Share

Bab 196

Author: Skyy
last update publish date: 2026-03-12 23:40:37

Pada saat yang sama.

Pintu lift lantai empat terbuka, Galen dan pria paruh baya itu keluar.

Mereka berjalan menuju ruang latihan 406.

Di balik pintu, mata Harris memancarkan kilatan emas. Seluruh tubuhnya siap menyerang.

Begitu pintu terbuka, satu pukulan mematikan. Namun tepat saat Galen hendak membuka pintu, pria paruh baya itu tiba-tiba mengangkat tangan dan menghentikannya.

“Tuan Pradipta?” Galen bingung.

Pria itu memberi isyarat agar dia diam. Kemudian dia mengeluarkan sepasang sarung tang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 215

    Sementara itu, wajah Naira memerah. Ia menundukkan kepala, terlihat seperti gadis kecil yang baru saja dipuji.Tania Velora memperhatikan dengan tatapan aneh. Ada sesuatu yang berbeda.Naira yang biasanya tegas kini justru gelisah. Pipinya terus memerah, bahkan tak berani menatap Harris.Tania menyilangkan tangan, mengamati keduanya dari atas ke bawah. Semakin dilihat, semakin terasa, mereka tampak serasi.Akhirnya ia menghela napas dan maju. "Harris, aku mewakili Naira, terima kasih. Kalau bukan karena kamu, dia mungkin tak akan lepas dari bajingan itu hari ini."Ia sengaja membuka percakapan.Setidaknya, ia harus membantu sahabatnya mengambil langkah pertama.Tania sengaja memecah keheningan yang canggung di antara Harris dan Naira.Namun Harris hanya tersenyum tipis. "Itu cuma bantuan kecil."Baginya, tindakan itu wajar. Naira pernah membantunya, dan ia hanya membalas.Tania menyenggol lengan Naira, memberi isyarat agar gadis itu berbicara. Tetapi Naira justru menunduk makin dalam.

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 214

    Reyhan tertawa dingin. "Kau pikir cukup bilang ‘tidak suka’ lalu selesai? Aku yang meminjamkan uang. Tanpa aku, ayahmu sudah mati. Begitu balasanmu?"Mata Naira langsung memerah. "Itu tidak benar! Kau yang diam-diam membayar rumah sakit, lalu memaksaku meminjam darimu. Aku sudah bekerja selama liburan dan mengembalikan semuanya. Kita sudah tidak ada hubungan!"Suaranya bergetar.Reyhan mencibir. "Yang kau bayar cuma pokoknya. Bunganya? Dengan bunga majemuk, kau masih berutang seratus juta.""Seratus juta?" Tania meledak. "Biaya rumah sakit cuma empat puluh juta! Kau mau merampok?"Reyhan menatapnya dingin. "Aku bicara dengan Naira, diam!" Ia lalu kembali menatap gadis itu. "Kalau tak bisa bayar… nyawa ayahmu sebagai gantinya. Adil, kan?"Air mata Naira akhirnya jatuh.Melihat itu, Reyhan menyeringai. "Atau ada pilihan lain. Ikut denganku ke hotel malam ini. Serahkan dirimu dan bunga itu lunas. Bahkan mungkin kuberi dua juta. Tawaran yang bagus, bukan?"Tatapannya menjilat tubuh mungil

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 213

    Dari jendela lantai empat, seorang gadis terkejut. "Aduh! Salah orang!"Suara lain yang lembut segera menyusul. "Kalau begitu cepat turun, kita minta maaf."Beberapa saat kemudian, dua gadis berlari keluar. Salah satunya tinggi dan berotot dengan kulit gelap, sedangkan yang lainnya berwajah lembut dengan tubuh mungil dan aura tenang. Harris langsung mengenalinya.Naira Putri.Kenangan lama muncul. Di masa lalu, gadis ini pernah membantunya saat ia diintimidasi. Saat semua orang hanya menonton, Naira berdiri di depannya dan mengusir para perundung.Namun waktu itu ia terlalu rapuh untuk menerima bantuan, bahkan pergi tanpa berterima kasih. Sejak saat itu, setiap sapaan Naira ia abaikan, hingga mereka tak pernah lagi berbicara sebelum lulus.Itu menjadi salah satu penyesalan kecilnya.Kini, ia memiliki kesempatan untuk menebusnya.Naira berhenti beberapa langkah darinya, menatapnya ragu. "Kamu… Harris?"Ia hampir tidak mengenali pemuda di depannya. Dulu, Harris pendiam, berpakaian seder

