로그인Namun Harris sama sekali tidak memperdulikan hal tersebut. Pikirannya masih tertahan pada rasa familiar yang terus mengganggu sejak tadi.Ia menatap pemuda itu beberapa saat sebelum akhirnya bertanya langsung. “Siapa namamu? Rasanya kita pernah bertemu sebelumnya.”Pemuda berjubah putih itu tampak sedikit terkejut, tetapi segera tersenyum lagi sambil memberi salam kecil. “Maaf, aku lupa memperkenalkan diri.” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Rudolf, murid Sekte Cakrawala Arunika. Aku turun gunung beberapa bulan lalu untuk mencari pengalaman di dunia fana. Kalau kita pernah bertemu sebelumnya, mungkin itu kebetulan.”“Rudolf…” Harris tanpa sadar mengulang nama itu pelan.Detik berikutnya, matanya langsung berubah. “Tunggu,” ujarnya cepat sambil menatap pemuda itu lebih dalam. “Kakakmu bernama Evelyn?”Kini giliran Rudolf yang benar-benar terkejut, matanya langsung membelalak. “Kau mengenal kakakku?” tanyanya spontan. “Tapi itu tidak mungkin. Hubungan kami bahkan tidak diketahui bany
Tatapan Harris langsung berubah tajam saat belati itu menghantam tanah di depannya. Kepalanya menoleh cepat, sorot matanya menyapu arah datangnya serangan tanpa melewatkan satu sudut pun. “Siapa itu?”Suasana di sekitar langsung berubah tegang. Tak seorang pun menyangka masih ada orang yang berani menyerang Harris dalam situasi seperti ini, terlebih setelah semua yang baru saja terjadi di arena balap itu.Detik berikutnya, sosok berpakaian hitam muncul dari kejauhan. Seluruh tubuhnya tertutup jubah gelap, wajahnya tersembunyi di balik tudung lebar, sementara langkahnya bergerak sangat cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di pandangan orang biasa.Dalam beberapa tarikan napas, ia sudah berdiri di hadapan semua orang.“Richard tidak bisa mati.”Suara berat dan serak terdengar dari balik tudung, dingin dan penuh tekanan, seolah tidak memberi ruang untuk penolakan.Harris sedikit mengernyit. Ia bisa merasakan dengan jelas energi yang mengalir dari tubuh pria itu. Tekanannya jauh l
Clarentine dan Felix hanya bisa menatap dengan mata terbuka lebar, napas mereka tertahan, jantung mereka berdegup tidak beraturan saat rasa tak percaya berubah menjadi keterkejutan yang sulit dijelaskan. Mereka tahu Harris kuat, namun yang barusan terjadi sudah melampaui logika mereka.Pemandangan di hadapan mereka terasa tidak masuk akal.Semuanya hanya bisa berdiri kaku, napas mereka tertahan saat menyaksikan puluhan pengawal yang tadi menyerbu kini tergeletak tanpa daya. Awalnya mereka yakin Harris akan berada di posisi yang mustahil untuk bertahan, tetapi hasil yang terjadi justru berbalik sepenuhnya, melampaui semua dugaan yang sempat terlintas.Dalam satu rangkaian gerakan yang bahkan tidak sempat mereka tangkap, lebih dari lima puluh orang tumbang bersamaan.Kekuatan itu terlalu jauh dari batas kewajaran.Felix menelan ludah, pandangannya masih terpaku pada sosok yang berdiri tenang di tengah arena. “Ini… tidak masuk akal,” gumamnya pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya send
“Siapa pun yang bisa membunuhnya, aku beri satu miliar!”Kalimat itu jatuh seperti pemicu.Dalam sekejap, sorot mata para pengawal berubah. Keserakahan menggantikan kewaspadaan, napas mereka menegang, dan pandangan mereka mengunci Harris dengan intensitas yang nyaris liar.Satu miliar!Angka itu cukup untuk mengubah siapa pun.Bukan hanya para pengawal, bahkan para penonton di sekitar ikut terdiam, sebagian tanpa sadar menelan ludah, membayangkan nilai yang barusan disebutkan.Seandainya tatapan bisa melukai, Harris sudah terkoyak saat itu juga.Detik berikutnya, tanpa aba-aba, lebih dari lima puluh pengawal bergerak bersamaan. Mereka menerjang seperti kawanan predator, langkah mereka berat dan cepat, sorot mata penuh ambisi, seolah Harris adalah satu-satunya target yang harus dihancurkan.Pemandangan itu membuat suasana semakin mencekam.Clarentine dan Felix membeku di tempat, wajah mereka pucat, tubuh mereka menegang tanpa berani bergerak.“Ini sudah berakhir…” bisik Clarentine, sua
