Share

Bab 43

Author: Skyy
last update publish date: 2025-11-26 21:11:05

Ruang rapat utama keluarga Hendrawan dingin seperti lemari mayat. Pendingin ruangan bekerja terlalu keras, membuat udara terasa menusuk kulit. Queen duduk di kursi tengah, kursi yang seharusnya menjadi simbol kekuasaan, tapi hari ini terasa seperti kursi eksekusi.

Di sekelilingnya, para tetua duduk dengan wajah kaku, mata mereka tajam seperti parang yang disembunyikan di balik baju formal.

Tetua Kusuma membuka rapat dengan nada yang sudah Queen hafal sejak kecil. “Rapat darurat dimulai. Agenda:
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 227

    “Kirana, ini pertama kalinya Harris datang ke Kota Puspadana. Kenapa tidak kamu ajak dia berkeliling saja? Kondisi keluarga kita sekarang kurang pantas untuk menjamu tamu.”Suara Reynan terdengar santai, tapi mengandung dorongan halus yang sulit ditolak.Di sampingnya, Bianca segera menimpali dengan senyum lembut. “Betul itu, Kirana. Kamu pasti punya banyak hal untuk diceritakan ke Harris.” Ia melirik sekilas ke arah pemuda itu, lalu melanjutkan, “Pergilah kalian berdua. Kami sudah cukup puas melihatnya. Tidak perlu menemani kami di sini.”Nada bicaranya ringan. Namun arah kalimat berikutnya berubah.Tatapan Bianca yang tenang dan tegas beralih lurus ke Harris Gunawan. “Jaga Kirana baik-baik.”Kalimat itu sederhana, tapi maknanya berat. Restu yang diucapkan tanpa perlu diperjelas lagi.Untuk sesaat, ekspresi Harris berubah tipis. Bukan karena gugup, tapi karena situasi ini jelas melenceng dari rencana awalnya.Ia datang dengan tujuan jelas, berperan, menyelesaikan masalah, lalu pergi.

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 226

    Atmosfer di sekitar runtuhan itu berubah hening, tapi menekan. Seolah udara ikut menahan napas.Para elit dari keluarga Arkana berdiri kaku, wajah mereka kehilangan warna. Ketakutan merayap tanpa ampun, menyusup ke dalam tulang, membekukan nalar. Tak ada lagi sisa kesombongan yang tadi sempat mereka pamerkan.Lalu—Bruk!Seseorang ambruk lebih dulu.Duk! Duk! Duk!Tanpa banyak bicara, pria itu langsung berlutut, dahinya menghantam tanah berkali-kali, tanpa peduli kulitnya mulai terkelupas.“T-Tuan muda… ampuni aku! Tolong… jangan bunuh aku!”Suara itu terdengar serak.Pemandangan itu seperti pemicu.Satu… dua… lalu semuanya.Bruk! Bruk! Bruk!Orang-orang lain ikut berjatuhan, berlutut tanpa harga diri, tanpa jeda. Kepala mereka menghantam tanah berulang kali, seolah berharap setiap benturan bisa membeli sedikit belas kasihan.“Tuan muda, selamatkan kami!”“Kami salah! Kami tidak akan berani lagi!”“Tolong, anggap saja kami tidak pernah ada! Lepaskan kami!”Bahkan ada yang menghantamka

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 225

    Namun Harris menjawab datar. “Tidak bisa.”Senyum itu membeku, mata Arman langsung menggelap. “Aku sudah berlutut, aku sudah membunuh. Mengapa kau tak menyembuhkanku? Atau kau sebenarnya tak mampu?”Nada suaranya mengandung ancaman.Harris mencibir. “Luka sepele seperti itu? Aku bisa menyembuhkannya dalam setengah jam.”“Lalu kenapa kau tidak melakukannya?” Arman bertanya dengan kesal.Harris berkata datar, namun sorot matanya semakin dingin. “Karena aku tidak mau.”Arman tertegun, wajahnya berubah merah.Harris tersenyum tipis. “Aku hanya bilang bisa menyembuhkan. Aku tak pernah berjanji akan melakukannya. Semua yang kau lakukan hanya anganmu sendiri.”BAAM!Arman membeku, kemarahan meledak di matanya. “Kau… mempermainkanku?!”Harris menatapnya dingin. “Ya, bisa dibilang begitu.”Semua orang tersedak.Ia mempermainkan Grandmaster setengah langkah secara terang-terangan?!Benar-benar gila!Namun Harris sudah memutuskan sejak awal. Ia melihat niat membunuh tersembunyi di mata Arman. Ti

