Share

Bab 30

Author: Lailiela
last update publish date: 2026-02-25 08:06:07

Deru kendaraan melintas cepat di sampingnya. Angin dari mobil yang lewat mengibaskan ujung rambut gondrongnya. Matahari mulai condong ke barat, menyiramkan cahaya keemasan yang memantul di keringat yang membasahi leher dan lengannya.

Saat lampu lalu lintas memberi celah, Bayu melangkah menyeberang. Karung di bahunya tak bergeser sedikitpun.

Tiba saat ia melewati rumah para pelacur. Beberapa wanita penghibur itu berkumpul di teras, mereka semua melihat Bayu yang sedang membaw
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 340

    Mereka bersama selama beberapa hari saat menenani Bambang tidak hanya Bayu saja tapi ada satu orang lagi yaitu sekretarisnya. Jadi kemanapun mereka pergi Bayu dan sekretarisnya tetap ikut menemani Bambang.“Di sini tempatnya?” tanya Bambang pada sekretarisnya yang sedang menyetir saat mobil akan sampai di sebuah restoran cepat saji untuk pertemuannya dengan seorang pengusaha setempat.Pria berkacamata dengan tubuh tinggi kurus, ia beranam Romi sang sekretaris seorang pegawai setia di perusahaan Bambang dan sekarang usianya sudah tiga puluhan tahun.“Ya, Pak! Ini sudah sesuai dengan alamat yang diberikan pada kita. Jadi aku akan berhenti di sini lali Pak Bambang bisa masuk ke dalam lebih dulu bersama Bayu karena aku akan memarkirkan mobil setelahnya.” Setelah mobil berhenti Romo keluar untuk membukakan pintu untuk Bambang. Sedangkan Bayu sudah keluar bersamaan dengannya dan selalu siaga, berjaga memantau kondisi sekitar.“Bayu gimana

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 339

    “Kalian sudah sampai!” Joni menghampiri Sandro, Rian, Doni.“Iya dong, kan misi kita udah selesai. Kalian gimana? Kapan sampainya?” tanya Sandro sambil menoleh pada Bayi dan Teo setelah melihat Joni.“Sampai kemarin malam. Jadi kalian kenapa baliknya lama?” Joni duduk sambil balik bertanya.“Itu karena mobil yang menjemput kami lama. Kan mobilnya kalian yang pakai,” sindir Doni.“Hehehe … iya juga ya!” Joni malah tertawa.Rian melihat ke arah Teo dan Bayu. “Kalian habis dari mana?” “Dari kantin kok, biasa sarapan.” Bayu menjawab cepat.“Ah, iya kami lupa sarapan di bawah.” Doni menepuk jidatnya lalu menoleh ke arah Rian dan Sandro. “Kita turun yuk!” ajaknya.“Turun?” Rian menoleh.“Kita belum sarapan, cepat nanti kita kehabisan makanan di bawah!” Rian segera bergegas lalu mengajak Sandro. “Aku juga mau sarapan! San, ayo cepat kamu juga belum makan kan?”“Tapi aku mau masaka masa kali

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 338

    Melihat itu Bayu juga ikut karena mumpung ada di bawah sekalian saja makan di kantin. “Aku juga mau sarapan, ah!” Mereka sama-sama mengambil makanan secara prasmanan. Jadi bisa pilih sendiri mau makan lauk yang mana. Makanan yang tersaji di atas meja semuanya masih panas karena baru matang, uap panasnya mengepul tipis di usaha tepat di setiap atas makanannya. Sedangkan Bayu ambil yang lauk daging tumis dan seporsi nasi, lalu ada buah pisang. Tidak lupa air mineral diambilnya juga membuat di kedua tangannya penuh pegangan.“Ayo kita duduk di sini saja lebih dekat!” Joni yang tidak mau lama-lama pilih tempat duduk.“Ya aku rasa sebaiknya kita duduk dekat sini. Aku udah laper banget.” Melihat Teo dan Joni, Bayu pun ikut duduk berhadapan dengan mereka berdua. Mereka mulai makan sarat masing-masing sambil mengunyah.“Tadi kamu makan sayur sawi nggak?” tanya Teo saat menepikan sayur sawi di piringnya.Melihat sayur itu Bayu lan

