登入Sisa ketegangan subuh tadi bener-bener membuat Arga terpaksa memindahkan Nadine yang tertidur pulas ke dalam kamarnya sendiri demi keamanan.
Pria paruh baya itu sempat membersihkan sisa ceceran darah dari preman mafia yang nekat mengintai di luar sebelum fajar benar-benar menyingsing.Kini, matahari pagi sudah mulai meninggi, memancarkan sinar hangat ke seluruh penjuru area bangunan lantai satu Kos Melati.Cklek...Pintu kamar pribadi milik Arga perlahan-lahan terbuka, memuncSTEP 1: EVALUASI INTERNAL][EVALUASI BAB SEBELUMNYA]: Bab 68 ditutup dengan cliffhanger fiktif berupa penampakan tiga pria bertopeng naga ungu yang mengincar Alya dari balik pohon beringin. Sesuai dengan outline Bab 69 yang berfokus pada komedi situasi di mana ibu-ibu muda berbisik kagum dan seorang janda kaya menggoda Arga hingga Alya pasang badan, maka awal bab ini akan mengoreksi situasi bahaya tersebut. Tiga pria bertopeng itu ternyata hanyalah panitia badut ulang tahun sekolah yang sedang bersiap mengenakan kostum mereka di balik pohon. Paragraf dipastikan sangat pendek (1-2 kalimat) demi menjamin scannable (anti-wordwall), dialog non-baku kasual di atas 45%, menghapus kata haram "Ia" secara total, serta menyisipkan logika Cincin Naga Tidur secara halus. Target panjang teks maksimal 1000 kata. Arga bener-bener langsung mengembuskan napas lega begitu melihat tiga pria di balik pohon beringin itu mulai mengeluarkan kepala badut besar dari dalam karung.'Hadeuhhh... t
Arga bener-bener mengembuskan napas lega setelah berhasil meredam kecemburuan Nadine kemarin sore dengan sebuah kecupan kilat di kening. Pagi ini, suasana halaman rumah Kos Melati bener-bener terasa jauh lebih tenang dan sejuk dibanding hari-hari sebelumnya. Arga sedang asyik mengelap kaca jendela luar ketika sebuah ketukan lembut terdengar dari arah pintu gerbang depan komplek. Cklek... Sosok Alya, gadis manis yang bekerja sebagai guru TK di ujung jalan komplek, bener-bener sudah berdiri di sana dengan senyuman anggun. "Pagi, Om Arga! Kebetulan banget langsung ketemu Om di depan halaman begini," sapa Alya dengan suara lembut khas guru anak-anak. "Pagi, Alya. Wah, rapi banget hari ini, bener-bener anggun pakai kebaya modern begitu," puji Arga menatap penampilan Alya yang sangat memikat batin. Wajah Alya bener-bener langsung merona merah muda mendengar pujian spontan dari m
Arga mendadak menghentakkan kakinya, mengembuskan napas panjang begitu menyadari bayangan hitam besar di ruang tengah itu hanyalah jemuran jaket kulit milik Nadine yang bergoyang ditiup angin. 'Sialan bener, efek mikirin ancaman sekte belakangan ini bikin insting naga gue mendadak paranooid melihat jemuran baju sendiri,' batin Arga menggelengkan kepala. Denyutan kencang dari Cincin Naga Tidur di jarinya ternyata murni merespons luapan energi yin dari tangisan emosional Siska yang tersengat rasa cemburu parah. Rasa bersalah bener-bener mulai menyergap hati Arga mendengar suara tangisan bombay yang masih terdengar jelas dari balik pintu kamar nomor tiga tersebut. Arga memutar knop pintu kamar Siska perlahan, yang ternyata bener-bener sengaja tidak dikunci rapat oleh sang gadis bank. Cklek... Di dalam kamar, Siska tampak sedang telungkup di atas kasur dengan wajah disembunyikan di balik bant
Siska mendadak mengucek matanya, lalu menggeser layar ponselnya dengan wajah yang bener-bener langsung berubah menjadi merah padam karena malu.'Sialan bener, ternyata cuma iklan pop-up game online strategi mafia yang tiba-tiba muncul di layar,' batin Siska merutuki kepanikannya sendiri.Arga yang tadi sempat ikut tegang langsung melepaskan rangkulannya di pinggang Siska, lalu mengembuskan napas panjang."Hadeuhhh... makanya kalau buka HP itu dilihat dulu yang bener, Siska, bikin jantungan orang tua saja kamu ini," tegur Arga menggelengkan kepalanya geli.Rasa malu Siska mendadak berubah menjadi luapan emosi cemburu yang bener-bener beralih seratus persen ke arah Tari yang masih berdiri di sana.Siska langsung melangkah maju, menjauhkan Arga lalu melabrak Tari dengan pandangan mata yang sangat sengit."Heh, anak baru! Gak usah sok polos ya lo! Maksud lo apa ngasih kado celana dalam murahan begitu ke bapak kos?!" bentak Siska ketus sambil melotot galak."
