu yang spesial, sesuatu yang akan selalu diingat Giska. Setelah berdiskusi dengan beberapa teman dekatnya, dia memutuskan untuk membuat kejutan di restoran favorit mereka, tempat pertama k
Beberapa hari setelah percakapan mereka di kafe, Daffi mulai merencanakan lamaran. Dia sudah memikirkan segalanya dengan matang. Meskipun keluarganya mungkin akan bertanya-tanya atau bahkan merasa skeptis, Daffi tahu bahwa cintanya pada Giska lebih kuat daripada kekhawatiran apa pun. Sementara itu,







