ANMELDENKilatan kesal langsung melintas di wajah Hendra. Alih-alih mundur atau memperbaiki pertahanan, ia memilih mengambil risiko. Dengan memanfaatkan jarak yang sangat dekat, tubuhnya melesat maju dan menghantamkan kepala ke arah wajah Raka.Gerakan itu muncul tiba-tiba dan sangat berbahaya. Namun reaksi Raka bahkan lebih cepat. Begitu membaca niat lawannya, ia langsung melepaskan pegangan pada belati, menarik tubuh ke belakang, lalu menghindari benturan tersebut dengan selisih yang sangat tipis.Kesempatan itu langsung dimanfaatkannya. Tubuh Raka melonjak berdiri, sementara tangan kanannya menyambar sebuah pistol yang tergeletak di lumpur tidak jauh dari mereka.Dalam satu gerakan yang bersih dan tanpa keraguan, laras senjata itu terangkat dan berhenti tepat mengarah ke kepala lawannya.Suasana hutan mendadak sunyi.Hanya napas berat dua orang yang baru saja mempertaruhkan segalanya dalam pertarungan tersebut.Pada saat yang sama, hujan yang mengguyur sejak tadi akhirnya berhenti. Tetesan
Dengan refleks luar biasa, Hendra segera menarik tubuhnya ke belakang. Ujung belati hanya menyentuh jakunnya dan meninggalkan sensasi dingin sebelum melintas beberapa sentimeter dari kulitnya.Keduanya langsung bertukar serangan.Buk! Buk!Tinju menghantam udara, kaki menyapu tanah berlumpur, sementara kilatan belati terus muncul dan menghilang di tengah hujan yang mulai mereda. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Setiap langkah, setiap serangan, dan setiap perubahan posisi dilakukan dengan tujuan yang jelas.Di dalam tenda medis, suasana berubah sunyi.Semua mata terpaku pada layar.Apa yang terjadi di hadapan mereka sudah jauh melampaui batas latihan militer biasa. Pertarungan itu tidak lagi terlihat seperti duel antara instruktur dan mahasiswa baru, melainkan bentrokan dua predator yang sama-sama berusaha mengambil kendali medan tempur.Wajah Reyhan dan Damar berubah pucat. Keduanya hanya bisa menatap layar tanpa berkedip saat menyaksikan bagaimana Raka terus memaksa Hendra bertahan. B
Di dalam hutan, situasi mulai berubah secara perlahan.Hendra terpaksa menghentikan pengejaran sejenak untuk membersihkan lumpur yang menempel pada tangannya dan pegangan pistolnya. Waktu yang tampak singkat itu justru menjadi kesempatan emas bagi Raka untuk menghilang lebih jauh ke dalam rimbunnya hutan. Kali ini ia tidak melakukan kesalahan yang sama.Raka sengaja membungkus alas sepatunya menggunakan dedaunan besar agar bekas langkah menjadi samar. Saat bergerak, ia memilih melompati akar pohon, batu besar, dan area yang tidak meninggalkan jejak jelas, sementara hujan yang masih turun membantu menghapus sisa-sisa petunjuk yang mungkin tertinggal.Bahkan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, ia beberapa kali berjalan mundur dan mengubah arah secara tiba-tiba. Siapa pun yang mencoba melacaknya hanya akan menemukan jejak palsu yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.Ketika Hendra akhirnya selesai membersihkan tangannya dan kembali melanjutkan pengejaran, ekspresinya perlahan berub
Saat menerobos semak belukar yang tumbuh rapat di depan, tubuhnya tiba-tiba kehilangan pijakan lalu terjatuh ke dalamnya.Bruk!Mata Hendra langsung berbinar ketika melihat pemandangan itu. Kesempatan yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul setelah pengejaran panjang yang melelahkan.Tanpa membuang waktu, ia melakukan gerakan berguling taktis dan langsung menerjang ke arah semak tersebut. Dalam pikirannya, mahasiswa baru yang sudah berada di ambang batas itu akhirnya melakukan kesalahan fatal.Namun ketika langkahnya hampir mencapai lokasi itu, tanah di bawah kakinya mendadak runtuh.Krek!Lapisan dedaunan dan tanah basah yang menutupi permukaan langsung amblas, memperlihatkan sebuah lubang jebakan yang disamarkan dengan sangat rapi.Refleks Hendra bekerja nyaris seketika. Saat tubuhnya mulai terjatuh, kedua tangannya langsung mencengkeram sisi lubang, sementara otot pinggang dan perutnya berkontraksi kuat untuk memutar tubuh ke atas sebelum akhirnya mendarat kembali tanpa cedera berarti