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 224

    Namun Arman mengabaikan mereka, fokusnya kembali pada Harris. Ekspresinya berubah. “Hah?” Ia menatap tajam. “Menarik… bocah, kau bahkan tidak mundur selangkah pun menghadapi auraku. Kau punya kemampuan.”Aura menekan Arman Arkana sama sekali tidak menggoyahkan Harris.Tubuhnya berdiri tegak seperti tiang baja, tak bergeser setapak pun. Namun sorot matanya berubah dingin.Ia menoleh ke arah Reynard yang pucat, masih ditopang Kirana dan Bianca. Raut wajahnya mengeras. Upaya Reynard tadi untuk melindunginya jelas menambah rasa hormat Harris. Kini pria itu justru terluka akibat tekanan Arman.Harris tidak akan mengabaikan ini. Hari ini, Arman sudah masuk daftar targetnya.Sementara itu Arman tidak menyadari perubahan suasana. Melihat Harris diam saja, amarahnya melonjak. “Bocah! Aku bicara padamu! Kau tuli?!”Harris akhirnya menoleh. Ia menarik napas pelan, lalu berkata dengan suara datar. “Dalam satu menit, kau akan berlutut di hadapanku, meminta maaf pada Paman Reynard. Dalam tiga menit

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 223

    Harris menjawab datar. “Benar.”Satu kata sederhana.Harris melangkah mendekat, Pedang Palung Merah menggantung di tangannya. “Barusan kau lolos. Aku ingin lihat, apakah keberuntunganmu ada di kedua kalinya?”Aura membunuh menguar dari tubuhnya.Wusss—Udara bergetar tipis. Semua orang merinding, jantung mereka seperti meloncat ke tenggorokan.Namun tepat saat itu, sebuah suara tua menggema keras di seluruh aula.“Beraninya kau, bocah!”Bentakan keras itu mengguncang seluruh aula.Brak!Pintu utama terbuka lebar. Para anggota keluarga Arkana otomatis menyingkir, membentuk jalur. Seorang lelaki tua berjubah abu-abu berjalan masuk perlahan. Wajahnya penuh keriput, namun sorot matanya tajam, napasnya stabil, aura yang dipancarkan begitu berat.Damian langsung tersentak. “Leluhur… Anda?”Reynan di sudut ruangan ikut gemetar, tubuhnya menegang tanpa sadar.Orang tua itu adalah Arman Arkana.Usianya lebih dari dua abad. Tingkat kultivasinya sudah menyentuh setengah langkah Grandmaster, jauh

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 222

    Kartu tersembunyi keluarga Arkana akhirnya muncul.Pria berjubah gelap itu sejak awal dipelihara secara diam-diam oleh keluarga Arkana sebagai senjata pembunuh. Spesialisasinya jelas, menyelinap, menunggu, lalu menghabisi target dalam satu momen mematikan. Level kekuatannya bahkan tak kalah dari kepala keluarga sendiri.Dan yang paling mengerikan, mereka semua berada di Fase Fondasi tingkat akhir.Sejak awal, Damian memang tidak hanya membawa elit keluarga Arkana. Ia juga sudah menyiapkan kartu pamungkas ini untuk menunggu di balik bayangan.Artinya, keluarga Arkana tidak datang dengan lima ahli Fase Fondasi.Mereka membawa enam.Satu orang sudah bersembunyi lama di aula keluarga Adiwangsa, menunggu kesempatan. Inilah alasan Damian tetap memerintahkan lima ahli menyerang langsung meski tahu tiga puluh enam elit mereka tak mampu mengimbangi Harris.Semua itu hanya umpan.Tujuan sebenarnya membuka celah, lalu menghabisi Harris dalam satu tusukan fatal.Damian menyeringai puas dalam hati

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 184

    Kediaman keluarga Kurniawan.Rumah itu sederhana, Ayah Reno pekerja pabrik dan Ibunya operator jalur perakitan. Hidup mereka pas-pasan namun cukup untuk membesarkan dua anak.Kini aula rumah itu kacau, perabot terbalik dan darah berceceran. Kedua orang tua Reno terbaring tak sadarkan diri di lantai

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 183

    Tak lama kemudian, Harris membantu Keira naik ke lantai atas. Kondisi Kepala keluarga Adhyra ternyata jauh lebih sederhana dibandingkan Fisik Sembilan Bara Primordial milik Keira. Dengan penyaluran energi spiritual yang stabil, pernapasan pria tua itu kembali normal. Wajahnya yang pucat berangsur p

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 182

    Harris meliriknya sekilas, seolah pertanyaan itu tidak relevan.Reynard menggertakkan gigi. “Aku putra sulung keluarga Mahatama dari Kota Mandalajaya… H-hentikan sampai di sini. Aku tak akan melaporkan ini.”“Keluarga Mahatama tak akan mengusikmu.”Baginya, ini hanya langkah mundur sementara. Begit

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 181

    Wajah Keira memucat, mereka adalah pasukan terbaik keluarga Adhyra. Jika mereka saja tak berdaya…Apakah ini akhir?Reynard kini menatap Harris dengan ejekan terang-terangan. “Sekarang kau paham posisi dirimu? Berlutut, bersujud dan minta maaf.”“Lalu… jilat sepatuku sampai bersih.” lanjutnya denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status