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 337

    Makanan yang dipesan Bayu tadi koni sudah diletakkan di atas meja dengan sangat rapi. Setelah itu barulah pelayan hotel keluar dari kamar mereka.Klek!Di saat yang sama Rara pun akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang sengaja belum mengelap karena membiarkan sisah air.“Sini cepat duduk di sini kita mau makan. Sebaiknya kamu cepat ke sini b_-_–;¡¡iar nanti aku bantu keringkan rambutmu.” Bayu menggeser kursi di depannya agar Rara bisa langsung duduk.Drek!Suara tarikan kursi yang baru saja digeser Bayu, kemudian Rara akhirnya mendudukinya kursi tersebut Mereka mulai menikmati makan malamnya sambil menikmati pemandangan kota dari balik jendela.“Gimana, makanannya?” Bayu bertanya setelah dirinya selesai makan.Rara mengangguk. “Enak, banget rasanya. Aku sampai kenyang sekali setelah makan.” “Karena makannya sudah selesai sini aku akan batu kamu mengeringkan rambutmu.” Bayu segera mengambil handuk kecil lalu berdiri di belakang Rara yang masih duduk di kursinya.Den

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 336

    “Aku baiklah kalau begitu sesi pijatnya sudah selesai. Sekarang kamu bisa beristirahat dan tidur di sini karena waktu cek out dari hotel seharusnya besok siang. Aku sudah memesan layanan makan untukmu.”Bayu turun dari ranjangnya dan kembali berpakaian rapi. Rara yang melihat itu langsung duduk ia tahu Bayu hendak pergi dari sana.Karena sebelum pergi sudah Bayu sudah bilang pada Teo kalau ia akan pulang saat sore atau malam. Sekarang sudah malam jadi ia berniat untuk pulang ke asrama.Tangan Bayu memeriksa saku celananya merogoh ponsel yang disimpannya. Dengan cepat ia menyalakan layar ponsel dan ternyata ada beberapa pesan dari Teo kalau hari ini ia juga sedang keluar dan tidak pulang. “Eh, apa dia pergi berkencan juga?” Bayu bergumam kecil lalu kembali memasukkan ponselnya.Namun, saat Bayu hendak melangkah dari sisi ranjang Rara dengan cepat meraih tangannya.“Apa kamu mau pergi? Kenapa tidak menginap saja di sini bersamaku?

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 335

    Karena akibat rangsangan yang terlalu nikmat membuat sebagian otot di kaki Rara jadi lemas. Kakinya terlihat gemetar saat kenikmatan setiap tusukan yang menusuknya menembus lubang yang semakin mengetat. “Berhenti? Bukannya kamu yang tidak mau melepaskan milikku? Lihat, kamu bahkan mengeratkan cengkraman bagian dalammu lagi!” Bayu menekan bagian perut dan klitoris Rara hingga menambah sensitif terhadap rangsangan. Namun, ia juga sudah berada di ambang batas. Plok, plok! Pinggulnya memompa lebih keras sampai akhirnya Bayu akan mengeluarkan cairan lalu dengan cepat ia hendak mencabutnya agar keluar di luar. Namun, Rara dengan cepat menahannya. “Tidak, Bayu tolong keluarkan di dalam saja!” pintanya sambil menaikkan pinggulnya lagi. Pantulan wajah Rara yang sedang bergairah bercampur malu. Namun, ia tetap menginginkan Bayu mengeluarkannya di dalam. Bayu pun mengambilnya keinginannya karena nanti ia bisa memberikannya obat kontrasepsi. Splurrt! “Ahhnghh … ahh!” Rara merasakan Cai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status