Harris mendengarkan tanpa reaksi, lalu tersenyum tipis, bukan karena tertarik, melainkan karena merasa muak. “Aku justru ingin melihat bagaimana mereka mencobanya.”Ia melangkah maju, berhenti tepat di depan Hendra, jarak mereka begitu dekat hingga tekanan itu terasa jelas.“Kalau aku tidak salah ingat, kau juga terlibat,” lanjutnya, suaranya tetap rendah. “Motor itu rusak karena ulahmu, jadi kau yang harus bertanggung jawab lebih dulu.”Wajah Hendra berubah pucat, kepercayaan diri yang tadi muncul runtuh seketika, digantikan ketakutan yang sulit disembunyikan.“Aku…” Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Harris sudah bergerak.BRAKK! KRAKKK!Kakinya terangkat dan menghantam dada Hendra dengan keras, membuat tubuh pria itu terlempar ke belakang. Tulang rusuknya patah dalam satu benturan, sebelum akhirnya jatuh menghantam tanah.Tubuhnya kejang beberapa saat, napasnya tersendat, lalu perlahan berhenti bergerak.Hendra mati di tempat.Seluruh arena mendadak sunyi.Tidak ada ya
Kaki Nicholas dihantam langsung oleh motor yang melayang itu. Darah langsung mengalir, wajahnya berubah pucat pasi dalam sekejap. Tubuhnya terpental, lalu jatuh bersamaan dengan motor yang menindihnya.Ia tidak bisa bergerak.“AAARGH! Kakiku—! Kakiku patah!”Jeritannya pecah, penuh rasa sakit.Dengan panik, ia memukul-mukul badan motor yang menekan kakinya, mencoba mendorongnya menjauh.Namun percuma.Bobot kendaraan itu terlalu besar untuk bisa digeser dengan kekuatannya.Sementara itu, Harris tetap berdiri di tempat. Wajahnya tanpa ekspresi.Siapa pun yang berniat membunuhnya, harus siap menerima konsekuensinya.Harris bukan orang yang akan menahan diri.Beberapa orang tanpa sadar menarik napas tajam saat melihat kondisi Nicholas yang terkapar mengenaskan. Wajah-wajah di sekitar dipenuhi keterkejutan dan kebingungan.Apa yang sebenarnya terjadi?Bagaimana mungkin seseorang berani menyerang putra keluarga Wijaksana secara terang-terangan, dan dengan cara sekejam itu?Apakah dia sudah
‘Tunggu saja. Nanti aku pasti memberi pelajaran padamu!’Melihat tingkahnya, Nadira hanya tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa. Sementara itu Harris sama sekali tidak memedulikan ekspresi jahil Kayla.Tak lama kemudian, mereka tiba di pinggir jalan.Karena tidak ada satu pun dari mereka yang memba
Kayla langsung berdiri. “Jaga bicaramu!”Namun Arkan hanya tertawa sinis. “Menarik sekali. Perguruan Bela Diri Amethys sekarang sampai harus menjual harga diri demi pria seperti ini?”Mata Harris menyipit, udara di sekitar meja berubah.Wajah Nadira memucat. Urat di jemarinya menegang. “Aku tidak—”
Namun saat itu, telinganya menangkap suara sangat pelan dari arah kamar mandi.Ia tersenyum miring. “Ah… jadi masih ada satu lagi.”Ia menatap Reno dengan mata dingin. “Kalau kau tak patuh, aku akan membunuh orang tuamu. Dan adikmu yang bersembunyi di kamar mandi.”Ia tertawa pelan. “Berapa umurnya
Harris mengangkat tangannya, menghentikan langkah Liora sebelum wanita itu benar-benar berbalik. “Liora.” Suaranya datar, namun mengandung perintah yang sulit diabaikan. “Jangan sentuh Sera.”Liora menatap tangannya sendiri yang terhenti sebelum menaikkan wajah, ia menatap Harris dengan tatapan pen







