LOGINKaki Nicholas dihantam langsung oleh motor yang melayang itu. Darah langsung mengalir, wajahnya berubah pucat pasi dalam sekejap. Tubuhnya terpental, lalu jatuh bersamaan dengan motor yang menindihnya.Ia tidak bisa bergerak.“AAARGH! Kakiku—! Kakiku patah!”Jeritannya pecah, penuh rasa sakit.Dengan panik, ia memukul-mukul badan motor yang menekan kakinya, mencoba mendorongnya menjauh.Namun percuma.Bobot kendaraan itu terlalu besar untuk bisa digeser dengan kekuatannya.Sementara itu, Harris tetap berdiri di tempat. Wajahnya tanpa ekspresi.Siapa pun yang berniat membunuhnya, harus siap menerima konsekuensinya.Harris bukan orang yang akan menahan diri.Beberapa orang tanpa sadar menarik napas tajam saat melihat kondisi Nicholas yang terkapar mengenaskan. Wajah-wajah di sekitar dipenuhi keterkejutan dan kebingungan.Apa yang sebenarnya terjadi?Bagaimana mungkin seseorang berani menyerang putra keluarga Wijaksana secara terang-terangan, dan dengan cara sekejam itu?Apakah dia sudah
Sebelum melompat, Harris sudah mengarahkan lajunya menjauh dari kerumunan. Jika tidak, ledakan itu bisa menyeret banyak orang.Meski begitu, wajah para penonton tetap pucat.Bencana!Ini benar-benar bencana!Namun di tengah kekacauan itu, sosok yang seharusnya paling tidak mungkin selamat justru mendarat ringan.Harris menjejak tanah dengan stabil, napasnya tenang, tubuhnya sama sekali tidak terluka.Sunyi.Semua orang terpaku.Tatapan mereka tertuju pada satu titik, dipenuhi ketidakpercayaan.Apa yang baru saja terjadi?Dia… melompat dari motor?Di kecepatan lebih dari tiga ratus kilometer per jam?Dan masih bisa mendarat tanpa cedera?Nalar mereka menolak menerima kenyataan di depan mata.Bahkan lebih dari itu, Harris tampak santai, seolah semua barusan hanyalah gerakan biasa.Tak seorang pun mampu berkata apa-apa.Kirana akhirnya menghela napas panjang. Bahunya sedikit turun, ketegangan di wajahnya perlahan mereda. Ia tahu Harris kuat, namun tidak pernah menyangka sekuat ini.Di sa
NGOOOONG—-!Kawasaki Ninja H2R itu meraung lebih liar dan kembali berakselerasi, menebas lintasan dengan gelombang angin kencang.Tiga ratus sepuluh.Tiga ratus dua puluh.Lalu akhirnya—Tiga ratus dua puluh lima kilometer per jam.Setelah menyentuh angka tersebut, jarum kecepatan berhenti naik. Seluruh bodi motor mulai bergetar halus, mengeluarkan suara berat seolah mesin sedang dipaksa melampaui batas.Harris langsung memahami, inilah batas maksimum kendaraan ini. Ia pun berhenti memaksa laju motor dan mencoba menurunkan kecepatan.Namun… saat ia mengendurkan gas, tidak ada respons. Ia mengganti gigi, tetap tidak ada perubahan. Ia menekan rem namun tidak bereaksi.Motor itu menolak berhenti.Sorot mata Harris langsung menajam.Apakah ia merusak kendaraan ini? Pikiran itu muncul sesaat, namun segera ia singkirkan.Kerusakan mekanis tidak mungkin muncul dengan pola seaneh ini. Ini bukan kerusakan alami—sabotase.Dalam sekejap, satu wajah muncul di benaknya. Pria pendek, gemuk, berminy
Namun, bagaikan permulaan, jarum kecepatan terus naik.Dua ratus.Dua ratus tiga puluh.Dua ratus lima puluh.Dua ratus delapan puluh.Lalu tiga ratus kilometer per jam!Seluruh arena seketika dilanda keheningan mencekam.Kecepatan seperti itu bahkan membuat banyak pembalap profesional berpikir dua kali.Kini, setiap kali Kawasaki Ninja H2R merah-putih itu melintas, gelombang angin yang dihasilkannya menyapu pakaian dan rambut orang-orang di sekitar.Seolah siapa pun yang berdiri terlalu dekat bisa terseret kapan saja.HWOSH! HWOSH! HWOSH—!Deru mesinnya terdengar seperti auman monster baja, bercampur gelegar petir yang menghantam telinga.Gendang telinga para penonton berdenyut sakit.Seseorang menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya sedikit gemetar.“Apakah aku bermimpi?”Yang lain pun sama linglungnya.“Kalau aku tidak melihatnya sendiri, aku tak akan percaya ada orang memacu motor sampai tiga ratus di tempat seperti ini...”Belum selesai ia bicara—“Tikungan! Dia masuk tikungan