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 212

    Ia tidak percaya dirinya yang seorabg jenius keluarga Valendra di Fase Fondasi, dikalahkan oleh seorang pemuda dari dunia fana. Rasa dingin menjalar di punggungnya, dan untuk pertama kalinya ia menyadari kesalahan besar yang baru saja ia buat.Di sisi lain, wajah Reynard benar-benar pucat. Harapan terakhirnya runtuh. Jika bahkan Darius kalah dalam satu pukulan, maka keluarga Mahatama tidak memiliki apa pun lagi untuk diandalkan.Ketakutan menyelimuti dirinya, dan sebuah pikiran mengerikan muncul, Keluarga Mahatama… benar-benar akan musnah.Ruanganan tenggelam dalam kesunyian.Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar pelan. Harris berjalan mendekati Darius dengan ekspresi datar, seolah hanya sedang berjalan santai."Apa… apa yang ingin kau lakukan?" suara Darius bergetar. Ia mundur tanpa sadar. Pukulan sebelumnya telah melumpuhkan lengannya dan mengguncang organ dalamnya. Setiap tarikan napas terasa seperti tubuhnya akan hancur.Harris berhenti di depannya. "Aku memberimu

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 211

    Mereka menatap mayat di lantai, wajah pucat, napas tersendat. Kultivator yang baru saja tewas adalah yang terkuat di antara mereka, hampir mencapai ambang Fase Fondasi berikutnya, namun ia terbunuh tanpa sempat melawan. Kesadaran itu menghancurkan sisa keberanian mereka.Tanpa ragu, sembilan orang itu menjatuhkan diri. Lutut mereka menghantam lantai, kepala tertunduk dalam. Sikap mereka berubah total—tak lagi sebagai petarung, melainkan manusia yang menyerahkan hidupnya.Harris mengangguk tipis, lalu memanggul kembali lonceng perunggu raksasa dan berjalan menuju aula belakang.Di ruang belakang, suasana sunyi menekan. Wajah Reynard tegang saat ia menatap Darius. "Tuan muda… bukankah Anda mengatakan mereka akan membuatnya terluka parah?"Nada suaranya penuh kegelisahan. Dari awal hingga akhir, Harris menghancurkan semuanya tanpa kesulitan.Ekspresi Darius menggelap. "Dia hanya beruntung mendapatkan artefak. Tanpa itu, dia bukan apa-apa."Nada suaranya dingin, sarat niat membunuh. "Begi

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 210

    Di aula, kesepuluh kultivator tidak memberi waktu. Niat membunuh mereka melonjak, memenuhi ruangan hingga terasa menyesakkan."Bunuh dia!"Dalam sekejap, mereka bergerak.Pedang melesat dari sepuluh arah, cepat dan presisi, menutup seluruh ruang di sekitar Harris tanpa celah. Setiap lintasan mengarah ke leher, dada, perut, semua ditujukan untuk mengakhiri hidup dalam satu serangan.Dalam satu momen, Harris terkepung sepenuhnya. Namun ia tetap berdiri di tempatnya. Tubuhnya tegak, napasnya stabil, dan di sudut bibirnya tersisa senyum tipis yang tidak berubah, seolah serangan itu tidak memiliki arti.Di ruang belakang, Reynard menahan napas. Di benaknya hanya ada satu kesimpulan, semuanya sudah berakhir.Di belakangnya, Bagas bahkan hampir tak bisa menyembunyikan kegembiraan. Balas dendam terasa begitu dekat hingga membuat tubuhnya gemetar.Namun saat matanya tertuju pada wajah Harris di layar, ia justru terdiam.Harris tidak menunjukkan rasa takut. Tidak ada kepanikan di wajahnya, Hany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status