ログインMikhaila Ameera Violetta POV
Malam ini aku tak pernah menyangka jika Bara akan pulang lebih awal ke rumah Mama. Aku berpikir jika ia akan marah besar karena istrinya pergi begitu saja tanpa pamit, tapi ternyata tidak. Siapa sangka jika ia memiliki rasa pengertian yang luar biasa daripada apa yang aku bayangkan selama ini. Lebih membuatku bersyukur lagi adala
Mikhaila Ameera Violetta POVSetelah aku dan Bara dipijat, kami memilih menyewa hotel di daerah Gunung Kidul ini. Anggap saja kami sedang staycation tipis-tipis. Sayangnya kami tidak bisa bersilaturahmi di atas ranjang karena tukang pijat itu mengatakan kepada kami jika dua hari setelah dipijat, sebaiknya kami baru melakukan pergulatan di atas ranjang.Kini saat Bara mulai masuk ke kamar mandi, aku mulai membongkar tas ransel yang Bara siapkan sendiri. Aku tidak tahu apa saja yang ia packing. Semoga saja keperluan pribadiku tidak ketinggalan sama sekali.Aku tersenyum kala melihat apa saja yang Bara bawa. Ternyata semua keperluanku ada semua. Meskipun hanya baju ganti satu setel untuk besok pagi dan satu buah lingeri
Bara Nareswara POVPukul lima sore akhirnya aku dan Mikha pamit dari rumah orangtua Sofia. Meksipun mereka menawarkan kepada kami untuk menginap, namun rasanya kami akan lebih nyaman dan bebas jika tinggal di hotel saja.Selama perjalanan menuju ke hotel, kami mampir ke beberapa tempat terlebih dahulu seperti telaga yang tidak jauh dari rumah Sofia untuk melihat keindahan sunset di sana. Setelah itu, Mikha sempat mengajak diriku mampir di sebuah minimarket. Awalnya bukan untuk berbelanja, namun untuk numpang di toiletnya. Entahlah, istriku itu lebih suka menumpang toilet di minimarket kala kami berpergian daripada di pom bensin. Meksipun pada akhirnya tetap saja akan berbelanja minimal adalah air mineral. Tujuan selanjutnya adalah warung pinggir jalan untuk makan malam. Cukup nyaman juga aku di sini karena tidak ada yang menyadari siapa diriku. Mungkin karena tempatnya tidak terlalu ramai dan pedagangnya sudah paruh baya."Pak, mie gorengnya satu, mie kuahnya satu. Minumnya jeruk pana
Mikhaila Ameera Violetta POV"Kamu sama Bara jauh-jauh ke sini tapi malah mau ke Wonosari. Eyang masih kangen sama kamu."Aku tersenyum mendengar perkataan Eyang Putri. Memang sejak Chava meninggal, aku adalah cucu perempuan satu-satunya yang Eyang miliki. Kedua sepupuku yang merupakan anak Om Chandra adalah laki-laki, sedangkan Tante Retno, sampai sekarang juga belum ada tanda-tanda akan memberikanku sepupu baru."Besok aku pulang ke sini, Eyang.""Kamu mau nginap di sana?""Iya. Di sana 'kan ada hotel baru. Si Bara ngajakin staycation."Aku bisa melihat Eyang yang tampa
Bara Nareswara POVSelama satu bulan ini aku sudah mengurangi jadwal manggungku di saat weekend dan tentunya berusaha pulang tepat waktu dari kantor setiap hari. Itu semua demi suksesnya program memiliki momongan dengan Mikha. Sebenarnya sedikit heran juga, kenapa dulu saat kami tidak merencanakan untuk memiliki momongan, yang ada Tuhan justru dengan mudahnya memberikan garis dua untuk Mikha, sedangkan sekarang? Sudah minum vitamin setiap hari, bercinta dengan posisi yang memungkinkan untuk hamil lebih besar sampai makan makanan yang sehat, tapi Mikha masih kedatangan tamu juga. Mungkin benar kata orang jika setelah menikah, perjuangan memiliki anak bukan hanya sebatas enak-enak di atas ranjang semata."Bar, aku masuk masa subur ini. Kamu pulang on time ya?"
Mikhaila Ameera Violetta POV Aku menatap penampilanku di depan cermin malam ini. Dari ujung rambut sampai ujung kaki semua sudah terlihat sempurna. Namun sayangnya karena aku sedikit tidak bahagia melakukan semua ini, rasa malasku bisa terlihat dari aura wajahku. Bara saja bisa melihatnya dengan jelas hingga ia memilih memelukku dari arah belakang tubuhku."Yang, setelah kita ambil hasil tes HSG dan tes analisa sperma kemarin, ini adalah jalan selanjutnya. Kita coba minta doa dari orangtua."Ya, memang beberapa hari yang lalu aku dan Bara mengambil hasil tes kami berdua di rumah sakit. Hasilnya benar-benar memuaskan. Tidak ada sumbatan atau masalah di tuba falopiku. Kualitas benih Bara juga baik. Aku tanyakan kepada dokter Hans apakah ka
Bara Nareswara POVSepertinya ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Ini terbukti dari hasil rapat yang baru saja aku ikuti bersama Papa dan jajaran petinggi perusahaan. Bisa dibilang omset penjualan menurun meskipun tidak secara signifikan, tapi sejak memasuki bulan September hingga kini ke Oktober benar-benar menunjukkan penurunan. Kata Papa hal ini wajar karena hampir masuk tahun politik. Aku tidak paham hubungannya apa, tapi kata Papa tidak perlu dicemaskan secara berlebihan. Perusahaan ini sudah berhasil melewati masa-masa pandemi yang cukup berat hingga kami harus merumahkan berapa persen karyawan kami. Semoga saja situasi saat ini tak akan seburuk beberapa tahun lalu. Jika mengingat masa itu, aku cukup prihatin melihat apa yang terjadi pada keluargaku. Selain karena kondisi perusahaan yang morat-marit, Papa bahkan sampai masuk ke rumah sakit k