Pria itu menatap Raka tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun, sementara tekanan yang muncul dari sorot matanya semakin tajam."Sekarang permainan ini sudah selesai."Baginya, kejadian barusan tidak lagi sekadar kesalahan, tetapi sebuah penghinaan. Dan penghinaan semacam itu harus dibayar.Tanpa membuang waktu, pria tersebut segera mengeluarkan pistol dari pinggangnya. Setiap gerakannya terlihat cepat dan terlatih ketika melakukan pemeriksaan singkat, memasang magasin, lalu membuka pengaman senjata dalam satu rangkaian yang mengalir sempurna.Klik!Suara mekanis yang renyah terdengar di tengah hujan.Pada saat itu, dia tidak lagi bertindak sebagai penembak jitu yang menjaga jarak. Dia telah berubah menjadi seorang pemburu yang murka dan siap memburu mangsanya secara langsung.***Di dalam tenda medis, suasana berubah hening hingga terasa menyesakkan. Tidak seorang pun menyangka akan menyaksikan rangkaian kejadian seaneh dan segila itu dalam sebuah ujian lapangan.Ketika penembak jitu
Di Pusat Komando, salah satu instruktur akhirnya tidak mampu menahan keterkejutannya. Ia menepuk paha dengan keras sebelum berdiri sambil menunjuk layar."Jenius!""Anak itu benar-benar jenius dalam taktik tempur!"“Dia bahkan tidak sedang mencari senjata. Dia menggunakan seluruh bagian gunung sebagai senjatanya!"Arman juga tidak dapat menyembunyikan ekspresinya lagi. Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya saat pandangannya tetap tertuju pada sosok Raka di layar."Sepertinya lawannya terlalu meremehkannya. Kalau dibiarkan seperti ini, posisi penembak jitu itu akan berada dalam masalah besar."Sementara itu, di lokasi persembunyian, penembak jitu musuh mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.Sudah cukup lama dia kehilangan jejak Raka, bahkan dengan bantuan teropong berdaya pembesaran tinggi yang dimilikinya. Namun beberapa suara aneh terus terdengar samar dari arah atas tebing.Krek… Krrk...Suara gesekan itu hampir tertelan oleh derasnya hujan, tetapi pengalaman panjangnya di med
Tiara sudah menemukan targetnya sejak pertama kali berdiri di depan formasi. Pemuda yang selama beberapa hari terakhir memenuhi laporan-laporan rahasia yang dibacanya. Ia sudah melihat wajah itu berkali-kali melalui rekaman pengawasan. Namun melihat langsung tetap memberikan kesan berbeda.Di seber
Sepanjang perjalanan, Arman menjelaskan kondisi akademi, jadwal pelatihan, serta beberapa fasilitas utama yang tersedia.Tiara mendengarkan dengan tenang. Tatapannya sesekali bergerak mengamati berbagai sudut lapangan. Ketika melihat sekelompok mahasiswa baru sedang menjalani latihan fisik intensit
Terik matahari siang menyelimuti Akademi Tempur Garuda tanpa ampun.Gelombang panas yang naik dari permukaan lapangan membuat udara tampak bergetar samar, sementara aroma debu, rumput kering, dan keringat bercampur menjadi satu di tengah suara teriakan instruktur yang terus menggema.Di antara suas
Jenderal tua itu mengetuk-ngetuk lembar laporan di depannya dengan ujung jari. "Profil psikologis anak ini bersih total tanpa noda. Tidak ada rekam jejak trauma, tidak ada anomali temperamen.""Bukankah itu indikator yang bagus, Jenderal?""Justru itulah letak masalah terbesarnya," tatapan mata san







