로그인Mahesa Kala mengamati mereka dengan wajah semakin muram. "Jangan biarkan dia membawa pedang itu!”Beberapa anggota Gagak Hitam langsung bergerak.Bima menghalangi."Kalau mau mengambilnya…,” Bima memutar pedangnya. "...lewati aku dulu!”Raka berdiri di sampingnya. "Aku juga!”Laras menyusul. "Dan aku!”Arya mengangkat pedang. "Jangan lupakan aku!”Jaya menatap mereka dan untuk sesaat, hatinya terasa hangat. Karena di tengah pengkhianatan dan rahasia yang tidak berkesudahan, masih ada orang-orang yang memilih untuk berdiri bersamanya.Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.DUARRR!Tanah kembali berguncang.Ratri jatuh berlutut. "Ah!"Jaya segera menghampirinya, cahaya merah dari pola tiga cakar kini telah mencapai pinggang Ratri."Ki Jagat!" panggil Jaya. Ki Jagat memandang pola itu dengan wajah pucat. "S– ssegelnya mulai aktif sepenuhnya!”"Bagaimana caramenghentikannya?" tanya Jaya. Ki Jagat terdiam sesaat. "Jaya…,""Apa?" jawab Jaya. "Ada satu cara,” ucap Ki Jagat. Jaya m
“Buka…,” Jaya memejamkan mata. “Buka…,”Suara itu semakin jelas.Ratri mengguncang tangannya. "Jaya!"Jaya membuka mata.Ratri menatapnya ketakutan. "K– kkamu mendengarnya?"Jaya mengangguk. "Ada suara,”Ki Jagat mendengar percakapan itu dan seketika wajahnya langsung berubah. "Jangan dengarkan!""A– aaku tidak bisa!" jawab Jaya gemetar. "Jaya, itu bukan suara manusia!" teriak Ki Jagat. Mahesa Kala tertawa. "Biarkan dia mendengarnya,”Jaya menatapnya. "A– aapa yang kamu lakukan?""Aku tidak melakukan apa-apa,” Mahesa Kala tersenyum. "Yang berbicara kepadamu adalah sesuatu yang sudah menunggumu jauh sebelum kamu lahir,”Jaya terdiam dan pedangnya bergetar di tangannya.Ratri menggenggam wajahnya. "Jayaa!”Tatapan mereka bertemu. "Jangan dengarkan suara itu,”"Tapi bagaimana kalau…?" tanya Jaya. "Percayalah kepadaku,” ucap Ratri meyakinkan. Jaya menarik napas.Ratri mendekat. "Aku tidak tahu apa yang ada di dalam dirimu,”ucap Ratri dan air mata mengalir di pipinya. "Tapi aku tahu
Arya, Bima, Raka, Laras, dan yang lainnya segera merapat. Bahkan Mahesa Kala juga tidak bergerak, seolah-olah semua orang sedang menunggu seseorang keluar dari kegelapan.Kemudian sepasang kaki muncul dari balik pepohonan, langkahnya pelan dengan jubahnya yang sederhana.Tidak ada lambang Gagak Hitam dan tidak ada lambang dari Persekutuan Persilatan.Jaya menatap sosok itu dan dadanya seakan berhenti berdetak. "Raka…?"Raka yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. "Apa?"Jaya menggeleng. "Bukan!”Sosok itu semakin dekat.Ki Jagat tiba-tiba menggenggam tongkatnya lebih erat. "Jangan-jangan…?"Lelaki itu akhirnya keluar dari bayangan dan wajahnya terlihat jelas, membuat semua orang terdiam.Arya, tapi bukan Arya yang sedang berdiri di samping Jaya.Arya sendiri menatap sosok tersebut dengan wajah pucat. "I– iituuu…,"Jaya mengangkat pedangnya. "Siapa kamu?"Sosok itu tersenyum. "Aku kira kamu akan lebih cepat mengenalinya,”Arya maju satu langkah. "Jangan gunakan wajah itu!”Lelaki
Wira tersenyum pahit. "Kalau aku benar-benar pengkhianat, seharusnya Jaya sudah mati sejak dulu!”Jaya hanya terdiam.Mahesa Kala tiba-tiba bergerak. "Sudah cukup!”Tangan Mahesa Kala terangkat dan para Gagak Hitam langsung menyerang.WUSSS!Puluhan pedang melesat dengan cepat. "Jaga Ratri!" teriak Arya.Pertarungan kembali pecah dan Bima menahan tiga pendekar sekaligus. Raka melompat ke atas batu, lalu berputar sambil menebaskan pedangnya.Laras yang menjaga Ratna, kemudian Ki Jagat membuat gerakan melingkar dengan tongkatnya, ia menjatuhkan dua orang dalam sekali hantaman.Jaya sendiri langsung menghadapi Mahesa Kala.CLANG!Pedang bertemu senjata dan percikan api beterbangan.Mahesa Kala tersenyum. "Kamu masih belum cukup kuat!”Jaya menekan pedangnya. "Kalau begitu, jangan berhenti menyerang!”Mahesa Kala menendang perut Jaya.Hingga Jaya mundur beberapa langkah dan belum sempat ia berdiri tegak, Mahesa Kala sudah berada di depannya.DUAGH!Pukulan menghantam dadanya.Jaya terlem
Ki Jagat menghela napas panjang. "Mereka sudah menunggu kita,”Pria bertopeng itu tertawa kecil. "Bukan kalian yang kami tunggu!”Tatapannya berpindah kepada Ratri."Dia!”Jaya langsung bergerak.Namun Ratri menahannya. "Jaya!”"Jangan, jangan lakukan sesuatu yang membuat mereka semakin yakin!” ucap Ratri. Jaya menatapnya.Pria bertopeng itu berkata pelan. "Perempuan itu adalah kuncinya,”Ratri membeku dan kata-kata Mahesa Kala kembali bergema dalam ingatannya, yaitu darah penjaga dan hati orang yang dicintai.Jaya merasakan tubuh Ratri menegang, ia berdiri di depan perempuan itu."Kalau kalian menginginkannya…," pedang Jaya langsung terangkat. "...kalian harus melewati aku dulu,”Pria bertopeng itu diam kemudian ia tertawa."Memang begitu yang kami harapkan!”Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan yang berat dan dalam, membawa hawa yang membuat semua pendekar Gagak Hitam berhenti. "Jangan bunuh mereka!”Semua kepala langsung menoleh, ada sosok berjubah gelap yang berjalan keluar da
Air hujan mengalir di wajahnya, menyamarkan air mata yang jatuh. “Aku akan menemukan siapa yang melakukan semua ini,” Jaya berbalik. “Dan aku akan membersihkan nama padepokan kita,”Ratri menggenggam tangannya semakin erat, m ereka lalu bergerak bersama yang lain menembus hujan.Namun di belakang mereka, Wira masih terbaring di antara reruntuhan dan di dekat tangannya, tanpa diketahui oleh siapa pun.Terdapat sebuah benda kecil yang terjatuh dari balik pakaiannya, yaitu sebuah keping logam. Dengan lambang Persekutuan Persilatan.Tetapi di baliknya terdapat ukiran lain yaitu tiga cakar, Jaya belum mengetahuinya.Namun benda itulah yang kelak akan menghubungkan Wira, Mahesa Kala, dan Surya Raksa.Pada satu rahasia yang selama ini sudah tersembunyi, di balik berdirinya sebuah Persekutuan Perguruan.___Malam telah turun ketika rombongan Jaya meninggalkan reruntuhan Padepokan Tirta Kencana.Langit menggantung rendah dan awan hitam bergerak perlahan, menelan bulan sedikit demi sedikit. A