Arga langsung terduduk tegak di atas kasur dengan napas memburu, menyeka keringat dingin yang membasahi dahi tampannya.'Hadeuhhh... bener-bener sialan, gara-gara semalam gempuran servis Amara terlalu dahsyat, otak gue sampai ngaco memimpikan Siska diculik mafia,' batin Arga menggelengkan kepalanya gusar.Suasana di luar jendela kamar kosan bener-bener sudah terang benderang, menandakan pagi hari yang damai telah tiba.Arga segera mandi dan berjalan keluar menuju koridor Kos Melati untuk menghirup udara segar pagi hari.Langkah kaki Arga terhenti saat melihat sosok Tari, salah satu anak kos yang bekerja di minimarket depan komplek, sedang berjalan mendekat dengan senyum lebar."Pagi, Om Arga! Kebetulan banget langsung ketemu Om di koridor sini," sapa Tari dengan wajah yang bener-bener tampak sangat semringah."Pagi, Tari. Wah, tumben banget pagi-pagi sudah kelihatan rapi dan senyum-senyum sendiri begitu," goda Arga menyandarkan tubuh kekarnya di tiang korido
Arga langsung menyentakkan kepalanya ke atas, menyadari kalau suara pecahan kaca dan kobaran api hijau barusan hanyalah efek halusinasi dari saking tegangnya menahan gairah batin.Lampu kamar nomor satu milik Amara masih menyala temaram, dan suasana di luar jendela bener-bener masih sangat sunyi tenang tanpa ada musuh."Om Arga... kok malah melamun sambil tegang begitu sih melihat Amara?" bisik Amara tertawa kecil sambil mengelus dada bidang Arga dengan jari lentiknya."Eh, nggak apa-apa, Amara. Om cuma sempat kaget saja tadi dengar suara kucing berantem di luar," kilah Arga mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu.Pandangan mata Arga bener-bener sudah tidak bisa dialihkan lagi dari lekuk tubuh aduhai milik sang janda elegan berusia tiga puluh dua tahun itu.Baju tidur satin tipis yang dikenakan Amara bener-bener sangat transparan, memperlihatkan keindahan aset matangnya yang bener-bener membuat iman lelaki mana pun runtuh instan."Om... obrolan soal ma
Begitu slot kunci besi kamar mandi umum itu berbunyi klik dari dalam, Arga langsung menghentikan gerakan sikat plastiknya.Dia menatap Vania dengan mata melotot, bener-bener tidak menyangka kalau mahasiswi kebidanan ini bakal senekat ini."Vania, jangan gila deh! Ini kamar mandi umum, ka
Amara masih berdiri menghalangi jalan Arga di teras, melipat tangan di bawah dadanya yang menonjol sambil terus memicingkan mata penuh selidik. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Arga karena bingung mencari alasan logis untuk menutupi aroma tubuh Tari yang tertinggal di kemejan
Sebenarnya, sebelum Arga menghadapi interogasi tajam dari Amara di teras kosan, ada sebuah kejadian krusial yang sengaja dia sembunyikan rapat-rapat selama perjalanan pulang bersama Tari dari minimarket. Saat motor matik pinjaman itu baru saja melaju beberapa kilometer meninggalkan ruko
Melihat si bos botak masih berani melotot dan mengancam akan memanggil polisi, urat-urat di kening kekar Arga mendadak menyembul tegang. Langkah kaki sang bapak kos terasa begitu berat hingga menggetarkan lantai ubin ruang administrasi yang sempit itu. "Polisi? Lah, silakan sa