Di sampingnya, Nicholas terus mencibir sambil menatap lintasan. Ia menunggu momen ketika Harris menabrak, terlempar, lalu mati mengenaskan. Dalam pandangannya, itu hanyalah soal waktu.Sepuluh detik berlalu sangat cepat.Namun kecelakaan yang dinantikan tak kunjung datang.Sebaliknya, Kawasaki Ninja H2R yang sebelumnya bergoyang liar perlahan berubah stabil. Laju motornya semakin halus, garis masuk tikungan menjadi lebih rapi. Gerakan tubuh pengendara di atasnya juga mulai sinkron dengan kendaraan.Semua orang yang menonton langsung memahami arti pemandangan itu.Harris sedang beradaptasi.Kekakuan seorang pemula lenyap dengan kecepatan mencengangkan. Kegugupan di awal menghilang sedikit demi sedikit, digantikan kontrol yang semakin matang.Ia sedang belajar, dan ia belajar saat motor melaju lebih dari seratus kilometer per jam. Lebih mengerikan lagi, seluruh proses itu hanya memakan waktu sepuluh detik.Kerumunan mendadak sunyi.Wajah demi wajah berubah terkejut dengan drastis.“Suli
Namun semuanya sudah terlambat.BROOONG—!Harris memutar gas dengan keras. Kawasaki Ninja H2R itu meraung lalu melesat maju secepat kilat.“Selesai sudah…” Wajah Kirana memucat total.Bukan hanya karena Harris memilih Kawasaki Ninja H2R yang terkenal ganas, tetapi karena pria itu langsung memaksimalkan tenaga sejak awal.Padahal ia seorang pemula.Lebih buruk lagi, ia baru sekali melihat cara mengemudi dan belum memiliki pengalaman nyata.Cara seperti itu bisa berujung kematian.Dan seperti dugaan mereka—Kawasaki Ninja H2R yang melaju kencang itu tampak bergoyang liar di bawah kendali Harris yang masih kaku, seolah dapat terlempar kapan saja.Kecepatannya sudah menembus seratus kilometer per jam. Jika jatuh, nyaris pasti berakhir fatal.Clarentine dan Felix sampai merasa jantung mereka nyaris copot.Mereka langsung berteriak panik.“Kirana, selamatkan dia!”Namun Kirana sendiri tak tahu harus berbuat apa. Ia paham cara menolong orang dalam kondisi normal. Masalahnya, ini bukan kondis
Liora melangkah lebih dekat, hampir berhadapan. “Kau sedang mengorbankan prinsip.”Harris menatap Liora dengan tajam. “Aku hanya sedang memilih urutan.”“Apa maksud kata-katamu itu?”Harris menatapnya lebih tajam, suaranya rendah dan mantap. “Kalau aku tidak salah sekarang, kita mati nanti.”“Kau t
“Lihat makhluk itu, dia berubah!” Suara Liora terdengar tegang, nyaris tenggelam oleh dengungan medan yang kembali hidup. Cahaya biru berkedip tak stabil, seperti denyut nadi yang dipaksa bekerja di luar batas.Harris berdiri di tengah ruang rawat, matanya tajam. “Apakah dia sedang berusaha meniru?
“Dia bergerak!”Peringatan itu datang terlambat setengah detik.Lampu indikator di ruang penyegelan Heaven’s Pulse beralih dari kuning ke oranye. Garis-garis cahaya biru yang membentuk segel bergetar, lalu merapat kembali, seolah ruangan itu menahan napas.Harris sudah berdiri di sisi meja kristal
“Pisahkan saja.” Kalimat itu jatuh datar dari bibir Liora, tapi efeknya menghantam ruangan lebih keras dari alarm mana pun.Harris berhenti menulis di panel kristal. Tangannya diam di udara, jarum naga masih terjepit di antara dua jarinya. “Ulangi,” katanya tanpa menoleh.Liora berdiri di seberang







